Membaca Api Kehidupan: Mengenang Rendra

Teks orasi Hj. R. Ay. Sitoresmi Prabuningrat untuk acara Kampung Buku Jogja 2019 bertajuk “10 Tahun Setelah WS Rendra Tiada” pada Senin, 2 September 2019.

Tema yang disampaikan kepada saya adalah mengenang 10 tahun wafatnya WS Rendra. Atas nama pribadi dan keluarga besar, saya mengucapkan banyak terima kasih atas apresiasi ini. Di samping itu, tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih tersebut, kiranya akan lebih baik bila titik pijak apresiasi ini didasarkan pada momen kehidupan, bukan pada momen kematian. Ringkasnya, remembering moment ini akan lebih hidup jika dikenang sebagai “84 tahun WS Rendra”, dengan catatan penanggalannya didasarkan pada kalender Syamsiyah (Masehi), yakni lahir 7 November 1935 dan meninggal 6 Agustus 2009.

Dibaca dengan basis kalender yang lain, misalnya kalender Qomariyah, usia WS Rendra tentu bisa berbeda. Yang pasti, WS Rendra lahir dan meninggal pada bulan Qomariyah yang sama, Sya’ban (Jawa: Ruwah): lahir 10 Sya’ban 1354 H dan meninggal 14 Sya’ban 1430H. Pun dari harinya, WS Rendra lahir dan meninggal pada hari yang sama, Kamis: lahir pada Kamis, Kliwon, dan meninggal pada Kamis Legi. Namun penanggalan seperti akan sia-sia jika tanpa disertai makna. Dan sejatinya yang ingin kita warisi dan teruskan adalah api kehidupan WS Rendra.

***

Berbicara tentang Rendra sama artinya dengan kita berkaca-diri melalui cermin filsafat berkesenian, baik melalui, puisi, drama, dan esai karya-karyanya. Aktif dan Dinamis dalam Berkarya, kata-kata itu mungkin tepat untuk melukiskan energi sastra nan tak habis-habisnya, sejak ia duduk di bangku SMP hingga akhir hayatnya.

Ia memulai berkarya dengan menulis (baik puisi maupun naskah drama), kemudian berakting. Bengkel Teater didirikannya untuk menerjemahkan apresiasi sastra dalam bentuk pementasan. Meski demikian, Rendra tampak lebih sering memilih puisi untuk menyampaikan kritik sosialnya. Mungkin lantaran puisi memiliki narasi yang paling kuat. Melalu dunia sastra, Rendra sejatinya berusaha menumbuhkan dan mendewasakan khasanah kebudayaan Indonesia untuk berjaya dan dihormati integritasnya. Sebabnya tidak lain karena

“Kita telah menjadi asing di tanah leluhur sendiri.”

Demikian diungkapkan dalam saja berjudul “Sebotol Bir”

***

Bakat sastra dalam diri Rendra tumbuh nyaris paripurna, berkembang melalui berbagai nutrisi kebudayaan di sekitarnya. Dalam hal ini, sedikitnya ada tiga nutrisi kebudayaan yang bisa kita sebutkan. Pertama, nutrisi kebudayaan dari keluarganya sendiri. WS Rendra lahir dan hidup dalam pengasuhan pasangan seniman. Ayahnya berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia, guru bahasa Jawa, dan dramawan tradisional. Ibunya dikenal sebagai penari serimpi di Kraton Solo.

Nutrisi kedua adalah dari bangku kuliah. Pertama, ketika kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, kampus negeri yang pertama di Indonesia. Kemudian di American Academy of Dramatical Art (AADA) New York, yakni sekolah akting tertua di dunia berbahasa inggris yang didedikasikan untuk melatih aktor profesional, baik untuk dunia teater, televisi, dan film.

Nutrisi ketiga bersumber dari lingkungan sosial-politik airnya sekembalinya dari kuliah di luar negeri, yakni transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru. Tragedi-tragedi kemanusiaan yang mengiringi perjalanan Orde Baru menginspirasi karya-karyanya untuk menyampaikan protes sosial dan menyuarakan kehidupan kelas bawah.

Lingkaran ketiga nutrisi kebudayaan tersebut amat terasa dalam karya-karyanya. Terutama pada lingkungan sosial-politik, Rendra memiliki kepekaan dan kepiawaian yang lebih dalam membaca realitas, untuk diungkapkannya dengan bahasa yang sederhana, namun dengan makna yang menghujam. Melalui puisi-puisi karyanya, kita sejatinya bisa menangkap nilai-nilai yang diperjuangkan, yakni kebebasan, kejujuran, dan harmoni. Mari kita resapi beberapa penggalan sajak karya WS Rendra berikut.

  1. Dari sajak “Sebatang Lisong” (19 Agustus 1977)

Inilah sajakku

Pamflet masa darurat.

Apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

Apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.

  1. Dari sajak “Pamplet Cinta” (28 April 1978)

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair

bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?

Udara penuh rasa curiga.

Tegur sapa tanpa jaminan

  1. Dari sajak “Paman Doblang” (22 April 1984)

Kesadaran adalah matahari,

Kesabaran adalah bumi,

Keberanian menjadi cakrawala,

dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

***