Anak-anak, dari Suatu Buku

Teks orasi Setyaningsih untuk acara Kampung Buku Jogja 2019 pada Kamis, 5 September 2019

1/

Salah satu pertemuan saya dengan buku yang benar-benar terkenang, terjadi pada suatu sore hujan di teras rumah simbah, rumah masa kecil ibu saya. Mungkin saya berumur sekitar 9 atau 10 di tahun 2000-an. Sepupu saya membawa sebuah buku cerita bercap milik negara, sisa dari rezim yang baru tumbang. Judulnya Elang Bercincin Emas, sialnya saya lupa nama penulisnya. Saya hanya ingat tiba-tiba sudah sudah duduk meringkuk dengan nyaman di atas kursi yang sudah tepos bantal dudukannya. Suara hujan terasa dekat sekali, tapi tidak mengusik. Tubuh di atas kursi telah terserap begitu dalam. Sekitar seperti lebur dan sunyi, hanya tubuh dalam cerita.

Saya tidak dibesarkan dari kultur keaksaraan (cetak) seperti sering diwakili oleh koleksi perpustakaan pribadi nan memukau atau tradisi kelisanan kuat yang membuat setiap cerita yang disuarakan begitu magis dan menyihir. Tapi, ada buku-buku di meja bapak saya. Tentu selain kitab suci yang entah tidak lumrah disebut buku, ada buku doa, buku salat, buku Yassin, dan beberapa buku tafsir. Dua buku lain yang cukup menarik; buku cerita nabi dan cerita wali songo. Cerita, itulah entitas membuat menarik dua buku ini. Maka, saya pun lebih mengenal cerita Budi, Wati, Ani, Inu, atau Peter berhuruf latin di halaman buku pelajaran bahasa Indonesia berwarna hijau sebelum merasa terwajibkan mengerti huruf Arab untuk membaca buku suci.

Secara formal saya mengenal huruf-huruf latin di TK meski cara guru menyibak belantara kunci keaksaraan sama sekali tidak menarik, menantang, menggembirakan, dan misterius. Saya hanya ingat satu momentum yang cukup menyakitkan. Saat itu, guru meminta anak-anak menyalin huruf ke buku tulis. Saya tidak punya buku tulis, kecuali buku bekas ala buku panduan penyuluhan kesehatan. Ibu guru marah, tapi saya tetap berusaha menyalin di sela-sela halaman putih yang kosong. Seingat saya, tulisan saya sangat buruk. Saya berhenti di huruf R.

Saya lebih mengingat suara ibu sebagai sumber kelisanan belajar mengeja. Biasanya di sela melipat baju, ibu menyambungkan huruf-huruf dan saya menyuarakan bunyi. Huruf-huruf saling bertemu, menimbulkan pola, menciptakan ritme, dan menciptakan kata. Saya merasa hal itu sangat ajaib. Begitu kata terpola, seperti terjadi sesuatu. Saya membayangkan banyaknya kata-kata yang menghuni satu buku saja, berapa lama dan terasa apa saat selesai membacanya, bagaimana ada seseorang yang punya banyak kata. Satu buku memang banyak kata, tapi bertahun-tahun setelahnya terasa betapa sangat sedikit satu buku itu. Saya akan bertemu lebih banyak buku, lebih banyak dari buku-buku di atas meja bapak yang secara tidak sadar dan tidak sengaja menjadi titik berangkat dari cara saya merengkuh buku, mengantar saya menjadi bagian dari umat pembaca tanpa perintah dan fatwa.

2/

Saya pun bertumbuh. Ketika menemukan majalah-majalah lawas di pasar buku lawas Gladak, Solo, atau Blok M, Jakarta, ada sisa-sisa ketakjuban dibawa oleh bau apak, debu, pojok-pojok halaman yang gripis, atau jeglokan yang telah berkarat. Siapakah pembaca-pembaca cilik yang terhormat menjadi bagian kebudayaan membaca di Indonesia, sejak penerbitan majalah yang gemilang dan makmur di masa 50-an?

Majalah-majalah menampilkan pengalaman personal membaca dan sekian halaman menjadi semacam etalase memajang buku yang baru saja terbit. Iklan-iklan buku bacaan Indonesia dan terjemahan yang persuasif, bertarung dengan iklan Taro, susu Dancow, pensil 2B Staedler, permen karet Yosan, dan mentega Blueband. Anak-anak Indonesia diajak menjadi penyantap buku. Seperti terekam di Bobo edisi No.1 Th. XX, 1992. Ada iklan “mendongeng bersama Enid Blyton.” Iklan sehalaman oleh penerbit Gramedia, total 12 seri buku seharga 1.800 rupiah. Penerbit memperkenalkan Enid bukan hanya penulis cerita serial Lima Sekawan atau Sapta Siaga, tapi juga serial dongeng. Dikatakan, “Dalam seri ini, setiap buku menyajikan sekitar sepuluh sampai dua belas dongeng pendek. Ukuran bukunya sedikit lebih kecil dari buku saku. Dan jangan lupa, seri ini cocok untuk kalian gunakan sebagai kado juga untuk teman yang berulang tahun.” Iklan pintar menggoda.

Majalah anak Kawanku oleh pimpinan redaksi Toha Mohtar malah memiliki rubrik ulasan buku “Laporan Buku” yang ditulis anak. Rubrik berpotensi mengabarkan buku-buku yang memang telah dibaca oleh anak-anak. Laporan Buku Kawanku edisi 8-14 Janurai 1982, menyajikan laporan kumpulan cerpen Leila. S. Chudori berjudul Sebuah Kejutan (PT. Sumbangsih Kawanku dan Sinar Harapan) oleh Eisel. Eisel tidak hanya menyajikan potongan-potongan cerita di buku, tapi juga memberikan pertimbangan, “Kelebihan Leila adalah pada gaya berceritanya yang lincah dan seringkali konyol. Ya, karenanya setelah membaca buku ini kita akan membayangkan alangkah enaknya jika Peter adalah teman sekelas kita.” Di akhir, Eisel dengan percaya diri memberikan usul berbuku bagi teman-teman pembaca Kawanku, “Bukannya ngecap belaka jika dikatakan tak rugi menyisihkan uang jajan untuk membeli buku ini.

Bertaut dengan penamaan “laporan buku”, halaman ini memang melaporkan kepekaan yang dilatih, daya baca, selera bacaan lokal ataupun asing, uji menimang buku, dan secara tidak langsung ada pembentukan kebiasaan membaca-menulis. Di Kawanku edisi 21-27 September 1979, memuat laporan buku Cecilia Cyntia, pemenang utama Sayembara Menulis (Menilai) Buku oleh PT. Dunia Pustaka Jaya yang diadakan bulan Juni 1979.” Buku yang dinilai Cecilia adalah Anak-anak Laut garapan Julius R. Siyaranamual. Tulisan Cecilia menampilkan dua bagian: ringkasan dan catatan komentar.

Masih di edisi sama, kita juga bisa menikmati profil Cecilia yang masih duduk di kelas I SMP Pangudi Luhur Jakarta Selatan. Memiliki ibu berprofesi sebagai penulis cerita anak, Toety Maklis, tentu mempengaruhi perselancaran Cecilia ke dunia buku. Sejak belia, Cecilia sudah diasuh oleh buku. Ia bercerita buku kesukaan, “Semua buku-buku yang mengandung cerita-cerita yang menarik. Terutama cerita-cerita petualangan. Saya juga senang membaca buku-buku teknologi, koran dan majalah.” Cecilia mau membaca buku sekaligus menulis ulasan buku. Di masa itu, keluarga-keluarga Indonesia pasti telah menerima televisi sebagai hiburan keluarga, tapi Cecilia menaruh kegembiraan, mencintai perlahan-lahan, dan upaya serta mimpinya di sana.

Di Si Kuncung edisi No. 11 (1994) bahkan muncul pertanyaan dilematis dari seorang bocah ditujukan kepada Nenek Limbak. Pembaca Kuncung yang berjaya di masanya tentu mengingat sosok Nenek Limbak yang intelek, bijak, dan punya jawaban untuk semua pertanyaan. Pertanyaan dilematis dari Poniman di Solo berbunyi seperti ini, “Nek, Cucu mempunyai uang tabungan. Jumlahnya cukup untuk membeli sepatu. Kendati masih bisa dipakai, sepatu Cucu nampak kusam. Menurut Nenek, lebih penting mana, membeli sepatu, apa buku-buku bacaan?” Nenek Limbak memberi saran Poniman memprediksi dengan rinci ketahanan sepatu sekaligus menyimpan uang tabungan. Untuk urusan buku yang katanya “membikin cerdas dan wawasan berkembang”, Nenek menyarankan Poniman menjadi anggota perpustakaan dengan optimis. Kota Solo pasti memiliki perpustakaan, tapi kota tidak menjadikan tempat semacam ini sebagai rujukan bagaimana kota ingin dilihat. Kota lebih dilihat dari kemegahan masjid, pusat kuliner, acara-acara festival, atau wisata heritagenya.

Secara personal, saya dibuat terkekeh oleh pengakuan di rubrik “Pengalamanku” majalah Islam yang tidak islami banget Sahabat edisi 15-31 Maret 1983. Seorang remaja putri bernama Ratih Soeprapto dari Sleman, Yogyakarta, mengaku begitu menyukai membaca sampai lupa salat. Meski salat dan membaca seharusnya sama menjadi peristiwa sangat teologis, Ratih harus mendapatkan kompensasi dimarahi ibu, “Ibu selalu marah-marah, apabila aku lupa sholat, hanya karena membaca buku.” Tuhan yang baik tidak melarang membaca buku, tapi ibu yang baik terkadang memang melarang membaca “terlalu” banyak buku.

Tapi ibu baik lainnya pasti ada maunya kalau membiarkan, bahkan dengan sengaja, mendekatkan anak dengan buku. Seperti yang terjadi ketika toko buku semacam Gunung Agung menuai masa kejayaan bukan hanya karena mampu menjual buku. TB Gunung Agung menjadi tempat nongkrong anak-anak. Jurnal Prisma edisi Mei 1987 pernah membuat laporan khusus tentang bacaan anak “Banjir Bacaan Untung Siapa?” oleh M. Ahmad Soemawisastra dan Edward S. Simandjuntak. Setelah 1973, pasar buku anak menggeliat karena ada gelontoran dana Inpres atau Instruksi Presiden untuk “memborong” buku bacaan anak. Pengarang-pengarang bacaan anak bermunculan dan tentu penerbit berani menerbitkan buku anak dalam jumlah besar karena sudah tidak takut rugi. Mutu buku pun dipertanyakan. Namun, anak-anak saat itu memang mengalami suatu kondisi yang dibahasakan dengan bombastis oleh redaksi, “sakit gila baca”.

Setiap IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menghelat pameran, murid-murid SD menyerbu. Gerai yang menyajikan buku-buku anak pasti ramai dan harus rela mengantre agar tidak berdesa-desakan, “setiap mengadakan pameran, IKAPI seakan-akan sedang menyelenggarakan pesta buku untuk anak-anak.” Merambat antusiasme serupa di toko buku, anak-anak bisa berjam-jam menikmati halaman demi halaman buku meski tidak membeli. Sekalipun di toko buku, anggap saja perpustakaan. Ada ibu-ibu secara sengaja “menitipkan” anaknya di TB Gunung Agung selama 3-4 jam sementara ia belanja di Pasar Senen atau Pasar Baru. Ada imperasi kehadiran ragawi anak-anak tanpa retorika “ramah anak”. Mereka menciptakan pilihan buku dan ruang. Hal ini mengingatkan pada ilustrasi ikonik bocah bercaping membaca dalam posisi santai di bawah pohon rindang sembari angon kambing. Tak ada kenikmatan keaksaraan cetak yang didustakan.

3/

Bukankah kesadaran buku sering memang harus lahir dari kondisi represif, luka bergelora, tekad paling bertekad, kemiskinan paling keparat akut, dan rasa keterasingan dari sekitar, yang dialami orang-orang di pelbagai sudut dunia. Tokoh kebangsaan, Ahmad Subardjo, otobiografi, Kesadaran Nasional (1978) menulis, “di dalam salah satu mata pelajaran di kelas enam, untuk pertama kalinya aku mengalami timbulnya rasa kesadaran yang masih samar-samar dan akhirnya berangsur-angsur berkembang dan menjelma menjadi rasa kebangsaan.” Seperti juga dialami oleh pribumi terpelajar, Subardjo juga mengalami diskriminasi rasial ketika di Sekolah Rendah. Seorang Belanda menjabar sebagai kepala sekolah baru dan mengatakan orang-orang Minangkabau tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Mereka hanya cocok menjalani pekerjaan rendah dan kasar.

Subardjo sedih, tapi mendapat pemulihan dari buku-buku. Ia mengatakan, “memadai untuk membaca buku-buku dan majalah-majalah yang dapat dipinjam dari perpustakaan. Hikayat dan ceritera mengenai kehidupan orang-orang perantau yang mempelopori membuka benua Amerika membangkitkan khayalan-khayalan yang liar dan bukan-bukan dalam benakku. Keberanian dan kepercayaan pada diri sendiri yang mereka tunjukkan membangkitkan keinginanku untuk seperti mereka, ikut mengembara menjelajahi rimba raya, rawa dan padang pasir yang mahaluas serta sunyi senyap nan jauh di Amerika.” Tokoh-tokoh keaksaraan ciptaan Karl May, Mark Twain, dan Jules Verne adalah pahlawan di masa kecil Subardjo. Buku-buku menyemai imajinasi kebebasan personal sekaligus kebangsaan.

Seorang pembaca yang juga tekun, Kartini, selain membuka pengajaran untuk anak-anak juga antusias menghimpun dongengan dan nyanyian untuk anak-anak (Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer: 2003). Di surat kepada Nyonya Nelly van Kol (20 Agustus 1902), Kartini menulis, “Kala seorang inspektur pengajaran Pribumi meminta kepada kami menulis cerita-cerita kecil dari kehidupan kanak-kanak Pribumi buat bacaan anak-anak Pribumi, yang akan dihiasi dan diterbitkan seperti buku-buku bergambar. Tak sedikit pun kami menduga, waktu kami menulis cerita-cerita ini, bahwa kami akan jadi gerakan mulia di Nederland sendiri: memberikan bacaan yang mendidik bagi kanak-kanak…” Ungkapan Kartini adalah perasaan gembira yang membara sekaligus menyisipkan kemurungan dari seorang pernah terkurung tapi dikasihi oleh buku. Mungkin terdengar dilematis juga, buku-buku itu eksklusif cenderung mahal untuk membayar ketidaksanggupan Kartini bebas, terutama secara ketubuhan.

Memiliki buku bisa jadi kehilangan dalam bentuk lain. Ada hal-hal yang menggagalkan, bukan sekadar masalah finansial karena buku memang tampak sebagai ide dari kelas menengah. Kehilangan buku bisa menjadi hal paling menyakitkan, membikin marah, dan berpotensi menanam dendam dalam pengalaman autobiografis membaca. Kehilangan sangat disadari, bukan menjadi kehilangan simbolik disebabkan sistem pendidikan yang membuat membaca menjadi kebutuhan administratif. Setiap tahun, orangtua melakukan aksi kolektif membelikan buku pelajaran demi ujian, nilai, ulangan, dan kewajiban.

Nur St Iskandar dalam Pengalaman Masa Kecil (1979) mengingat hadiah yang puitis, sebuah buku Perumpamaan dari seorang guru. Buku ini adalah penghormatan dan bukti terima kasih atas kerja ketekunan. Suatu hari, buku itu dipinjam Jenaid, teman Nur. Bapak Jenaid membuang buku itu karena dalam perjalanan di atas pedati, Jenaid tidak membantu bapak memegang tali kekang kerbau. Buku membuat bapak Jenaid kesal, lalu dibuang ke jurang. Buku telah hilang. Nur mengatakan, “Orang itu tidak memikirkan sedikit jua, betapa sedih hatiku karena perbuatannya yang kurang baik itu. Dan tidak terpikir olehnya, akan mengganti hadiah itu.” Menghadiahi buku adalah menghadiahi harapan. Buku memang turut membawa konsekuensi bertemu dengan kesedihan, kemarahan, kekecewaan yang berarti menguji mentalitas diri berhadapan dengan ketidakberuntungan dalam hidup.

4/

Saya pun teringat ketika bersama teman-teman diajak dolan-mengajar ke Sekolah Tenera di tengah perkebunan sawit di Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Kami membawa dua kardus buku dan sekardus majalah, teutama untuk anak-anak. Saya begitu patah hati saat menyadari betapa sedikitnya, sangat sedikit hadiah buku ini. Buku menciptakan kegembiraan tapi kecemburuan, menjelma hadiah spesial bagi bocah-bocah di tengah perkebunan yang memiliki jarak nyata jauh dari jalan besar apalagi pusat-pusat buku. Saya tidak berdaya merasakan kekurangan buku di tempat seperti ini. Di tengah kegembiraan anak-anak menulis dan bercerita dengan pamrih suci memiliki buku, ada derita tidak tertangguhkan, datang begitu tiba-tiba. Seperti didera kemarahan dari rasa cemburu atau semacam ironi, bahwa yang merasakan derita justru seorang perempuan yang hidup dalam dua kamar berbuku di pinggiran Boyolali sana. Betapa kenikmatan mewah memiliki buku-buku.

Namun, urusan buku di sekolah ini telah ditangani dua manusia yang tepat, Agriani Novita dan Patrick Manurung, dua teman jenaka, pembaca, pembelanja tekun, teman curhat, sekaligus pencetus ide-ide yang bikin deg-degan. Beberapa waktu lalu sempat berkabar dua koper buku dari perhelatan pameran BBW 2019, akan dibawa ke Bengkulu. Saya begitu kagum, mereka berbelanja untuk koleksi pibadi atau sekolah Tenera dengan koper, bukan kresek bercap serigala mangap, kardus, atau karung. Seutas pernyataan dari Mbak Opi saya ingat dari obrolan santai, “Buku bisa membuat orang jadi lebih penasaran.” Tenera menyambung ingatan saya pada anak-anak yang semangat menulis berpamrih buku di pinggiran Kali Code, di Desa Rukem, Purworejo, di sekitar kompleks Atsiri Karanganyar, bahkan sekolah di Kota Solo yang berjarak dekat dari toko buku atau pasar buku Gladak. Daya apa yang harus dilakukan anak-anak untuk mengatasi rasa sangat ingin memiliki buku, beralih dari strata peminjam menjadi pemilik yang paling otoritatif menciptakan biografi membaca.

Beberapa tahun ini, Indonesia memang bersemangat menyebar buku-buku cetak menuju segala penjuru daerah Nusantara, mengangkut eksemplar buku-buku dengan perahu, vespa, gerobak sampah, kuda, angkot, dan sepeda, impian berbuku diejek dengan telak oleh gaya hidup literasi digital. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) punya misi suci menyebarkan 10 ribu buku (cetak) menuju daerah-daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) dalam rangka Hari Buku Nasional 2017 meski masih dalam alasan kejam bahwa peringkat membaca Indonesia amat jemblok: 64 dari 70 negara (Media Indonesia, 18 Mei 2017). Abaikan saja prestasi buruk ini dan membiarkannya menjadi urusan duta baca atau pejabat negara.

Buku cetak masih menjadi mukjizat. Indonesia akan menyongsong merdeka internet 2020. Literasi bergawai, digitalisasi literasi, atau apa pun istilah keren nan relevan di abad ke-21 pasti akan semakin mendapat pemujaan meski juga tidak anti gangguan teknis, sinyal buruk, putus listrik, atau miskin paket data. Di sangat kekerenan digital merebak, masih saja ada orangtua yang panik dan menuduh anak tidak membaca karena sibuk main gawai. Pernyataan tidak bijaksana dari orangtua yang sangat fasih bergawai.

Hanya perlu satu momentum anak mengingat masa kanak yang yang berharga bersama buku dan membaca. Di waktu tepat dan jarang terduga, bisa terjadi lewat tatapan penasaran mengamati seseorang membaca buku di kereta api, dari cerita di potongan pembungkus tempe, persinggungan tidak sengaja menyebut tokoh super yang aneh, majalah bekas, ilustrasi imajinatif yang bisa timbul saat dibuka dan ditutup, persewaan buku yang selalu ingin diberantaki, kunjungan kecil ke toko buku, atau waktu-waktu kelisanan di atas ranjang. Sebarkan betapa membaca terasa menantang dan menggembirakan. Jika seorang anak tidak lahir dari keluarga intelektual melek buku, ia akan sadar bahwa tidak ada buku akan diwariskan. Warisan kata-kata harus diciptakan sendiri.

Sebagai pengakhiran, saya mengutip cerita imajinatif dari penulis legendaris Roald Dahl, yang diingat dan dicintai anak Indonesia dengan cetakan nama yang khas dan selalu lebih besar daripada judul buku di setiap sampul buku. Saya keterlaluan terlambat membaca Roald Dahl dan sebagai seorang Indonesia yang pernah anak, tidak bisa tidak mencintai buku-buku Roald Dahl dan buku-buku terjemahan lainnya. Saya kutipkan dari novel Matilda (2018), “Rasanya menyenangkan bisa membawa minuman panas ke kamar dan meletakkannya di samping, sementara dia duduk dalam ruangannya yang sunyi, membaca di ruang kosong, sepanjang sore. Buku-buku mengantarkannya ke dunia-dunia baru dan memperkenalkannya kepada orang-orang mengagumkan yang menjalani kehidupan yang sangat menarik. Dia naik kapal selama berhari-hari bersama Joseph Conrad. Dia pergi ke Afrika bersama Ernest Hemingway dan ke India bersama Rudyard Kipling. Dia bertualang ke seluruh dunia, sambil duduk di kamar sempitnya, di sebuah desa di Inggris.”

Selamat siang para umat buku budiman. Terima kasih.