Strategi Produksi di Penerbit Mayor

Memutuskan untuk berada di ranah penerbit mayor, menurut Wawan Arif dari Penerbit Forum harus memilih dari setidaknya dua senjata. Pertama menjadi senjata yang memberondong atau menjadi sniper. “Kalau menjadi senjata yang memberondong peluru, sikap yang diambil adalah mengerahkan banyak modal untuk membuat buku sebanyak-banyaknya. Sementara menjadi sniper,  bidik satu kena, bidik satu kena”, ungkap Wawan saat tampil menjadi salah satu pembahas dalam Sidang Komisi Produksi, Musyawarah Buku pada Kamis (14/09) di Dongeng Kopi.

Wawan mencontohkan Indonesia Boekoe yang mengambil langkah menjadi sniper. Mencetak buku dengan jumlah sedikit tapi pasti  laku karena jelas siapa sasaran pembelinya. Sementara pilihan senjata memberondong peluru tadi disebut Wawan diambil oleh banyak penerbit mayor. Masing-masing pilihan sikap ini pun menurut Wawan diikuti dengan konsekuensi masing-masing. “Mencetak banyak tentu butuh modal besar. Sementara mencetak sedikit pun butuh kekuatan sendiri untuk mengawal ketat kontennya,”ungkap Wawan.

Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan

 

Pada awal bulan Februari lalu, IKAPI DIY menggelar Pesta Buku Jogja 2012, bertajuk Jogja Itoe Boekoe. Dilatarbelakangi idealisme menggebu untuk membangun citra dunia perbukuan di Jogjakarta, di deklarasikanlah Jogja sebagai Kota Perbukuan Nasional pada seremoni pembukaan Pesta Buku Jogja tersebut.

Memantas Diri di Sebuah Pesta Buku

Di tengah pesta buku itu, beberapa teman sesama aktivis perbukuan mencandai saya yang mereka anggap seperti ”ogah-ogahan” berjualan. ”Mengapa Anda tidak berjualan?” begitu mereka bertanya kepada saya. Padahal, jelas-jelas kami mendisplay buku yang boleh dibeli pengunjung di stand yang sengaja kami rancang dengan penataan yang lumayan.

Lanjutkan membaca Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan