Tentang Pilihan: Pidato Puthut EA Dalam Penganugerahan Pengalembahan Kampung Buku Jogja 2017

Seandainya hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, saya memilih hanya menjadi seorang penulis saja. Tidak melakukan hal lain. Tidak membuat media, tidak melakukan penelitian, tidak berbisnis, tidak melakukan sekian hal lain, yang tak ada hubungannya dengan permenungan, mengolah kata, menyusun kalimat, menciptakan alur, membangun tokoh, dan menambatkan diri sepenuhnya dalam dunia imajinasi.

Tapi hidup ini tak sepenuhnya pilihan bebas. Kita semua punya keterbatasan, kadang dipaksa oleh keadaan, acapkali disabotase oleh hal lain yang mau tidak mau menciptakan gangguan. Hingga pada akhirnya, gangguan itu harus dikerjakan.

Kalau hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, saya hanya ingin di sela-sela menulis, membaca banyak buku. Sebanyak mungkin. Sebab membaca memberikan kenikmatan yang nyaris sempurna bagi saya. Bau kertas, ketenangan, semilir angin, keheningan, membuat membaca buku menjadi kenikmatan yang nyaris paripurna. Semua yang serba dianggap baik, pernah dicap sebagai candu. Agama. Sekolah. Mestinya juga buku.

Tapi adakah kebebasan yang sempurna? Adakah hidup yang lengkap? Atau jangan-jangan apa yang dianggap kesempurnaan itu sebetulnya tidak ada? Kehidupan ini justru mendekati paripurna karena kekurangannya, ketidaklengkapannya, keganjilannya, keterasingannya, dan perasaan yang tidak nyaman dan tak jenak.

Mungkin seperti cerpen atau novel. Kisah yang tak pernah lengkap. Patah-patah. Gerowong. Namun justru dalam lubang, jeda, dan bolong itulah, pembaca membuat tali penyambung sendiri, menjahit sendiri, menutup semua dengan kapasitas masing-masing. Kalau karya itu pepak, penuh, lengkap, justru di sana pembaca dikerangkeng, dimasukkan ke goa tertutup, dipenjara.
Dengan kaidah yang sama itulah, saya justru mulai percaya, bahwa jangan-jangan mereka yang percaya betul bahwa hidup ini adalah pilihan bebas, akan terjerat di dalamnya. Kisah tanpa emosi. Tanpa drama. Sebab tak ada yang patah dan terbata-bata. Tak ada yang tersengal. Kisah yang mungkin akan lancar dibaca tapi tidak membentangkan layar imajinasi, menutup ceruk dialog, mirip sebuah kapal mewah yang hanya dibiarkan tertambat di sebuah teluk yang indah. Tapi tidak berlayar ke mana-mana. Tidak pernah digulung badai. Tak pernah tersesat. Belum mengalami kandas karena salah menghitung surut air. Hampir putus asa karena mati mesin dan patah kemudi.

Para penulis besar, seingat saya, datang dalam situasi yang sulit. Tapi sekarang ini kita sering mendengar beberapa orang mengeluh tidak bisa menulis karena tidak punya uang. Padahal sebagian karya tulis hebat datang dari situasi batin yang tertekan, kehidupan yang guncang, kondisi sosial yang runyam, keadaan ekonomi yang buruk, kebebasan yang terenggut.
Mungkin banyak di sekitar kita yang merasa tidak bisa menulis karena tidak didukung oleh kecukupan finansial, kekurangan waktu. Tapi perhatikan bagaimana mereka tetap tidak menulis ketika uang berlimpah, dan punya waktu berlebih.

Atau, mereka tak kunjung menerbitkan karya karena merasa karya mereka belum sempurna. Hingga akhirnya karya yang tak sempurna itu makin tak sempurna karena tidak diterbitkan. Mereka lupa bahwa tidak mungkin manusia yang serbakurang dan tak sempurna ini menghasilkan karya yang sempurna.
Atau sebaliknya, karya-karya yang melimpah namun hanya dibaca seperti menempuh perjalanan di jalan tol yang luas dan sepi. Lancar. Lempang. Kencang. Sehingga tidak terasa geronjal kehidupan, tikungan emosi, tanjakan yang susah dilalui.

Jika hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, maka saya memilih menjadi penulis saja. Tidak mau mengerjakan yang lain.

Tapi justru karena itulah, maka saya tetap menulis. Tetap mengerjakan yang lain. Karena geronjal jalanan dalam berkarya itulah, yang membuat karya saya tidak sempurna, yang justru bisa mengatakan dengan jujur: beginilah hidup ini. Kehidupan yang harus kita jalani. Kehidupan yang penuh lecet dan daki.
Sebab karya tulis dihadirkan, bukan untuk menyempurnakan kehidupan manusia.

Tapi saya menyadari penuh bahwa saya juga bukan sepenuhnya orang yang di keseluruhan sendi kehidupan ini, tidak bisa memilih. Pada banyak hal, dengan penuh rasa syukur, saya bisa memilih. Di antara sederet kemerdekaan pilihan itu, tentu saja saya mensyukuri bisa memilih menjadi seorang penulis. Dan pilihan yang lain yang selalu saya syukuri juga adalah memilih menetap di Yogya.

Tinggal di Yogya hanya bisa dirasakan dan mungkin dijelaskan oleh orang-orang yang memilih tinggal di sini. Hanya orang yang memilih tinggal di Yogya pula yang bisa menjelaskan kenapa lembaga seperti Akademi Kebudayaan Yogya dulu bisa ada. Mojok bisa muncul. Indie Book Corner bisa tumbuh. Indonesia Buku bisa bertahan. Bentang Budaya pernah diinisiasi. Insistpress Publisher tetap berjalan. Penerbit Buku Baik tetap ingin menjalankan kegiatan di dunia perbukuan sekalipun orangnya sudah menjadi direktur Biennale Jogja. Puluhan penerbit setiap tahun tetap muncul sekalipun ada puluhan yang juga mati. Dan KBJ (Kampung Buku Jogja 2017) bisa dihelat sampai 3 kali.

Di sini, di Yogya, kebergegasan tidak selalu dilawan dengan kelambatan.
Kota ini memang tumbuh makin pikuk, makin ruwet, dan makin macet. Tapi akan selalu muncul orang-orang yang selalu melawan kemacetan pikiran, dengan segala keterbatasan.

Seperti karya tulis, keterbatasan itu ada, bukan untuk menyempurnakan manusia. Tapi meneguhkan bahwa begitulah manusia. Dengan cara yang serupa itulah, dia bertahan hingga lolos dari kepunahan. Setidaknya sampai sekarang.

Kampung Buku Jogja 2017 Sebagai Kerja Sama Orang Muda

Pada suatu malam di akhir Agustus 2017 saya duduk di bangku kayu di warung burjo di depan rumah saya. Tak lama kemudian Mas Arif Abdulrakhim datang. Lalu kami beranjak menuju kawasan Seturan untuk menemui dua orang muda dari Katalika Project.

Kami akhirnya tiba di sana. Sebuah mural bikinan Isrol (Media Legal) terpampang di tembok besar dengan tulisan mencolok: “Mengasah Pedang Literasi”. Rumah ini adalah tempat kegiatan sebuah kolektif yang bergerak di dunia kreatif. Saya sendiri sudah mengenal Tomi Wibisono, pendiri kolektif ini, sejak tahun 2015 di masa peralihan mereka dari penerbitan majalah musik Warning Magazine ke penerbitan buku yang bernama Warning Books. Dari Tomi, saya mengenal Huhum Humbilly, Soni Triantoro, Titah Asmaning Winedar, Bengbeng, Galih Fajar, dan lain-lain. Buku pertama yang diterbitkan Warning Books adalah Questioning Everything: Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-baik Saja karya Tomi dan Soni.

Huhum adalah alumnus Jurusan Seni Rupa UNY, aktif di media seni tato Magic Ink, organizer acara-acara seni dan budaya, serta penulis yang baik. Soni adalah penulis musik yang karya-karyanya dimuat di banyak media, termasuk Rolling Stone, dan sekarang bekerja di situs web Hipwee.com. Titah banyak menulis untuk Warning. Galih aktif di komunitas sastra Ngopinyastro dan menjadi vokalis band Kopibasi. Ia juga sekarang bekerja di Hipwee. Sedangkan Bengbeng adalah seorang seniman muda yang karya-karya ilustrasinya sudah banyak dipakai sebagai desain sampul buku.

Kolektif kreatif di Seturan itu mempunyai lini-lini Rumah Kata (perpustakaan), Warning Magazine (majalah musik), Warningmagz.com (situs web musik), Warning Books (penerbitan buku), Buku Akik (toko buku daring), dan Katalika Project (biro desain grafis). Dengan latar belakang itu pula cukup beralasan kiranya bagi saya dan Mas Arif untuk menemui Tomi dan Bengbeng di malam yang hanya berjarak sedikit setelah mereka kelar mengerjakan desain artistik untuk ASEAN Literary Festival 2017 di Jakarta.

Ketika Mas Arif mengobrol dengan dua pemuda itu, saya mengingat lagi peristiwa pada suatu malam di tahun 2015. Waktu itu saya dan Mas Arif berbincang di Kedai Kopi Condongcatur tentang kemungkinan mengadakan kegiatan perbukuan yang unik dan beda dari acara-acara perbukuan yang sudah ada. Beberapa bulan sebelumnya saya, Irwan Bajang (Indie Book Corner), dan Yusuf Effendi (Diandra Creative) mengadakan Pasar Buku Indie 2014 di Toko Buku Toga Mas Affandi. Di sana pula saya mengenalkan Wijaya Kusuma Eka Putra (Pojok Cerpen) pada Bajang dan Puthut EA (Mojok).

Dalam obrolan kami malam itu, kami sepakat untuk mengajak Bajang dan Eka dalam pembentukan sebuah tim kerja penyelenggaraan Kampung Buku Jogja 2015. Saya sendiri menganggap kegiatan perbukuan itu perlu mendapat amunisi dari kalangan muda supaya terasa segar dan bernuansa baru. Adapun pencetus nama “Kampung Buku Jogja” adalah Mas Arif. Kami juga menyebut identitas kolektif kami sebagai Kampung Buku Jogja (KBJ).

Dua tahun kemudian, upaya untuk tetap menjaga keunikan, kebaruan, dan keterlibatan orang-orang muda itu semakin kental. Di malam saya dan Mas Arif bertemu dengan Tomi dan Bengbeng, kami mengajak mereka untuk mengerjakan desain grafis dan desain artistik venue Kampung Buku Jogja 2017. Saya juga meminta bantuan mereka untuk memberi masukan tentang band-band penampil di acara yang akan diselenggarakan pada 4-8 Oktober itu. Mereka menyetujui tawaran kerja sama dari kami.

Beberapa hari kemudian empat orang yang berada di KBJ bergerak menemui sejumlah kawan yang aktif di dunia buku dan literasi. Mas Arif menemui Puthut. Saya dan Eka bertemu dengan Edi Mulyono (Diva/Kampus Fiksi/Basabasi). Bajang mengonsolidasikan kawan-kawan di jaringan penulis. Kami sendiri sudah terbiasa berkomunikasi di Warung Kendi dengan para tetua di ranah perbukuan Jogja, seperti Buldanul Khuri, Indra Ismawan, Hairus Salim, dan lain-lain. Kami juga membicarakan soal-soal perbukuan dengan mereka sebelum dan sudah kami semua bermain futsal di setiap akhir pekan.

Mas Arif lantas mewakili kami untuk berkomunikasi secara intensif dengan Hinu OS (3G Production) mengenai soal-soal teknis pelaksanaan sebuah event. Sejak KBJ 2015, kami memang bekerja sama dengan perusahaan event organizer tersebut. Dua perempuan muda berada di wilayah yang berkaitan dengan pekerjaan Mas Arif, yaitu Tami Bastian dan Ade Anggraini.

Saya sendiri mengetuk pintu penerbit, komunitas, toko buku, dan distributor untuk mulai membicarakan tentang KBJ 2017. Bajang membuka dialog dengan kawan-kawan pengelola Dongeng Kopi dan Nyata Kopi. Kami ingin menjadikan Dongeng Kopi sebagai tempat pelaksanaan Muyawarah Buku, sebuah rangkaian kegiatan pre-event KBJ 2017. Sedangkan Nyata Kopi adalah tempat kami melakukan rapat-rapat persiapan KBJ 2017. Kami juga mengajak Agus (Nyata Kopi) sebagai dokumentator acara. Di saat yang bersamaan, Eka mulai mengumpulkan teman-teman dari kelompok penerbit indie dan pelaku usaha perniagaan buku langka.

Dari pembagian kerja seperti itulah KBJ 2017 mulai terlihat bentuknya. Dari jejaring Tomi, kami mendapatkan band-band keren yang “melek literasi” (Senartogok, Talamariam, Deugalih, Agoni, Umarhaen, Kopibasi) dan Monica Lanongbuka (Perpustakaan Jalanan DIY). Dari jejaring Bajang, kami mengajak Hasan Gauk, pemuda yang selalu membantu kami ketika kami membuat kegiatan perbukuan (KBJ 2015, KBJ 2016, dan Mocosik 2017). Lalu Bajang mengajak penulis Bernard Batubara menjadi narasumber di Musyawarah Buku. Ia juga mampu mendekatkan jarak usia di kalangan penulis sepak bola melalui keberhasilannya mengajak senior sekelas Sindhunata dan Yusuf Arifin dengan penulis-penulis Fajar Junaedi, Eddward S Kennedy, dan Sirajudin Hasby. Bahkan ia yang mengajak penyair-penyair Saut Situmorang, Indrian Koto, Kedung Darma Romansha, dan Raedu Basha ke KBJ 2017.

Dari lingkungan Indonesia Boekoe/Radiobuku yang dipimpin kawan dekat kami, Muhidin M Dahlan, kami mengajak Safar Banggai. Radiobuku adalah media partner KBJ sejak tahun 2015. Kemudian Hasan dan Safar bahu membahu menyiapkan dan mengawal lima sesi Musyawarah Buku.

Orang-orang muda lainnya berasal dari lingkungan Eka. Selain aktif di KBJ, ia adalah pemilik distributor buku indie Pojok Cerpen yang memiliki lini situs web Pocer.co dan web Bukupocer.com. Ia juga salah satu pemilik penerbit Oak dan pengelola penerbit-penerbit EA Book dan Circa. Melalui Eka, KBJ 2017 mendapat bantuan tenaga, yaitu Margaretha Ratih Fernandez dan Rijen untuk mengerjakan notulensi Musyawarah Buku, juga O Lihin (Stanbuku) untuk pengelolaan administrasi peserta dari penerbit-penerbit indie.

Jaringan pendukung KBJ 2017 semakin dikuatkan melalui komunikasi dengan beberapa kawan dekat kami. Hasilnya sungguh menyenangkan. Melalui para tetua, kami mampu mengajak Seno Gumira Ajidarma dan Sindhunata untuk hadir di acara ini. Bajang mengajak Landung Simatupang dan Gunawan Maryanto. Eka berhasil mengajak Komunitas Kretek dan Buku Mojok. Dari Nody Arizona (Komunitas Kretek) dan Eka, KBJ 2017 dapat menyajikan acara-acara yang melibatkan Nuran Wibisono, Nezar Patria, Komang Armada, Fawaz Al Batawy, Afthonul Afif, Arman Dhani, Prima Sulistya, dan Hairus Salim. Eka juga mengonsolidasikan 55 penerbit indie yang kebanyakan adalah orang-orang muda untuk menjadi peserta KBJ 2017. Selain itu ia menghimpun belasan orang muda yang di perniagaan buku langka.

Saya lantas meyakinkan Shoffan, pemilik toko buku daring bernama Nurmahera, agar mengajak kawan-kawan di penerbit Djaman Baroe untuk menghadirkan Max Lane di KBJ 2017. Melalui Ahmad, pemuda yang mengelola toko buku daring Teotraphi, saya mengajak Klub Buku Yogyakarta (KBY). Saya juga meminta Taufan Akbar, anak muda yang mengelola penerbit Nyala, untuk menghubungi lagi Afrizal Malna tentang kesediaannya menghadiri acara ini. Sedangkan keterlibatan LPM Ekspresi UNY di acara ini relatif mudah dikomunikasikan karena saya banyak mengenal mahasiswa-mahasiswa yang menjadi penggeraknya.

Kami bersyukur memiliki hubungan baik dengan kawan-kawan pegiat buku dan literasi di luar Jogja. Dodit Sulaksono/Tokohitam (Malang/Jakarta), pelaku usaha niaga buku langka, sudah mengikuti KBJ sejak tahun 2015. Yang bersamaan dengan dia adalah Mohammad Rudi/Kardus Buku (Depok), Agus Manaji/Bukulawas Menkmenk (Magelang), Deden/Lumbung (Bandung), Zhulfy/Layung (Garut), dan Wahyu Heriyadi/Kentja (Ciamis). Hingga sekarang mereka tetap menjadi bagian dari keluarga KBJ sebagaimana orang-orang yang mengikuti kegiatan ini sejak awal.

Jaringan KBJ yang berhubungan dengan orang-orang muda juga tampak kuat di ranah penerbitan buku indie. Kawan-kawan muda dari luar Jogja selalu menyempatkan diri untuk berbincang di Warung Kendi bersama pegiat-pegiat buku Jogja, termasuk Abel/Sinar Hidoep (Salatiga) dan Raedu Basha/Ganding (Madura).

Faktor pertemanan pula yang membuat Trubadur, penerbit yang didirikan oleh Luthfi Mardiansyah di Bandung, hadir di KBJ 2017. Awalnya saya mengenal Luthfi sebagai seorang penerjemah buku dan penulis. Saya mendapatkan kontaknya dari Mawaidi D. Mas (Cantrik Pustaka). Mawaidi sendiri pernah aktif di lingkungan Kampus Fiksi dan Gambang. Ia lalu mendirikan Cantrik Pustaka bersama Naufil Istikhari.

Saya tahu bahwa Luthfi cukup dekat dengan kawan-kawan kami di lingkungan JBS (Jual Buku Sastra) dan Gambang. Ia mengenal pelaku-pelaku perbukuan di Jogja. Kemudian ia menerjemahkan buku untuk Octopus, Cantrik, Gambang, dan Papyrus.

Papyrus adalah penerbit buku yang didirikan oleh Wayan Darmaputra. Kedekatan saya dengan Wayan dimulai dengan perkenalan kami via Tomi (Warning). Beberapa waktu kemudian Wayan, juga Buldanul Khuri (Mata Bangsa), memilih untuk berkantor di tempat yang sama dengan Indie Book Corner, Nyata Kopi, dan Toko Budi.

Kolektif buku lainnya dari Bandung yang berisi anak-anak muda adalah Yayasan Jungkirbalik. Saya mulai mengenal seorang mahasiswa bernama Kelana Wisnu Sapta Nugraha, salah satu penggeraknya, sejak ia menghubungi saya untuk berdiskusi tentang penerbitan buku. Sebelumnya mereka mengelola toko buku daring Ruangraung Buku. Kemudian proses pracetak dan cetak buku pertama Jungkribalik dikerjakan di Jogja. Desainnya dikerjakan oleh Mawaidi (Cantrik) dan Bengbeng (Katalika Project). Sedangkan produksinya digarap di Utama Offset.

Dari jangkauan Eka, KBJ 2017 mengajak penerbit-penerbit muda lainnya dari luar Jogja, seperti Svantantra (Bandung) dan Parabel (Salatiga). Melalui Eka pula kami akrab dengan Denny Mihzar/Pelangi Sastra (Malang) yang awalnya kami kenal dari sebuah acara pameran buku di Malang.

Mas Arif dan saya pernah mengalami fase riuh dunia buku di Jogja pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Hingga hari ini kami masih aktif di ranah perbukuan dan menyaksikan munculnya orang-orang muda yang bergiat di komunitas literasi, kolektif seni, penerbitan media, dan penerbitan buku. Pilihan aktivitas mereka sama dengan pilihan kami. Namun mereka mempunyai cara-cara yang relatif baru dibanding metode kami di masa terdahulu. Kenyataan ini pula yang menyadarkan kami bahwa dunia buku dan literasi terus bergerak secara dinamis. Siapa pun yang beraktivitas di ranah literasi dan buku perlu bekerja sama untuk mengembangkan kegiatannya demi masa depan perbukuan di Indonesia.

Pada Jumat malam, 28 September 2017, saya mengobrol dengan Dodit Sulaksono dan Patrick Manurung. Kami berbincang tentang banyaknya anak-anak muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki jaringan yang luas. Kami mengagumi mereka. Mungkin kami akan semakin sering menyaksikan mereka beraktivitas dan mendukung kegiatan mereka. Tapi kami juga dapat mendekat dan bekerja sama dengan mereka.

KBJ sudah melakukan kerja sama tersebut sejak awal. Bahkan, selain nama-nama yang sudah disebut di atas, masih banyak orang muda lainnya yang berpartisipasi dalam KBJ 2017. Mereka aktif sebagai bagian dari panitia, peserta, maupun pengisi acara. Kita semua akan berjumpa dengan mereka. Kita akan merayakan buku dengan energi dan semangat muda.

Pembukaan Musyawarah Buku Akan Berlangsung di Dongeng Kopi

Dongeng Kopi Jogja yang terletak di Jln. Kranji Serang No.19B, dipilih sebagai tempat berlangsungnya Sidang Komisi Buku Indie yang akan dilaksanakan pada hari ini, Jumat, 8 September 2017. Hal itu bukan tanpa alasan. Sudah sejak tiga tahun lalu, Dongeng Kopi aktif berduet dengan Indie Book Corner untuk mengampanyekan dunia literasi lewat kopi dan buku.

Sidang komisi tersebut tersebut merupakan bagian dari Musyawarah Dunia Literasi & Pasar Buku di Indonesia. Para pegiat literasi akan membincangkan dirinya kembali. Adapun yang akan hadir sebagai narasumber dan pembahas antara lain Irwan Bajang (Indie Book Corner), Eka Putra (OAK), Kun Anindito (Gambang), Nufus (Diandra), Muhidin M. Dahlan (Warung Arsip), dan Indrian Koto (JBS).

Selain perbincangan tentang buku indie, akan berlangsung juga perbincangan tentang keredaksian, produksi, distribusi, dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Semua berlangsung dalam kurun waktu 8-21 September 2017 sebagai rangkaian acara Kampung Buku Jogja #3.

Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan

 

Pada awal bulan Februari lalu, IKAPI DIY menggelar Pesta Buku Jogja 2012, bertajuk Jogja Itoe Boekoe. Dilatarbelakangi idealisme menggebu untuk membangun citra dunia perbukuan di Jogjakarta, di deklarasikanlah Jogja sebagai Kota Perbukuan Nasional pada seremoni pembukaan Pesta Buku Jogja tersebut.

Memantas Diri di Sebuah Pesta Buku

Di tengah pesta buku itu, beberapa teman sesama aktivis perbukuan mencandai saya yang mereka anggap seperti ”ogah-ogahan” berjualan. ”Mengapa Anda tidak berjualan?” begitu mereka bertanya kepada saya. Padahal, jelas-jelas kami mendisplay buku yang boleh dibeli pengunjung di stand yang sengaja kami rancang dengan penataan yang lumayan.

Lanjutkan membaca Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan