Musyawarah Buku Indie: Dapur Redaksi dan Distribusi

“Dunia buku adalah dunia di mana para pelaku memutar otak, mengintip peluang, lalu mencoba menerobos celah itu dengan daya upaya yang mereka miliki. Sebagai bagian dari industri kreatif, para pemain-pemain dipaksa harus mengikuti pola-pola baru yang tadinya mungkin belum pernah dibayangkan.”

Kutipan di atas disampaikan Bajang  mengawali topic pembicaraan dalam Sidang Pleno Penerbit Indie, 8 September 2017. Lima pembicara Musyawarah Buku Indie, antara lain Dana Gumilar (Berdikari Book), Ainun Nufus (Penulis Wattpad), Prima Sulistya (Mojok), Kun Anindito (Gambang), Ahmad Khadafi (Editor) membahas  berbagai hal terkait dunia penerbitan dalam suasana yang santai di Dongeng Kopi Jogja.

Prima, mewakili penerbit BukuMojok, mengatakan bahwa ada model penulis yang membutuhkan ruang lebih luas dari penerbitan indie. “Buku Gaspar karya Sabda Armandio adalah salah satu contoh, saya malah ragu apakah jika di-indie-kan, oplahnya akan mencapai 3500 eks.”  Sebaliknya, Kun Anindito yang memilih mencetak dengan cara indie, beranggapan bahwa hal tersebut merupakan salah satu solusi bagi penerbit yang bermodal seadanya. “Jika tiga ratus dicetak ulang sepuluh kali, kan jadinya tiga ribu juga,” katanya sambil tertawa.

Terkait penjualan sebagaimana disampaikan Dana Berdikari Book, online sejauh ini memang iklim paling ramah bagi penerbit-penerbit alternatif. Berbeda dengan penerbit mayor yang masih bergantung pada offline, baik toko maupun event-event buku. “Semakin berbeda produknya, akan semakin laku di online” terang Dana. “Dan hal itu sangat membantu kami sebagai reseller. Sebab menjual produk-produk yang mungkin tidak tersedia di toko buku,” tambahnya.

Pembukaan Musyawarah Buku Akan Berlangsung di Dongeng Kopi

Dongeng Kopi Jogja yang terletak di Jln. Kranji Serang No.19B, dipilih sebagai tempat berlangsungnya Sidang Komisi Buku Indie yang akan dilaksanakan pada hari ini, Jumat, 8 September 2017. Hal itu bukan tanpa alasan. Sudah sejak tiga tahun lalu, Dongeng Kopi aktif berduet dengan Indie Book Corner untuk mengampanyekan dunia literasi lewat kopi dan buku.

Sidang komisi tersebut tersebut merupakan bagian dari Musyawarah Dunia Literasi & Pasar Buku di Indonesia. Para pegiat literasi akan membincangkan dirinya kembali. Adapun yang akan hadir sebagai narasumber dan pembahas antara lain Irwan Bajang (Indie Book Corner), Eka Putra (OAK), Kun Anindito (Gambang), Nufus (Diandra), Muhidin M. Dahlan (Warung Arsip), dan Indrian Koto (JBS).

Selain perbincangan tentang buku indie, akan berlangsung juga perbincangan tentang keredaksian, produksi, distribusi, dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Semua berlangsung dalam kurun waktu 8-21 September 2017 sebagai rangkaian acara Kampung Buku Jogja #3.

Kampung Buku Jogja 2017 Siap Digelar 4-8 Oktober

Saat ini kehidupan sosial di Indonesia sedang mendapat tantangan dan gangguan dengan terjadinya peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kemajemukan dan toleransi masyarakat. Kasus-kasus intoleransi dan gesekan-gesekan akibat perbedaan pandangan tentang masalah identitas terjadi di sejumlah wilayah. Kelompok masyarakat tertentu memvonis kelompok masyarakat lainnya sebagai pihak yang tidak berhak menjalankan aktivitas kelompoknya karena dianggap berbeda dalam soal keyakinan ataupun agama.

Masalah tersebut semakin terasa mengkhawatirkan bagi masa depan kebhinekaan Indonesia karena adanya perdebatan dan perang opini yang berlangsung di dunia maya. Media sosial telah menjadi ajang persaingan antar-kelompok yang mengusung pendapat berbeda sehingga mengarah pada rivalitas bahkan pertikaian. Banyak orang menjadi terlalu mudah mengunggah kabar dan informasi yang belum diperiksa kebenarannya. Informasi dan berita bohong (hoax) tersebar dengan sangat cepat karena banyaknya orang yang saling membagikannya via media sosial. Maraknya kasus-kasus intoleransi pun dipengaruhi antara lain oleh penyebaran kabar bohong tersebut.

Saat ini sebagian masyarakat di Indonesia seperti mudah tersulut emosi dan mudah menjadi hakim atas sebuah peristiwa. Informasi dan kabar tidak terlebih dulu dibaca dengan teliti, dicermati muatannya, ditelusuri sumbernya. Kita menjadi warga masyarakat yang tidak berpikir kritis, tidak reflektif, dan tidak bijaksana. Dengan kata lain kita sedang mengalami masalah dalam pembacaan atas kondisi sosial. Kita mengalami krisis literasi justru ketika informasi hadir dengan sangat banyak dan mudah di sekeliling kita.

Dalam situasi krisis literasi itulah kita perlu menengok lagi dunia pustaka atau dunia buku. Kepustakaan adalah medium yang mampu mengajak kita melepaskan diri dari hiruk pikuk dan sengakrut perdebatan di media sosial. Kita perlu kembali memperhatikan buku yang sudah sejak lama dianggap sebagai “jendela dunia”. Membaca buku adalah upaya bagi kita untuk belajar berpikir kritis dan reflektif sehingga kita tidak akan menjadi manusia yang tergesa-gesa dalam berpikir dan bertindak.

Kebutuhan kita akan kegiatan membaca tentu saja berkaitan dengan ketersediaan bacaan dan kepustakaan. Salah satu pendukung untuk pengadaan buku itu adalah pasar buku. Kita memerlukan buku untuk dibaca dan kita bisa mendapatkannya di pasar buku. Penerbit dan toko buku pun menjadi pihak penyokong ketersediaan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam hal inilah pasar buku harus menjadi tempat yang mampu menyediakan bacaan-bacaan bermutu tinggi untuk meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan daya literasi masyarakat.

Untuk mengikuti kemajuan teknologi informasi, komponen-komponen pendukung pasar buku memang perlu membangun serta mengembangkan strategi penyebaran buku untuk masyarakat. Kampanye-kampanye tentang buku dan literasi harus terus dilakukan untuk mengimbangi peredaran informasi yang salah dan kabar bohong di dunia maya. Di saat yang fisik buku perlu disediakan di pelbagai tempat dengan cara-cara modern yang mampu mendekatkan bacaan dengan publik dan pembacanya.

Kampung Buku Jogja 2017 adalah kegiatan perbukuan yang mendukung penguatan literasi dan pengembangan dunia pustaka. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan bacaan yang bermutu, penting, dan bermanfaat bagi publik. Diskusi-diskusi yang berlangsung di dalamnya adalah upaya untuk menguatkan kemampuan pembacaan masyarakat atas pelbagai peristiwa sosial mutakhir yang dikaitkan dengan realitas dunia kepustakaan di Indonesia. Sedangkan produk-produk bacaan atau buku yang disediakan dalam kegiatan ini adalah materi-materi terpilih yang akan mampu mendorong masyarakat untuk berpikir terbuka, kritis, dan proporsional. Dengan kata lain kegiatan ini merupakan upaya pembaruan cara berpikir dan bertindak sehingga kita bisa bersama-sama membangun masyarakat yang cerdas dan beradab.

Bertempat di Foodpark, Lembah UGM, Kampung Buku Jogja akan dihelat pada 4-8 Oktober 2017. Selain pameran buku, akan diadakan juga serangkaian diskusi buku, temu komunitas, acara hiburan, serta penyampaian hasil Musyawarah Buku.

 

14 Penerbit Reguler Menyatakan Siap Ramaikan KBJ 2017

Sebanyak 14 penerbit regular di Yogyakarta akan terlibat sebagai peserta Kampung Buku Jogja (KBJ) 2017 dalam Techincal Meeting yang diadakan pada 6 September 2017 di Nyata Kopi pukul 14.00 WIB. Sementara 9 penerbit lainnya yang terdaftar belum memastikan keterlibatannya dalam event tahunan ini.

Diutarakan oleh Adhe Ma’ruf selaku Penanggung Jawab Buku Reguler, dari segi antusiasme, mengalami peningkatan yang cukup pesat dari penerbit-penerbit yang sudah pasti akan terlibat. 14 penerbit itu di antaranya Insistpress, Lkis, Media Pressindo, Galang, Diva Press, dan Buku Mojok. KBJ 2017 masih akan diselenggarakan di Foodpark Lembah UGM. Bila tahun lalu KBJ hanya menempati bagian taman dari wilayah tersebut, tahun ini akan digunakan pula gedungnya.

Ditemui setelah TM, Penanggung Jawab Umum KBJ, Arif Doel menambahkan bahwa panitia KBJ juga akan mengundang beberapa komunitas untuk turut serta dalam event ini. “Kita memberikan tempat untuk beberapa komunitas agar dapat mensosialisasikan komunitasnya. Bisa mendisplay karyanya kalau memang outputnya karya (benda). Kalau outputnya bukan karya, juga akan kita beri ruang untuk mensosialisasikan komunitasnya.

Kampung Buku Jogja 2017 sendiri akan dihelat pada 4-8 Oktober 2017.

 

 

Kampung Buku Jogja Berlangsung Lebih Panjang di 2017

Durasi pelaksanaan Kampung Buku Jogja (KBJ) 2017 akan berlangsung lebih panjang yakni lima hari dari 4-8 Oktober 2017, pukul 10.00-21.00 WIB setiap harinya. Hal ini diutarakan oleh Penanggung Jawab Umum KBJ, Arif Doel, saat membuka Techincal Meeting (TM) KBJ 2017 khuus penerbit regular, yang berlangsung pada 6 September 2017 pukul 14.00 WIB di Nyata Kopi.

TM ini membahas serangkaian mekanisme Pameran KBJ 2017. Masih bertempat di Foodpark, Lembah UGM, KBJ tahun ini mendapat ruang pameran yang lebih luas yakni mencakup taman dan gedung Foodpark Lembah UGM. Untuk itu pada TM kali ini, dijelaskan oleh Adhe Maarup selaku Penanggung Jawab Penerbit, pembagian wilayah pameran mencakup tiga bagian untuk area pameran buku, panggung hiburan dan stan makanan-minuman.

Dibahas pula mekanisme persediaan buku pameran, transaksi penjualan, fasilitas pameran, serta loading barang selama pameran berlangsung nanti. TM ini dihadiri oleh sepuluh penerbit regular se-Yogyakarta.