Jadwal Lengkap Kampung Buku Jogja 2019: 2-5 September 2019

Kampung Buku Jogja diselenggarakan selama 4 hari, 2 – 5 September 2019, di PKKH UGM. Puluhan narasumber baik personal maupun kelompok kami undang dalam perayaan buku ini. Kami juga mengundang berbagai kelompok musik untuk tampil di acara ini.

Seluruh acara yang kami susun disediakan untuk umum dan gratis, Anda bisa datang langsung. Untuk agenda workshop karena terkait kuota, kami membuat sistem pendaftaran.

Untuk informasi mengenai Kampung Buku Jogja, Anda bisa menghubungi kami lewat Mia – 0857-2968-5224 (WA)

Senin, 2 September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM
10.00 – 14.00 Workshop Penulisan Prosa oleh Mahfud Ikhwan
13.00 – 14.00 RANGKAIAN ACARA
Pembacaan Puisi Rendra oleh Kedung Darma Romansha
Orasi “10 Tahun Setelah WS Rendra Tiada” dan Pembacaan Puisi oleh Sitoresmi Prabuningrat
Pembukaan KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
14.00 – 14.30 Lelang Buku
14.30 – 15.00 Bursa Naskah
15.00 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: RASA Alternatif Model Epistomologi Lokal” oleh Ayu Utami, Host: Fitri Merawati
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Ayu Utami
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 21.00 Talk Show “Ngisruh Sejak dalam Pikiran” oleh Sabrang “Noe” Letto dan Iqbal Aji Daryono

Selasa, 3 September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM
10.00 – 12.00 Workshop Menulis Buku oleh Deepublish
13.00 – 17.00 Workshop Jogja International Literary Festival:
Kritik Sastra oleh Kris Budiman
13.00 – 15.00 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Saya Suka Buku” oleh Abinaya Ghina Jamela
Talk Show “Sejarah Pers Indonesia: 1945 – 1998” oleh FX Domini BB Hera dan Octo Lampito, Host: Dodit Sulaksono
15.00 – 15.30 Lelang Buku
15.30 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: Saya, Kura-Kura Berjanggut, dan Sejarah Aceh” oleh Azhari Aiyub, Host: Artie Ahmad
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Azhari Aiyub
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 20.00 Pertunjukan Musik Puisi oleh Anes, dkk.
20.00 – 21.00 Musik: Log Sanskrit

Rabu, 4  September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum “HAM dan Kewarganegaraan” oleh Prof. Purwo Santoso dan Ulya “Pipin” Jamson, MA
10.00 – 14.00 Workshop Penulisan Esai oleh Agus Mulyadi
13.00 – 15.00 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Dunia Penulis Yogyakarta” oleh Iman Budhi Santosa
Talk Show “Yang Asing di Kampung Sendiri: Kudus dalam Prosa Jurnalisme” oleh Zakki Amali dan Noor Syafaatul Udhma, Host: Impian Nopitasari
15.00 – 15.30 Bursa Naskah
15.30 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: Melantunkan Puisi, Menyampaikan Narasi” oleh Reda Gaudiamo, Host: Hamada Adzani
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Reda Gaudiamo
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 20.00 Musik: Reda Gaudiamo
20.00 – 20.30 Mimbar Bebas Puisi
20.30 – 21.00 Musik: Deugalih

Kamis, 5  September 2019

11.00 – 12.00 Pertunjukan Siswa-siswi Jogja Green School
13.00 – 15.30 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Buku dan Anak-anak Indonesia” oleh Setyaningsih
Pangalembana KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
Talk Show “Indonesia Sebelum dan Sesudah Kolonialisme” oleh JJ Rizal dan Hasan Basri, Host: Naufil Istikhari
15.30 – 16.00 Bursa Naskah
16.00 – 16.30 Lelang Buku
16.30 – 17.00 Mimbar Bebas Puisi
17.00 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 19.30 Penutupan KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
19.30 – 20.00 Musik: Mengayun Kayu
20.00 – 21.00 Musik: Dendang Kampungan

Kuliah Umum Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM di Kampung Buku Jogja 2019

Kampung Buku Jogja 2019 merupakan peristiwa literasi dan ruang diskursif bagi para pencinta buku dan masyarakat umum untuk merayakan buku dalam wujudnya sebagai bahan kajian dan sumber pengetahuan. Kali ini kami bermaksud membahas dan mendiskusikan aspek-aspek kemasyarakatan di Indonesia, seperti politik, sejarah, seni dan budaya, bahasa, dan wilayah geografis.

Dengan latar belakang sebagaimana tertera dalam proposal yang kami lampirkan, Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM mengadakan kuliah umum bagi mahasiswa reguler di departemen tersebut dan masyarakat umum yang berminat pada kajian-kajian politik. Kuliah umum dilaksanakan sebagai rangkaian acara KBJ 2019 di Gedung PKKH UGM.

Terdapat keterkaitan yang jelas di antara tema KBJ 2019, yaitu Menelisik Bilik-bilik Indonesia, dengan materi perkuliahan di DPP FISIPOL UGM, seperti HAM dan Kewarganegaraan, Sejarah Sosial dan Politik Indonesia, Analisa Politik Indonesia, Birokrasi, Pemilu, Perilaku Politik, dan lain-lain (sumber: htttps://palawa.ugm.ac.id).

KBJ mengajak DPP FISIPOL UGM untuk mengadakan kuliah umum di panggung utama KBJ 2019 pada jam 10.00 – 12.00 WIB yang disampaikan oleh staf pengajar DPP FISIPOL UGM. Kuliah umum tersebut dapat diikuti oleh publik agar ilmu pengetahuan senantiasa disebarkan seluas-luasnya dan kembali menjadi milik masyarakat.

Peserta Kampung Buku Jogja 2019

Kampung Buku Jogja 2019 diikuti oleh penerbit regular, penerbit indie, dan toko buku langka. Berikut ini daftarnya:

PENERBIT REGULER

  1. Buku Mojok
  2. Diva Press
  3. Diandra Primamitra Media
  4. Insist Press
  5. Jalasutra
  6. LKiS
  7. Media Pressindo
  8. Ombak
  9. Shira Media
  10. Solusi Buku/Solusi Distribusi
  11. Toga Mas
  12. Yayasan Pustaka Obor Indonesia
  13. Media Kreativa
  14. Gading Publishing
  15. Galang Press
  16. Forum
  17. Pustaka Alvabet
  18. Komunitas Bambu
  19. UII Press
  20. Amara Books

PENERBIT INDIE

  1. Art Music Today
  2. Djaman Baroe
  3. EA Books
  4. Gambang Buku Budaya
  5. Indie Book Corner
  6. Interlude
  7. Istana Agency
  8. IVAA
  9. Kendi Publisher
  10. Mata Bangsa/Mata Angin
  11. Nyala
  12. Pataba Press
  13. Pojok Cerpen
  14. Rua Aksara & Bening Pustaka
  15. Warning Books
  16. Deepublish
  17. Kentja Press
  18. Diomedia
  19. Cantrik Pustaka
  20. Resist Book
  21. Kakatua
  22. Octopus Publishing
  23. Nurmahera
  24. Katta/BukuKatta
  25. Papyrus Publishing
  26. Circa
  27. Antinomi
  28. Pustaka Saga
  29. Pelangi Sastra
  30. Marjin Kiri
  31. Trubadur
  32. Gorga
  33. Yayasan Kajian Musik Laras
  34. Warung Arsip
  35. Jual Buku Sastra
  36. Berdikari Book
  37. Natan Books

TOKO BUKU LANGKA

  1. Bagas Setia Wicaksana
  2. Bayu Nugrah
  3. Gerak Budaya
  4. Aik Nugraha
  5. Budi Saryanto
  6. Rusli AB
  7. Lentho
  8. Massa Aksi
  9. Aby Totok
  10. Reko Pambudi Prabowo
  11. Nurmahera
  12. Tantrayana
  13. Tokohitam
  14. Yus Pramudya Jati
  15. Gubuk Sastra

Kampung Buku Jogja 2019: Menelisik Bilik-bilik Indonesia

Pada tahun 2019 Kampung Buku Jogja (KBJ) menginjak usianya yang ke-5. Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 2015 sebagai salah satu upaya untuk merawat dan mengembangkan semangat keilmuan dalam dunia perbukuan di Indonesia yang melampaui perbincangan dan praktik perbukuan sebagai komoditas belaka. Kami mewujudkan keinginan tersebut dengan menjadikan KBJ sebagai kerja kolektif insan-insan perbukaun dan ruang diskursif bagi para pencinta buku untuk merayakan buku dalam wujudnya sebagai bahan kajian dan sumber pengetahuan.

Kami menyadari bahwa terdapat banyak hal yang dapat ditelisik dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Buku merupakan salah satu wahana yang menawarkan perspektif untuk penyelidikan tersebut. Oleh karena itu KBJ diusahakan menjadi sarana untuk mengkaji peristiwa yang sudah berlalu dan meneropong perkembangan yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan sosial. Dengan demikian KBJ turut mendorong dunia perbukuan untuk selalu berjalan beriringan dengan masyarakat.

Pada tahun ini kami bermaksud membahas dan mendiskusikan aspek-aspek kemasyarakatan yang dikaji oleh para peneliti, dinarasikan oleh para penulis, diterbitkan oleh insan-insan perbukuan, maupun dipertunjukkan oleh para penampil. Kami menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negeri yang sangat kaya dalam setiap bidang yang dimilikinya, seperti sumber daya alam, etnis, seni dan budaya, dan sebagainya. Kekayaan itu pula yang mendorong munculnya para peneliti, penulis, penerbit, penampil, dan kreator lainnya. Mereka menjadikan Indonesia sebagai sumber untuk diteliti dan dikaji kemudian hasilnya dikembalikan kepada pihak-pihak yang ingin mengetahui dan mengapresiasinya, termasuk masyarakat. Karya-karya yang dihasilkan dari pelbagai kajian itu pula yang turut menjadi faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan oleh pemerintah Indonesia.

Penelitian dan pengkajian tentang Indonesia sudah berlangsung sejak kolonialisme Belanda berlangsung di Tanah Air. Terdapat banyak peneliti berkebangsaan asing yang bergulat meneliti aspek-aspek dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak pula lembaga penelitian maupun perguruan tinggi di luar negeri yang didirikan untuk menaungi riset-riset tersebut. Kenyataan itu turut mendorong munculnya para peneliti dari dalam negeri yang menengok kembali Ibu Pertiwi sebagai sumber inspirasi, obyek riset, dan bahan kajian keilmuan mereka.

Dengan fondasi dan pemikiran itulah KBJ 2019 ingin menjadi tempat berlangsungnya diskusi-diskusi tentang keindonesiaan yang berbasis pada riset-riset keilmuan oleh para peneliti. Adapun spektrum yang melandasi pemilihan hasil-hasil  penelitian untuk dikaji dalam kegiatan perbukuan tersebut adalah bidang keilmuan yang mencakup aspek-aspek sosial di Indonesia, yakni politik, sejarah, seni dan budaya, bahasa, dan wilayah geografis.

Kami akan mendokumentasikan hasil-hasil diskusi dan perbincangan dalam KBJ 2019 supaya catatan dan diskursus yang berlangsung di dalamnya dapat tersampaikan kepada khalayak yang lebih luas. Dengan cara itu pula KBJ 2019 tetap menjadi kegiatan perbukuan yang berada dalam koridor kepentingan pengayaan wacana dan penyebaran informasi untuk masyarakat Indonesia.

Tentang Pilihan: Pidato Puthut EA Dalam Penganugerahan Pengalembahan Kampung Buku Jogja 2017

Seandainya hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, saya memilih hanya menjadi seorang penulis saja. Tidak melakukan hal lain. Tidak membuat media, tidak melakukan penelitian, tidak berbisnis, tidak melakukan sekian hal lain, yang tak ada hubungannya dengan permenungan, mengolah kata, menyusun kalimat, menciptakan alur, membangun tokoh, dan menambatkan diri sepenuhnya dalam dunia imajinasi.

Tapi hidup ini tak sepenuhnya pilihan bebas. Kita semua punya keterbatasan, kadang dipaksa oleh keadaan, acapkali disabotase oleh hal lain yang mau tidak mau menciptakan gangguan. Hingga pada akhirnya, gangguan itu harus dikerjakan.

Kalau hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, saya hanya ingin di sela-sela menulis, membaca banyak buku. Sebanyak mungkin. Sebab membaca memberikan kenikmatan yang nyaris sempurna bagi saya. Bau kertas, ketenangan, semilir angin, keheningan, membuat membaca buku menjadi kenikmatan yang nyaris paripurna. Semua yang serba dianggap baik, pernah dicap sebagai candu. Agama. Sekolah. Mestinya juga buku.

Tapi adakah kebebasan yang sempurna? Adakah hidup yang lengkap? Atau jangan-jangan apa yang dianggap kesempurnaan itu sebetulnya tidak ada? Kehidupan ini justru mendekati paripurna karena kekurangannya, ketidaklengkapannya, keganjilannya, keterasingannya, dan perasaan yang tidak nyaman dan tak jenak.

Mungkin seperti cerpen atau novel. Kisah yang tak pernah lengkap. Patah-patah. Gerowong. Namun justru dalam lubang, jeda, dan bolong itulah, pembaca membuat tali penyambung sendiri, menjahit sendiri, menutup semua dengan kapasitas masing-masing. Kalau karya itu pepak, penuh, lengkap, justru di sana pembaca dikerangkeng, dimasukkan ke goa tertutup, dipenjara.
Dengan kaidah yang sama itulah, saya justru mulai percaya, bahwa jangan-jangan mereka yang percaya betul bahwa hidup ini adalah pilihan bebas, akan terjerat di dalamnya. Kisah tanpa emosi. Tanpa drama. Sebab tak ada yang patah dan terbata-bata. Tak ada yang tersengal. Kisah yang mungkin akan lancar dibaca tapi tidak membentangkan layar imajinasi, menutup ceruk dialog, mirip sebuah kapal mewah yang hanya dibiarkan tertambat di sebuah teluk yang indah. Tapi tidak berlayar ke mana-mana. Tidak pernah digulung badai. Tak pernah tersesat. Belum mengalami kandas karena salah menghitung surut air. Hampir putus asa karena mati mesin dan patah kemudi.

Para penulis besar, seingat saya, datang dalam situasi yang sulit. Tapi sekarang ini kita sering mendengar beberapa orang mengeluh tidak bisa menulis karena tidak punya uang. Padahal sebagian karya tulis hebat datang dari situasi batin yang tertekan, kehidupan yang guncang, kondisi sosial yang runyam, keadaan ekonomi yang buruk, kebebasan yang terenggut.
Mungkin banyak di sekitar kita yang merasa tidak bisa menulis karena tidak didukung oleh kecukupan finansial, kekurangan waktu. Tapi perhatikan bagaimana mereka tetap tidak menulis ketika uang berlimpah, dan punya waktu berlebih.

Atau, mereka tak kunjung menerbitkan karya karena merasa karya mereka belum sempurna. Hingga akhirnya karya yang tak sempurna itu makin tak sempurna karena tidak diterbitkan. Mereka lupa bahwa tidak mungkin manusia yang serbakurang dan tak sempurna ini menghasilkan karya yang sempurna.
Atau sebaliknya, karya-karya yang melimpah namun hanya dibaca seperti menempuh perjalanan di jalan tol yang luas dan sepi. Lancar. Lempang. Kencang. Sehingga tidak terasa geronjal kehidupan, tikungan emosi, tanjakan yang susah dilalui.

Jika hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, maka saya memilih menjadi penulis saja. Tidak mau mengerjakan yang lain.

Tapi justru karena itulah, maka saya tetap menulis. Tetap mengerjakan yang lain. Karena geronjal jalanan dalam berkarya itulah, yang membuat karya saya tidak sempurna, yang justru bisa mengatakan dengan jujur: beginilah hidup ini. Kehidupan yang harus kita jalani. Kehidupan yang penuh lecet dan daki.
Sebab karya tulis dihadirkan, bukan untuk menyempurnakan kehidupan manusia.

Tapi saya menyadari penuh bahwa saya juga bukan sepenuhnya orang yang di keseluruhan sendi kehidupan ini, tidak bisa memilih. Pada banyak hal, dengan penuh rasa syukur, saya bisa memilih. Di antara sederet kemerdekaan pilihan itu, tentu saja saya mensyukuri bisa memilih menjadi seorang penulis. Dan pilihan yang lain yang selalu saya syukuri juga adalah memilih menetap di Yogya.

Tinggal di Yogya hanya bisa dirasakan dan mungkin dijelaskan oleh orang-orang yang memilih tinggal di sini. Hanya orang yang memilih tinggal di Yogya pula yang bisa menjelaskan kenapa lembaga seperti Akademi Kebudayaan Yogya dulu bisa ada. Mojok bisa muncul. Indie Book Corner bisa tumbuh. Indonesia Buku bisa bertahan. Bentang Budaya pernah diinisiasi. Insistpress Publisher tetap berjalan. Penerbit Buku Baik tetap ingin menjalankan kegiatan di dunia perbukuan sekalipun orangnya sudah menjadi direktur Biennale Jogja. Puluhan penerbit setiap tahun tetap muncul sekalipun ada puluhan yang juga mati. Dan KBJ (Kampung Buku Jogja 2017) bisa dihelat sampai 3 kali.

Di sini, di Yogya, kebergegasan tidak selalu dilawan dengan kelambatan.
Kota ini memang tumbuh makin pikuk, makin ruwet, dan makin macet. Tapi akan selalu muncul orang-orang yang selalu melawan kemacetan pikiran, dengan segala keterbatasan.

Seperti karya tulis, keterbatasan itu ada, bukan untuk menyempurnakan manusia. Tapi meneguhkan bahwa begitulah manusia. Dengan cara yang serupa itulah, dia bertahan hingga lolos dari kepunahan. Setidaknya sampai sekarang.

Kampung Buku Jogja 2017 Sebagai Kerja Sama Orang Muda

Pada suatu malam di akhir Agustus 2017 saya duduk di bangku kayu di warung burjo di depan rumah saya. Tak lama kemudian Mas Arif Abdulrakhim datang. Lalu kami beranjak menuju kawasan Seturan untuk menemui dua orang muda dari Katalika Project.

Kami akhirnya tiba di sana. Sebuah mural bikinan Isrol (Media Legal) terpampang di tembok besar dengan tulisan mencolok: “Mengasah Pedang Literasi”. Rumah ini adalah tempat kegiatan sebuah kolektif yang bergerak di dunia kreatif. Saya sendiri sudah mengenal Tomi Wibisono, pendiri kolektif ini, sejak tahun 2015 di masa peralihan mereka dari penerbitan majalah musik Warning Magazine ke penerbitan buku yang bernama Warning Books. Dari Tomi, saya mengenal Huhum Humbilly, Soni Triantoro, Titah Asmaning Winedar, Bengbeng, Galih Fajar, dan lain-lain. Buku pertama yang diterbitkan Warning Books adalah Questioning Everything: Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-baik Saja karya Tomi dan Soni.

Huhum adalah alumnus Jurusan Seni Rupa UNY, aktif di media seni tato Magic Ink, organizer acara-acara seni dan budaya, serta penulis yang baik. Soni adalah penulis musik yang karya-karyanya dimuat di banyak media, termasuk Rolling Stone, dan sekarang bekerja di situs web Hipwee.com. Titah banyak menulis untuk Warning. Galih aktif di komunitas sastra Ngopinyastro dan menjadi vokalis band Kopibasi. Ia juga sekarang bekerja di Hipwee. Sedangkan Bengbeng adalah seorang seniman muda yang karya-karya ilustrasinya sudah banyak dipakai sebagai desain sampul buku.

Kolektif kreatif di Seturan itu mempunyai lini-lini Rumah Kata (perpustakaan), Warning Magazine (majalah musik), Warningmagz.com (situs web musik), Warning Books (penerbitan buku), Buku Akik (toko buku daring), dan Katalika Project (biro desain grafis). Dengan latar belakang itu pula cukup beralasan kiranya bagi saya dan Mas Arif untuk menemui Tomi dan Bengbeng di malam yang hanya berjarak sedikit setelah mereka kelar mengerjakan desain artistik untuk ASEAN Literary Festival 2017 di Jakarta.

Ketika Mas Arif mengobrol dengan dua pemuda itu, saya mengingat lagi peristiwa pada suatu malam di tahun 2015. Waktu itu saya dan Mas Arif berbincang di Kedai Kopi Condongcatur tentang kemungkinan mengadakan kegiatan perbukuan yang unik dan beda dari acara-acara perbukuan yang sudah ada. Beberapa bulan sebelumnya saya, Irwan Bajang (Indie Book Corner), dan Yusuf Effendi (Diandra Creative) mengadakan Pasar Buku Indie 2014 di Toko Buku Toga Mas Affandi. Di sana pula saya mengenalkan Wijaya Kusuma Eka Putra (Pojok Cerpen) pada Bajang dan Puthut EA (Mojok).

Dalam obrolan kami malam itu, kami sepakat untuk mengajak Bajang dan Eka dalam pembentukan sebuah tim kerja penyelenggaraan Kampung Buku Jogja 2015. Saya sendiri menganggap kegiatan perbukuan itu perlu mendapat amunisi dari kalangan muda supaya terasa segar dan bernuansa baru. Adapun pencetus nama “Kampung Buku Jogja” adalah Mas Arif. Kami juga menyebut identitas kolektif kami sebagai Kampung Buku Jogja (KBJ).

Dua tahun kemudian, upaya untuk tetap menjaga keunikan, kebaruan, dan keterlibatan orang-orang muda itu semakin kental. Di malam saya dan Mas Arif bertemu dengan Tomi dan Bengbeng, kami mengajak mereka untuk mengerjakan desain grafis dan desain artistik venue Kampung Buku Jogja 2017. Saya juga meminta bantuan mereka untuk memberi masukan tentang band-band penampil di acara yang akan diselenggarakan pada 4-8 Oktober itu. Mereka menyetujui tawaran kerja sama dari kami.

Beberapa hari kemudian empat orang yang berada di KBJ bergerak menemui sejumlah kawan yang aktif di dunia buku dan literasi. Mas Arif menemui Puthut. Saya dan Eka bertemu dengan Edi Mulyono (Diva/Kampus Fiksi/Basabasi). Bajang mengonsolidasikan kawan-kawan di jaringan penulis. Kami sendiri sudah terbiasa berkomunikasi di Warung Kendi dengan para tetua di ranah perbukuan Jogja, seperti Buldanul Khuri, Indra Ismawan, Hairus Salim, dan lain-lain. Kami juga membicarakan soal-soal perbukuan dengan mereka sebelum dan sudah kami semua bermain futsal di setiap akhir pekan.

Mas Arif lantas mewakili kami untuk berkomunikasi secara intensif dengan Hinu OS (3G Production) mengenai soal-soal teknis pelaksanaan sebuah event. Sejak KBJ 2015, kami memang bekerja sama dengan perusahaan event organizer tersebut. Dua perempuan muda berada di wilayah yang berkaitan dengan pekerjaan Mas Arif, yaitu Tami Bastian dan Ade Anggraini.

Saya sendiri mengetuk pintu penerbit, komunitas, toko buku, dan distributor untuk mulai membicarakan tentang KBJ 2017. Bajang membuka dialog dengan kawan-kawan pengelola Dongeng Kopi dan Nyata Kopi. Kami ingin menjadikan Dongeng Kopi sebagai tempat pelaksanaan Muyawarah Buku, sebuah rangkaian kegiatan pre-event KBJ 2017. Sedangkan Nyata Kopi adalah tempat kami melakukan rapat-rapat persiapan KBJ 2017. Kami juga mengajak Agus (Nyata Kopi) sebagai dokumentator acara. Di saat yang bersamaan, Eka mulai mengumpulkan teman-teman dari kelompok penerbit indie dan pelaku usaha perniagaan buku langka.

Dari pembagian kerja seperti itulah KBJ 2017 mulai terlihat bentuknya. Dari jejaring Tomi, kami mendapatkan band-band keren yang “melek literasi” (Senartogok, Talamariam, Deugalih, Agoni, Umarhaen, Kopibasi) dan Monica Lanongbuka (Perpustakaan Jalanan DIY). Dari jejaring Bajang, kami mengajak Hasan Gauk, pemuda yang selalu membantu kami ketika kami membuat kegiatan perbukuan (KBJ 2015, KBJ 2016, dan Mocosik 2017). Lalu Bajang mengajak penulis Bernard Batubara menjadi narasumber di Musyawarah Buku. Ia juga mampu mendekatkan jarak usia di kalangan penulis sepak bola melalui keberhasilannya mengajak senior sekelas Sindhunata dan Yusuf Arifin dengan penulis-penulis Fajar Junaedi, Eddward S Kennedy, dan Sirajudin Hasby. Bahkan ia yang mengajak penyair-penyair Saut Situmorang, Indrian Koto, Kedung Darma Romansha, dan Raedu Basha ke KBJ 2017.

Dari lingkungan Indonesia Boekoe/Radiobuku yang dipimpin kawan dekat kami, Muhidin M Dahlan, kami mengajak Safar Banggai. Radiobuku adalah media partner KBJ sejak tahun 2015. Kemudian Hasan dan Safar bahu membahu menyiapkan dan mengawal lima sesi Musyawarah Buku.

Orang-orang muda lainnya berasal dari lingkungan Eka. Selain aktif di KBJ, ia adalah pemilik distributor buku indie Pojok Cerpen yang memiliki lini situs web Pocer.co dan web Bukupocer.com. Ia juga salah satu pemilik penerbit Oak dan pengelola penerbit-penerbit EA Book dan Circa. Melalui Eka, KBJ 2017 mendapat bantuan tenaga, yaitu Margaretha Ratih Fernandez dan Rijen untuk mengerjakan notulensi Musyawarah Buku, juga O Lihin (Stanbuku) untuk pengelolaan administrasi peserta dari penerbit-penerbit indie.

Jaringan pendukung KBJ 2017 semakin dikuatkan melalui komunikasi dengan beberapa kawan dekat kami. Hasilnya sungguh menyenangkan. Melalui para tetua, kami mampu mengajak Seno Gumira Ajidarma dan Sindhunata untuk hadir di acara ini. Bajang mengajak Landung Simatupang dan Gunawan Maryanto. Eka berhasil mengajak Komunitas Kretek dan Buku Mojok. Dari Nody Arizona (Komunitas Kretek) dan Eka, KBJ 2017 dapat menyajikan acara-acara yang melibatkan Nuran Wibisono, Nezar Patria, Komang Armada, Fawaz Al Batawy, Afthonul Afif, Arman Dhani, Prima Sulistya, dan Hairus Salim. Eka juga mengonsolidasikan 55 penerbit indie yang kebanyakan adalah orang-orang muda untuk menjadi peserta KBJ 2017. Selain itu ia menghimpun belasan orang muda yang di perniagaan buku langka.

Saya lantas meyakinkan Shoffan, pemilik toko buku daring bernama Nurmahera, agar mengajak kawan-kawan di penerbit Djaman Baroe untuk menghadirkan Max Lane di KBJ 2017. Melalui Ahmad, pemuda yang mengelola toko buku daring Teotraphi, saya mengajak Klub Buku Yogyakarta (KBY). Saya juga meminta Taufan Akbar, anak muda yang mengelola penerbit Nyala, untuk menghubungi lagi Afrizal Malna tentang kesediaannya menghadiri acara ini. Sedangkan keterlibatan LPM Ekspresi UNY di acara ini relatif mudah dikomunikasikan karena saya banyak mengenal mahasiswa-mahasiswa yang menjadi penggeraknya.

Kami bersyukur memiliki hubungan baik dengan kawan-kawan pegiat buku dan literasi di luar Jogja. Dodit Sulaksono/Tokohitam (Malang/Jakarta), pelaku usaha niaga buku langka, sudah mengikuti KBJ sejak tahun 2015. Yang bersamaan dengan dia adalah Mohammad Rudi/Kardus Buku (Depok), Agus Manaji/Bukulawas Menkmenk (Magelang), Deden/Lumbung (Bandung), Zhulfy/Layung (Garut), dan Wahyu Heriyadi/Kentja (Ciamis). Hingga sekarang mereka tetap menjadi bagian dari keluarga KBJ sebagaimana orang-orang yang mengikuti kegiatan ini sejak awal.

Jaringan KBJ yang berhubungan dengan orang-orang muda juga tampak kuat di ranah penerbitan buku indie. Kawan-kawan muda dari luar Jogja selalu menyempatkan diri untuk berbincang di Warung Kendi bersama pegiat-pegiat buku Jogja, termasuk Abel/Sinar Hidoep (Salatiga) dan Raedu Basha/Ganding (Madura).

Faktor pertemanan pula yang membuat Trubadur, penerbit yang didirikan oleh Luthfi Mardiansyah di Bandung, hadir di KBJ 2017. Awalnya saya mengenal Luthfi sebagai seorang penerjemah buku dan penulis. Saya mendapatkan kontaknya dari Mawaidi D. Mas (Cantrik Pustaka). Mawaidi sendiri pernah aktif di lingkungan Kampus Fiksi dan Gambang. Ia lalu mendirikan Cantrik Pustaka bersama Naufil Istikhari.

Saya tahu bahwa Luthfi cukup dekat dengan kawan-kawan kami di lingkungan JBS (Jual Buku Sastra) dan Gambang. Ia mengenal pelaku-pelaku perbukuan di Jogja. Kemudian ia menerjemahkan buku untuk Octopus, Cantrik, Gambang, dan Papyrus.

Papyrus adalah penerbit buku yang didirikan oleh Wayan Darmaputra. Kedekatan saya dengan Wayan dimulai dengan perkenalan kami via Tomi (Warning). Beberapa waktu kemudian Wayan, juga Buldanul Khuri (Mata Bangsa), memilih untuk berkantor di tempat yang sama dengan Indie Book Corner, Nyata Kopi, dan Toko Budi.

Kolektif buku lainnya dari Bandung yang berisi anak-anak muda adalah Yayasan Jungkirbalik. Saya mulai mengenal seorang mahasiswa bernama Kelana Wisnu Sapta Nugraha, salah satu penggeraknya, sejak ia menghubungi saya untuk berdiskusi tentang penerbitan buku. Sebelumnya mereka mengelola toko buku daring Ruangraung Buku. Kemudian proses pracetak dan cetak buku pertama Jungkribalik dikerjakan di Jogja. Desainnya dikerjakan oleh Mawaidi (Cantrik) dan Bengbeng (Katalika Project). Sedangkan produksinya digarap di Utama Offset.

Dari jangkauan Eka, KBJ 2017 mengajak penerbit-penerbit muda lainnya dari luar Jogja, seperti Svantantra (Bandung) dan Parabel (Salatiga). Melalui Eka pula kami akrab dengan Denny Mihzar/Pelangi Sastra (Malang) yang awalnya kami kenal dari sebuah acara pameran buku di Malang.

Mas Arif dan saya pernah mengalami fase riuh dunia buku di Jogja pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Hingga hari ini kami masih aktif di ranah perbukuan dan menyaksikan munculnya orang-orang muda yang bergiat di komunitas literasi, kolektif seni, penerbitan media, dan penerbitan buku. Pilihan aktivitas mereka sama dengan pilihan kami. Namun mereka mempunyai cara-cara yang relatif baru dibanding metode kami di masa terdahulu. Kenyataan ini pula yang menyadarkan kami bahwa dunia buku dan literasi terus bergerak secara dinamis. Siapa pun yang beraktivitas di ranah literasi dan buku perlu bekerja sama untuk mengembangkan kegiatannya demi masa depan perbukuan di Indonesia.

Pada Jumat malam, 28 September 2017, saya mengobrol dengan Dodit Sulaksono dan Patrick Manurung. Kami berbincang tentang banyaknya anak-anak muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki jaringan yang luas. Kami mengagumi mereka. Mungkin kami akan semakin sering menyaksikan mereka beraktivitas dan mendukung kegiatan mereka. Tapi kami juga dapat mendekat dan bekerja sama dengan mereka.

KBJ sudah melakukan kerja sama tersebut sejak awal. Bahkan, selain nama-nama yang sudah disebut di atas, masih banyak orang muda lainnya yang berpartisipasi dalam KBJ 2017. Mereka aktif sebagai bagian dari panitia, peserta, maupun pengisi acara. Kita semua akan berjumpa dengan mereka. Kita akan merayakan buku dengan energi dan semangat muda.

Musyawarah Buku Indie: Dapur Redaksi dan Distribusi

“Dunia buku adalah dunia di mana para pelaku memutar otak, mengintip peluang, lalu mencoba menerobos celah itu dengan daya upaya yang mereka miliki. Sebagai bagian dari industri kreatif, para pemain-pemain dipaksa harus mengikuti pola-pola baru yang tadinya mungkin belum pernah dibayangkan.”

Kutipan di atas disampaikan Bajang  mengawali topic pembicaraan dalam Sidang Pleno Penerbit Indie, 8 September 2017. Lima pembicara Musyawarah Buku Indie, antara lain Dana Gumilar (Berdikari Book), Ainun Nufus (Penulis Wattpad), Prima Sulistya (Mojok), Kun Anindito (Gambang), Ahmad Khadafi (Editor) membahas  berbagai hal terkait dunia penerbitan dalam suasana yang santai di Dongeng Kopi Jogja.

Prima, mewakili penerbit BukuMojok, mengatakan bahwa ada model penulis yang membutuhkan ruang lebih luas dari penerbitan indie. “Buku Gaspar karya Sabda Armandio adalah salah satu contoh, saya malah ragu apakah jika di-indie-kan, oplahnya akan mencapai 3500 eks.”  Sebaliknya, Kun Anindito yang memilih mencetak dengan cara indie, beranggapan bahwa hal tersebut merupakan salah satu solusi bagi penerbit yang bermodal seadanya. “Jika tiga ratus dicetak ulang sepuluh kali, kan jadinya tiga ribu juga,” katanya sambil tertawa.

Terkait penjualan sebagaimana disampaikan Dana Berdikari Book, online sejauh ini memang iklim paling ramah bagi penerbit-penerbit alternatif. Berbeda dengan penerbit mayor yang masih bergantung pada offline, baik toko maupun event-event buku. “Semakin berbeda produknya, akan semakin laku di online” terang Dana. “Dan hal itu sangat membantu kami sebagai reseller. Sebab menjual produk-produk yang mungkin tidak tersedia di toko buku,” tambahnya.