Anak-anak, dari Suatu Buku

Teks orasi Setyaningsih untuk acara Kampung Buku Jogja 2019 pada Kamis, 5 September 2019

1/

Salah satu pertemuan saya dengan buku yang benar-benar terkenang, terjadi pada suatu sore hujan di teras rumah simbah, rumah masa kecil ibu saya. Mungkin saya berumur sekitar 9 atau 10 di tahun 2000-an. Sepupu saya membawa sebuah buku cerita bercap milik negara, sisa dari rezim yang baru tumbang. Judulnya Elang Bercincin Emas, sialnya saya lupa nama penulisnya. Saya hanya ingat tiba-tiba sudah sudah duduk meringkuk dengan nyaman di atas kursi yang sudah tepos bantal dudukannya. Suara hujan terasa dekat sekali, tapi tidak mengusik. Tubuh di atas kursi telah terserap begitu dalam. Sekitar seperti lebur dan sunyi, hanya tubuh dalam cerita.

Saya tidak dibesarkan dari kultur keaksaraan (cetak) seperti sering diwakili oleh koleksi perpustakaan pribadi nan memukau atau tradisi kelisanan kuat yang membuat setiap cerita yang disuarakan begitu magis dan menyihir. Tapi, ada buku-buku di meja bapak saya. Tentu selain kitab suci yang entah tidak lumrah disebut buku, ada buku doa, buku salat, buku Yassin, dan beberapa buku tafsir. Dua buku lain yang cukup menarik; buku cerita nabi dan cerita wali songo. Cerita, itulah entitas membuat menarik dua buku ini. Maka, saya pun lebih mengenal cerita Budi, Wati, Ani, Inu, atau Peter berhuruf latin di halaman buku pelajaran bahasa Indonesia berwarna hijau sebelum merasa terwajibkan mengerti huruf Arab untuk membaca buku suci.

Secara formal saya mengenal huruf-huruf latin di TK meski cara guru menyibak belantara kunci keaksaraan sama sekali tidak menarik, menantang, menggembirakan, dan misterius. Saya hanya ingat satu momentum yang cukup menyakitkan. Saat itu, guru meminta anak-anak menyalin huruf ke buku tulis. Saya tidak punya buku tulis, kecuali buku bekas ala buku panduan penyuluhan kesehatan. Ibu guru marah, tapi saya tetap berusaha menyalin di sela-sela halaman putih yang kosong. Seingat saya, tulisan saya sangat buruk. Saya berhenti di huruf R.

Saya lebih mengingat suara ibu sebagai sumber kelisanan belajar mengeja. Biasanya di sela melipat baju, ibu menyambungkan huruf-huruf dan saya menyuarakan bunyi. Huruf-huruf saling bertemu, menimbulkan pola, menciptakan ritme, dan menciptakan kata. Saya merasa hal itu sangat ajaib. Begitu kata terpola, seperti terjadi sesuatu. Saya membayangkan banyaknya kata-kata yang menghuni satu buku saja, berapa lama dan terasa apa saat selesai membacanya, bagaimana ada seseorang yang punya banyak kata. Satu buku memang banyak kata, tapi bertahun-tahun setelahnya terasa betapa sangat sedikit satu buku itu. Saya akan bertemu lebih banyak buku, lebih banyak dari buku-buku di atas meja bapak yang secara tidak sadar dan tidak sengaja menjadi titik berangkat dari cara saya merengkuh buku, mengantar saya menjadi bagian dari umat pembaca tanpa perintah dan fatwa.

2/

Saya pun bertumbuh. Ketika menemukan majalah-majalah lawas di pasar buku lawas Gladak, Solo, atau Blok M, Jakarta, ada sisa-sisa ketakjuban dibawa oleh bau apak, debu, pojok-pojok halaman yang gripis, atau jeglokan yang telah berkarat. Siapakah pembaca-pembaca cilik yang terhormat menjadi bagian kebudayaan membaca di Indonesia, sejak penerbitan majalah yang gemilang dan makmur di masa 50-an?

Majalah-majalah menampilkan pengalaman personal membaca dan sekian halaman menjadi semacam etalase memajang buku yang baru saja terbit. Iklan-iklan buku bacaan Indonesia dan terjemahan yang persuasif, bertarung dengan iklan Taro, susu Dancow, pensil 2B Staedler, permen karet Yosan, dan mentega Blueband. Anak-anak Indonesia diajak menjadi penyantap buku. Seperti terekam di Bobo edisi No.1 Th. XX, 1992. Ada iklan “mendongeng bersama Enid Blyton.” Iklan sehalaman oleh penerbit Gramedia, total 12 seri buku seharga 1.800 rupiah. Penerbit memperkenalkan Enid bukan hanya penulis cerita serial Lima Sekawan atau Sapta Siaga, tapi juga serial dongeng. Dikatakan, “Dalam seri ini, setiap buku menyajikan sekitar sepuluh sampai dua belas dongeng pendek. Ukuran bukunya sedikit lebih kecil dari buku saku. Dan jangan lupa, seri ini cocok untuk kalian gunakan sebagai kado juga untuk teman yang berulang tahun.” Iklan pintar menggoda.

Majalah anak Kawanku oleh pimpinan redaksi Toha Mohtar malah memiliki rubrik ulasan buku “Laporan Buku” yang ditulis anak. Rubrik berpotensi mengabarkan buku-buku yang memang telah dibaca oleh anak-anak. Laporan Buku Kawanku edisi 8-14 Janurai 1982, menyajikan laporan kumpulan cerpen Leila. S. Chudori berjudul Sebuah Kejutan (PT. Sumbangsih Kawanku dan Sinar Harapan) oleh Eisel. Eisel tidak hanya menyajikan potongan-potongan cerita di buku, tapi juga memberikan pertimbangan, “Kelebihan Leila adalah pada gaya berceritanya yang lincah dan seringkali konyol. Ya, karenanya setelah membaca buku ini kita akan membayangkan alangkah enaknya jika Peter adalah teman sekelas kita.” Di akhir, Eisel dengan percaya diri memberikan usul berbuku bagi teman-teman pembaca Kawanku, “Bukannya ngecap belaka jika dikatakan tak rugi menyisihkan uang jajan untuk membeli buku ini.

Bertaut dengan penamaan “laporan buku”, halaman ini memang melaporkan kepekaan yang dilatih, daya baca, selera bacaan lokal ataupun asing, uji menimang buku, dan secara tidak langsung ada pembentukan kebiasaan membaca-menulis. Di Kawanku edisi 21-27 September 1979, memuat laporan buku Cecilia Cyntia, pemenang utama Sayembara Menulis (Menilai) Buku oleh PT. Dunia Pustaka Jaya yang diadakan bulan Juni 1979.” Buku yang dinilai Cecilia adalah Anak-anak Laut garapan Julius R. Siyaranamual. Tulisan Cecilia menampilkan dua bagian: ringkasan dan catatan komentar.

Masih di edisi sama, kita juga bisa menikmati profil Cecilia yang masih duduk di kelas I SMP Pangudi Luhur Jakarta Selatan. Memiliki ibu berprofesi sebagai penulis cerita anak, Toety Maklis, tentu mempengaruhi perselancaran Cecilia ke dunia buku. Sejak belia, Cecilia sudah diasuh oleh buku. Ia bercerita buku kesukaan, “Semua buku-buku yang mengandung cerita-cerita yang menarik. Terutama cerita-cerita petualangan. Saya juga senang membaca buku-buku teknologi, koran dan majalah.” Cecilia mau membaca buku sekaligus menulis ulasan buku. Di masa itu, keluarga-keluarga Indonesia pasti telah menerima televisi sebagai hiburan keluarga, tapi Cecilia menaruh kegembiraan, mencintai perlahan-lahan, dan upaya serta mimpinya di sana.

Di Si Kuncung edisi No. 11 (1994) bahkan muncul pertanyaan dilematis dari seorang bocah ditujukan kepada Nenek Limbak. Pembaca Kuncung yang berjaya di masanya tentu mengingat sosok Nenek Limbak yang intelek, bijak, dan punya jawaban untuk semua pertanyaan. Pertanyaan dilematis dari Poniman di Solo berbunyi seperti ini, “Nek, Cucu mempunyai uang tabungan. Jumlahnya cukup untuk membeli sepatu. Kendati masih bisa dipakai, sepatu Cucu nampak kusam. Menurut Nenek, lebih penting mana, membeli sepatu, apa buku-buku bacaan?” Nenek Limbak memberi saran Poniman memprediksi dengan rinci ketahanan sepatu sekaligus menyimpan uang tabungan. Untuk urusan buku yang katanya “membikin cerdas dan wawasan berkembang”, Nenek menyarankan Poniman menjadi anggota perpustakaan dengan optimis. Kota Solo pasti memiliki perpustakaan, tapi kota tidak menjadikan tempat semacam ini sebagai rujukan bagaimana kota ingin dilihat. Kota lebih dilihat dari kemegahan masjid, pusat kuliner, acara-acara festival, atau wisata heritagenya.

Secara personal, saya dibuat terkekeh oleh pengakuan di rubrik “Pengalamanku” majalah Islam yang tidak islami banget Sahabat edisi 15-31 Maret 1983. Seorang remaja putri bernama Ratih Soeprapto dari Sleman, Yogyakarta, mengaku begitu menyukai membaca sampai lupa salat. Meski salat dan membaca seharusnya sama menjadi peristiwa sangat teologis, Ratih harus mendapatkan kompensasi dimarahi ibu, “Ibu selalu marah-marah, apabila aku lupa sholat, hanya karena membaca buku.” Tuhan yang baik tidak melarang membaca buku, tapi ibu yang baik terkadang memang melarang membaca “terlalu” banyak buku.

Tapi ibu baik lainnya pasti ada maunya kalau membiarkan, bahkan dengan sengaja, mendekatkan anak dengan buku. Seperti yang terjadi ketika toko buku semacam Gunung Agung menuai masa kejayaan bukan hanya karena mampu menjual buku. TB Gunung Agung menjadi tempat nongkrong anak-anak. Jurnal Prisma edisi Mei 1987 pernah membuat laporan khusus tentang bacaan anak “Banjir Bacaan Untung Siapa?” oleh M. Ahmad Soemawisastra dan Edward S. Simandjuntak. Setelah 1973, pasar buku anak menggeliat karena ada gelontoran dana Inpres atau Instruksi Presiden untuk “memborong” buku bacaan anak. Pengarang-pengarang bacaan anak bermunculan dan tentu penerbit berani menerbitkan buku anak dalam jumlah besar karena sudah tidak takut rugi. Mutu buku pun dipertanyakan. Namun, anak-anak saat itu memang mengalami suatu kondisi yang dibahasakan dengan bombastis oleh redaksi, “sakit gila baca”.

Setiap IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menghelat pameran, murid-murid SD menyerbu. Gerai yang menyajikan buku-buku anak pasti ramai dan harus rela mengantre agar tidak berdesa-desakan, “setiap mengadakan pameran, IKAPI seakan-akan sedang menyelenggarakan pesta buku untuk anak-anak.” Merambat antusiasme serupa di toko buku, anak-anak bisa berjam-jam menikmati halaman demi halaman buku meski tidak membeli. Sekalipun di toko buku, anggap saja perpustakaan. Ada ibu-ibu secara sengaja “menitipkan” anaknya di TB Gunung Agung selama 3-4 jam sementara ia belanja di Pasar Senen atau Pasar Baru. Ada imperasi kehadiran ragawi anak-anak tanpa retorika “ramah anak”. Mereka menciptakan pilihan buku dan ruang. Hal ini mengingatkan pada ilustrasi ikonik bocah bercaping membaca dalam posisi santai di bawah pohon rindang sembari angon kambing. Tak ada kenikmatan keaksaraan cetak yang didustakan.

3/

Bukankah kesadaran buku sering memang harus lahir dari kondisi represif, luka bergelora, tekad paling bertekad, kemiskinan paling keparat akut, dan rasa keterasingan dari sekitar, yang dialami orang-orang di pelbagai sudut dunia. Tokoh kebangsaan, Ahmad Subardjo, otobiografi, Kesadaran Nasional (1978) menulis, “di dalam salah satu mata pelajaran di kelas enam, untuk pertama kalinya aku mengalami timbulnya rasa kesadaran yang masih samar-samar dan akhirnya berangsur-angsur berkembang dan menjelma menjadi rasa kebangsaan.” Seperti juga dialami oleh pribumi terpelajar, Subardjo juga mengalami diskriminasi rasial ketika di Sekolah Rendah. Seorang Belanda menjabar sebagai kepala sekolah baru dan mengatakan orang-orang Minangkabau tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Mereka hanya cocok menjalani pekerjaan rendah dan kasar.

Subardjo sedih, tapi mendapat pemulihan dari buku-buku. Ia mengatakan, “memadai untuk membaca buku-buku dan majalah-majalah yang dapat dipinjam dari perpustakaan. Hikayat dan ceritera mengenai kehidupan orang-orang perantau yang mempelopori membuka benua Amerika membangkitkan khayalan-khayalan yang liar dan bukan-bukan dalam benakku. Keberanian dan kepercayaan pada diri sendiri yang mereka tunjukkan membangkitkan keinginanku untuk seperti mereka, ikut mengembara menjelajahi rimba raya, rawa dan padang pasir yang mahaluas serta sunyi senyap nan jauh di Amerika.” Tokoh-tokoh keaksaraan ciptaan Karl May, Mark Twain, dan Jules Verne adalah pahlawan di masa kecil Subardjo. Buku-buku menyemai imajinasi kebebasan personal sekaligus kebangsaan.

Seorang pembaca yang juga tekun, Kartini, selain membuka pengajaran untuk anak-anak juga antusias menghimpun dongengan dan nyanyian untuk anak-anak (Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer: 2003). Di surat kepada Nyonya Nelly van Kol (20 Agustus 1902), Kartini menulis, “Kala seorang inspektur pengajaran Pribumi meminta kepada kami menulis cerita-cerita kecil dari kehidupan kanak-kanak Pribumi buat bacaan anak-anak Pribumi, yang akan dihiasi dan diterbitkan seperti buku-buku bergambar. Tak sedikit pun kami menduga, waktu kami menulis cerita-cerita ini, bahwa kami akan jadi gerakan mulia di Nederland sendiri: memberikan bacaan yang mendidik bagi kanak-kanak…” Ungkapan Kartini adalah perasaan gembira yang membara sekaligus menyisipkan kemurungan dari seorang pernah terkurung tapi dikasihi oleh buku. Mungkin terdengar dilematis juga, buku-buku itu eksklusif cenderung mahal untuk membayar ketidaksanggupan Kartini bebas, terutama secara ketubuhan.

Memiliki buku bisa jadi kehilangan dalam bentuk lain. Ada hal-hal yang menggagalkan, bukan sekadar masalah finansial karena buku memang tampak sebagai ide dari kelas menengah. Kehilangan buku bisa menjadi hal paling menyakitkan, membikin marah, dan berpotensi menanam dendam dalam pengalaman autobiografis membaca. Kehilangan sangat disadari, bukan menjadi kehilangan simbolik disebabkan sistem pendidikan yang membuat membaca menjadi kebutuhan administratif. Setiap tahun, orangtua melakukan aksi kolektif membelikan buku pelajaran demi ujian, nilai, ulangan, dan kewajiban.

Nur St Iskandar dalam Pengalaman Masa Kecil (1979) mengingat hadiah yang puitis, sebuah buku Perumpamaan dari seorang guru. Buku ini adalah penghormatan dan bukti terima kasih atas kerja ketekunan. Suatu hari, buku itu dipinjam Jenaid, teman Nur. Bapak Jenaid membuang buku itu karena dalam perjalanan di atas pedati, Jenaid tidak membantu bapak memegang tali kekang kerbau. Buku membuat bapak Jenaid kesal, lalu dibuang ke jurang. Buku telah hilang. Nur mengatakan, “Orang itu tidak memikirkan sedikit jua, betapa sedih hatiku karena perbuatannya yang kurang baik itu. Dan tidak terpikir olehnya, akan mengganti hadiah itu.” Menghadiahi buku adalah menghadiahi harapan. Buku memang turut membawa konsekuensi bertemu dengan kesedihan, kemarahan, kekecewaan yang berarti menguji mentalitas diri berhadapan dengan ketidakberuntungan dalam hidup.

4/

Saya pun teringat ketika bersama teman-teman diajak dolan-mengajar ke Sekolah Tenera di tengah perkebunan sawit di Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Kami membawa dua kardus buku dan sekardus majalah, teutama untuk anak-anak. Saya begitu patah hati saat menyadari betapa sedikitnya, sangat sedikit hadiah buku ini. Buku menciptakan kegembiraan tapi kecemburuan, menjelma hadiah spesial bagi bocah-bocah di tengah perkebunan yang memiliki jarak nyata jauh dari jalan besar apalagi pusat-pusat buku. Saya tidak berdaya merasakan kekurangan buku di tempat seperti ini. Di tengah kegembiraan anak-anak menulis dan bercerita dengan pamrih suci memiliki buku, ada derita tidak tertangguhkan, datang begitu tiba-tiba. Seperti didera kemarahan dari rasa cemburu atau semacam ironi, bahwa yang merasakan derita justru seorang perempuan yang hidup dalam dua kamar berbuku di pinggiran Boyolali sana. Betapa kenikmatan mewah memiliki buku-buku.

Namun, urusan buku di sekolah ini telah ditangani dua manusia yang tepat, Agriani Novita dan Patrick Manurung, dua teman jenaka, pembaca, pembelanja tekun, teman curhat, sekaligus pencetus ide-ide yang bikin deg-degan. Beberapa waktu lalu sempat berkabar dua koper buku dari perhelatan pameran BBW 2019, akan dibawa ke Bengkulu. Saya begitu kagum, mereka berbelanja untuk koleksi pibadi atau sekolah Tenera dengan koper, bukan kresek bercap serigala mangap, kardus, atau karung. Seutas pernyataan dari Mbak Opi saya ingat dari obrolan santai, “Buku bisa membuat orang jadi lebih penasaran.” Tenera menyambung ingatan saya pada anak-anak yang semangat menulis berpamrih buku di pinggiran Kali Code, di Desa Rukem, Purworejo, di sekitar kompleks Atsiri Karanganyar, bahkan sekolah di Kota Solo yang berjarak dekat dari toko buku atau pasar buku Gladak. Daya apa yang harus dilakukan anak-anak untuk mengatasi rasa sangat ingin memiliki buku, beralih dari strata peminjam menjadi pemilik yang paling otoritatif menciptakan biografi membaca.

Beberapa tahun ini, Indonesia memang bersemangat menyebar buku-buku cetak menuju segala penjuru daerah Nusantara, mengangkut eksemplar buku-buku dengan perahu, vespa, gerobak sampah, kuda, angkot, dan sepeda, impian berbuku diejek dengan telak oleh gaya hidup literasi digital. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) punya misi suci menyebarkan 10 ribu buku (cetak) menuju daerah-daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) dalam rangka Hari Buku Nasional 2017 meski masih dalam alasan kejam bahwa peringkat membaca Indonesia amat jemblok: 64 dari 70 negara (Media Indonesia, 18 Mei 2017). Abaikan saja prestasi buruk ini dan membiarkannya menjadi urusan duta baca atau pejabat negara.

Buku cetak masih menjadi mukjizat. Indonesia akan menyongsong merdeka internet 2020. Literasi bergawai, digitalisasi literasi, atau apa pun istilah keren nan relevan di abad ke-21 pasti akan semakin mendapat pemujaan meski juga tidak anti gangguan teknis, sinyal buruk, putus listrik, atau miskin paket data. Di sangat kekerenan digital merebak, masih saja ada orangtua yang panik dan menuduh anak tidak membaca karena sibuk main gawai. Pernyataan tidak bijaksana dari orangtua yang sangat fasih bergawai.

Hanya perlu satu momentum anak mengingat masa kanak yang yang berharga bersama buku dan membaca. Di waktu tepat dan jarang terduga, bisa terjadi lewat tatapan penasaran mengamati seseorang membaca buku di kereta api, dari cerita di potongan pembungkus tempe, persinggungan tidak sengaja menyebut tokoh super yang aneh, majalah bekas, ilustrasi imajinatif yang bisa timbul saat dibuka dan ditutup, persewaan buku yang selalu ingin diberantaki, kunjungan kecil ke toko buku, atau waktu-waktu kelisanan di atas ranjang. Sebarkan betapa membaca terasa menantang dan menggembirakan. Jika seorang anak tidak lahir dari keluarga intelektual melek buku, ia akan sadar bahwa tidak ada buku akan diwariskan. Warisan kata-kata harus diciptakan sendiri.

Sebagai pengakhiran, saya mengutip cerita imajinatif dari penulis legendaris Roald Dahl, yang diingat dan dicintai anak Indonesia dengan cetakan nama yang khas dan selalu lebih besar daripada judul buku di setiap sampul buku. Saya keterlaluan terlambat membaca Roald Dahl dan sebagai seorang Indonesia yang pernah anak, tidak bisa tidak mencintai buku-buku Roald Dahl dan buku-buku terjemahan lainnya. Saya kutipkan dari novel Matilda (2018), “Rasanya menyenangkan bisa membawa minuman panas ke kamar dan meletakkannya di samping, sementara dia duduk dalam ruangannya yang sunyi, membaca di ruang kosong, sepanjang sore. Buku-buku mengantarkannya ke dunia-dunia baru dan memperkenalkannya kepada orang-orang mengagumkan yang menjalani kehidupan yang sangat menarik. Dia naik kapal selama berhari-hari bersama Joseph Conrad. Dia pergi ke Afrika bersama Ernest Hemingway dan ke India bersama Rudyard Kipling. Dia bertualang ke seluruh dunia, sambil duduk di kamar sempitnya, di sebuah desa di Inggris.”

Selamat siang para umat buku budiman. Terima kasih.

Saya & Buku – Orasi Irfan Afifi di Kampung Buku Jogja #4 2018

Saya mungkin seorang yang—atau mungkin juga sebagian warga Kampung Buku Jogja yang dengan gegap gempita masih merayakan pemeran buku KBJ#4 2018—dengan cara yang sedikit sentimentil terlalu terserap dan terjerat begitu kuat ke dalam buku dan pernak-pernik peliknya. Hingga bahkan untuk keluar dari belitannya, saya atau kita merasa tak mampu. Awalnya belitan itu kita datangi sebagai ujud rasa cinta, yakni dengan membenamkan diri dalam aktivitas membaca juga sedikit rasa ingin tahu menjelajahi semesta pengetahuan yang kita rasa akan mengantarkan pada sebuah “pencerahan” yang bisa menggusah kebodohan juga rasa ingin tahu kita. Lanjutkan membaca Saya & Buku – Orasi Irfan Afifi di Kampung Buku Jogja #4 2018

Teks Lengkap Pangalembahan Kampung Buku Jogja 2017

Kisah Sang Kepala Suku di Ranah Buku
Oleh Adhe

Pada tahun 1998 saya dan para mahasiswa lainnya dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sering berjalan kaki dari Karangmalang, lalu melintasi sungai kecil di Lembah UGM, dan akhirnya tiba di Boulevard UGM. Kami melakukannya untuk bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut Soeharto untuk mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Kami yang berasal dari kampus keguruan tahu bahwa di pelataran Fakultas Filsafat UGM berdiri tenda-tenda yang setahu kami menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP). Di Karangmalang, kami mulai sering mendengar nama pemimpin komite tersebut. Dia memang aktivis pergerakan mahasiswa.

Pada suatu hari di tahun yang sama, saya dan beberapa orang lainnya dari Karangmalang diajak oleh Edi Sutopo, Pemimpin Umum LPM Ekspresi dan pemimpin kelompok mahasiswa yang getol menentang Orde Baru, menuju sebuah rumah di Pogung yang menjadi markas KPRP. Kami meminjam video-video aksi-aksi demontrasi mahasiswa pada mereka. Saya sudah lupa nama orang yang meminjami kami film-film itu. Yang jelas, di rumah itu pula saya melihat Sang Ketua KPRP sedang berbincang dengan temannya sambil asyik merokok.

Sang Ketua itu saya temukan lagi di koran-koran minggu di tahun-tahun yang tak berjarak lama setelah Soeharto tumbang. Saya membaca cerita-cerita pendek yang ditulisnya di pelbagai surat kabar. Di Karangmalang, kami semakin sering menyebut namanya karena dia adalah salah satu penulis yang membuat kami cemburu. Dia produktif. Tulisan-tulisannya juga bagus menurut kami. Di LPM Ekspresi, tulisan yang bagus dari orang di luar kami adalah karya yang bikin kami panas hati.

Pada November 1999, saya dan Anas Syahrul Alimi, bekas Pemimpin Umum LPM Ekspresi, mendirikan Penerbit Jendela. Saya dan Anas sebelumnya bersama-sama bekerja di Divisi Media Watch LP3Y. Saya berada di lembaga yang dipimpin oleh Ashadi Siregar itu selama lebih dari satu tahun. Anas sendiri lebih dulu keluar dari sana karena memilih untuk menjadi reporter Radar Jogja. Saya baru benar-benar keluar dari sana ketika Penerbit Jendela didirikan, dan ketika akhirnya kami mengajak Wawan Arif Rahmat, mahasiswa dan pegiat teater di Universitas Diponegoro Semarang, untuk bergabung.

Di masa awal Jendela, saya mengenal Helmi, mahasiswa FISIPOL UGM yang mengelola penerbit Sumbu. Dua nama pun saya temukan di deretan buku-buku terbitan Sumbu: Eka Kurniawan dan Sang Ketua KPRP. Nama yang pertama biasanya menjadi penerjemah naskah-naskah sastra terbitan Sumbu. Sedangkan nama yang kedua muncul dari buku kumpulan cerita pendek berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci.

Wawan Arif Rahmat sudah tidak ada di Jendela ketika saya dan Anas akhirnya berhubungan langsung dengan “kelompok UGM” dalam keriuhan penerbitan buku dan media alternatif di awal dekade 2000-an. Kedekatan itu dimulai karena kawan-kawan kami di Karangmalang, yaitu Faiz Ahsoul dan Hasta Indriyana, bergabung dengan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), sebuah komunitas yang bermula dari program kebudayaan bikinan INSIST.

Di masa AKY, saya adalah orang penerbitan yang mengenal penulis-penulis muda yang penuh semangat, termasuk Eka Kurniawan dan Sang Ketua KPRP. Saya sangat sering main dan diajak membantu kerja-kerja mereka. Saya bahkan pernah memandu diskusi sastra di AKY karena diminta oleh mereka.

Kedekatan itu pula yang mendorong lahirnya kerja sama AKY dan Jendela. Media alternatif bikinan mereka, On/Off, diproduksi dengan mesin cetak Toko di kantor saya di Jalan Gejayan. Ini adalah media indie yang tumbuh bersama dengan Kunci, Clea, Blank! Magazine, Outmagz, dan lain-lain. Sang Ketua KPRP selalu rajin menulis catatan editorial untuk On/Off. Tulisan ringkasnya yang menggelitik itu dimuat di rubrik “Zlink!” Belakangan saya tahu dari Eka Kurniawan bahwa Sang Ketua KPRP juga pernah menjadi penerbit media bernama Ajaib.

Ramainya media alternatif yang tumbuh bersamaan dengan rumah-rumah penerbitan buku alternatif itu pula yang membuat saya mengenal lebih banyak orang-orang yang bergiat di komunitas. Selain media-media cetak, saya menyaksikan tumbuhnya situs-situs web yang menarik dari Jogja, seperti Pabriktontonan.com. Kunci.org, Komikaze.net, Bumimanusia.or.id, dan lain-lain. Tak heran bila saya sendiri lantas terdorong untuk membuat media bernama Koin, sebuah newsletter tentang komik yang di edisi pertamanya memuat pula komik dua panel bikinan Eka Kurniawan.

AKY terus bergerak melalui aktivitas kajian, penulisan, penerbitan, pertunjukan, dan acara-acara kesusastraan. Penerbit Jendela diajak pula ketika mereka mengadakan diskusi besar bertajuk Pram dan Kita yang menghadirkan Pramoedya Ananta Toer, Gus Dur, Gadis Arivia, dan Taufik Rahzen. Setahu saya, AKY adalah pihak yang pertama kali membawa lagi Pram untuk hadir di hadapan publik dalam sebuah perjumpaan fisik. Gedung UC UGM, tempat penyelenggaraan acara itu, penuh sesak oleh peserta diskusi.

Seusai acara, saya diminta oleh Faiz untuk menyetir mobil dan membawa Pram ke penginapan. Saya sangat senang melakukannya, sungguh pengalaman yang luar biasa. Kebahagiaan saya itu tentu juga dirasakan oleh semua orang yang hadir menyaksikan Pram dan Gus Dur secara bersamaan dalam sebuah acara. Dan itu semua adalah upaya yang berhasil dilakukan oleh AKY yang setahu saya koordinatornya adalah Sang Ketua KPRP.

Di masa AKY pula lahir novel-novel bikinan penulis-penulis muda yang luar biasa. Dua di antaranya terbit melalui kerja sama dengan Penerbit Jendela, yaitu Peta yang Retak karya E.M. Ali dan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Saya sendiri sudah membawa Cantik Itu Luka sejak bahannya masih berupa fotokopian tebal yang kemudian saya tunjukkan ke Anas di Jalan Gejayan. Sejak itu pula saya pikir AKY adalah kantung sastra yang penuh magma.

Di fase puncak kedekatan AKY dan Penerbit Jendela, saya meminta cerpen-cerpen karya Sang Ketua KPRP itu untuk saya terbitkan. Dia menyetujuinya. Tak lama kemudian, Jendela menjadi penerbit kedua yang merilis karya dia. Setelah Sumbu menerbitkan Sebuah Kitab yang Tak Suci, maka Jendela menerbitkan Sarapan Pagi Penuh Dusta. Dia melengkapi barisan penulis muda yang dirilis Jendela: Hasta Indriyana, Satmoko Budi Santoso, Raudal Tanjung Banua, Eka Kurniawan, dan seterusnya.

Dari pola-pola yang terjadi sebagaimana saya ceritakan di atas, saya pikir tumbuhnya penulis-penulis muda yang hebat itu berhubungan pula dengan maraknya rumah-rumah penerbitan alternatif di Jogja. Bahkan Sang Ketua KPRP sendiri sempat membangun penerbitan buku bernama Gelombang Pasang.

Aktivitas Sang Ketua KPRP di ranah kreatif menjadikannya salah satu kreator paling produktif di angkatannya. Dia terus-menerus menulis sastra. Dia merilis buku-buku non-fiksi. Dia menjadi penerbit buku. Dia aktif di AKY. Dia mengelola On/Off. Bahkan karya-karyanya diterbitkan pula oleh penerbit-penerbit lainnya, termasuk Labuh yang merilis ulang dua buku pertamanya dari edisi Sumbu dan Jendela. Karya-karya dia juga kemudian diterbitkan oleh INSIST Press, sebuah divisi penerbitan dari rahim INSIST. Sedangkan jejak aktivitasnya dalam mendidik orang-orang baru di ranah kepenulisan dapat dilihat dari upayanya membangun dan mengelola KBEA, sebuah kolektif gagah di era digital karena melahirkan Mojok.co dan situs-situs web hebat lainnya. Penerbitan dia lainnya adalah EA Book dan Buku Mojok.

Sosok yang saya sebut sejak awal itu sudah banyak memberi kontribusi bagi dunia literasi. Dia menghasilkan karya-karya berupa tulisan yang dibaca khalayak. Dia mengorganisasi komunitas-komunitas independen yang berisi orang-orang muda. Dia menerbitkan media cetak dan buku cetak melalui rumah penerbitan yang dia bikin dan dia kelola secara sendirian maupun dengan kawan-kawannya. Dia bekerja di ranah literasi sejak ia memutuskan bahwa pilihan hidupnya adalah menjadi penulis, sebagaimana ia sudah memulainya ketika ia masih berseragam SMP namun tulisan-tulisannya sudah dimuat di majalah-majalah berbahasa Jawa, yaitu Panjebar Semangat dan Jayabaya. Dengan semua caranya itu, dia sudah menumbuhkan banyak sekali pembaca, sesuatu yang tidak dilakukan oleh banyak orang di Indonesia.

Ketika Menulis dan Membaca Sudah Tidak Seperti Dulu Lagi
Oleh Irwan Bajang

Dunia terus berubah. Hanya yang mampu, membaca tanda zamanlah yang kelak akan bisa berbenah, mengubah jalan tanpa harus menolak takdir, masuk menjadi bagian penting dari segenap perubahan itu. Bergabung dalam irama dan detak zamannya.

Ia seperti peracik ramuan, dunia baru laksana laboratorium baginya. Ketika media berubah, waktu berubah, cara membaca berubah, maka seharusnya model produksi teks dan bacaan, cara penyebaran semestinya ikut ganti haluan. Barangkali ia berpikir seperti itu.

Meski bukan yang pertama, bukan pula satu-satunya, ia membuat sebuah formula, di mana nanti formula ini kemudian diterima, dan memberi perubahan cara menulis dan membaca yang signifikan bagi banyak orang di Indonesia. Bagi banyak penulis dan pembaca.

Sebab ia bukan ilmuwan, maka formula ini bukan racikan obat yang bisa mengubah drastis dan mengobati  banyak orang. Ia kemudian tidak melulu dipuji dan dicintai, tapi juga dibenci dan dinyinyiri. Akan banyak yang tidak suka dan tidak setuju, akan banyak yang nyinyir dan meledeknya. Tapi baginya, sekali niat ditancapkan, pantang pulang sebelum tumbang.

Ia adalah penjudi, maka ia tahu semua punya risiko, kalah dan menang adalah keniscayaan, sebagai mana suka dan tak suka adalah dua mata koin yang tak bisa dipisahkan.

Setidaknya ia telah mencoba memberi cara baru berpikir dan menghadapi gagasan serta wacana yang tiap saat datang padanya, juga datang pada banyak orang di sekelilingnya.

Ia penulis yang cepat. Konon di masa belajarnya, satu tulisan harus selesai sekali duduk. Harus rampung tanpa jeda. Jika tidak, tulisan itu sudah gagal sejak awal, layak dihapus dan ditinggalkan, tidak bisa diselamatkan.

Ia mencoba formula itu. Ia pernah menulis seperti itu, dan masih hingga sekarang. Ia pernah mengelola banyak media rintisannya dan kawan-kawannya, dan semangat itu tidak pernah padam hingga kini.

Maka ia membuat sebuah media baru. Media yang ideal baginya. Media yang ia ujicobakan layaknya melempar kartu atau dadu ke meja judi, atau menjalankan bidak, menteri, benteng, pion, kuda-luncur di papan catur. Ia bekerja terukur, sebab ia tahu, setiap langkah penuh jebakan dan kemungkinan.

Medianya ini kemudian bisa dibilang sangat berhasil, menjadi rujukan cara menulis baru di era kiwari ini. Ia merancang alat dan tempat produksi, menjadikan segala sesuatunya cepat, tapi tidak jadi terburu-buru dan terkesan tergesa.

Ribuan penulis datang, menyerahkan naskah dan mendapat bayaran yang pantas baginya, cepat juga cairnya. Ia tahu, sebagaimana ia di masa dahulu, menulis adalah kerja, dan setiap kerja layak diganjar hasil segera. Penulis mendapatkan bayaran yang pantas, sebaran tulisan yang terukur dan memuaskan pula bagi meteka. Penulis senior menulis di sana, ratusan penulis baru muncul dan mulai membangun karier serta popularitasnya, di dan dari media itu.

Banyak media yang menjadi epigonnya, tapi kreator sejati tahu, ia tetap berdiri teguh sebagai sang pelopor.

Sebagaimana agitasi dan propaganda ketika jadi aktivis zaman dulu. Ia tetap berkeliling, menjadi pejalan, menemui banyak orang di luar sana, menjangkau kota dan desa untuk memberi pelatihan, berbagi cara dan cerita dalam menulis, mengajak orang bergembira dan berbahagia, merayakan gagasan dengan cara yang unik dan menyenangkan.

Ia bersama pasukannya bahkan mengumpulkan para pembaca, mengajaknya bertemu langsung dengan para pesohor dunia literasi, mengajak semua belajar seperti minum langsung pada sumber mata airnya.

Kecintaanya pada buku, buku cetak konvensional tak pernah padam, meski dunia digital menjadi kesehariannya saat ini. Ia perlahan berhasil mengawinkan kekuatan di dunia maya yang ia bangun, menjadikannya pelan-pelan seiring sejalan, berbanding lurus perlahan. Buku-buku yang keluar dari rumah produksinya perlahan muncul sebagai judul-judul dari penulis-penulis yang layak diperhitungkan.

Begitulah.

Membangun sesuatu berdasarkan cinta kasih dan kesenangan, kelak akan membawamu pada petulangan baru yang barangkali pernah kau bayangkan tapi tak tahu bagaimana kau wujudkan. Waktu kemudian menuntunmu, sebagai mana menuntun tokoh kita ini pada temuan dan capaiannya saat ini.

Dengan penuh cinta kasih, ketulusan, ia bekerja, berbagi, mengajak bersama orang-orang untuk menghidupkan dunia literasi yang kita sayangi ini.

Berbekal semboyan, yang barangkali—patut kita duga—sebagai saripati permenungan dan laku hidupnya selama ini; Sedikit Nakal Banyak Akal, ia membuktikan dirinya telah bekerja, memberi banyak pada kita semua.

Biografi Puthut EA
Begitu hijrah ke Yogyakarta untuk belajar secara formal di Fakultas Filsafat UGM, ia langsung terlibat aktivitas politik. Pada awal tahun 1998, ia ikut mendirikan sebuah komite pergerakan bernama Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP). Di lembaga tersebut, ia dipercaya memegang kepala divisi Pendidikan dan Propaganda. Pada saat itulah ia menginisiasi pembuatan buletin Bongkar, sebagai ganti atas selebaran-selebaran politik yang hanya melulu berisi kalimat-kalimat agitasi, dengan penjelasan-penjelasan politik yang lugas, gampang, dan mudah dibaca, dengan jumlah halaman yang lebih tebal dari selebaran pada umumnya yang hanya selembar, dengan oplah yang lebih banyak, dan dengan sistem distribusi yang lebih baik. Tidak lama kemudian, ia dipercaya menjadi Sekretaris Jendral lembaga tersebut, dan hanya dalam beberapa bulan kemudian, diangkat menjadi Ketua Umum. Bersama beberapa temannya di berbagai kota di Indonesia, ia ikut mendirikan sebuah organisasi mahasiswa tingkat nasional dengan nama Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Pada akhir tahun 2000, ia mengundurkan diri dari gerakan mahasiswa, dan menekuni dengan serius dunia menulis, terutama menulis prosa.

Bersama sahabatnya, Coki Nasution, ia membuat buletin sastra Ajaib. Ketika kemudian Coki hijrah ke Timor Leste untuk ikut membantu kawan-kawannya di sana mengisi proses kemerdekaan, Puthut kemudian bergabung ke dalam Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) yang merupakan salah satu lembaga di bawah naungan INSIST. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2001. Selama di AKY, bersama teman-temannya, Puthut membuat jaringan penulis dan komunitas kreatif di berbagai daerah, membuat media alternatif ON/OFF, membuat berbagai proyek penelitian dan penerbitan buku. Di keluarga INSIST itulah, Puthut terlibat berbagai proyek penelitian dan belajar menjadi pemandu berbagai pelatihan. Pada tahun 2006, ia mundur dari AKY kemudian ikut menginisiasi pembuatan komunitas Tandabaca. Sekarang aktif di LSM Indonesia Berdikari.

Selain menulis cerita pendek dan novel, ia juga menulis naskah drama. Karya dramanya berjudul Orang-orang yang Bergegas, dipentaskan di enam kota di Pulau Jawa dengan sutradara Landung Simatupang dan Puthut Buchori. Ia juga membuat prosalirik dengan judul Tanpa Tanda Seru, yang dibacakan oleh Landung Simatupang dengan direktur artistik Ong Harry Wahyu, pembacaan karya tersebut dilakukan di Jakarta. Pada tahun 2007, sebuah naskah dramanya berjudul Jam Sembilan Kita Bertemu dipentaskan di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, oleh Teater Gardanalla dengan sutradara Joned Suryatmoko. Lewat tangan dingin Joned pula, satu naskahnya dipentaskan di gedung Societet Yogyakarta pada tanggal 6-7 Agustus 2008 dengan judul Deleilah: Tak Ingin Pulang dari Pesta. Pementasan karya tersebut atas dukungan sepenuhnya oleh panitia Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Beberapa naskah dramanya yang lain, dipentaskan secara mandiri oleh beberapa kelompok teater di berbagai tempat. Selain itu, Puthut juga pernah menulis naskah film pendek dengan judul Sinengker, yang diproduksi oleh Syarikat. Film ini telah diputar di berbagai forum di dalam dan di luar negeri.

Bibliografi

  1. The Show Must Go On Bencana Ketidakadilan (karya tulis, 2010)
  2. 154 Questions for Alfie (karya tulis, 2010)
  3. Makelar Politik: Kumpulan Bola Liar (karya tulis, 2009)
  4. Menanam Padi di Langit (karya tulis, 2008)
  5. Sarapan pagi penuh Dusta (2004)
  6. Dua Tangisan pada Satu Malam (kumpulan cerpen, 2005)
  7. Kupu-kupu Bersayap Gelap (2006)
  8. Sebuah Kitab yang Tak Suci (kumpulan cerpen, 2001)
  9. Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (kumpulan cerpen, 2009)
  10. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (novel, 2009)
  11. Bunda, berdasarkan screen play Cristantra (novel, 2005)
  12. Beli Cinta dalam Karung
  13. Orang-orang yang Bergegas (naskah drama, 2004)
  14. Jam Sembilan Kita Bertemu (naskah drama, 2009)
  15. Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta (naskah drama, 2009)
  16. Mengantar dari Luar (kumpulan esai, 2014)
  17. Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa (novel, 2016)
  18. Tanpa Tanda Seru (prosa liris)
  19. Jejak Air, (Biografi Politik Nani Zulminarni)
  20. Sinengker (naskah film)

Selain terus menulis dan melakukan kerja-kerja penelitian, Puthut masih sering diminta untuk menjadi pemandu berbagai pelatihan, terutama pelatihan menulis kreatif. Masih sering pula ia diminta membantu beberapa lembaga untuk ikut menyusun kurikulum pelatihan sekaligus membuat berbagai bahan dan media belajar. Ia juga menyunting banyak buku, baik fiksi maupun nonfiksi, menjadi konsultan buku, penerbitan dan media lain.

Setidaknya sampai 2013, Puthut telah menulis 22 buah buku

Puthut menyediakan ruang sebesar-besarnya untuk ikut ambil bagian dalam kerja-kerja kemanusiaan sebagai sukarelawan, terutama untuk komunitas-komunitas kecil dan kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. Ia, sampai sekarang, masih tinggal di Yogyakarta.

Buku: Ilmu, Industri, dan Peseduluran yang Lamat

 

“Setiap praktik yang mencipta sesuatu yang baru adalah pratik gelak-tawa.”
–Julia Kristeva

AF: Sudah mau dikunjungi?

JBS: Bayar.

AF: Yawes. Sate ayam.

JBS: Ga boleh sate ayam… Besok aja.

Grab chat itu saya simpan sampai hari ini, insya Allah sampai kapan pun. Inisial AF adalah Anas Farobi (petinggi Toga Mas) dan JBS adalah Johan Budhi Sava, almarhum yang amat sangat dekat dengan para penerbit Jogja. Tentu, chat itu sudah terjadi bertahun-tahun silam. Tinggal kenangan. Saya tak yakin ada orang lain yang masih menyimpan chat beliau yang rendah hati itu, bahkan pejabat teras Toga Mas macam Sheny. Saya setia menyimpan chat ini untuk merawat keabadian kenangan heroik saya tentang beliau; bahwa Jogja pernah dimulikan oleh pengusaha kaya raya yang amat sangat peduli pada kehidupan penerbit. Kenangan yang…. tak ada jejaknya lagi.

Lanjutkan membaca Buku: Ilmu, Industri, dan Peseduluran yang Lamat