Standar Viral yang Jahat Bagi Penulis

Sosial media menjadi faktor yang menentukan bagi perjalanan kepenulisan Iqbal Aji Daryono dan Agus Mulyadi. Keduanya mendapatkan gaya menulis dan riuh pembaca dari sosial media. Terkhusus bagi Agus, menulis di blog juga turut memberi pengaruh. Iqbal dan Agus adalah dua orang yang boleh jadi saat ini menjadi perwajahan bagaimana menulis di sosial media, pada gilirannya, menjadi sebuah proses menulis kreatif yang tidak bisa dianggap sepele. Kini, orang-orang tak harus membaca tajuk rencana maupun kolom opini di surat kabar untuk mencari esai yang mangkus berisi perspektif alternatif tentang suatu permasalahan.

Meski demikian, perubahan karakteristik pembaca ini hadir bersamaan dengan perubahan hubungan kritik dan otokritik penulis. Apalagi jika kemudian standar moral yang ditaruh penulis selalu tidak jauh dari viral atau tidaknya sebuah tulisan. Dulu, kita pernah menemukan kritik berbalas antara Romo Sindhunata dan Gus Dur di kolom Opini Kompas. Di media yang sama, kita juga pernah menemukan opini berbalas antara Ulil Absar Abdalla dan mertuanya sendiri, Gus Mus.

Hari ini, bukannya tidak ada sebuah tulisan di sosial media dikritik lewat status yang lain. Namun, dikarenakan logaritma sosial media yang menyebabkan gelembung-gelembung sosial, sering kali sebuah argumen dikritik hanya oleh followers yang tak selalu punya kapasitas untuk mengkritik argumen-argumen penulis. Hal ini menjadi salah satu keresahan yang disampaikan Iqbal Aji Daryono di acara Talkshow “Jejak Langkah Penulis Era Digital”, Senin (10/9).

“Harus diakui, standar viral itu merupakan kejahatan dunia digital. Terkadang, satu-satunya kritikus itu ya cuma followers. Padahal, mereka tidak selalu punya kapasitas untuk mengkritik. Orang-orang yang sebenarnya punya kapasitas untuk megkritik tidak hadir karena banyak hal. Kita, sebagai penulis juga sering kali menjadi hanya fokus di runutnya argumen, tapi tidak pernah otokritik pendapat sendiri,” ungkap Iqbal.

Hal ini diperparah oleh oleh kecenderungan media massa daring yang seringkali menerima tulisan dari segi potensi viralnya saja. Atas pertimbangan banyak follower, media massa kemudian tidak benar-benar mengurasi tulisan secara cermat. “Banyak media menerima tulisan saya bukan karena kurasi yang ketat tapi karena follower banyak. Follower artinya pembaca. Pembaca artinya trafficTraffic artinya iklan. Iklan artinya uang,” keluh Iqbal.

Agus Mulyadi, yang merupakan Pemimpin Redaksi Mojok.co pun tak menyangkal hal tersebut. Dibanding dengan media cetak yang oplahnya jelas berapa banyak, media daring berjalan dengan skema yang berbeda. “Kita dituntut untuk viral. Koran mau sebagus apa pun oplahya tetap segitu. Jadi pertimbangan bagus tidaknya tulisan bisa benar-benar diterapkan. Akan tetapi, di Mojok.co misalnya, ada dua tulisan yang jadi pilihan. Tulisan pertama nilainya cuma 8 tapi berpotensi viral dan tulisan yang kedua punya nilai 9 tapi tidak berpotensi viral. Kita bakal pilih yang yang nilainya 8,” jelas Agus. Meski demikian, Mojok.co tidak serta merta menaruh standar viral itu secara mutlak. Iqbal mengaku tidak sedikit tulisannya yang ditolak oleh Mojok.co karena tidak sesuai dengan keinginan redaksi.

Selain soal kritik dan otokritik itu, masalah lain yang muncul dari viral adalah stereotip seseorang di dunia maya. Iqbal merasa dirinya dikenal sebagai penulis yang hanya menulis soal politik. Hal itu dikarenakan tulisan-tulisannya yang viral adalah tulisan soal cebong dan kampret. Padahal, Iqbal merasa ia tidak hanya menulis soal tema tersebut. Mulai dari sosial, budaya, hingga agama tak kalah sering ia garap. Mengumpulkan tulisan-tulisannya menjadi sebuah buku menjadi salah satu usaha Iqbal agar para pembacanya dapat mengetahui buah pikirnya secara menyeluruh terhadap suatu. Tidak sekadar dari tulisan-tulisannya yang viral. [DAz]

Tinggalkan Balasan