Rezim HAKI, Don Quixote Yang Kesepian

Oleh: Sholeh UG

(Catatan ini disampaikan dalam Sidang Komisi HAKI-Musyawarah Buku Kampung Buku Jogja 2017)

 

Alffin Tofler dalam buku Third Wave membagi peradaban manusia dalam tiga gelombang. Tiap gelombang bisa merupakan kelanjutan, bisa pula repetisi, bisa pula tesa dan antites. Ketiga gelombang peradaban Toffler itu :

Masyarakat Pertanian, periode 800-1500

Masyarakat Industri, periode 1500-1970

Masyarakat Informasi, periode 1970-kini

 

Masyarakat Pertanian

Pada gelombang ini terjadi perubahan secara mendasar kultur manusia dari yang semula bersifat nomaden dan mengandalkan cocok tanam semusim serta berburu, menjadi masyarakat mukim dengan mengandalkan pertanian. Teknologi pada masyarakat gelombang pertama ini diciptakan untuk mendukung kultur pertanian. Pengetahuan dibagi dengan alasan untuk mencapai kesederajatan. Karena dengan kesederajatan akan mampu menghilangkan potensi ancaman. Berbagi (ini akan terulang pada gelombang ketiga) dan gotong royong diperlukan karena masyarakat pertanian sangat tergantung pada sumber daya alam : air, sinar matahati, angin, untuk menjalankan aktivitas pertanian.

Masyarakat Industri

Periode ini dimulai dengan renaissance dan puncaknya pada revolusi industri. Gelombang kedua ini disebut oleh Toffler memiliki ciri masyarakat yang ekonomis dan rakus.

Ekonomi berbagi pada masyarakat pertanian, seiring dengan ledakan penduduk, dianggap tidak lagi sesuai. Karena manusia telah berhasil menciptakan sarana perlindungan diri yang efektif dengan ditemukannya senjata api dan sebagainya.

Penemuan teknologi transportasi dan senjata telah melahirkan imperialisme dan kolonialisme. Imperialisme dan kolonialisme merupakan syahwat untuk memiliki secara berlebihan (penumpukan modal). Karena itu kepemilikan menjadi sangat menonjol, melahirkan sifat individualis. Oleh sebab itu penemuan dan teknologi dikapitalisasi karena dianggap milik pribadi atau kelompok. Gagasan perlindungan penemuan dan teknologi tersebut disahkan melalui Statute of Anne di Inggris (1710), dan mencapai puncaknya pada Bern Convention (1886), sumber dari pemberlakuan copyright.

Perlindungan atau dengan bahasa lain pembatasan sejalan dengan konsep kapitalisme, modal dan aset harus terus dihimpun sebesar-besarnya, agar pihak lain tidak mampu bersaing. Copyright bisa dilihat sebagai upaya untuk terus mempertahankan ekonomis rakus periode masyarakat industri.

Masyarakat Informasi

Ekonomi rakus yang dijalankan pada periode kedua, menyebabkan kelangkaan bahan bakar fosil. Oleh sebab itu masyarakat informasi mulai berusaha kembali memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan.

Masyarakat informasi memiliki ciri yang sangat menonjol yaitu masyarakat yang terbuka atau open society dengan pemanfaatan peer to peer, bersejawat. Pada periode ini, struktur masyarakat yang tersekat secara kaku peninggalan periode industri telah ditinggalkan dan digantikan struktur masyarakat yang sangat longgar. Orang “awam” memiliki peluang yang sama besar untuk meningkatkan statusnya. Awam yang ingin jadi artis bisa selfie dan kemudian menjadi celebgram, bisa ngeblog dan ngevlog untuk menghasilkan kekayaan melimpah.

Economic society ini kemudian melahirkan economic sharing. Kapitalisasi sudah kehabisan darah. Setiap orang, dimanapun ia berada, asal paham dan memiliki perangkat berbagi informasi, dapat menjadi pengusaha sekaligus eksportir. Taksi online merupakan contoh ekonomi berbagi yang paling nyata.

Gelombang ketiga ini merupakan kemenangan sosialisme atas kapitalisme. Sosialisme yang dimaksud ialah sosialisme dalam bentuk yang paling etis, yaitu kolektivisme. Masyarakat kolektif itulah sesungguhnya yang dikehendaki oleh para founding fathers kita.

 

Penerbit Haruskah Menjadi Don Quixote? 

Bagaimana dengan buku pada ketiga gelombangnya Toffler itu? Pasti juga mengalami perubahan. Buku, penulis, penerbit, distributor dan toko buku sudah dan akan terus berubah.

Beberapa waktu lalu Menteri Keuangan melihat ada fenomena aneh. Menurut data BPS penjualan ritel di Indonesia mengalami kelesuan. Di sisi lain pergerakan barang meningkat. Pelaku ritel berteriak penjualan barang mengalami penurunan.

Yodhia Antariksa, Agustus lalu membahas Rencana Aliansi Alibaba-Tokopedia dan Senjakala Mall di Indonesia. Data menarik yang disampaikan Yodhia, transaksi ritel di Indonesia mencapai 4500 triliun. Dan penjualan online mencapai 65 triliun atau belum sampai 2%. Meski belum mencapai 2 persen, sudah mampu membuat industri ritel kembang kempis, gerai Seven Eleven tutup, hypermart mengurangi gerainya, dan masih banyak yang lain.

Di dunia buku, penerbit (mainstream), toko buku, distributor berteriak omset menurun.

Data Gramedia, penjualan total tahun 2012 mencapai 33.565. 472 eksemplar. Di tahun 2013 menurun, berada di angka 33.202.154 eksemplar, dan menurun lagi di tahun 2014 di jumlah total 29.883.822 eksemplar (sumber : http://ikapi.org/component/k2/item/73-tren-penjualan-buku-di-toko-buku-menurun-pemerintah-dapat-membalikkannya.html).

Penurunan itu seringkali disebut akibat budaya baca yang lemah, pengaruh perangkat teknologi Informasi dan sebagainya. Meskipun, harus pula dicatat penerbit buku indie semakin meningkat jumlahnya. Omset penerbit indie juga meningkat. Artinya penjualan buku belum tentu menurun, hanya tidak tèrcatat di data resmi saja.

Hal lain yang perlu dicermati dalam konteks HAKI ialah bila rezim HAKI Indonesia berkiblat pada AS yang memandang HAKI sebagai economic right, maka paradigma itu ibarat bunga layu sebelum mekar. Economic sharing di bidang seni, hiburan, telah memberi kemerdekaan finansial pada para kreator yang mengupload karya mereka di youtube. Misalkan Edho Pratama diperkirakan memiliki penghasilan 44 juta. Posisi kedua Raditya Dika dan Reza Oktavian dengan 38 juta.

Untuk penulis, nama-nama seperti Sugeng Riyadi, Duto Sri Cahyono, Agus Rahmadani, mbak Nunik, Priangga Otviapta, Evrina Budiastuti dan masih banyak lagi penulis yang berpenghasilan puluhan juta perbulan. Tentu tak sedap bila penghasilan penulis ini dikomparasikan dengan pendapatan mereka dari royalti plus penjualan copyright.

 

Kesimpulan

Dari data-data itu, rezim HAKI peninggalan masyarakat industri yang sudah lapuk itu harus berpikir untuk merevisi teorinya.

Penerbit, toko buku dan distributor yang sedang menghadapi masa senjakala, perlu mengubah mindsetnya. Jangan menjadi kurcaci yang menangis di labirin, “Who moved my cheese”.

Tidak lama lagi, economic sharing model view perklik akan merambah dunia perbukuan. Buku cetak akan masih tetap laku untuk souvenir seperti untuk kado, penghias rak buku dan lain-lain. Karena itu cetak digital akan semakin laris. Dan kecenderungan ini kembali pada masyarakat pertanian, dimana buku hanya dicetak sangat terbatas karena masih ditulis dengan tangan.

Apakah pelaku buku di Jogja mau menjadi Don Quixote yang lapar dan merana ditinggal jaman? Hanya Kampung Buku yang bisa menjawab.

 

***Penulis adalah pelaku perbukuan yang sudah bertobat

Tinggalkan Balasan