Banyak Buku di Lemari Mertuaku

Ada berlemari-lemari buku di rumah ibu mertua saya, saya tahu sejak dulu, zaman patjaran dengan istri saya. Beberapa kali memang saya buka-buka, bikin penasaran. Semalam saya menginap lagi di rumah mertua, rumah Eyang. Sambil merapikan ruang keluarga, akhirnya momen yang ditunggu-tunggu datang juga. Saya diperbolehkan membongkar arsip-arsip itu dan diperbolehkan memindahkannya di rak buku saya. Ehmmm. Alangkah senangnya.

Lanjutkan membaca Banyak Buku di Lemari Mertuaku

Sayap Jibril yang Terkoyak

Setahun lalu lebih sedikit. Di suatu ruang, setengah display setengah gudang, pengap dan sekelebat aroma kencing tikus. Bertumpuk buku-buku bertabur debu. Terantuk kakiku, mungkin lebih tepatnya terinjak, sebuah buku. Lusuh, koyak, pesing. Danarto. Sayap Jibril. Bukankah ini buku keren, oleh penulis keren, diterbitkan penerbit keren dari kota keren? Siapa yang tega membiarkan benda ini teronggok tak terperhatikan. Kupungut, kusorongkan ke meja kasir. Dua puluh empat ribu lima ratus rupiah, katanya, sekembaliku mencuci tangan..

Lanjutkan membaca Sayap Jibril yang Terkoyak

Bertemu Seno Gumira Ajidarma

 

Konon katanya orang pintar adalah orang yang mampu mengubah sesuatu yang rumit menjadi sesuatu yang sederhana dan orang di samping saya ini adalah contohnya. Dalam sebuah acara talk show yang diinisiasi oleh Mizan dan Kineruku, datanglah SGA ke Bandung dan saya turut hadir sekedar untuk berjumpa, minta tanda tangan dan berfoto bersama (rasanya saya lama sekali tidak melakukan hal itu lagi: sekadar menjadi pembaca yang ngefans dengan penulis idolanya). Bertahun-tahun perkenalan saya dengan karyanya pertama kali di kota Jogja dengan sebuah buku yang juga bukan milik saya, malahan saya cuma nemu buku Penembak Misterius di ruko tempat saya tinggal, Seno Gumira Ajidarma membuat saya pertama kali menyenangi karya cerita pendek dan lebih jauh bahkan mengajari saya menulis.

Lanjutkan membaca Bertemu Seno Gumira Ajidarma

Buku: Ilmu, Industri, dan Peseduluran yang Lamat

 

“Setiap praktik yang mencipta sesuatu yang baru adalah pratik gelak-tawa.”
–Julia Kristeva

AF: Sudah mau dikunjungi?

JBS: Bayar.

AF: Yawes. Sate ayam.

JBS: Ga boleh sate ayam… Besok aja.

Grab chat itu saya simpan sampai hari ini, insya Allah sampai kapan pun. Inisial AF adalah Anas Farobi (petinggi Toga Mas) dan JBS adalah Johan Budhi Sava, almarhum yang amat sangat dekat dengan para penerbit Jogja. Tentu, chat itu sudah terjadi bertahun-tahun silam. Tinggal kenangan. Saya tak yakin ada orang lain yang masih menyimpan chat beliau yang rendah hati itu, bahkan pejabat teras Toga Mas macam Sheny. Saya setia menyimpan chat ini untuk merawat keabadian kenangan heroik saya tentang beliau; bahwa Jogja pernah dimulikan oleh pengusaha kaya raya yang amat sangat peduli pada kehidupan penerbit. Kenangan yang…. tak ada jejaknya lagi.

Lanjutkan membaca Buku: Ilmu, Industri, dan Peseduluran yang Lamat

Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan

 

Pada awal bulan Februari lalu, IKAPI DIY menggelar Pesta Buku Jogja 2012, bertajuk Jogja Itoe Boekoe. Dilatarbelakangi idealisme menggebu untuk membangun citra dunia perbukuan di Jogjakarta, di deklarasikanlah Jogja sebagai Kota Perbukuan Nasional pada seremoni pembukaan Pesta Buku Jogja tersebut.

Memantas Diri di Sebuah Pesta Buku

Di tengah pesta buku itu, beberapa teman sesama aktivis perbukuan mencandai saya yang mereka anggap seperti ”ogah-ogahan” berjualan. ”Mengapa Anda tidak berjualan?” begitu mereka bertanya kepada saya. Padahal, jelas-jelas kami mendisplay buku yang boleh dibeli pengunjung di stand yang sengaja kami rancang dengan penataan yang lumayan.

Lanjutkan membaca Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan

Membongkar Industri Perbukuan Nasional

 

Isu harga buku yang relatif mahal beberapa tahun belakangan ini menjadi rumor yang berkembang di kalangan mahasiswa dan masyarakat pencinta buku. Dari beberapa cerita, para konsumen buku terkadang harus merogok kocek lebih dalam untuk mendapatkan sebuah buku. Terkadang pula mereka menemukan buku dengan lembaran dan kualitas terbitan yang sama tetapi dengan perbedaan harga hingga berapa kali lipat. Belum lagi jika membandingkan harga antar toko buku, maka umumnya akan ditemukan beda harga yang cukup kontras antara toko buku ternama setingkat Gramedia yang relatif lebih mahal dari toko biasa. Mengapa hal demikian terjadi? Mengapa harga buku berfluktuasi dengan kecenderungan semakin mahal? Apa sebenarnya yang terjadi dalam kamar industri perbukuan di Indonesia? Dan bagaimana kebijakan mengaturnya?

Lanjutkan membaca Membongkar Industri Perbukuan Nasional

Lapak Online Sebagai Budaya Tanding

 

We must remember, because remembering is a moral duty. Paul Ricoeur

Beberapa tahun belakangan, geliat perbukuan nasional riuh oleh kehadiran lapak buku online lewat Facebook. Berbagai buku yang berasal dari masa lampau terkubur bersama sejarah kini hadir kembali menyapa mata masyarakat Indonesia.

Lanjutkan membaca Lapak Online Sebagai Budaya Tanding