Bertemu Seno Gumira Ajidarma

 

Konon katanya orang pintar adalah orang yang mampu mengubah sesuatu yang rumit menjadi sesuatu yang sederhana dan orang di samping saya ini adalah contohnya. Dalam sebuah acara talk show yang diinisiasi oleh Mizan dan Kineruku, datanglah SGA ke Bandung dan saya turut hadir sekedar untuk berjumpa, minta tanda tangan dan berfoto bersama (rasanya saya lama sekali tidak melakukan hal itu lagi: sekadar menjadi pembaca yang ngefans dengan penulis idolanya). Bertahun-tahun perkenalan saya dengan karyanya pertama kali di kota Jogja dengan sebuah buku yang juga bukan milik saya, malahan saya cuma nemu buku Penembak Misterius di ruko tempat saya tinggal, Seno Gumira Ajidarma membuat saya pertama kali menyenangi karya cerita pendek dan lebih jauh bahkan mengajari saya menulis.

Lanjutkan membaca Bertemu Seno Gumira Ajidarma

Buku: Ilmu, Industri, dan Peseduluran yang Lamat

 

“Setiap praktik yang mencipta sesuatu yang baru adalah pratik gelak-tawa.”
–Julia Kristeva

AF: Sudah mau dikunjungi?

JBS: Bayar.

AF: Yawes. Sate ayam.

JBS: Ga boleh sate ayam… Besok aja.

Grab chat itu saya simpan sampai hari ini, insya Allah sampai kapan pun. Inisial AF adalah Anas Farobi (petinggi Toga Mas) dan JBS adalah Johan Budhi Sava, almarhum yang amat sangat dekat dengan para penerbit Jogja. Tentu, chat itu sudah terjadi bertahun-tahun silam. Tinggal kenangan. Saya tak yakin ada orang lain yang masih menyimpan chat beliau yang rendah hati itu, bahkan pejabat teras Toga Mas macam Sheny. Saya setia menyimpan chat ini untuk merawat keabadian kenangan heroik saya tentang beliau; bahwa Jogja pernah dimulikan oleh pengusaha kaya raya yang amat sangat peduli pada kehidupan penerbit. Kenangan yang…. tak ada jejaknya lagi.

Lanjutkan membaca Buku: Ilmu, Industri, dan Peseduluran yang Lamat

Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan

 

Pada awal bulan Februari lalu, IKAPI DIY menggelar Pesta Buku Jogja 2012, bertajuk Jogja Itoe Boekoe. Dilatarbelakangi idealisme menggebu untuk membangun citra dunia perbukuan di Jogjakarta, di deklarasikanlah Jogja sebagai Kota Perbukuan Nasional pada seremoni pembukaan Pesta Buku Jogja tersebut.

Memantas Diri di Sebuah Pesta Buku

Di tengah pesta buku itu, beberapa teman sesama aktivis perbukuan mencandai saya yang mereka anggap seperti ”ogah-ogahan” berjualan. ”Mengapa Anda tidak berjualan?” begitu mereka bertanya kepada saya. Padahal, jelas-jelas kami mendisplay buku yang boleh dibeli pengunjung di stand yang sengaja kami rancang dengan penataan yang lumayan.

Lanjutkan membaca Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan

Membongkar Industri Perbukuan Nasional

 

Isu harga buku yang relatif mahal beberapa tahun belakangan ini menjadi rumor yang berkembang di kalangan mahasiswa dan masyarakat pencinta buku. Dari beberapa cerita, para konsumen buku terkadang harus merogok kocek lebih dalam untuk mendapatkan sebuah buku. Terkadang pula mereka menemukan buku dengan lembaran dan kualitas terbitan yang sama tetapi dengan perbedaan harga hingga berapa kali lipat. Belum lagi jika membandingkan harga antar toko buku, maka umumnya akan ditemukan beda harga yang cukup kontras antara toko buku ternama setingkat Gramedia yang relatif lebih mahal dari toko biasa. Mengapa hal demikian terjadi? Mengapa harga buku berfluktuasi dengan kecenderungan semakin mahal? Apa sebenarnya yang terjadi dalam kamar industri perbukuan di Indonesia? Dan bagaimana kebijakan mengaturnya?

Lanjutkan membaca Membongkar Industri Perbukuan Nasional

Lapak Online Sebagai Budaya Tanding

 

We must remember, because remembering is a moral duty. Paul Ricoeur

Beberapa tahun belakangan, geliat perbukuan nasional riuh oleh kehadiran lapak buku online lewat Facebook. Berbagai buku yang berasal dari masa lampau terkubur bersama sejarah kini hadir kembali menyapa mata masyarakat Indonesia.

Lanjutkan membaca Lapak Online Sebagai Budaya Tanding

Persahabatan Buku

Saya lupa tepatnya, suatu hari di bulan-bulan yang kering, saya pulang dari Solo (Sriwedari) membawa salah satu buku Kuntowijoyo yang paling hot dan diburu saat itu; Madura. Dua-tiga hari setelahnya, Mas Adhe mengontak perihal sulitnya mendapat buku yang sama demi kepentingan arsipnya. Sebab saya masih fokus pada pengarsipan buku Pustaka Jaya, mas Adhe akhirnya saya berikan buku milik saya itu.

Lanjutkan membaca Persahabatan Buku

Arif Abdulrakhim, Manusia Buku Jogja

Saya mengenal Mas Arif Abdulrakhim a.k.a Arif Doelz di suatu sore di kantor Galang Press di Baciro pada 2003. Rapat besar penerbit Jogja hari itu menjadi awal perkenalan nyaris semua orang buku di sana dengan sosok pimpinan Toko Buku Toga Mas Gejayan itu. Penyambung perkenalan itu adalah Pak Julius Felicianus, Boss Galang Press.

Lanjutkan membaca Arif Abdulrakhim, Manusia Buku Jogja