Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

I

Sumitro Djojohadikusumo berusia 21 tahun ketika ia bekerja sebagai pelayan restoran di Hotel Lancaster, tidak jauh dari Champ-Elysees, Paris. Di ibu kota Prancis itu pula ia pertama kali bertemu dengan Andre Malraux. Pertemuan di jalan de Berri itu sangat mengesankan bagi Sumitro karena ia mengagumi peran historis dan peran akademis Malraux, sosok yang menyatukan identitas aktivis, intelektual, sekaligus negarawan. Dalam perkataan maupun tindakannya, Malraux tidak pernah menganjurkan l’action pour l’action, perbuatan demi perbuatan. Di semua kegiatan dan karya tulisnya, ia selalu menegaskan perihal martabat manusia dan keadilan sosial. “Malraux itu l’homme engage,” ujar Sumitro, “manusia yang berpihak dan sepenuhnya mengabdikan diri pada upaya mempertahankan martabat manusia dan keadilan dalan konteks sosialnya.”

Lanjutkan membaca Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

Buku-buku ‘Aneh’ yang Membawa Berkah

Istilah “buku Jogja” telah menjadi populer di kalangan pecinta dan kolektor buku langka. Ungkapan tersebut merujuk pada buku-buku bertema “berat” yang diterbitkan oleh “pabrikan” buku Yogyakarta pasca reformasi. Buku-buku dari era tersebut kini kembali diminati dan diburu oleh para kolektor. Salah satu yang paling dicari adalah buku-buku dengan logo penerbit Bentang.

Lanjutkan membaca Buku-buku ‘Aneh’ yang Membawa Berkah

Kembalinya Buku-buku “Berat”

Dunia perbukuan belakangan ini terasa lebih semarak dibanding sebelumnya, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir. Tengoklah toko-toko buku yang biasa Anda kunjungi. Atau, jika Anda cukup akrab dengan pasar buku di jagad online, maka perbedaan itu demikian terasa. Hal itu dipicu oleh munculnya kembali buku-buku bertema “berat” yang pernah mewarnai industri penerbitan Tanah Air sejak akhir dekade 90-an.

Lanjutkan membaca Kembalinya Buku-buku “Berat”

Terbenam dan Tersingkir, Buku Jogja Belum Mati!

Di tengah euforia “start-up” atau perusahaan rintisan yang gegap gempita di luar sana, sekelompok anak muda di Yogyakarta memilih untuk menempuh jalan sunyi. Mereka mendirikan penerbitan buku, dengan proyek perdana terjemahan karya George Orwell, ‘Down and Out in Paris and London’. Dirilis di bawah judul ‘Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London’, buku tersebut merupakan hasil jerih payah penerjemah muda berbakat W Mahardika Putra (23).

Lanjutkan membaca Terbenam dan Tersingkir, Buku Jogja Belum Mati!

Banyak Buku di Lemari Mertuaku

Ada berlemari-lemari buku di rumah ibu mertua saya, saya tahu sejak dulu, zaman patjaran dengan istri saya. Beberapa kali memang saya buka-buka, bikin penasaran. Semalam saya menginap lagi di rumah mertua, rumah Eyang. Sambil merapikan ruang keluarga, akhirnya momen yang ditunggu-tunggu datang juga. Saya diperbolehkan membongkar arsip-arsip itu dan diperbolehkan memindahkannya di rak buku saya. Ehmmm. Alangkah senangnya.

Lanjutkan membaca Banyak Buku di Lemari Mertuaku

Sayap Jibril yang Terkoyak

Setahun lalu lebih sedikit. Di suatu ruang, setengah display setengah gudang, pengap dan sekelebat aroma kencing tikus. Bertumpuk buku-buku bertabur debu. Terantuk kakiku, mungkin lebih tepatnya terinjak, sebuah buku. Lusuh, koyak, pesing. Danarto. Sayap Jibril. Bukankah ini buku keren, oleh penulis keren, diterbitkan penerbit keren dari kota keren? Siapa yang tega membiarkan benda ini teronggok tak terperhatikan. Kupungut, kusorongkan ke meja kasir. Dua puluh empat ribu lima ratus rupiah, katanya, sekembaliku mencuci tangan..

Lanjutkan membaca Sayap Jibril yang Terkoyak

Bertemu Seno Gumira Ajidarma

 

Konon katanya orang pintar adalah orang yang mampu mengubah sesuatu yang rumit menjadi sesuatu yang sederhana dan orang di samping saya ini adalah contohnya. Dalam sebuah acara talk show yang diinisiasi oleh Mizan dan Kineruku, datanglah SGA ke Bandung dan saya turut hadir sekedar untuk berjumpa, minta tanda tangan dan berfoto bersama (rasanya saya lama sekali tidak melakukan hal itu lagi: sekadar menjadi pembaca yang ngefans dengan penulis idolanya). Bertahun-tahun perkenalan saya dengan karyanya pertama kali di kota Jogja dengan sebuah buku yang juga bukan milik saya, malahan saya cuma nemu buku Penembak Misterius di ruko tempat saya tinggal, Seno Gumira Ajidarma membuat saya pertama kali menyenangi karya cerita pendek dan lebih jauh bahkan mengajari saya menulis.

Lanjutkan membaca Bertemu Seno Gumira Ajidarma