53 Penerbit Indie Bakal Meriahkan KBJ 2017

Sebanyak 53 penerbit indie akan turut serta memeriahkan event Kampung Buku Jogja 2017. Hal ini diinformasikan dalam Technical Meeting Penerbit Indie yang digelar pada Senin, 18 September 2017 di Kafe Kendi.

Eka Putra selaku Penanggung Jawab Penerbit Indie, menjelaskan kepada para perwakilan penerbit indie yang hadir, perihal mekanisme dan detail acara dalam rangkaian KBJ. Adapun keikutsertaan penerbit indie dalam KBJ tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Pada penyelenggaraan KBJ 2016 sebanyak 22 penerbit indie yang yang turut serta. Sementara pada KBJ pertama, tahun 2015 baru 9 penerbit indie yang jadi peserta. “Ini jelas peningkatan yang signifikan sekali dari sebelum-sebelumnya. Ya walaupun beberapa baru punya dua judul, tapi kan tetap penerbit,”ujar Eka sambil terbahak. Adapun penerbit-penerbit yang baru pertama bergabung ke KBJ di antaranya, Art Music Today, Laras, dan Garudhawaca.

KBJ: Srawung Penerbit Indie

Penerbit Laras, Art Music Today, dan Garudhawaca adalah tiga penerbit indie yang baru bergabung ke Kampung Buku Jogja pada 2017. Perwakilan ketiga penerbit ini hadir dalam Technical Meeting Penerbit Indie di Kendi, Senin (18/09). Adapun ketiganya sama-sama menyepakati bahwa event KBJ sangat penting sebagai ajang silaturahmi dan kumpul-kumpul penerbit indie.

Jali dari penerbit Garudhawaca mengatakan bahwa pada penyelenggaraan pertama KBJ, penerbitnya belum ikut serta karena belum tahu perihal mekanismenya. “Nah ini yang ketiga akhirnya ada kesempatan untuk ikut serta, pastinya berterima kasih sekali bisa terlibat,”ujar Jali. Berdiri sejak 2010, penerbit Garudhawaca sudah mengahasilkan seratusan terbitan.

Sementara Michael dari penerbit Laras pun mengalami kendaa perihal informasi mekanisme keikutsertaan di KBJ tahun-tahun sebelumnya. “Terus kemarin ketemu mas Tio dari Pojok Cerpen baru tahu mekanismenya, baru bisa ikut tahun ini,” ungkap Michael.

Erie Setiawan dari penerbit Art Music Today pun mengatakan hal serupa. Lebih khusus lagi menurut Erie, event seperti KBJ amat penting untuk mengenalkan buku-buku dengan konten yang unik dan spesifik, salah satunya musik, yang diterbitkan penerbit Art Music Today. “ Saya tertarik ikut yang tahun ini karena tertarik dengan konten-kontenyanya yang memang unik-unik. Apalagi buku-buku indie itukan sangat spesifik ya. Beda dari trend pasar yang ada,” tambah Erie.

Komunitas Lawasan Kembali Meriahkan KBJ 2017

Komunitas Buku Lawasan yang banyak mendistribusikan buku-buku terbitan lama dan langka, kembali hadir di Kampung Buku Jogja 2017. Abi, sebagai salah satu anggotanya mengatakan bahwa setelah dua kali sukses ikut serta dalam pagelaran KBJ, tahun ini komunitasnya memutuskan kembali ikut serta.

Adapun terkait persiapan, tahun ini komunitas Lawasan akan lebih matang. “Event pertama dan kedua itu kan jadi pengalaman buat kita. Bagaimana produknya, yang disukai pembeli seperti apa. Jadi akan ada penambahan stok dan pengurangan pula, sesuai dengan pengalaman kami sebelum-sebelumnya,”ujar Abi.

Dampak setelah dua kali keikutsertaan Komunitas Lawasan adalah semakin banyak relasi yang mereka dapatkan. “Semakin banyak orang tahu buku lawasan. Orang kan tahunya lawasan hanya buku bekas. Padahal kan buku lawasan itu juga buku lama yang sudah tidak beredar lagi yang susah dicari,”tambah Abi.

Bias Melihat Pasar Yang Sesungguhnya

Indra Ismawan, CEO Media Pressindo mengatakan bahwa saat ini hampir semua insan perbukuan Indonesia menganggap pasar buku di Indonesia sama dengan jaringan toko buku-toko buku besar seperti Gramedia. “Jadi kalau kita menyimpang dari apa yang biasa di Gramedia itu kayak keluar dari jalan keselamatan. Tapi kan kenyataannya tidak demikian,” ungkap Indra saat tampil sebagai narasumber Sidang Komisi Produksi, di Dongeng Kopi pada Kamis (15/09). Faktanya menurut Indra, para pelaku perbukuan tanah air bisa juga bergerak di luar jalur itu dengan pasar yang nggak kecil juga.

Masih menurut  Indra, buku-buku yang ada di jaringan toko buku besar saat ini banyak memasarkan buku-buku best seller yang cetakan pertamanya bisa mencapai 10.000 eksemplar. Kalau yang megabestseller bahkan bisa sampai 50.000 eksemplar. “Ambil contoh buku Happy Little Soul kemarin laku 150.000 eksemplar dalam waktu 1-2 bulan. Tapi kan ini contoh ekstrem aja. Dan kita seringkali terjebak menilai sesuatu dari sisi ekstremnya. Padahal kalau kita mau hitung rata-rata penjualan jaringan toko buku besar itu, untuk judul-judul standar dicetak dengan oplah 3000-6000 dan penerbit hanya berharap laris 60%. Nah sisanya 40% itu diputar di luar jaringan itu, dibawa ke pasar umum,” tambah Indra.

Indra kemudian menyebutkan bahwa pada kisaran tahun 2000-2003 buku-buku dicetak pada oplah 1000-1500 hanya karena sejumlah distributor berani mengambil dalam jumlah segitu. Kekuatan pasarnya kemudian dianggap segitu pula. Kenyataannya tidak demikian. Menurut Indra insan perbukuan sendiri sering kali bias melihat pasar yang sesungguhnya.

Penerbit Jawa Barat Mencetak Bukunya di Percetakan Jogja

Banyak pelaku perbukuan di Jawa Barat khsusnya di luar Bandung yang memilih percetakan-percetakan di Jogja untuk mencetak buku mereka. Hal ini disampaikan oleh Wahyu Heriadi dari Penerbit Kentja saat tampil sebagai salah satu pembahas dalam Sidang Komisi Produksi pada Kamis, (14/09) di Dongeng Kopi. Langkah ini, menurut Wahyu, dipilih lantaran penerbit-penerbit di Jawa Barat dapat lebih menekan biaya produksi ketika mencetak bukunya di Jogja ketimbang di Bandung atau Jakarta.

“Untuk mencetak di Bandung atau Jakarta mungkin tiga hari bisa selesai beres. Tapi dari segi biaya bisa sampai dua kali lipat dari biaya cetak di Jogja. Makanya Jogja jadi pilihan kami untuk mencetak buku, khususnya yang ingin mencetak dalam jumlah terbatas” ungkap Wahyu.

Penerbitan buku dalam jumlah terbatas di Jawa Barat menurut Wahyu, mulai terjadi pasca reformasi. Saat itu khususnya di wilayah selain Bandung, Tasikmalaya misalnya, muncul buku-buku yang diterbitkan sendiri dalam jumlah terbatas. Salah satunya Sanggar Sastra Tasikmalaya yang menerbitkan salah satunya kumpulan buku puisi Acep Zamzam Noor. Namun ternyata aktivitas ini tidak berjalan lama. Lambat laun, industri buku lalu terpusat di Bandung.

Strategi Produksi di Penerbit Mayor

Memutuskan untuk berada di ranah penerbit mayor, menurut Wawan Arif dari Penerbit Forum harus memilih dari setidaknya dua senjata. Pertama menjadi senjata yang memberondong atau menjadi sniper. “Kalau menjadi senjata yang memberondong peluru, sikap yang diambil adalah mengerahkan banyak modal untuk membuat buku sebanyak-banyaknya. Sementara menjadi sniper,  bidik satu kena, bidik satu kena”, ungkap Wawan saat tampil menjadi salah satu pembahas dalam Sidang Komisi Produksi, Musyawarah Buku pada Kamis (14/09) di Dongeng Kopi.

Wawan mencontohkan Indonesia Boekoe yang mengambil langkah menjadi sniper. Mencetak buku dengan jumlah sedikit tapi pasti  laku karena jelas siapa sasaran pembelinya. Sementara pilihan senjata memberondong peluru tadi disebut Wawan diambil oleh banyak penerbit mayor. Masing-masing pilihan sikap ini pun menurut Wawan diikuti dengan konsekuensi masing-masing. “Mencetak banyak tentu butuh modal besar. Sementara mencetak sedikit pun butuh kekuatan sendiri untuk mengawal ketat kontennya,”ungkap Wawan.

Jumlah Penerbit dan Tenaga Percetakan Belum Sebanding

Meningkatnya jumlah penerbit di Yogyakarta, dipertanyakan oleh Muhidin M. Dahlan apakah sebanding dengan pertumbuhan tenaga percetakan. Hal ini Muhidin pertanyakan dalam Sidang Komisi Produksi pada Kamis, (14/09) lantaran hanya dua percetakan di Yogyakarta yang menurutnya cukup kebanjiran order dari penerbit-penerbit. Kedua percetakan itu adalah Diandra Creative dan Utama Offset.

Menanggapi hal ini, Yusuf Efendi dari Diandra Creative mengatakan bahwa tenaga percetakan bisa saja ditambahkan lagi asalkan ongkos cetak bisa dibayar cash oleh penerbit.  “Mau nambah tenaga lagi tapi kalau pendapatannya sama aja kan malah bikin pusing. Dari segi jumlah, jelas itu (tenaga percetakan) belum ideal,” ungkap Yusuf.

Yusuf menambahkan bahwa idealnya dari segi pembagian kerja, setiap satu tenaga percetakan memegang satu pekerjaan. Sementara faktanya selama ini jauh berbeda. “Selama ini kan satu orang harus bisa binding, harus bisa motong, harus bisa print, jadi beban kerjanya besar. Idealnya ya satu orang pegang satu aja,”kata Yusuf.