Jumlah Penerbit dan Tenaga Percetakan Belum Sebanding

Meningkatnya jumlah penerbit di Yogyakarta, dipertanyakan oleh Muhidin M. Dahlan apakah sebanding dengan pertumbuhan tenaga percetakan. Hal ini Muhidin pertanyakan dalam Sidang Komisi Produksi pada Kamis, (14/09) lantaran hanya dua percetakan di Yogyakarta yang menurutnya cukup kebanjiran order dari penerbit-penerbit. Kedua percetakan itu adalah Diandra Creative dan Utama Offset.

Menanggapi hal ini, Yusuf Efendi dari Diandra Creative mengatakan bahwa tenaga percetakan bisa saja ditambahkan lagi asalkan ongkos cetak bisa dibayar cash oleh penerbit.  “Mau nambah tenaga lagi tapi kalau pendapatannya sama aja kan malah bikin pusing. Dari segi jumlah, jelas itu (tenaga percetakan) belum ideal,” ungkap Yusuf.

Yusuf menambahkan bahwa idealnya dari segi pembagian kerja, setiap satu tenaga percetakan memegang satu pekerjaan. Sementara faktanya selama ini jauh berbeda. “Selama ini kan satu orang harus bisa binding, harus bisa motong, harus bisa print, jadi beban kerjanya besar. Idealnya ya satu orang pegang satu aja,”kata Yusuf.

Dewan Kesenian Medan Hadiri Musyawarah Buku

Sidang Komisi Keredaksian, Musyawarah Buku pada Rabu (13/09) di Dongeng Kopi, dihadiri pula oleh Komisi Dewan Sastra Medan. Kehadiran ini menjadi salah satu bagian dari rangkaian studi banding yang mereka lakukan di Yogyakarta.

Diungkapkan salah satu anggotanya, Juhendri Chaniago, studi banding ini dilakukan karena mereka melihat kecenderungan banyak penulis yang mengirimkan naskahnya ke Jogja untuk diterbitkan penerbit di sini. “Kami juga ingin mempelajari permasalahan apa saja yang dihadapi kawan-kawan pelaku perbukuan di Jogja, sekaligus berjejaring,” tambahnya.

Di Medan sendiri, masih menurut Juhendri, sudah ada perbincangan tentang menerbitkan buku secara independent. Namun dengan mendatangi kumpulan penerbit indie di Jogja akan memberikan banyak referensi dan pembacaan yang lebih mendalam tentang hal ini.

Dewan Kesenian Medan sendiri masih akan hadir pada agenda Musyawarah Buku besok Kamis, (14/09), dengan tema produksi buku. Lokasinya sendiri masih akan berlangsung di Dongeng Kopi, Jalan Damai.

Buku Digital Belum Gantikan Buku Cetak

Salman dari Bentang Pustaka mengatakan bahwa kehadiran buku dalam format digital belum terlalu signifikan menggantikan keberadaan buku cetak. Hal ini diutarakannya dalam Sidang Komisi Keredaksian, Musyawarah Buku, Rabu (13/09) di Dongeng Kopi.

“Pengalaman saya saat menjadi fellow di Frankfurt itu, ada data bahwa penjualan-penjualan buku elektronik belum terlalu signifikan. Di Indonesia bahkan masih sebesar 5% dari buku cetak. Difital itu keniscayaan tetapi belum akan menggantikan buku cetak dalam waktu dekat ini,” ungkap Salman.

Pembicaraan ini bergulir berdasarkan kenyataan betapa bergantungnya masyarakat sekitar kita pada gawai dalam kehidupan sehari-hari. Dari 2012-2014, sebut Salman,  banyak pertumbuhan ebook yang didorong hanya oleh beberapa judul buku saja. Jadi era digital menurutnya tidak semengerikan yang dipikir. Salman lalu melanjutkan bahwa keberadaan buku digital lebih diposisikan sebagai komplementer saja, bukan untuk mensubstitusikan buku cetak. Keduanya menurut Salman bisa berdampingan dengan damai.

Miripnya Suasana Wishdompark dengan Kampung Sesungguhnya

Wishdompark Lembah UGM kembali dipilih sebagai wilayah dihelatnya Kampung Buku Jogja #3 tahun 2017. Menurut Arief Doel sebagai Penanggung Jawab Umum KBJ #3, wilayah ini dipilih karena dapat mewujudkan suasana kampung yang menjadi ruh KBJ. “Suasana di sana kan banyak pohon, jadi teduh dan asri. Mirip dengan suasana hunian kampung yang sesungguhnya,” ujar Arif.

Setelah berjalan dua kali pada 2015 dan 2016 di wilayah yang sama, Arif mengakui bahwa faktor tempat sangat memengaruhi suasana yang dibangun. Masih menurut Arif, pengunjung menjadi cukup kerasan di sana, karena suasananya sungguh seperti kampung, sesuai dengan ekspektasi mereka ketika melihat publikasi yang disebarkan panitia.

Pihak KBJ sendiri sebenarnya memiliki keinginan untuk mencari tempat lain. Namun sejauh ini belum ada tempat yang sama suasananya seperti di Wishdompark Lembah  KBJ. “Kami pastinya ingin juga mencoba di tempat lain tapi belum ketemu. Kalau ada yang punya saran, boleh banget lho usul ke kami,” tambah Arif.

Kamar Redaksi Penerbit Buku : Gagasan, Kreativitas, dan Kualitas Bacaan

*Bahan untuk Sidang Komisi Keredaksian

Kamar-kamar redaksi dan produksi di kantor-kantor penerbit buku di Indonesia nyaris setiap saat membikin produk-produk yang berbeda. Tidak pernah ada sebuah buku baru yang keseluruhan fisik dan muatannya sepenuhnya sama dengan buku sebelumnya. Kalaupun ada pihak di luar penerbit yang berusaha menyamai buku tersebut, maka pihak itu adalah pembajak buku. Tapi, tetap saja tidak akan ada sebuah buku yang seratus persen serupa dengan buku lainnya dari penerbit yang sama.

Penerbit adalah produsen buku yang kerja penyiapan serta hasil produksinya berbeda dengan produsen non-buku. Setiap buku yang akan dilahirkan oleh penerbit memerlukan pembeda, keunikan, kebaruan, dan lain-lain. Penerbit dituntut untuk selalu menaikkan gagasan-gagasan segar dan baru pada setiap buku yang diterbitkan. Itulah sebab dunia penerbitan buku adalah dunia kreativitas.

Pelaku-pelaku dan praktisi-praktisi penerbitan harus memiliki daya kreativitas dan kemampuan inovasi yang cukup tinggi karena mereka hendak membuat produk yang berbeda satu dengan lainnya. Ketika penerbit akan menerbitkan sebuah buku, maka penerbit harus berpikir dan bekerja secara berbeda dengan buku sebelumnya yang terlebih dahulu terbit. Begitu seterusnya sehingga setiap produk dari penerbit itu tidak pernah sama.

Kreativitas penerbit adalah syarat penting bagi industri buku. Kreativitas itu dapat muncul dari gagasan awal yang dimunculkan penerbit maupun karena faktor-faktor yang berkembang di masyarakat. Dalam urusan yang pertama, penerbit mengamati pergerakan buku-buku di jejaring perbukuan berdasarkan data-data yang dimilikinya (tema terbitan, kompetisi antar-penerbit, penjualan, dan lain-lain) lantas menentukan tema buku yang akan diterbitkannya. Sedangkan dalam urusan yang kedua, penerbit mencermati isu-isu dan perbincangan yang terjadi di masyarakat (masalah-masalah nasional, informasi publik, media massa, media sosial, dan lain-lain) lalu menentukan tema yang akan dibukukan oleh penerbit.

Dari dua aras pemantik inovasi dan kreativitas penerbit itu kita dapat menyaksikan banyaknya jenis buku yang beredar di masyarakat. Cara paling mudah untuk mengetahui keragaman tema buku yang dihasilkan dari kreativitas penerbit itu adalah dengan masuk ke toko buku (luring maupun daring) lantas memeriksa pelbagai judul buku yang ada di sana ataupun memeriksa katalog-katalog penerbit. Masyarakat atau pembaca buku tentu saja dapat mengonsumsi aneka bacaan tersebut sesuai kebutuhannya. Ketersediaan buku yang muatannya beragam dan banyaknya tema yang ditawarkan oleh penerbit itulah yang menunjukkan bahwa dunia penerbitan buku merupakan dunia yang dinamis, kreatif, dan penuh tantangan.

Penerbit selalu berusaha menawarkan bacaan untuk publik dan melayani keinginan masyarakat atas bacaan. Oleh karena itu penerbit membangun dan mengembangkan divisi keredaksian yang bertugas mengolah bahan baku untuk buku. Bahan baku utama sebuah buku adalah naskah yang berasal dari penulis. Penerbit bisa mendapatkannya dengan mencari naskah dan/atau mengeksekusi naskah yang ditawarkan oleh penulis. Namun dua hal ini bisa dilakukan secara beriringan karena mungkin juga penerbit memiliki sebuah ide kreatif untuk buku tapi belum menemukan penulis yang tepat ataupun penerbit melihat ada hal yang cocok dari naskah milik penulis dengan rencana penerbitan buku oleh penerbit.

Dalam situasi mutakhir dunia kepenulisan, para penulis baru bermunculan dengan pelbagai medium. Penerbit dapat mencari dan menemukan naskah buku dari lingkungan akademik (kampus, lembaga riset, komunitas tematik), media massa (surat kabar, majalah, jurnal, situs web dan blog), kompetisi kepenulisan (lomba, ajang penghargaan karya), aplikasi digital untuk kepenulisan, ataupun media sosial. Perkembangan pesat teknologi informasi memang turut memungkinkan lahirnya penulis-penulis baru yang tentu saja dapat dimanfaatkan oleh penerbit yang memerlukan bahan baku penerbitan buku.

Kerja sama penulis dengan penerbit untuk penerbitan sebuah buku dilakukan karena kedua belah pihak itu saling membutuhkan. Penulis memerlukan penerbit supaya karyanya bisa diperbanyak lalu dikonsumsi oleh pembaca di tingkat yang luas. Sedangkan penerbit mewujudkan naskah dari penulis menjadi buku dengan membiayai seluruh proses penyiapan buku tersebut (royalti penulis, keredaksian, produksi, distribusi, pemasaran). Karena buku adalah produk yang diperjualbelikan dan mendatangkan keuntungan ekonomi, maka pemerintah mewajibkan penerbit dan penulis untuk membayar pajak. Misalnya, penerbit menanggung pajak di sektor distribusi dan pemasaran, sedangkan penulis dikenai pajak penghasilan atas profesinya sebagai pencipta naskah.

Setelah penerbit mendapatkan naskah, maka penerbit melakukan kerja keredaksian berupa penerjemahan, penyuntingan, pengoreksian naskah, dan lain-lain. Divisi keredaksian di sebuah penerbit itu memerlukan tenaga-tenaga penerjemah, penyunting, pengoreksi naskah, dan sebagainya. Pada dasarnya pekerja-pekerja keredaksian itu adalah tenaga-tenaga profesional yang memerlukan acuan kerja, kesejahteraan, dan perlindungan atas pekerjaannya. Penerbit tentu saja bertanggung jawab dalam hal-hal tersebut terhadap para pekerja keredaksian. Namun, dalam skala yang lebih luas diperlukan sebuah payung kolektif yang menjadi tempat bernaung bagi para pekerja tersebut.

Bekerja di bidang keredaksian penerbit buku tidak hanya berkaitan dengan keterampilan mengerjakan naskah tetapi juga pemahaman atas kondisi mutakhir di masyarakat. Menjadi penyunting buku, misalnya, bukan berarti sekadar bermodalkan kemampuan memeriksa teks tapi juga keluasan wawasan yang berkaitan dengan materi naskah yang disuntingnya. Artinya, ia harus membaca referensi pendukung, mengikuti perkembangan informasi terkait, dan meminimalkan kesalahan dalam pekerjaaannya tersebut. Pada saat yang sama ia perlu mencermati kondisi pasar buku yang dapat mendorongnya untuk menghasilkan buku yang baik bagi pembaca. Dalam hal inilah penerbit memerlukan tim keredaksian yang cerdas, terampil, dan teliti. Kebutuhan itu harus dibalas oleh penerbit dengan menciptakan situasi kerja yang nyaman dan kesejahteraan yang baik bagi pekerja keredaksian.

Dalam sejumlah kasus, pembaca buku dapat menemukan buku terjemahan yang kualitas terjemahannya tidak bagus. Masalah semacam ini muncul karena kesalahan yang dilakukan penerbit dan penerjemah. Sedangkan akar masalahnya sangat mungkin berhubungan dengan kualifikasi penerjemah, ketidakmampuan tim redaksi dalam mengolah naskah terjemahan, ataupun rendahnya honor untuk penerjemah. Tentu saja masalah ini harus diselesaikan oleh pihak-pihak yang berada di dunia penerbitan buku demi masa depan industri buku di Indonesia.

Contoh masalah lainnya berhubungan dengan kerja sama penulis dengan penerbit. Nilai royalti penulis lebih sering ditentukan oleh penerbit sehingga posisi penulis di masa mendatang hampir tidak akan beranjak dari posisinya sekarang. Padahal, royalti itu berkenaan dengan kehidupan penulis dan daya tahannya dalam bidang pekerjaan kreatif. Minimnya royalti penulis sangat mungkin akan menghambat kreativitas penulis dalam melahirkan naskah-naskah bermutu tinggi. Apalagi penulis masih harus membayar pajak penghasilan atas nilai ekonomi yang ia dapatkan dari penerbit buku.

Sepertinya industri buku di Indonesia belum memiliki platform yang tepat untuk mengakomodasi kepentingan penulis dan penerbit. Banyaknya penulis dan komunitas penulis belum mampu menangani persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kepentingan penulis di hadapan penerbit. Sebaliknya, tidak semua penerbit tergabung dalam asosiasi penerbit sehingga setiap penerbit dapat dengan bebas menentukan pola kerja samanya dengan penulis. Bahkan, asosiasi penerbit pun belum mendiskusikan dan menentukan pola yang tepat dalam hubungan kerja penerbit dan penulis.

Masyarakat Indonesia membutuhkan bacaan-bacaan yang variatif. Buku adalah medium yang dapat diisi dengan pelbagai jenis muatan dan materi pengetahuan, informasi, maupun hiburan. Kita ingin berpikir reflektif dan bertindak proporsional setelah kita membaca buku. Dalam hal inilah penerbit, melalui divisi keredaksian, perlu memberikan buku yang bermutu bagi masyarakat. Ketika masyarakat cenderung berpikir secara instan dan bertindak tergesa-gesa dalam mencermati sebuah persoalan, maka buku dapat menjadi sarana permenungan sehingga masyarakat bisa tumbuh dengan nalar dan adab yang baik.

Musyawarah Buku Indie: Dapur Redaksi dan Distribusi

“Dunia buku adalah dunia di mana para pelaku memutar otak, mengintip peluang, lalu mencoba menerobos celah itu dengan daya upaya yang mereka miliki. Sebagai bagian dari industri kreatif, para pemain-pemain dipaksa harus mengikuti pola-pola baru yang tadinya mungkin belum pernah dibayangkan.”

Kutipan di atas disampaikan Bajang  mengawali topic pembicaraan dalam Sidang Pleno Penerbit Indie, 8 September 2017. Lima pembicara Musyawarah Buku Indie, antara lain Dana Gumilar (Berdikari Book), Ainun Nufus (Penulis Wattpad), Prima Sulistya (Mojok), Kun Anindito (Gambang), Ahmad Khadafi (Editor) membahas  berbagai hal terkait dunia penerbitan dalam suasana yang santai di Dongeng Kopi Jogja.

Prima, mewakili penerbit BukuMojok, mengatakan bahwa ada model penulis yang membutuhkan ruang lebih luas dari penerbitan indie. “Buku Gaspar karya Sabda Armandio adalah salah satu contoh, saya malah ragu apakah jika di-indie-kan, oplahnya akan mencapai 3500 eks.”  Sebaliknya, Kun Anindito yang memilih mencetak dengan cara indie, beranggapan bahwa hal tersebut merupakan salah satu solusi bagi penerbit yang bermodal seadanya. “Jika tiga ratus dicetak ulang sepuluh kali, kan jadinya tiga ribu juga,” katanya sambil tertawa.

Terkait penjualan sebagaimana disampaikan Dana Berdikari Book, online sejauh ini memang iklim paling ramah bagi penerbit-penerbit alternatif. Berbeda dengan penerbit mayor yang masih bergantung pada offline, baik toko maupun event-event buku. “Semakin berbeda produknya, akan semakin laku di online” terang Dana. “Dan hal itu sangat membantu kami sebagai reseller. Sebab menjual produk-produk yang mungkin tidak tersedia di toko buku,” tambahnya.

Pembukaan Musyawarah Buku Akan Berlangsung di Dongeng Kopi

Dongeng Kopi Jogja yang terletak di Jln. Kranji Serang No.19B, dipilih sebagai tempat berlangsungnya Sidang Komisi Buku Indie yang akan dilaksanakan pada hari ini, Jumat, 8 September 2017. Hal itu bukan tanpa alasan. Sudah sejak tiga tahun lalu, Dongeng Kopi aktif berduet dengan Indie Book Corner untuk mengampanyekan dunia literasi lewat kopi dan buku.

Sidang komisi tersebut tersebut merupakan bagian dari Musyawarah Dunia Literasi & Pasar Buku di Indonesia. Para pegiat literasi akan membincangkan dirinya kembali. Adapun yang akan hadir sebagai narasumber dan pembahas antara lain Irwan Bajang (Indie Book Corner), Eka Putra (OAK), Kun Anindito (Gambang), Nufus (Diandra), Muhidin M. Dahlan (Warung Arsip), dan Indrian Koto (JBS).

Selain perbincangan tentang buku indie, akan berlangsung juga perbincangan tentang keredaksian, produksi, distribusi, dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Semua berlangsung dalam kurun waktu 8-21 September 2017 sebagai rangkaian acara Kampung Buku Jogja #3.