Memimpikan Jogja sebagai Kota Perbukuan

 

Pada awal bulan Februari lalu, IKAPI DIY menggelar Pesta Buku Jogja 2012, bertajuk Jogja Itoe Boekoe. Dilatarbelakangi idealisme menggebu untuk membangun citra dunia perbukuan di Jogjakarta, di deklarasikanlah Jogja sebagai Kota Perbukuan Nasional pada seremoni pembukaan Pesta Buku Jogja tersebut.

Memantas Diri di Sebuah Pesta Buku

Di tengah pesta buku itu, beberapa teman sesama aktivis perbukuan mencandai saya yang mereka anggap seperti ”ogah-ogahan” berjualan. ”Mengapa Anda tidak berjualan?” begitu mereka bertanya kepada saya. Padahal, jelas-jelas kami mendisplay buku yang boleh dibeli pengunjung di stand yang sengaja kami rancang dengan penataan yang lumayan.

Dengan stand itu, kami sedang berusaha menyesuaikan diri dengan tema pameran yang ”Jogja Itoe Boekoe”. Kami sedang memantas diri sebagai unsur penting ketika Jogja dideklarasikan sebagai Kota Perbukuan Nasional. Dengan pendeklarasian tersebut, tentu saja Jogja mesti menjadi barometer dunia perbukuan nasional. Dari Jogja mesti menyeruak ”aroma” perbukuan yang kreatif, inovatif, dan membawa pencerahan, sehingga memberi warna pada dinamika perbukuan secara nasional. Di Jogja orang mesti melihat bahwa buku mendapat tempat yang prestise. Di sana kami mesti bermain dengan pantas.

Namun, dengan rendah hati memang harus diakui, bahwa sungguh tidak mudah menghindarkan diri dari godaan untuk berkubang di pasar murah buku. ”Pengunjung pameran akan mencari buku murah”, begitu ditandaskan oleh seorang teman pemasaran ketika saya menyodorkan sebuah konsep tampilan stand yang elegan dan edukatif untuk Pesta Buku Jogja. Pengalaman lapangan teman tadi membuktikan, bahwa stand tak perlu bersolek sedemikian rupa, karena yang dicari orang adalah buku murah. Ekstremnya, kalaupun stand sama sekali tak ditata, asalkan di tempat itu dipenuhi buku-buku murah, maka stand itu akan dibanjiri pengunjung.

Muncul dilema, bagaimana mungkin Jogja yang hendak dideklarasikan sebagai Kota Perbukuan Nasional, dengan salah satunya melalui semarak event pameran buku, justru menampilkan betapa murahnya buku-buku sumber ilmu pengetahuan?

Tajuk ”Jogja Itoe Boekoe” di benak saya melukiskan kota Jogja yang identik dengan buku. Di Jogja ada berbagai jenis ragam buku sumber ilmu pengetahuan yang akan memperkaya dan mencerahkan pembacanya. Maka, datanglah ke Jogja untuk menemukan indahnya buku-buku karya penerbit dengan beragam gagasan dan wujudnya. Nikmati cita rasa khas Jogja dengan sumber daya intelektualnya. Dan, Jogja akan menjadikan Anda bagian dari book minded society, begitu kira-kira khayalan yang tergambar di kepala saya mengenai tajuk ”Jogja Itoe Boekoe”.

Ini tidak sama artinya dengan gambaran bahwa di Jogja ada banyak buku yang bisa dibeli dengan harga murah. Apalagi, dalam proposal jelas-jelas disebutkan bahwa konsep pameran dirancang dengan pendekatan cultural edutainment. Tetapi, teman saya yang sudah malang melintang di pasar buku tetap mengatakan, ”Apapun konsep pamerannya, orang akan datang untuk mencari buku murah”. Ia tidak mengada-ada. Pengalaman lapangannya membuktikan, bahwa sebagian besar pengunjung pameran memang datang terutama untuk mendapatkan buku murah. Dengan demikian, tidak ada yang lebih pantas untuk meramaikan pesta buku, daripada menggelontor stand dengan penjualan buku obral.

Proses Sharing Nilai dalam Sebuah Buku

Proses terbitnya sebuah buku tidaklah sederhana. Buku merupakan cerminan gagasan/ide dari pengarang yang hendak di-share kepada banyak orang. Nilai dan kualitas dari ide yang hendak di-share merupakan unsur terpenting dari sebuah buku. Karena itu, pertama-tema pengarang harus mendiskusikan idenya kepada penerbit yang dipercayanya untuk mengolah gagasannya lebih jauh. Olahan gagasan ini melahirkan kemasan buku yang menarik dan berterima oleh khalayak pembaca.

Penerbit sendiri bukannya tanpa idealisme. Ia seperti halnya ”tukang masak” yang mesti memiliki cita rasa bagus. Idealisme penerbit belum tentu sama dan sejalan dengan idealisme penulis. Wajar jika ditahap awal terbitnya sebuah buku, diperlukan diskusi intensif antara penulis dan penerbit untuk menjadikan buku yang akan terbit mampu mengakomodir dan mempertemukan nilai-nilai dari kedua belah pihak. Nilai-nilai dalam sebuah gagasan inilah yang kemudian di-share secara publik kepada para pembaca dengan sentuhan-sentuhan promotif dalam aktivitas pemasaran.

Sentuhan promotif yang pas, akan membangkitkan minat dan kepedulian akan nilai yang terkandung dalam proses sharing gagasan yang melahirkan sebuah buku. Sentuhan promotif yang ideal atas sebuah buku, tentunya tidak sama dengan mengobral habis buku-buku tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa obral buku itu tabu dan salah, tetapi bahwa penjualan obral bukanlah satu-satunya pendekatan promosi yang efektif. Harus ada sejuta cara promosi lain yang menarik selain menjual murah buku-buku. Di sinilah tantangan edukasi pasar menguat.

Namun, penerbit tak bisa menghindari tekanan ekonomis di tengah dinamika budaya baca yang belum kokoh. Daripada pusing dengan gudang yang penuh, maka penjualan obral dipilih sebagai cara handal untuk mengosongkannya. Betapa tidak mudahnya menjembatani kenyataan dalam kehidupan penerbit-penerbit di Jogja ini, dengan cita-cita untuk menjadikan Jogja Kota Perbukuan Nasional.

Namun, bagaimanapun juga, pelaku penerbitan adalah tokoh yang paling bertang-gungjawab membangun prestise dunia perbukuan. Para penggiat buku yang idealis akan meletakkan kembali martabat intelektual dunia buku di tengah desakan arus komodifikasi produk buku.

Para penggiat buku di Jogja telah melihat potensi kota Jogja sebagai sumber energi bagi tumbuh berkembangnya dinamika intelektual melalui buku. Dari Jogjalah sumber energi itu mesti dipancarkan ke segala penjuru. Pesta Buku Jogja 2012, semoga menjadi awal dari proses ini.[]

–Mg. Sulistyorini, Pjs Direktur Penerbit-Percetakan Kanisius.

SUMBER: http://www.kanisiusmedia.com/post/detail/120/Memimpikan-Jogja-sebagai-Kota-Perbukuan

Tinggalkan Balasan