Melihat Madura yang Tidak Tunggal

Kadir adalah seorang aktor yang komikal. Logat Madura-nya yang medok dan selalu bilang taiyek di ujung kalimat, selalu mengundang tawa para penonton teve kisaran 1990-2000. Cukup sulit mencari wajah lain dari Madura yang bisa sekuat Kadir di media arus utama kala itu. Anak muda sekarang mungkin mengenal Tretan Muslim sebagai wajah Madura di teve atau YouTube. Ia, seperti Kadir, adalah seorang pelawak dari Madura yang menggunakan Madura sebagai persona.

Minimnya representasi Madura di media arus utama membuat stereotip Madura selalu seperti Kadir atau Muslim: komikal, medok, besi tua, atau penjual sate. Hal tersebut sering kali membuat Abdul Gafar Karim sibuk menjelaskan keragaman wajah Madura dengan orang-orang yang baru ia temui ketika masa awal ia merantau keluar Madura. Kala itu, sebagai pemuda umur 18 tahun, Gafar punya keresahan tentang bagaimana orang-orang memandang Madura.

“Tidak sedikit orang luar mengira Madura itu tunggal. Padahal, di dalamnya sangat beragam. Berkali-kali saya harus menjelaskan bahwa Madura tidak seperti yang dibayangkan orang-orang,” ujar Abdul Gafar Karim saat Talkshow “Madura dalam Rumah Indonesia” di acara Kampung Buku Jogja, Selasa (11/9).

Gafar menjelaskan bahwa ada kecenderungan perbedaan mendasar soal kultur yang ada di Madura. “Ini bukan untuk mengatakan mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk. Akan tetapi, secara umum kultur di Madura bagian barat adalah kultur survive dan pekerja keras. Di bagian timur itu kultur yang dekat dengan literasi dan pengembangan ide. Makanya muncul penyair seperti M. Faizi dan Zawawi Imron di Madura timur. Sementara pekerja keras yang kaya raya banyak lahir di Madura barat,” terang Gafar.

Selain itu, Gafar juga menjelaskan bahwa karakter orang Madura pun berbeda-beda. Bahkan, boleh saja mengaku Madura padahal tidak tinggal di Madura—yang kerap disebut Madura Swasta. Ia melihat karakter Madura sebagai sebuah karakter etnis, tidak semata karakter rasial.

Saat ini, Abdul Gafar Karim menjadi dosen Ilmu Pemerintahan UGM. Ia merasa beruntung bisa menjadi Madura yang punya kesempatan melihat Madura dengan perspektif ilmu sosial dari luar Madura. Bagi Gafar, ada kesamaan karakter proses menjadi Madura dengan proses menjadi Indonesia yang belum selesai hingga kini. Menjadi Madura, sampai taraf tertentu, menjadi lebih daripada mendefinisikan Madura itu sediri. [DAz]

Tinggalkan Balasan