Literasi Perempuan dalam Frame Seorang Guru Perempuan – Orasi Akhiriyati Sundari di Kampung Buku Jogja 2018

Oleh Akhiriyati Sundari
Guru di Madrasah Aliyah Darussalam Maguwoharjo dan Madrasah Aliyah Nurul Ummah Kotagede

Salam sejahtera untuk kita semua

Hadirin sekalian, sahabat-sahabat pecinta dan pegiat buku yang budiman. Terlebih dahulu perkenankan diri saya berdiri di hadapan Anda, sebagai “yang masih awam” dalam dunia literasi di Yogyakarta, mencoba untuk menepi sejenak dari arus kuat suara-suara, baik itu suara perempuan maupun  suara-suara yang berbicara tentang perempuan. Di mana hari-hari ini terasa begitu deras larut dalam arus dinamika sosial-politik tak terkendali, yang bertaburan di lini media sosial kita.

Sesungguhnya, saya merasakan lalu lintas kata-kata di media sosial itu sebagai bagian dari gerak literasi dalam maknanya yang luas dan tak jarang terasa semu, sangat padat namun bising, sambung–menyambung, berdengung lamat hingga keras, menyuguhkan aneka diskursus sekaligus berebut ruang bagi gagasan—namun tak jarang lebih banyak berisi komentar tidak jelas—yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan, antarlaki-laki, juga antarperempuan itu sendiri.

Begitu riuhnya era virtual masa kini. Satu sisi media sosial begitu menakjubkan menyediakan dirinya sebagai panggung bagi eksistensi literasi, melalui barisan kata-kata, namun di sisi yang lain ia juga terlihat begitu kumal dalam merawat peradaban, terutama kesibukan di dalam mengurai hal-hal yang sering kali sifatnya artifisial. Dan perempuan kerap berada di pusaran itu, menjadi objek dan subjek sekaligus.

***

Membincang perempuan dan literasi, barangkali bisa berangkat terlebih dahulu dari pertanyaan; apakah literasi itu sebuah kata yang ramah perempuan?

Literasi yang saya pahami adalah kegiatan yang melibatkan bukan hanya membaca dan menulis (dalam hal ini kerap disebut sebagai keberaksaraan) saja, melainkan ia bergeliat pula dengan pemikiran progresif, yang digunakan ketika ia menerima dan menyampaikan pesan. Ada tahapan berpikir dalam proses ini. Mengerahkan segenap kemampuan intelektual menyerap pengetahuan, menyusun interpretasi terhadap realitas, untuk kemudian melahirkan produk gagasan baru, atau mereproduksi gagasan yang sebelum-sebelumnya telah ada dengan varian sudut pandang, yang semua itu diproduksi secara tertulis. Medianya adalah bahasa. Bentuknya adalah kata-kata…

Jika literasi diperas ujungnya sebagai kegiatan menulis (menuliskan kata-kata), dalam tradisi sosial sejarah kita yang panjang, tidak banyak perempuan yang bisa dianggap literate (melek literasi).

Sekurang-kurangnya karena pertama, terkait tingkat pendidikan. Dalam sejarah, perempuan termasuk entitas yang terlambat mengenal dunia tulis-menulis. Sejak lembaga pendidikan muncul di negeri ini, posisi perempuan yang memasuki ranah pendidikan terbilang cukup minim. Karenanya bisa dipahami jika dalam rentang sejarah yang panjang itu, keberaksaraan perempuan belum mendapat tempat yang semestinya. Tentu akan terasa berbeda dengan hari ini.

Yang kedua, masih lestarinya sebuah situasi di mana tradisi oral (berucap, berbicara) melekat sangat kuat kepada mereka. Aktivitas perempuan lebih menuntut mereka untuk cakap berbicara daripada menulis. Bukti paling nyata adalah dalam proses awal mendidik anak. Perempuan sebagai Ibu, khususnya pada masa lahir dan tumbuh kembang-anak (bahkan ada yang sejak anak masih dalam kandungan), dituntut untuk memiliki kecakapan oral daripada tulis-menulis. Yang ditangkap dan diterima oleh seorang anak kali pertama kehadirannya di dunia adalah suara Ibu, melalui aktivitas kasih sayang membelai dan menggendong anak dengan bersenandung, lalu berlanjut dalam usia ketika masuk aktivitas belajar berbicara, belajar mengeja abjad, hingga bercerita atau mendongeng, semuanya dilakukan dengan suara, bukan tulis-menulis. Saya rasa, pertanyaan awal tadi terjawab dalam paragraf ini. Jika literasi perempuan disejajarkan dengan literasi laki-laki, hingga kini pun saya rasa masih belum cukup imbang.

Akan tetapi, perempuan memiliki tradisi menulis yang unik, yang khas, kendati tak semua perempuan melakukannya; yakni menulis diary/buku harian. Sesungguhnya ini adalah tradisi menulis perempuan. Perempuan menuliskan hal yang bersifat sangat personal (personal story). Keintiman dengan dirinya sendiri dimunculkan dalam gugusan kata-kata yang dianggap mengakomodasi seluruh resapan perasaan dan pikirannya.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, kerapkali hal itu tidak dianggap ilmiah, lantaran tidak canggih, tidak seksi. Namun belakangan, ilmu pengetahuan mulai meliriknya sebagai sumber pengetahuan yang otentik. Maka muncullah istilah herstory sebagai pembanding dari istilah history.

Kita mengenal curahan hati seorang RA Kartini dalam surat-suratnya yang hingga kini tak pernah redup pesonanya, sebagai “cahaya” dan pemantik kebangkitan bagi satu peristiwa kronik sejarah bangsa ini dalam mengenyahkan kolonialisme, khususnya melambatnya peradaban yang cerah bagi kaum perempuan akibat penjajahan. Susunan kata-kata yang ditulis RA Kartini begitu rapi dan terstruktur indah. Menunjukkan tingkat literasi yang mumpuni, terlebih jika disorot dengan ukuran jaman kala itu. Kegelisahan RA Kartini yang sangat personal dimaknai sebagai kegelisahan “nasional” dari dunia batin perempuan Jawa khususnya, dan perempuan nusantara pada umumnya.

Jauh di sudut Kotogadang Sumatera Barat, kita mempunyai seorang Roehana Koeddoes, pejuang literasi pada masa kolonial. Ia berjuang melalui ujung pena. Gagasannya ditumpahkan dalam bahasa jurnalistik yang tajam. Roehana adalah jurnalis perempuan pertama, sekurang-kurangnya yang pernah tercatat dalam sejarah. Roehana adalah seorang redaktur perempuan dalam sebuah tim redaksi pers kala itu, di mana perempuan masih belum banyak bahkan mungkin belum ada yang terlibat menentukan bentuk dan isi dari dunia yang merekam peristiwa untuk disebarkan ke khalayak. Karenanya, Roehana pun tak tinggal diam. Ia menggagas sekaligus menggawangi terbitnya surat kabar perempuan pertama di Indonesia, bertajuk Soenting Melajoe yang cukup merepresentasikan secara mandiri otoritas perempuan di ruang literasi publik. Tak hanya melalui literasi jurnalistik sebagai media perjuangan mengenyahkan kolonialisme kala itu, Roehana adalah juga seorang penggagas serta pendiri lembaga pendidikan “Amai Setia”.

Pada sedikit contoh nama pahlawan perempuan gerakan literasi tersebut, semoga bukan membenarkan asumsi saya, bahwa sejarah perempuan yang berjasa besar mewarnai NKRI lepas dari kolonialisme hingga tegak berdiri sebagai sebuah negara-bangsa yang bermartabat, sesungguhnya masih minim diberi tempat di negeri ini, mereka berada di antara lipatan-lipatan sejarah besar yang didominasi sejarah laki-laki. Baik RA Kartini maupun Roehana Koeddoes, keduanya memperlihatkan dinamika perempuan bergerak di dunia literasi dalam kronik sejarah bangsa ini.

Sahabat-sahabat pecinta dan pegiat buku yang budiman,

Bagaimana dengan hari ini? Perempuan dan literasi bagi saya masih menjadi PR bersama. Ia masih berada dalam ranah yang “ekslusif” di tengah denyut laju kehidupan. Hari ini, akses terhadap ilmu pengetahuan berikut ornamen-ornamen literasi sesungguhnya tidak sesulit dulu untuk dijangkau. Namun, harus diakui bahwa tradisi melek literasi, termasuk tradisi membaca apalagi menulis di kalangan mayoritas perempuan masih dalam status belum mapan. Di bawah kondisi labil itu, terjangan arus informasi terutama dari media online tak mudah dibendung. Media sosial yang hadir begitu mudahnya dalam genggaman tangan melalui aplikasi telepon genggam pintar dan terjangkau, tak pelak turut mengubah wajah dunia literasi perempuan hari ini.

Pada satu sisi, tampak menguat keaktifan mereka dalam panggung media sosial, sebagai penanda betapa besarnya ghiroh, animo, mereka untuk mengungkapkan seluruh perasaan dan peristiwa melalui kata-kata, meski tak jarang ada selubung hasrat untuk diakui esksistensi dirinya oleh warga jaringan, yang bahkan deminya, suka rela menjalarkan kebohongan. Hal ini berkait kelindan dengan tradisi literasi yang lemah, informasi yang masuk berlebihan lalu tak cukup memberi ruang edukasi bagi perempuan untuk memeriksa kebenarannya. Sifat media yang menuntut akselerasi, menjadi gagap ditangkap. Riuh sekali namun sejatinya sepi. Hal demikian kian lama kian kuat ditopang oleh ulah berebut “panggung” dari berbagai pihak yang nyaris tak terbendung, apalagi di tahun politik seperti sekarang ini.

Jika merunut apa yang disematkan kepada perempuan melalui bingkai struktur sosial berbasis (bias) gender, maka adagium populer dalam tradisi pesantren; al-ummu madrosatul ula (kaum perempuan/Ibu adalah sekolah utama), menjadikan literasi perempuan masuk dalam arena pertaruhan penting di sini. Hal ini terjadi lantaran ranah domestik ini menugaskan perempuan sebagai aktor utama mendidik anak melek aksara, mengunyah lembut ilmu pengetahuan pada tahap awal. Asupan pengetahuan perempuan yang “baik” adalah niscaya untuk ditransmisikan ke generasi baru itu. Sebagai bekal masa depan mereka.

Kerapkali saya terusik dengan istilah itu. Narasi yang hadir dan ditopang oleh frame patriarki menebalkan alam bawah sadar bahwa tugas mendidik anak adalah kewajiban perempuan semata. Al-ummu madrosatul ula terdengar sangat romantis di telinga perempuan, utamanya kaum Ibu. Bahkan terkadang ditambah-tambahi dengan argumen bahwa lantaran hanya perempuan yang mempunyai rahim, maka ia pulalah yang mampu ‘menguarkan’ filosofi rahim itu sebagai pusat kasih sayang, cinta, sekaligus kehangatan yang dibutuhkan dalam mendidik anak. Naluri keibuan yang istimewa, dianggap sebagai ujung tombak satu-satunya, karenanya membuat perempuan tak punya pilihan lain selain menerima bahwa itu kodrat. Mendidik anak adalah kodrat perempuan, demikian argumen ikutannya. Padahal itu tidak sepenuhnya tepat. Makna kodrat sebagai sesuatu yang ‘given’ atau terberi dari Tuhan untuk manusia, hanyalah pada tataran biologis dan tidak dapat dipertukarkan secara asali. Mendidik anak, karenanya bukan kodrat perempuan atau ibu, melainkan fungsi dan peran yang diemban secara bersama-sama oleh laki-laki dan perempuan (ibu dan ayah) tanpa kecuali. Pada titik ini, modal pengetahuan dan pendidikan menjadi tanggung jawab atau kewajiban bersama. Ada kesalingan yang musti diupayakan secara sama-sama.

Sahabat pecinta dan pegiat buku yang budiman..

Gerakan literasi perempuan yang diinisiasi oleh perempuan, barangkali tak cukup banyak bisa kita dengar, tanpa bermaksud mengecilkan peran yang sudah ada. Namun sejak terbukanya kran kebebasan berpendapat, bersuara, dan berkarya, sejak itu pula kita saksikan muncul para perempuan yang mendedikasikan dirinya di dunia literasi. Karya para penulis perempuan tumbuh menghiasai rak-rak buku dan lalu-lintas bacaan, meski dari segi jumlah dan kualitas barangkali masih terpaut jauh dengan para penulis laki-laki.

Di dunia sastra, yang selama beberapa dekade didominasi penulis laki-laki, kini turut disemarakkan dengan tak sedikit dari para penulis perempuan yang menerbitkan karyanya. Terpajang di display terdepan toko-toko dan pameran buku. Fenomena menggembirakan ini terjadi pula di dunia maya. Cukup banyak dijumpai para penulis perempuan yang tulisannya nangkring di beberapa website kenamaan. Narasi terus-menerus diproduksi dan ditransmisikan. Bahkan kegiatan pelatihan menulis untuk perempuan juga ramai diselenggarakan. Apakah itu sebuah penanda era kebangkitan literasi perempuan? Masih butuh sekian waktu untuk menemu jawabnya.

Literasi perempuan, menurut saya seyogyanya ditafsirkan baru sebagai pengerahan seluruh kapasitas diri perempuan untuk tangguh, senantiasa berpikir kritis dengan memberi jarak terhadap persoalan, dan merawat iklim intelektual itu melalui aktivitas mengikat pengetahuan dalam tulisan. Perempuan tidak dihalangi untuk membuka akses seluas-luasnya terhadap kemungkinan memberi interpretasi baru terhadap realitas, dalam rangka meningkatkan kapasitas pemikirannya itu. Dibutuhkan banyak sekali keterlibatan perempuan sebagai inisiator dan eksekutor kegiatan literasi, misalnya melalui “Kampung Buku Jogja” seperti ini, saya optimis bisa dijadikan sebagai ruang bagi lalu lintas literasi perempuan yang menjanjikan.

Sebagai penutup dari uraian ini saya ingin mengutip kalimat manis dari Gadis Arivia, “Siapakah penulis perempuan itu? Ialah penghuni kamar bersalin yang melahirkan peradaban kesetaraan”.

Gedung PKKH UGM, Rabu 12 September 2018

* Orasi budaya ini disampaikan dalam acara Kampung Buku Jogja #4

Tinggalkan Balasan