Literasi Madura dalam Jebakan Sentimen Primordial dan Solipsisme Subjek Cartesian – Pengantar Singkat “Musyawarah Literasi Muda Madura”

Oleh: Taufiqurrahman

Anggap saja ini judul berita di sebuah surat kabar: “Madura Menjadi Tamu Kehormatan di KBJ Tahun Ini”. Dari sudut pandang sintaksis, kalimat itu tidak bermasalah. Ia sudah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah kalimat sempurna. Ada subjek (Madura), predikat (menjadi), objek (tamu kehormatan), dan keterangan (KBJ tahun ini) yang membuat relasi sintaktis yang baik dan benar, sehingga kalimat yang disusunnya juga benar secara formal.

Namun, berdasarkan logika-semantik, kalimat tersebut sangat problematik—persis di satu kata: ‘Madura’. Apa arti kata ‘Madura’ dalam kalimat itu? Apakah ia merujuk ke wilayah geografis, entitas kebudayaan, atau suku? Atau merujuk ke Suku Madura dengan seluruh kompleksitas sosial-budayanya, baik yang berada di daerah geografis Madura atau yang berdiaspora di banyak tempat di luar Madura?

Jika pilihan terakhirlah yang paling akomodatif dan tidak reduksionis, tentu panitia KBJ masih waras untuk tidak menghadirkan semua orang Madura mulai dari Sabang sampai Merauke, apalagi mulai dari Gili Iyang sampai New York City. Yang dihadirkan pasti hanya perwakilannya; dan itu memang sesuatu yang lumrah. Tapi, siapakah yang berhak mewakili orang Madura di KBJ, sehingga makna kata ‘Madura’ dalam judul berita di atas tidak hadir secara konotatif apalagi reduksionis, tetapi secara denotatif?

Itu akan jadi soal pelik. Belum lagi kalau masuk ke soal hubungan representasi dan yang-direpresentasikan. Misalnya, apakah mungkin re-presentasi menghadirkan secara utuh yang-direpresentasikan? Dalam logika, problem ini terkait dengan bidang yang disebut ‘mereologi’: ilmu tentang hubungan ‘bagian’ (part) dan ‘keseluruhan’ (whole). Dalam konteks Madura di KBJ, persoalannya bisa dirumuskan seperti ini: apakah kehadiran sebagian penulis Madura di KBJ sama dengan kehadiran keseluruhan penulis Madura?

Tapi saya harus segera mengakhiri fantasi teoretik semacam ini biar tidak jadi kritikus genit yang jarang dibelai kenyataan. Madura menjadi tamu kehormatan KBJ itu di dunia nyata, bukan di semesta teoretik tempat sang kritikus berfantasi-ria. Bagaimanapun kenyataan selalu lebih rumit daripada teori. Oleh karena itu, sebagai penulis yang—meskipun tidak secara kognitif, tetapi hanya secara emosional—masih memiliki keterikatan dengan Madura, saya mesti senang ketika tahu kenyataan bahwa Madura akan diberi tempat istimewa sebagai tamu kehormatan di acara tahunan para pegiat literasi di Yogyakarta.

Sebagai sebuah peristiwa sosial-kebudayaan, momen menjadi tamu kehormatan itu memang sangat menggembirakan dan sekaligus membanggakan. Momen tersebut bisa jadi bukti bahwa selama ini para penulis dan intelektual Madura itu memang cukup mendapat perhatian publik. Ini juga bukti bahwa diaspora penulis/intelektual Madura tak serta-merta dapat menghilangkan identitas kemaduraan mereka. Betapapun jauhnya mereka berdiaspora, mereka tetap lengket dengan identitas kemaduraannya, sehingga mereka akan dikenal publik sebagai ‘penulis/penyair/sastrawan/intelektual Madura’.

Hal tersebut adalah sesuatu yang tampaknya jarang atau bahkan sulit terjadi pada suku-suku lain. Bukan karena tak ada penulis atau intelektual bergengsi dari suku lain, melainkan karena (mungkin) penulis dan intelektual dari suku lain itu tidak semilitan orang Madura dalam menabalkan identitas kesukuannya ke dalam kerja kepenulisan dan intelektualnya. Buktinya, kita tak pernah mengenal Eka Kurniawan sebagai penulis Sunda sebagaimana kita mengenal Zawawi Imron sebagai penyair Madura. Saya juga belum pernah menemukan ada arsip penyair Jawa, Batak, atau Bali, sebagaimana arsip penyair Madura yang digarap oleh sekelompok penyair Madura sendiri.

Secara sosial-kebudayaan, sekali lagi, itu sangat membanggakan karena menunjukkan adanya keterikatan yang kokoh dari para penulis/intelektual Madura terhadap akar suku-budayanya serta soliditas yang kuat di antara sesama penulis/intelektual Madura. Namun, sebagai sebuah peristiwa literer, bagi saya, itu justru sangat mengkhawatirkan. Pertanyaan yang segera menyentak saya adalah: jangan-jangan, oleh karena sentimen primordial yang teramat kuat, para penulis muda Madura itu secara literer belum melangkah ke mana-mana, mereka masih nyaman di dalam tempurung ke-Madura-annya?

Pertanyaan yang sama rupanya juga menjadi kekhawatiran tim kurator Madura di KBJ, sebagaimana diutarakan di ToR yang saya terima: “Sampai di mana usaha penulis muda (sastrawan khususnya) untuk meloloskan dirinya dari bayang-bayang para pesohornya yang sudah tua? Ataukah mereka sudah nyaman dengan sekadar melanjutkan?”

Sentimen primordial itu semakin mengkhawatirkan ketika sudah mengental dan kemudian membentuk mental kerumunan. Atas nama apa pun, mental kerumunan ini jelas tidak baik. Psikologi Nietzschean akan menyebutnya sebagai mental dekaden; eksistensialisme Heideggerian akan menyebutnya kondisi inotentik yang impersonal (das Man); kritikus Gerungian akan menyebutnya dungu; dan saya akan menyebutnya zombie: makhluk eksperimental yang secara fisik sama persis dengan manusia hanya saja ia tak punya kesadaran atau pikiran.

Secara literer, jangan harap akan lahir karya-karya otentik dari para penulis zombieyang suka berkerumun. Paling banter mereka hanya akan melahirkan pastiche.Sialnya, gejala mental kerumunan ini, sejauh pengamatan saya, dan karenanya sangat falsifiable,belakangan juga tampak di beberapa kalangan penulis muda Madura, khususnya di ranah sastra. Mereka berkerumun atas nama sentimen primordial sesama Madura, dan kemudian membuat penerbit, menerbitkan karya-karyanya di penerbit yang ia buat sendiri, yang dikuratori dan dieditori oleh orang-orang yang juga teman-temannya sendiri.

Sejauh dikerjakan secara profesional, sebenarnya tak ada yang bermasalah dari pola kerja kepenulisan semacam itu. Namun, seprofesional apa pun, jika kerja kepenulisan seseorang dilakukan dalam lingkaran pertemanannya sendiri, yang ia buat atas dasar sentimen primordial sehingga orang-orang dalam lingkaran itu memiliki horizon pengalaman yang nyaris sama dan ditambah lagi (misalnya) bacaannya juga sama, maka secara literer hasil karyanya tak akan ke mana-mana. Ia pasti cuma berputar-putar dalam lingkaran itu. Kritikus warung kopi akan bilang: “Ya, mereka gitu-gitu aja nulisnya.”

Sentimen primordial itu juga tidak hanya mencakup sentimen kesukuan, tetapi juga bisa terkait dengan kesamaan horizon pengalaman.Semisal, ada penyair dari kalangan santri yang menulis puisi-puisidengan tema yang segmen pembacanya adalah kalangannya sendiri. Puisi-puisi itu ia terbitkan sendiri, diedit oleh teman-temannya sendiri yang juga memiliki horizon pengalaman sebagai santri, dan kemudian disebarkan ke pembaca di kalangan pondok pesantren yang sehari-hari kuyup dengan pengalaman menjadi santri. Pertanyaannya: sejauh mana capaian literer puisi semacam itu? Kita—atau mungkin cuma saya—tidak bisa mengukurnya, sebab ia menjadi karya sastra yang solipsis.

Bukankah setiap karya sastra adalah solipsis—dalam arti selalu tentang pikiran atau pengalaman batin pengarangnya? Memang iya! Namun, puisi di atas bukan solipsis dalam pengertian itu, melainkan dalam pengertian bahwa seolah tidak ada horizon pengalaman lain selain yang dialami oleh penulisnya, sehingga sang penulis itu hanya mungkin untuk menulis sesuatu yang memang ia alami sendiri dengan cara seolah ia menulis untuk dirinya sendiri. Tak ada jembatan antara horizon pengalaman penulisnya dengan calon pembacanya, karena sejak awal sang penulis sudah berpikir bahwa puisinya ditulis untuk (kalangan) diri sendiri.

Penulis macam itu, selain terjebak dalam sentimen primordial, juga terperangkap dalam jebakan solipsisme ala subjek Cartesian: subjek yang hanya memikirkan pikirannya sendiri dan hanya mengakui keberadaan dunia-selain-pikirannya (dunia ekstramental) sejauh ia berbeda dari pikirannya. Aneh? Memang aneh! Jika subjek Cartesian itu juga memiliki mental kerumunan, maka gambaran figuratifnya akan jadi penulis yang hanya menulis tentang kalangannya sendiri untuk dibaca oleh kalangannya sendiri juga.

Jika penulis Madura secara keseluruhan sudah terperangkap dalam dua jebakan tersebut, maka literasi Madura akan mengalami stagnasi—kalau tidak malah regresi. Oleh karena itu, dari musyawarah ini kita perlu menyerukan satu seruan dengan lantang: “Penulis Madura sedunia, keluarlah dari tempurungnya!”[]

Tinggalkan Balasan