Kampung Buku Jogja 2016: “WAKTU”

Setahun lalu kami berhasil menyelenggarakan Kampung Buku Jogja 2015.  Kegiatan itu diselenggarakan untuk menyikapi perubahan yang terjadi di dunia perbukuan dan dialami stakeholder perbukuan (penerbit, percetakan, toko buku, distributor buku, pembaca). Akar masalahnya terletak pada “anomali industri buku”.

Dalam situasi anomali, setiap pelaku perbukuan mengalami “gagap industri”. Penulis tampak gagap ketika ia harus menyampaikan gagasannya, menuliskan kontennya, menentukan pembacanya. Penerbit kelihatan bingung saat ia harus menerbitkan buku dan menjualnya. Toko buku dan distributor terlihat gagap dalam menjalankan perannya sebagai mitra penjualan yang bersentuhan langsung dengan pembaca. Akibatnya, pembaca buku tidak mampu menemukan cara terbaik dalam berinteraksi atau mengakses buku.

Kampung Buku Jogja 2015 dapat menunjukkan dirinya sebagai kegiatan yang berhasil mengatasi kegagapan tersebut. Konsep “kampung” sebagai “tempat kembali” dan “tempat bertemu” ternyata mampu mengurai anomali perbukuan. Di sana, stakeholder buku memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi, saling mengenal, dan bertukar informasi.

Semangat dan upaya untuk terus menghidupkan dunia literasi dan memperbarui iklim perbukuan memang tidak boleh surut. Kami berada di jalur yang dipenuhi semangat semacam itu, dan sekarang kami mempraktikkannya melalui Kampung Buku Jogja 2016. Tentu saja kami juga selama setahun terakhir menengok, mengurai, mengaitkan, dan mencari makna atas feedback publik setelah penyelenggaraan Kampung Buku Jogja 2015.

Waktu terus berdetak, dan buku-buku pun hidup bersamanya. “Kehidupan,” kata Zarathustra, “adalah bertarung dan bermain-main dengan waktu. Tanpa dimensi waktu yang akan datang, tak akan ada kehidupan masa sekarang.” Buku mengalami pertarungan itu dalam bentuk-bentuk praksis yang tidak tunggal: refleksi, kohesi, koinsidensi, dan kalkulasi. Kita bahkan bisa meneropongnya ke jejak terdekat setelah Gutenberg merakit dan merilis mesin cetak.

Orang-orang Eropa yang menguasai negeri-negeri jauh adalah orang-orang yang juga membawa kitab-kitab suci hasil cetakan dalam pelayaran-pelayaran panjang yang mereka lakukan sebelumnya. Mereka ingin mengajak masyarakat di wilayah-wilayah pendudukan untuk merefleksikan hidup melalui kitab-kitab keagamaan. Dari situ pula mereka mengharapkan terjadinya kohesi sosial di antara “pendatang” dan “pribumi” bahwa “kita pada dasarnya adalah sama” walau pernyataan ini tidak jujur sepenuhnya karena, di luar aspek gospel, “pendatang” bermaksud menguasai pribumi sebagaimana etos gold dan glory yang mereka usung.

Kitab atau buku adalah medium untuk refleksi dan kohesi itu. Namun, dalam waktu yang bersamaan terjadi pula kalkulasi serta koinsidensi. Tidak ada yang gratis untuk sebuah proyek besar bernama “penguasaan wilayah”, bahkan “penguasaan atas hidup orang lain”. Untung dan rugi diperhitungkan, maka perdagangan lintas-wilayah pun berubah menjadi penjajahan. Ini adalah kejadian yang tak terelakkan walau kaum kolonialis itu bisa saja menyebutnya sebagai “ketelanjuran” ataupun “ketidaksengajaan”.

Di ranah perbukuan, waktu yang sudah berlalu dan sedang berlangsung pun menyisakan rekaman atas kisah-kisah serupa. Di setiap zaman, selalu lahir orang-orang yang menilai buku sebagai refleksi dan kohesi. Pada saat yang sama muncul orang-orang yang menempatkan buku sebagai kalkulasi dan koinsidensi. Waktu yang berdetak tanpa henti lantas menampakkan rekaman lainnya: potret-potret kegagalan upaya mengombinasikan dua kutub tersebut.

Seorang penulis yang reflektif bertemu dengan penerbit buku yang punya imajinasi tentang emansipasi pengetahuan masyarakat melalui bacaan bermutu tinggi. Namun, kalkulasi ekonomi dan longsornya kepercayaan diri para pelaku pasar buku telah mengorbankan buku penting yang lahir dari rahim penulis dan penerbit tersebut. Dalam hal ini seolah-olah terdapat tebing-tebing tinggi yang sulit dijangkau oleh orang-orang yang tidak percaya diri di pasar buku.

Kita dapat melihat eksesnya, misalnya, dalam produk-produk buku. Ada bentangan waktu sangat panjang yang sudah dilalui seorang penulis atau pencipta karya yang setia dengan intelektualitas dan kebenaran. Karya-karyanya yang beredar adalah hasil permenungan yang beriringan dengan waktu. Namun, ada pula penulis yang memadatkan waktu. Ia bekerja dengan meringkas waktu, lalu menghasilkan karya yang mengejar waktu. Contoh paling dekat dari pola ini adalah lahirnya buku-buku yang dibuat “demi momentum” (tren, isu, rumor, efek berita, dan lain-lain).

Nafas dunia perbukuan yang terus bertarung dengan waktu juga tampak dalam masalah-masalah yang menimpanya. Para pembuat buku di pelbagai kawasan dan pelbagai zaman mengalami banyak sekali ancaman, pelarangan, penyitaan, bahkan pembakaran buku. Buku, yang keberadaannya sudah teruji oleh waktu, menjadi tampak ringkih, lungkrah, dan payah. Kohesi sosial seperti tidak mampu diwujudkan oleh buku. Refleksi pun menguap ke sudut entah. Buktinya, kasus-kasus pekat itu belum berhenti hingga hari ini.

Waktu yang sedang kita jalani di ranah perbukuan adalah kenyataan aktual dan faktual yang tidak bisa kita elakkan. Dalam beberapa segi, waktu pula yang melahirkan perubahan-perubahan mutakhir di dunia buku. Perkembangan teknologi, dinamika pola pemasaran, pergantian generasi pembaca, serta kemandekan olah-gagasan dalam karya merupakan beberapa persoalan yang saat ini dialami stakeholder perbukuan. Namun, seperti kata Zarathustra, pertarungan merupakan keniscayaan. Hal-hal itu pula yang membuat kehidupan di dunia perbukuan tidak stagnan. Nafasnya selalu ada, kita hanya perlu terus-menerus menghelanya secara ritmis.

Kampung Buku Jogja 2016 merupakan kegiatan perbukuan yang menempatkan waktu sebagai penanda bagi dunia buku. Melalui kegiatan ini para pencinta buku akan memiliki waktu terbaik bagi dirinya untuk mendapatkan buku-buku yang dilahirkan karena landasan refleksi dan kohesi.

Di “kampung” ini pula buku tidak akan hadir sebagai “pemerkosa waktu” melainkan “penempuh waktu”. Itulah sebab kami juga menjadikan kegiatan ini bukan sebagai lanjaran niaga belaka, tetapi ajang bagi penulis, pencipta karya, penerbit, pembaca, dan pencinta buku untuk merayakan kreativitas melalui buku. Kampung Buku Jogja 2016 adalah upaya memanjangkan usia kreativitas, karena pertarungan dan permainan paling mengesankan di sepanjang waktu kita adalah hidup secara kreatif.

Diterbitkan oleh

Adhe

Penulis Declare: Kamar Kerja Penerbit Jogja, salah satu inisiator Kampung Buku Jogja. Saat ini mengelola Penerbit Octopus.

Satu pemikiran pada “Kampung Buku Jogja 2016: “WAKTU””

Tinggalkan Balasan