Indonesia: Sebelum dan Sesudah Kolonialisme

Kolonialisme pernah berkuasa dengan mengangkangi nyaris separuh dunia. Dengan misi “mulia”, bangsa Barat menduduki daerah yang dianggap baru, daerah tak berpenghuni (meski faktanya tidak). Christoper Columbus, misalnya, mendaku sudah menemukan sebuah daratan di seberang Inggris yang lantas diberi nama Amerika. Apa yang disebut pemberadaban pun mereka lakukan, meski nyatanya tak lain adalah penindasan.

Ferdinand de Magellhaen, seorang pelaut Spanyol, menemukan sebuah daratan yang disangka India, yang lantas dikenal sebagai Amerika Latin. Terus menembus daratan itu, mengarungi lautan teduh, lantas berlabuh di Filipina. Begitu pula dengan sekawanan Portugis yang mendaratkan sauh di Ternate pada abad ke-16. Dan, tentu saja, bangsa Belanda, perdana menjejak tanah Hindia pada 1596 di bawah pimpinan Cournelis de Houtman di Banten.

Belanda memiliki pertautan, sekaligus pertentangan yang kuat, dengan kita. Alasannya, Indonesia lahir dari rahim kolonialisme.

Ania Lomba dalam bukunya, Kolonialisme/Pascakolonialisme, menjelaskan bahwa, “Kolonialisme bukanlah suatu proses identis dalam berbagai bagian dunia yang berbeda tetapi di mana pun adanya selalu terjadi hubungan-hubungan yang paling kompleks dan traumatik dalam sejarah manusia antara penduduknya dengan para pendatang baru.”

Emilie di Jawa, novel karya penulis Perancis, Catarine Van Moppes, menceritakan tokoh Lucien Benieres dan Emilie, sepasang Prancis, yang mendapatkan tugas di tanah jajahan, yakni Hindia. Lucien, yang terpilih untuk menduduki poisisi penting di tanah jajahan pada era pasca-Tanam Paksa, pergi ke Leiden, Belanda, untuk menuntaskan pendidikan singkat sebelum berlayar ke Hindia. Pandangan tentang bagaimana “misi luhur” para kolonialis ini lambat laun mengubah wajah Hindia tampak dalam pernyataan seorang mantan pejabat kolonial kepada Lucien: “… kami berkewajiban menyebarkan dan memperkokoh iman Krisitiani, sekaligus mengukuhkan fondasi peradaban bagi orang Jawa yang kafir dan barbar itu. Ketahuilah, misi kami adalah misi suci.”

Meski tidak menyeluruh, petikan kalimat di atas menggambarkan adanya ketimpangan. Barat dan Timur. Timur selalu dianggap sebagai barbar, dan perlu diatur. Timr tak ubahnya adik kecil yang butuh sang kakak. Hingga, pada suatu masa (yang entah kapan jika negara-negara seperti Indonesia tak merebutnya), dijanjikan kemerdekaan.

Proses-proses kolonialisme yang selalu kompleks dan traumatik seperti kata Lomba itu acapkali dituding mengenyahkan khazanah pengetahuan lokal. Dampaknya, meski kita sudah 74 tahun merdeka, kita kehilangan identitas kita, kita tak mampu untuk mengingat “siapa kita dulu?” Apalagi setelah dua dekade bangsa ini membangun diri, lantas diluluhlantakkan oleh Orde Baru yang, sekali lagi, mengukuhkan kolonialisme.

Apakah kita mempunyai kebencian yang membabi buta bahwa semua yang Barat adalah iblis dan layak dienyahkan? Tentu saja tidak. Watak kolonialis memang mesti diberangus. Tetapi kisah-kisah persahabatan yang mengandung hibriditas, antara Indonesia dan Belanda, misalnya, juga harus didengungkan. Apakah, misalnya, tak ada kisah-kisah tentang luhurnya kemanusiaan selama lebih dari tiga abad? Dalam hal inilah penting kiranya bagi kita untuk membaca cerpen-cerpen karya Iksaka Banu.

Diskusi Indonesia: Sebelum dan Sesudah Kolonialisme pada dasarnya berbasi pada beberapa pertnayaan:

  1. Terkait pengetahuan, bagaimana pihak kolonial melenyapkan khazanah pengetahuan lokal kita? Bukankah ada pribumi yang pemikirannya serong ke Barat, dan ada yang sebaliknya?
  2. Meskipun kolonialisme dewasa ini tidak lenyap begitu saja dengan hadirnya Proklamasi 17 Agustus 1945, bagaimanakah bentuk-bentuknya mutakhir kolonialisme?
  3. Bagaimana kita mesti bersikap terhadap kolonialisme agar kita tidak terjebak hanya meromantisasi masa lalu?
  4. Bagaimana Orde Baru melakukan praktik kolonial?
  5. Dalam kasus mutakhir, apakah penjelmaan kolonialisme?

Tinggalkan Balasan