Eksplorasi Kematian di Karya-karya M. Fudoli Zaini

M. Fudoli Zaini sebagai cerpenis tak banyak dibicarakan orang. Tidak seperti Danarto maupun Kuntowijoyo. Padahal secara kualitas, menurut Hairus Salim HS, tidak sedikit karya Fudoli yang sebanding bahkan melebihi karya keduanya. Meski pernah ikut mewarnai majalah sastra bergengsi seperti Horison, nyatanya nama Fudoli masih jarang tersebut di perbincangan sastra tanah air. Hairus Salim menduga hal tersebut dikarenakan Fudoli tak pernah mengikuti geliat acara sastra maupun politik sastra yang mengiringinya.

“Fudoli tinggal di Mesir sehingga ia tidak pernah ikut acara dan kegiatan sastra di tanah air. Akhirnya, nama Fudoli tidak banyak disebut. Tidak ikut politik sastra. Setelah lulus pun ia melanjutkan kerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI),” terang Hairus.

Soal kualitas, Hairus Salim membandingkan “Potret Manusia” karya Fudoli Zaini dengan “Orang-orang Bloomington” karya Budi Darma. Cerpen tersebut berkisah tentang orang-orang Kairo yang tidak selalu sama dengan pandangan banyak orang. Ada seorang nyonya yang gemar menonton pornografi, mahasiswa Kairo yang kerap pergi ke pelacuran, dan lain sebagainya.

“Biasanya orang ke luar negeri menceritakan dirinya dengan cukup umuk (sombong, Red.). Namun, Fudoli tidak. Dia tak kagum dengan Kairo. Meski hal itu berlangsung di kisaran 1960-1970, di mana orang ke luar negeri belum seleluasa sekarang,” jelas Hairus.

Satu hal lain yang dilihat Hairus Salim dari cerpen-cerpen Fudoli adalah eksplorasi kehilangan. Ia melihat Fudoli sebagai pengarang yang berdarah dingin yang mudah membunuh karakter-karakternya. “Banyak tema tentang kematian. Kehilangan seorang istri, kehilangan seorang teman, kehilangan burung kesayangan, dsb. Ia transformasikan dengan kerinduan dengan bertemu Tuhan. Ia mudah sekali membunuh tokohnya,” tambah Hairus.

Selain itu, kekuatan yang dimiliki oleh cerpen-cerpen Fudoli adalah nuansa puitis dan rima yang dihasilkan. Kuswaidi Syafi’ie, mengatakan bahwa hal tersebut membuat kisah-kisah keseharian yang ditulis oleh Fudoli seperti menjadi sebuah dongeng yang ditulis ribuan tahun silam. Dalam beberapa cerpen, ia mampu menghadirkan spiritualitas bukan dari agamawan, tapi dari para pendosa sekali pun.

“Ia kaya akan idiom. Membuat kalimat dengan satu kata untuk menyamakan rima dengan kalimat sebelumnya. Tak banyak cerpenis hari ini yang mudah membuat karya seperti Fudoli,” ucap Kuswaidi.

Meski demikian, Kuswaidi melihat Fudoli punya masalah yang juga selalu dijumpai oleh pengarang mana pun. Fudoli tidak bisa membuat karya sebagus seperti saat ia berada di titik tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya.

“Tidak ada siapa pun yang bisa bertahan di puncak tertinggi bobot tulisannya. Untuk persis sama enggak ada yang bisa. Fudoli di karya-karyanya yang terakhir, sampai di titik tertentu, enggak bisa kembali ke masa terbaiknya,” terang Kuswaidi. Meski demikian, hal itu tidak menjadi masalah berarti bagi Kuswaidi. Malah, hal itu membuatnya sadar bahwa Fudoli hanya tengah gagal menyembunyikan diri sebagai seorang sufi tulen.

Hairus Salim melihat bahwa saat ini banyak karya sastra berlatar pesantren yang kemudian disebut sastra pesantren. Padahal, inti ceritanya adalah romansa belaka. Di kala sastra seperti itu menjadi tren, bagi Hairus Salim cerpen-cerpen Fudoli hadir sebagai sastra yang mengisahkan kehidupan sehari-hari tapi menyimpan kejadian yang memuat hal-hal spiritual. [DAz]

Tinggalkan Balasan