KBJ: Srawung Penerbit Indie

Penerbit Laras, Art Music Today, dan Garudhawaca adalah tiga penerbit indie yang baru bergabung ke Kampung Buku Jogja pada 2017. Perwakilan ketiga penerbit ini hadir dalam Technical Meeting Penerbit Indie di Kendi, Senin (18/09). Adapun ketiganya sama-sama menyepakati bahwa event KBJ sangat penting sebagai ajang silaturahmi dan kumpul-kumpul penerbit indie.

Jali dari penerbit Garudhawaca mengatakan bahwa pada penyelenggaraan pertama KBJ, penerbitnya belum ikut serta karena belum tahu perihal mekanismenya. “Nah ini yang ketiga akhirnya ada kesempatan untuk ikut serta, pastinya berterima kasih sekali bisa terlibat,”ujar Jali. Berdiri sejak 2010, penerbit Garudhawaca sudah mengahasilkan seratusan terbitan.

Sementara Michael dari penerbit Laras pun mengalami kendaa perihal informasi mekanisme keikutsertaan di KBJ tahun-tahun sebelumnya. “Terus kemarin ketemu mas Tio dari Pojok Cerpen baru tahu mekanismenya, baru bisa ikut tahun ini,” ungkap Michael.

Erie Setiawan dari penerbit Art Music Today pun mengatakan hal serupa. Lebih khusus lagi menurut Erie, event seperti KBJ amat penting untuk mengenalkan buku-buku dengan konten yang unik dan spesifik, salah satunya musik, yang diterbitkan penerbit Art Music Today. “ Saya tertarik ikut yang tahun ini karena tertarik dengan konten-kontenyanya yang memang unik-unik. Apalagi buku-buku indie itukan sangat spesifik ya. Beda dari trend pasar yang ada,” tambah Erie.

Bias Melihat Pasar Yang Sesungguhnya

Indra Ismawan, CEO Media Pressindo mengatakan bahwa saat ini hampir semua insan perbukuan Indonesia menganggap pasar buku di Indonesia sama dengan jaringan toko buku-toko buku besar seperti Gramedia. “Jadi kalau kita menyimpang dari apa yang biasa di Gramedia itu kayak keluar dari jalan keselamatan. Tapi kan kenyataannya tidak demikian,” ungkap Indra saat tampil sebagai narasumber Sidang Komisi Produksi, di Dongeng Kopi pada Kamis (15/09). Faktanya menurut Indra, para pelaku perbukuan tanah air bisa juga bergerak di luar jalur itu dengan pasar yang nggak kecil juga.

Masih menurut  Indra, buku-buku yang ada di jaringan toko buku besar saat ini banyak memasarkan buku-buku best seller yang cetakan pertamanya bisa mencapai 10.000 eksemplar. Kalau yang megabestseller bahkan bisa sampai 50.000 eksemplar. “Ambil contoh buku Happy Little Soul kemarin laku 150.000 eksemplar dalam waktu 1-2 bulan. Tapi kan ini contoh ekstrem aja. Dan kita seringkali terjebak menilai sesuatu dari sisi ekstremnya. Padahal kalau kita mau hitung rata-rata penjualan jaringan toko buku besar itu, untuk judul-judul standar dicetak dengan oplah 3000-6000 dan penerbit hanya berharap laris 60%. Nah sisanya 40% itu diputar di luar jaringan itu, dibawa ke pasar umum,” tambah Indra.

Indra kemudian menyebutkan bahwa pada kisaran tahun 2000-2003 buku-buku dicetak pada oplah 1000-1500 hanya karena sejumlah distributor berani mengambil dalam jumlah segitu. Kekuatan pasarnya kemudian dianggap segitu pula. Kenyataannya tidak demikian. Menurut Indra insan perbukuan sendiri sering kali bias melihat pasar yang sesungguhnya.

Penerbit Jawa Barat Mencetak Bukunya di Percetakan Jogja

Banyak pelaku perbukuan di Jawa Barat khsusnya di luar Bandung yang memilih percetakan-percetakan di Jogja untuk mencetak buku mereka. Hal ini disampaikan oleh Wahyu Heriadi dari Penerbit Kentja saat tampil sebagai salah satu pembahas dalam Sidang Komisi Produksi pada Kamis, (14/09) di Dongeng Kopi. Langkah ini, menurut Wahyu, dipilih lantaran penerbit-penerbit di Jawa Barat dapat lebih menekan biaya produksi ketika mencetak bukunya di Jogja ketimbang di Bandung atau Jakarta.

“Untuk mencetak di Bandung atau Jakarta mungkin tiga hari bisa selesai beres. Tapi dari segi biaya bisa sampai dua kali lipat dari biaya cetak di Jogja. Makanya Jogja jadi pilihan kami untuk mencetak buku, khususnya yang ingin mencetak dalam jumlah terbatas” ungkap Wahyu.

Penerbitan buku dalam jumlah terbatas di Jawa Barat menurut Wahyu, mulai terjadi pasca reformasi. Saat itu khususnya di wilayah selain Bandung, Tasikmalaya misalnya, muncul buku-buku yang diterbitkan sendiri dalam jumlah terbatas. Salah satunya Sanggar Sastra Tasikmalaya yang menerbitkan salah satunya kumpulan buku puisi Acep Zamzam Noor. Namun ternyata aktivitas ini tidak berjalan lama. Lambat laun, industri buku lalu terpusat di Bandung.

Strategi Produksi di Penerbit Mayor

Memutuskan untuk berada di ranah penerbit mayor, menurut Wawan Arif dari Penerbit Forum harus memilih dari setidaknya dua senjata. Pertama menjadi senjata yang memberondong atau menjadi sniper. “Kalau menjadi senjata yang memberondong peluru, sikap yang diambil adalah mengerahkan banyak modal untuk membuat buku sebanyak-banyaknya. Sementara menjadi sniper,  bidik satu kena, bidik satu kena”, ungkap Wawan saat tampil menjadi salah satu pembahas dalam Sidang Komisi Produksi, Musyawarah Buku pada Kamis (14/09) di Dongeng Kopi.

Wawan mencontohkan Indonesia Boekoe yang mengambil langkah menjadi sniper. Mencetak buku dengan jumlah sedikit tapi pasti  laku karena jelas siapa sasaran pembelinya. Sementara pilihan senjata memberondong peluru tadi disebut Wawan diambil oleh banyak penerbit mayor. Masing-masing pilihan sikap ini pun menurut Wawan diikuti dengan konsekuensi masing-masing. “Mencetak banyak tentu butuh modal besar. Sementara mencetak sedikit pun butuh kekuatan sendiri untuk mengawal ketat kontennya,”ungkap Wawan.

14 Penerbit Reguler Menyatakan Siap Ramaikan KBJ 2017

Sebanyak 14 penerbit regular di Yogyakarta akan terlibat sebagai peserta Kampung Buku Jogja (KBJ) 2017 dalam Techincal Meeting yang diadakan pada 6 September 2017 di Nyata Kopi pukul 14.00 WIB. Sementara 9 penerbit lainnya yang terdaftar belum memastikan keterlibatannya dalam event tahunan ini.

Diutarakan oleh Adhe Ma’ruf selaku Penanggung Jawab Buku Reguler, dari segi antusiasme, mengalami peningkatan yang cukup pesat dari penerbit-penerbit yang sudah pasti akan terlibat. 14 penerbit itu di antaranya Insistpress, Lkis, Media Pressindo, Galang, Diva Press, dan Buku Mojok. KBJ 2017 masih akan diselenggarakan di Foodpark Lembah UGM. Bila tahun lalu KBJ hanya menempati bagian taman dari wilayah tersebut, tahun ini akan digunakan pula gedungnya.

Ditemui setelah TM, Penanggung Jawab Umum KBJ, Arif Doel menambahkan bahwa panitia KBJ juga akan mengundang beberapa komunitas untuk turut serta dalam event ini. “Kita memberikan tempat untuk beberapa komunitas agar dapat mensosialisasikan komunitasnya. Bisa mendisplay karyanya kalau memang outputnya karya (benda). Kalau outputnya bukan karya, juga akan kita beri ruang untuk mensosialisasikan komunitasnya.

Kampung Buku Jogja 2017 sendiri akan dihelat pada 4-8 Oktober 2017.

 

 

Kampung Buku Jogja Berlangsung Lebih Panjang di 2017

Durasi pelaksanaan Kampung Buku Jogja (KBJ) 2017 akan berlangsung lebih panjang yakni lima hari dari 4-8 Oktober 2017, pukul 10.00-21.00 WIB setiap harinya. Hal ini diutarakan oleh Penanggung Jawab Umum KBJ, Arif Doel, saat membuka Techincal Meeting (TM) KBJ 2017 khuus penerbit regular, yang berlangsung pada 6 September 2017 pukul 14.00 WIB di Nyata Kopi.

TM ini membahas serangkaian mekanisme Pameran KBJ 2017. Masih bertempat di Foodpark, Lembah UGM, KBJ tahun ini mendapat ruang pameran yang lebih luas yakni mencakup taman dan gedung Foodpark Lembah UGM. Untuk itu pada TM kali ini, dijelaskan oleh Adhe Maarup selaku Penanggung Jawab Penerbit, pembagian wilayah pameran mencakup tiga bagian untuk area pameran buku, panggung hiburan dan stan makanan-minuman.

Dibahas pula mekanisme persediaan buku pameran, transaksi penjualan, fasilitas pameran, serta loading barang selama pameran berlangsung nanti. TM ini dihadiri oleh sepuluh penerbit regular se-Yogyakarta.

 

 

MUSYAWARAH BUKU INDIE: Berputar Dalam Arus Perbukuan, Mencari Bentuk Paling Ideal Untuk Dirinya

Dunia buku, perlahan, menemukan banyak alternatif di tengah pusaran arus pasar dan pembaca yang dinamis tapi juga membingungkan. Sebagian pemain buku yang tadinya mandek di toko buku dengan segala kebijakan dan problemnya, menemukan celah baru,—sebuah celah yang sebenarnya sudah ada dan tidak bisa dibilang baru—celah dunia maya.

Lagi-lagi perbincangan akan berpusat pada titik ini. Tapi demikianlah, semuanya bermula dan berjalan dari sini.

Jika beberapa tahun sebelumnya, internet dimanfaatkan semata lewat akun pribadi media sosial penerbit-penulis-pelaku buku, perkembangan berikutnya menunjukkan perkembangan ke arah yang signifikan dan menggembirakan: Beberapa penerbit mulai membangun websitenya, bergabung dengan marketplace populer yang membantu penjualan dengan sekian promosinya yang lebih dari cukup, celah baru instagram terbuka lebar pasca facebook dan twitter. Juga yang tak kalah menggembirakan; muncul fenomena reseller/dropshiper buku, kelompok pemain baru yang tidak berangkat dari “pemain inti” perbukuan, yang tadinya hanya berkutat pada kerja produksi penerbitan semata.

Reseller muncul sebagai alternatif tambahan baru, mereka hadir menjadi pengganti distributor untuk gerai toko buku, mereka mengambil buku ke penerbit, lalu menyampaikannya ke khalayak pembaca lebih luas yang tadinya tidak terjangkau atau terpikirkan oleh penerbit.

Reseller berkeliaran di instagram dan aplikasi Line, dua hal yang tak pernah begitu serius dilirik di era facebook dan twitter. Teknologi, menjadi kuda tunggangan baru, mode transportasi terkini, mengangkut buku dari gudang-gudang penerbit dan menghantarkannya ke pangkuan pembaca.

Dunia buku adalah dunia di mana para pelaku memutar otak selalu, mengintip peluang, lalu mencoba menerobos celah itu dengan daya upaya yang mereka miliki.

Sebagai bagian dari industri kreatif, para pemain-pemain dipaksa harus mengikuti pola-pola baru-asing yang tadinya (mungkin) tak pernah mereka bayangkan. Jika tidak, mereka akan menjadi bagian dari istilah-istilah klise; tergilas roda zaman, ketinggalan kereta, dan menjadi bagian dari orang-orang yang mengeluh bersama tentang betapa parahnya dunia literasi kita, betapa rendahnya minat membaca: Jargon-jargon putus asa yang selama ini diamini tanpa pernah berusaha dipastikan dengan data dan bukti yang valid dan serius.

Dalam dunia menulis, pola baru demikian adanya, melesat jauh, meninggalkan siapa yang kudet, dan miskin inovasi. Penulis digital-kontemporrer yang sudah lama melupakan media cetak-koran-majalah sebagai palagan pergulatan eksistensi kepenulisan, saat ini tidak semata hanya menjadi blogger atau pemain sosial media belaka. Lebih jauh lagi, mereka melaju lewat mainan-maian baru, wattpad, misalnya.

Dari salah satu aplikasi baru ini, puluhan penulis dan pembaca millenial lahir dan bertumbuh. Penulis-penulis baru menemukan mainan cara baru menulis, menyapa pembacanya yang bertumbuh sama banyaknya dengan penulis-penulis yang bertarung di sana. Lalu bermetamerfosa menjadi penulis-penulis beken, yang bukan hanya ditunggu postingannya di wattpad, tapi juga diburu ebooknya di aplikasi-aplikasi buku era kiwari, buku-buku mereka dipesan di reseller dan berderet di rak Best Seller semua gerai toko buku. Ditunggu bukan hanya oleh pembaca setia, tapi juga oleh para penerbit yang terjun mencari langsung bakat-bakat baru yang populer dan segar di sana, menghidupkan kembali dapur-dapur produksi mereka.

Hasilnya? Pembaca mereka jauh lebih banyak dari oplah Koran Minggu Cetak, lebih banyak dari tiras penerbit kecil, menengah dan besar. Tak jarang mereka menunjukkan angka yang fantastis, baik buku dalam versi digital maupun cetak konvensional.

***

Buku, dalam pasar reguler sehari-hari, dalam ceruk cetak terbatas dengan saluran jual kontemporer, dalam sekala besar atau kecil, adalah dunia yang tak henti berpikir dan bereksplorasi, mencari bentuk paling ideal, menemukan bentuk baru lalu meninggalkan cara sebelumnya. Pada pusara inilah juga, buku-buku indie, yang sudah memilih jenis terbitan, oplah dan salurannya sendiri, ikut berputar, bergerak bebas mencari rima paling nyaman dan ideal, untuk tetap bertahan dengan segala kelebihan sekaligus keterbatasannya. Memelihara idealisme, gagasan, dan bentuk pilihan sesuai keyakinannya.

Memproduksi buku-buku dari nama lama dan baru, lokal dan internasional, populer dan tidak terkenal, mengemas sedemikian rupa cetakan-dagangannya, mendistribusikan buku lewat pameran reguler dengan membuka lapak-lapak yang dibangun sepenuh jiwa, menjaring pembaca langsung lewat media sosial, melalui kekuatan personal ataupun agen-agen resellernya.

***

Sebagai rangkaian dari acara Kampung Buku Jogja #3 2017, para pegiat buku indie ingin membincangkan dirinya kembali. Menghadirkan para pelaku, pekerja, penulis, pembaca, pedagang dan semua komponen yang ada di dalamnya. Maka dari itu, segenap insan perbukuan indie, harus segera berkumpul dan berbicara mewakili dirinya masing-masing, pada sebuah Musyawarah Agung Buku Indie.

Acara tersebut akan dilaksanakan pada:

Hari: Jumat, 8 September 2017

Pukul: 13.00 WIB-Selesai

Tempat: Dongeng Kopi Jogja, Jl. Jalan Kranji Serang No.19B, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (Saming Rumah Palagan Jalan Damai)

Sampai jumpa.