Kampung Buku Jogja 2017 Sebagai Kerja Sama Orang Muda

Pada suatu malam di akhir Agustus 2017 saya duduk di bangku kayu di warung burjo di depan rumah saya. Tak lama kemudian Mas Arif Abdulrakhim datang. Lalu kami beranjak menuju kawasan Seturan untuk menemui dua orang muda dari Katalika Project.

Kami akhirnya tiba di sana. Sebuah mural bikinan Isrol (Media Legal) terpampang di tembok besar dengan tulisan mencolok: “Mengasah Pedang Literasi”. Rumah ini adalah tempat kegiatan sebuah kolektif yang bergerak di dunia kreatif. Saya sendiri sudah mengenal Tomi Wibisono, pendiri kolektif ini, sejak tahun 2015 di masa peralihan mereka dari penerbitan majalah musik Warning Magazine ke penerbitan buku yang bernama Warning Books. Dari Tomi, saya mengenal Huhum Humbilly, Soni Triantoro, Titah Asmaning Winedar, Bengbeng, Galih Fajar, dan lain-lain. Buku pertama yang diterbitkan Warning Books adalah Questioning Everything: Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-baik Saja karya Tomi dan Soni.

Huhum adalah alumnus Jurusan Seni Rupa UNY, aktif di media seni tato Magic Ink, organizer acara-acara seni dan budaya, serta penulis yang baik. Soni adalah penulis musik yang karya-karyanya dimuat di banyak media, termasuk Rolling Stone, dan sekarang bekerja di situs web Hipwee.com. Titah banyak menulis untuk Warning. Galih aktif di komunitas sastra Ngopinyastro dan menjadi vokalis band Kopibasi. Ia juga sekarang bekerja di Hipwee. Sedangkan Bengbeng adalah seorang seniman muda yang karya-karya ilustrasinya sudah banyak dipakai sebagai desain sampul buku.

Kolektif kreatif di Seturan itu mempunyai lini-lini Rumah Kata (perpustakaan), Warning Magazine (majalah musik), Warningmagz.com (situs web musik), Warning Books (penerbitan buku), Buku Akik (toko buku daring), dan Katalika Project (biro desain grafis). Dengan latar belakang itu pula cukup beralasan kiranya bagi saya dan Mas Arif untuk menemui Tomi dan Bengbeng di malam yang hanya berjarak sedikit setelah mereka kelar mengerjakan desain artistik untuk ASEAN Literary Festival 2017 di Jakarta.

Ketika Mas Arif mengobrol dengan dua pemuda itu, saya mengingat lagi peristiwa pada suatu malam di tahun 2015. Waktu itu saya dan Mas Arif berbincang di Kedai Kopi Condongcatur tentang kemungkinan mengadakan kegiatan perbukuan yang unik dan beda dari acara-acara perbukuan yang sudah ada. Beberapa bulan sebelumnya saya, Irwan Bajang (Indie Book Corner), dan Yusuf Effendi (Diandra Creative) mengadakan Pasar Buku Indie 2014 di Toko Buku Toga Mas Affandi. Di sana pula saya mengenalkan Wijaya Kusuma Eka Putra (Pojok Cerpen) pada Bajang dan Puthut EA (Mojok).

Dalam obrolan kami malam itu, kami sepakat untuk mengajak Bajang dan Eka dalam pembentukan sebuah tim kerja penyelenggaraan Kampung Buku Jogja 2015. Saya sendiri menganggap kegiatan perbukuan itu perlu mendapat amunisi dari kalangan muda supaya terasa segar dan bernuansa baru. Adapun pencetus nama “Kampung Buku Jogja” adalah Mas Arif. Kami juga menyebut identitas kolektif kami sebagai Kampung Buku Jogja (KBJ).

Dua tahun kemudian, upaya untuk tetap menjaga keunikan, kebaruan, dan keterlibatan orang-orang muda itu semakin kental. Di malam saya dan Mas Arif bertemu dengan Tomi dan Bengbeng, kami mengajak mereka untuk mengerjakan desain grafis dan desain artistik venue Kampung Buku Jogja 2017. Saya juga meminta bantuan mereka untuk memberi masukan tentang band-band penampil di acara yang akan diselenggarakan pada 4-8 Oktober itu. Mereka menyetujui tawaran kerja sama dari kami.

Beberapa hari kemudian empat orang yang berada di KBJ bergerak menemui sejumlah kawan yang aktif di dunia buku dan literasi. Mas Arif menemui Puthut. Saya dan Eka bertemu dengan Edi Mulyono (Diva/Kampus Fiksi/Basabasi). Bajang mengonsolidasikan kawan-kawan di jaringan penulis. Kami sendiri sudah terbiasa berkomunikasi di Warung Kendi dengan para tetua di ranah perbukuan Jogja, seperti Buldanul Khuri, Indra Ismawan, Hairus Salim, dan lain-lain. Kami juga membicarakan soal-soal perbukuan dengan mereka sebelum dan sudah kami semua bermain futsal di setiap akhir pekan.

Mas Arif lantas mewakili kami untuk berkomunikasi secara intensif dengan Hinu OS (3G Production) mengenai soal-soal teknis pelaksanaan sebuah event. Sejak KBJ 2015, kami memang bekerja sama dengan perusahaan event organizer tersebut. Dua perempuan muda berada di wilayah yang berkaitan dengan pekerjaan Mas Arif, yaitu Tami Bastian dan Ade Anggraini.

Saya sendiri mengetuk pintu penerbit, komunitas, toko buku, dan distributor untuk mulai membicarakan tentang KBJ 2017. Bajang membuka dialog dengan kawan-kawan pengelola Dongeng Kopi dan Nyata Kopi. Kami ingin menjadikan Dongeng Kopi sebagai tempat pelaksanaan Muyawarah Buku, sebuah rangkaian kegiatan pre-event KBJ 2017. Sedangkan Nyata Kopi adalah tempat kami melakukan rapat-rapat persiapan KBJ 2017. Kami juga mengajak Agus (Nyata Kopi) sebagai dokumentator acara. Di saat yang bersamaan, Eka mulai mengumpulkan teman-teman dari kelompok penerbit indie dan pelaku usaha perniagaan buku langka.

Dari pembagian kerja seperti itulah KBJ 2017 mulai terlihat bentuknya. Dari jejaring Tomi, kami mendapatkan band-band keren yang “melek literasi” (Senartogok, Talamariam, Deugalih, Agoni, Umarhaen, Kopibasi) dan Monica Lanongbuka (Perpustakaan Jalanan DIY). Dari jejaring Bajang, kami mengajak Hasan Gauk, pemuda yang selalu membantu kami ketika kami membuat kegiatan perbukuan (KBJ 2015, KBJ 2016, dan Mocosik 2017). Lalu Bajang mengajak penulis Bernard Batubara menjadi narasumber di Musyawarah Buku. Ia juga mampu mendekatkan jarak usia di kalangan penulis sepak bola melalui keberhasilannya mengajak senior sekelas Sindhunata dan Yusuf Arifin dengan penulis-penulis Fajar Junaedi, Eddward S Kennedy, dan Sirajudin Hasby. Bahkan ia yang mengajak penyair-penyair Saut Situmorang, Indrian Koto, Kedung Darma Romansha, dan Raedu Basha ke KBJ 2017.

Dari lingkungan Indonesia Boekoe/Radiobuku yang dipimpin kawan dekat kami, Muhidin M Dahlan, kami mengajak Safar Banggai. Radiobuku adalah media partner KBJ sejak tahun 2015. Kemudian Hasan dan Safar bahu membahu menyiapkan dan mengawal lima sesi Musyawarah Buku.

Orang-orang muda lainnya berasal dari lingkungan Eka. Selain aktif di KBJ, ia adalah pemilik distributor buku indie Pojok Cerpen yang memiliki lini situs web Pocer.co dan web Bukupocer.com. Ia juga salah satu pemilik penerbit Oak dan pengelola penerbit-penerbit EA Book dan Circa. Melalui Eka, KBJ 2017 mendapat bantuan tenaga, yaitu Margaretha Ratih Fernandez dan Rijen untuk mengerjakan notulensi Musyawarah Buku, juga O Lihin (Stanbuku) untuk pengelolaan administrasi peserta dari penerbit-penerbit indie.

Jaringan pendukung KBJ 2017 semakin dikuatkan melalui komunikasi dengan beberapa kawan dekat kami. Hasilnya sungguh menyenangkan. Melalui para tetua, kami mampu mengajak Seno Gumira Ajidarma dan Sindhunata untuk hadir di acara ini. Bajang mengajak Landung Simatupang dan Gunawan Maryanto. Eka berhasil mengajak Komunitas Kretek dan Buku Mojok. Dari Nody Arizona (Komunitas Kretek) dan Eka, KBJ 2017 dapat menyajikan acara-acara yang melibatkan Nuran Wibisono, Nezar Patria, Komang Armada, Fawaz Al Batawy, Afthonul Afif, Arman Dhani, Prima Sulistya, dan Hairus Salim. Eka juga mengonsolidasikan 55 penerbit indie yang kebanyakan adalah orang-orang muda untuk menjadi peserta KBJ 2017. Selain itu ia menghimpun belasan orang muda yang di perniagaan buku langka.

Saya lantas meyakinkan Shoffan, pemilik toko buku daring bernama Nurmahera, agar mengajak kawan-kawan di penerbit Djaman Baroe untuk menghadirkan Max Lane di KBJ 2017. Melalui Ahmad, pemuda yang mengelola toko buku daring Teotraphi, saya mengajak Klub Buku Yogyakarta (KBY). Saya juga meminta Taufan Akbar, anak muda yang mengelola penerbit Nyala, untuk menghubungi lagi Afrizal Malna tentang kesediaannya menghadiri acara ini. Sedangkan keterlibatan LPM Ekspresi UNY di acara ini relatif mudah dikomunikasikan karena saya banyak mengenal mahasiswa-mahasiswa yang menjadi penggeraknya.

Kami bersyukur memiliki hubungan baik dengan kawan-kawan pegiat buku dan literasi di luar Jogja. Dodit Sulaksono/Tokohitam (Malang/Jakarta), pelaku usaha niaga buku langka, sudah mengikuti KBJ sejak tahun 2015. Yang bersamaan dengan dia adalah Mohammad Rudi/Kardus Buku (Depok), Agus Manaji/Bukulawas Menkmenk (Magelang), Deden/Lumbung (Bandung), Zhulfy/Layung (Garut), dan Wahyu Heriyadi/Kentja (Ciamis). Hingga sekarang mereka tetap menjadi bagian dari keluarga KBJ sebagaimana orang-orang yang mengikuti kegiatan ini sejak awal.

Jaringan KBJ yang berhubungan dengan orang-orang muda juga tampak kuat di ranah penerbitan buku indie. Kawan-kawan muda dari luar Jogja selalu menyempatkan diri untuk berbincang di Warung Kendi bersama pegiat-pegiat buku Jogja, termasuk Abel/Sinar Hidoep (Salatiga) dan Raedu Basha/Ganding (Madura).

Faktor pertemanan pula yang membuat Trubadur, penerbit yang didirikan oleh Luthfi Mardiansyah di Bandung, hadir di KBJ 2017. Awalnya saya mengenal Luthfi sebagai seorang penerjemah buku dan penulis. Saya mendapatkan kontaknya dari Mawaidi D. Mas (Cantrik Pustaka). Mawaidi sendiri pernah aktif di lingkungan Kampus Fiksi dan Gambang. Ia lalu mendirikan Cantrik Pustaka bersama Naufil Istikhari.

Saya tahu bahwa Luthfi cukup dekat dengan kawan-kawan kami di lingkungan JBS (Jual Buku Sastra) dan Gambang. Ia mengenal pelaku-pelaku perbukuan di Jogja. Kemudian ia menerjemahkan buku untuk Octopus, Cantrik, Gambang, dan Papyrus.

Papyrus adalah penerbit buku yang didirikan oleh Wayan Darmaputra. Kedekatan saya dengan Wayan dimulai dengan perkenalan kami via Tomi (Warning). Beberapa waktu kemudian Wayan, juga Buldanul Khuri (Mata Bangsa), memilih untuk berkantor di tempat yang sama dengan Indie Book Corner, Nyata Kopi, dan Toko Budi.

Kolektif buku lainnya dari Bandung yang berisi anak-anak muda adalah Yayasan Jungkirbalik. Saya mulai mengenal seorang mahasiswa bernama Kelana Wisnu Sapta Nugraha, salah satu penggeraknya, sejak ia menghubungi saya untuk berdiskusi tentang penerbitan buku. Sebelumnya mereka mengelola toko buku daring Ruangraung Buku. Kemudian proses pracetak dan cetak buku pertama Jungkribalik dikerjakan di Jogja. Desainnya dikerjakan oleh Mawaidi (Cantrik) dan Bengbeng (Katalika Project). Sedangkan produksinya digarap di Utama Offset.

Dari jangkauan Eka, KBJ 2017 mengajak penerbit-penerbit muda lainnya dari luar Jogja, seperti Svantantra (Bandung) dan Parabel (Salatiga). Melalui Eka pula kami akrab dengan Denny Mihzar/Pelangi Sastra (Malang) yang awalnya kami kenal dari sebuah acara pameran buku di Malang.

Mas Arif dan saya pernah mengalami fase riuh dunia buku di Jogja pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Hingga hari ini kami masih aktif di ranah perbukuan dan menyaksikan munculnya orang-orang muda yang bergiat di komunitas literasi, kolektif seni, penerbitan media, dan penerbitan buku. Pilihan aktivitas mereka sama dengan pilihan kami. Namun mereka mempunyai cara-cara yang relatif baru dibanding metode kami di masa terdahulu. Kenyataan ini pula yang menyadarkan kami bahwa dunia buku dan literasi terus bergerak secara dinamis. Siapa pun yang beraktivitas di ranah literasi dan buku perlu bekerja sama untuk mengembangkan kegiatannya demi masa depan perbukuan di Indonesia.

Pada Jumat malam, 28 September 2017, saya mengobrol dengan Dodit Sulaksono dan Patrick Manurung. Kami berbincang tentang banyaknya anak-anak muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki jaringan yang luas. Kami mengagumi mereka. Mungkin kami akan semakin sering menyaksikan mereka beraktivitas dan mendukung kegiatan mereka. Tapi kami juga dapat mendekat dan bekerja sama dengan mereka.

KBJ sudah melakukan kerja sama tersebut sejak awal. Bahkan, selain nama-nama yang sudah disebut di atas, masih banyak orang muda lainnya yang berpartisipasi dalam KBJ 2017. Mereka aktif sebagai bagian dari panitia, peserta, maupun pengisi acara. Kita semua akan berjumpa dengan mereka. Kita akan merayakan buku dengan energi dan semangat muda.

Biaya Jadi Masalah Distirbusi Buku Secara Luring

Hariyadi, CEO Solusi Distribusi mengatakan bahwa distribusi buku secara luring untuk sampai ke segala penjuru tanah air masih bermasalah pada pembiayaan. Padahal menurut Hariyadi, jumlah penduduk yang banyak dan wilayah Indonesia yang luas adalah pasar yang amat potensial untuk bisnis buku. “Kita cetak buku 2000 eksemplar misalnya, mungkin baru bisa habis dalam dua tahun kalau tidak terlalu best seller. Faktanya untuk mendistribusikan buku-buku ini kita perlu biaya besar yang sampai sekarang masih menjadi masalah,”ungkap Hariyadi saat tampil menjadi pembicara dalam Sidang Komisi Distribusi pada Rabu (20/09) di Dongeng Kopi.

Di samping masalah biaya, penguasaan jaringan ritel buku oleh salah satu perusahaan, menurut Hariyadi adalah masalah lain dalam urusan distribusi buku. Ketiadaan pesaing yang sama kuatnya membuat persaingan di pasar buku menjadi kurang sehat. Oleh karena itu kemunculan distributor dan penerbit-penerbit indie yang memasarkan bukunya di luar jaringan toko buku besar tersebut, menurut Hariyadi adalah langkah yang harus diapresiasi dan terus dikembangkan. “Mau caranya daring maupun luring itu kan hanya cara. Yang penting di luar jaringan toko buku yang besar itu selalu ada aktivitas distribusi buku yang luas ke penjuru Indonesia ini,” tambah Hariyadi.

 

Hadiri Musyawarah Buku, Perbanyak Informasi

Musyawarah Buku yang rangkaian sidang komisinya berlangsung di Dongeng Kopi, juga turut dihadiri oleh pelaku literasi dari kota lain. Selain Dewan Kesenian Medan yang turut hadir pada sidang komisi redaksi dan produksi, seorang mahasiswi asal Pontianak bernama Jesi Resita pun ikut serta.

Jesi mengikuti tiga dari total lima sidang komisi yang diadakan sebagai bagian dari kegiatan menuju Kampung Buku Jogja 2017. Ditemui pada Selasa, (19/09) saat Sidang Komisi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), Jesi mengaku kehadirannya di Musyawarah Buku berawal dari ketidaksengajaan. “Kebetulan sedang di Jogja untuk urusan pekerjaan dan sekalian liburan, trus liat postingan bang Bara (Bernard Batubara) tentang acara ini di sosmednya. Kayaknya asyik dan ternyata beneran seru,”ungkap Jesi yang juga bekerja untuk sebuah stasiun televisi nasional ini.

Sebagai seorang pembaca, Jesi mengaku mendapat banyak pengetahuan baru soal perbukuan dari berbagai sidang yang dia ikuti di Musyawarah Buku ini. Khususnya soal penerbitan indie yang meriah di Jogja dan perdagangan buku yang begitu luas cakupannya. Jesi tak lupa mencatat sederetan toko buku daring dan luring yang turut serta dalam musyawarah, untuk didatanginya mendapatkan buku-buku yang ia cari.

Rezim HAKI, Don Quixote Yang Kesepian

Oleh: Sholeh UG

(Catatan ini disampaikan dalam Sidang Komisi HAKI-Musyawarah Buku Kampung Buku Jogja 2017)

 

Alffin Tofler dalam buku Third Wave membagi peradaban manusia dalam tiga gelombang. Tiap gelombang bisa merupakan kelanjutan, bisa pula repetisi, bisa pula tesa dan antites. Ketiga gelombang peradaban Toffler itu :

Masyarakat Pertanian, periode 800-1500

Masyarakat Industri, periode 1500-1970

Masyarakat Informasi, periode 1970-kini

 

Masyarakat Pertanian

Pada gelombang ini terjadi perubahan secara mendasar kultur manusia dari yang semula bersifat nomaden dan mengandalkan cocok tanam semusim serta berburu, menjadi masyarakat mukim dengan mengandalkan pertanian. Teknologi pada masyarakat gelombang pertama ini diciptakan untuk mendukung kultur pertanian. Pengetahuan dibagi dengan alasan untuk mencapai kesederajatan. Karena dengan kesederajatan akan mampu menghilangkan potensi ancaman. Berbagi (ini akan terulang pada gelombang ketiga) dan gotong royong diperlukan karena masyarakat pertanian sangat tergantung pada sumber daya alam : air, sinar matahati, angin, untuk menjalankan aktivitas pertanian.

Masyarakat Industri

Periode ini dimulai dengan renaissance dan puncaknya pada revolusi industri. Gelombang kedua ini disebut oleh Toffler memiliki ciri masyarakat yang ekonomis dan rakus.

Ekonomi berbagi pada masyarakat pertanian, seiring dengan ledakan penduduk, dianggap tidak lagi sesuai. Karena manusia telah berhasil menciptakan sarana perlindungan diri yang efektif dengan ditemukannya senjata api dan sebagainya.

Penemuan teknologi transportasi dan senjata telah melahirkan imperialisme dan kolonialisme. Imperialisme dan kolonialisme merupakan syahwat untuk memiliki secara berlebihan (penumpukan modal). Karena itu kepemilikan menjadi sangat menonjol, melahirkan sifat individualis. Oleh sebab itu penemuan dan teknologi dikapitalisasi karena dianggap milik pribadi atau kelompok. Gagasan perlindungan penemuan dan teknologi tersebut disahkan melalui Statute of Anne di Inggris (1710), dan mencapai puncaknya pada Bern Convention (1886), sumber dari pemberlakuan copyright.

Perlindungan atau dengan bahasa lain pembatasan sejalan dengan konsep kapitalisme, modal dan aset harus terus dihimpun sebesar-besarnya, agar pihak lain tidak mampu bersaing. Copyright bisa dilihat sebagai upaya untuk terus mempertahankan ekonomis rakus periode masyarakat industri.

Masyarakat Informasi

Ekonomi rakus yang dijalankan pada periode kedua, menyebabkan kelangkaan bahan bakar fosil. Oleh sebab itu masyarakat informasi mulai berusaha kembali memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan.

Masyarakat informasi memiliki ciri yang sangat menonjol yaitu masyarakat yang terbuka atau open society dengan pemanfaatan peer to peer, bersejawat. Pada periode ini, struktur masyarakat yang tersekat secara kaku peninggalan periode industri telah ditinggalkan dan digantikan struktur masyarakat yang sangat longgar. Orang “awam” memiliki peluang yang sama besar untuk meningkatkan statusnya. Awam yang ingin jadi artis bisa selfie dan kemudian menjadi celebgram, bisa ngeblog dan ngevlog untuk menghasilkan kekayaan melimpah.

Economic society ini kemudian melahirkan economic sharing. Kapitalisasi sudah kehabisan darah. Setiap orang, dimanapun ia berada, asal paham dan memiliki perangkat berbagi informasi, dapat menjadi pengusaha sekaligus eksportir. Taksi online merupakan contoh ekonomi berbagi yang paling nyata.

Gelombang ketiga ini merupakan kemenangan sosialisme atas kapitalisme. Sosialisme yang dimaksud ialah sosialisme dalam bentuk yang paling etis, yaitu kolektivisme. Masyarakat kolektif itulah sesungguhnya yang dikehendaki oleh para founding fathers kita.

 

Penerbit Haruskah Menjadi Don Quixote? 

Bagaimana dengan buku pada ketiga gelombangnya Toffler itu? Pasti juga mengalami perubahan. Buku, penulis, penerbit, distributor dan toko buku sudah dan akan terus berubah.

Beberapa waktu lalu Menteri Keuangan melihat ada fenomena aneh. Menurut data BPS penjualan ritel di Indonesia mengalami kelesuan. Di sisi lain pergerakan barang meningkat. Pelaku ritel berteriak penjualan barang mengalami penurunan.

Yodhia Antariksa, Agustus lalu membahas Rencana Aliansi Alibaba-Tokopedia dan Senjakala Mall di Indonesia. Data menarik yang disampaikan Yodhia, transaksi ritel di Indonesia mencapai 4500 triliun. Dan penjualan online mencapai 65 triliun atau belum sampai 2%. Meski belum mencapai 2 persen, sudah mampu membuat industri ritel kembang kempis, gerai Seven Eleven tutup, hypermart mengurangi gerainya, dan masih banyak yang lain.

Di dunia buku, penerbit (mainstream), toko buku, distributor berteriak omset menurun.

Data Gramedia, penjualan total tahun 2012 mencapai 33.565. 472 eksemplar. Di tahun 2013 menurun, berada di angka 33.202.154 eksemplar, dan menurun lagi di tahun 2014 di jumlah total 29.883.822 eksemplar (sumber : http://ikapi.org/component/k2/item/73-tren-penjualan-buku-di-toko-buku-menurun-pemerintah-dapat-membalikkannya.html).

Penurunan itu seringkali disebut akibat budaya baca yang lemah, pengaruh perangkat teknologi Informasi dan sebagainya. Meskipun, harus pula dicatat penerbit buku indie semakin meningkat jumlahnya. Omset penerbit indie juga meningkat. Artinya penjualan buku belum tentu menurun, hanya tidak tèrcatat di data resmi saja.

Hal lain yang perlu dicermati dalam konteks HAKI ialah bila rezim HAKI Indonesia berkiblat pada AS yang memandang HAKI sebagai economic right, maka paradigma itu ibarat bunga layu sebelum mekar. Economic sharing di bidang seni, hiburan, telah memberi kemerdekaan finansial pada para kreator yang mengupload karya mereka di youtube. Misalkan Edho Pratama diperkirakan memiliki penghasilan 44 juta. Posisi kedua Raditya Dika dan Reza Oktavian dengan 38 juta.

Untuk penulis, nama-nama seperti Sugeng Riyadi, Duto Sri Cahyono, Agus Rahmadani, mbak Nunik, Priangga Otviapta, Evrina Budiastuti dan masih banyak lagi penulis yang berpenghasilan puluhan juta perbulan. Tentu tak sedap bila penghasilan penulis ini dikomparasikan dengan pendapatan mereka dari royalti plus penjualan copyright.

 

Kesimpulan

Dari data-data itu, rezim HAKI peninggalan masyarakat industri yang sudah lapuk itu harus berpikir untuk merevisi teorinya.

Penerbit, toko buku dan distributor yang sedang menghadapi masa senjakala, perlu mengubah mindsetnya. Jangan menjadi kurcaci yang menangis di labirin, “Who moved my cheese”.

Tidak lama lagi, economic sharing model view perklik akan merambah dunia perbukuan. Buku cetak akan masih tetap laku untuk souvenir seperti untuk kado, penghias rak buku dan lain-lain. Karena itu cetak digital akan semakin laris. Dan kecenderungan ini kembali pada masyarakat pertanian, dimana buku hanya dicetak sangat terbatas karena masih ditulis dengan tangan.

Apakah pelaku buku di Jogja mau menjadi Don Quixote yang lapar dan merana ditinggal jaman? Hanya Kampung Buku yang bisa menjawab.

 

***Penulis adalah pelaku perbukuan yang sudah bertobat

53 Penerbit Indie Bakal Meriahkan KBJ 2017

Sebanyak 53 penerbit indie akan turut serta memeriahkan event Kampung Buku Jogja 2017. Hal ini diinformasikan dalam Technical Meeting Penerbit Indie yang digelar pada Senin, 18 September 2017 di Kafe Kendi.

Eka Putra selaku Penanggung Jawab Penerbit Indie, menjelaskan kepada para perwakilan penerbit indie yang hadir, perihal mekanisme dan detail acara dalam rangkaian KBJ. Adapun keikutsertaan penerbit indie dalam KBJ tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Pada penyelenggaraan KBJ 2016 sebanyak 22 penerbit indie yang yang turut serta. Sementara pada KBJ pertama, tahun 2015 baru 9 penerbit indie yang jadi peserta. “Ini jelas peningkatan yang signifikan sekali dari sebelum-sebelumnya. Ya walaupun beberapa baru punya dua judul, tapi kan tetap penerbit,”ujar Eka sambil terbahak. Adapun penerbit-penerbit yang baru pertama bergabung ke KBJ di antaranya, Art Music Today, Laras, dan Garudhawaca.

KBJ: Srawung Penerbit Indie

Penerbit Laras, Art Music Today, dan Garudhawaca adalah tiga penerbit indie yang baru bergabung ke Kampung Buku Jogja pada 2017. Perwakilan ketiga penerbit ini hadir dalam Technical Meeting Penerbit Indie di Kendi, Senin (18/09). Adapun ketiganya sama-sama menyepakati bahwa event KBJ sangat penting sebagai ajang silaturahmi dan kumpul-kumpul penerbit indie.

Jali dari penerbit Garudhawaca mengatakan bahwa pada penyelenggaraan pertama KBJ, penerbitnya belum ikut serta karena belum tahu perihal mekanismenya. “Nah ini yang ketiga akhirnya ada kesempatan untuk ikut serta, pastinya berterima kasih sekali bisa terlibat,”ujar Jali. Berdiri sejak 2010, penerbit Garudhawaca sudah mengahasilkan seratusan terbitan.

Sementara Michael dari penerbit Laras pun mengalami kendaa perihal informasi mekanisme keikutsertaan di KBJ tahun-tahun sebelumnya. “Terus kemarin ketemu mas Tio dari Pojok Cerpen baru tahu mekanismenya, baru bisa ikut tahun ini,” ungkap Michael.

Erie Setiawan dari penerbit Art Music Today pun mengatakan hal serupa. Lebih khusus lagi menurut Erie, event seperti KBJ amat penting untuk mengenalkan buku-buku dengan konten yang unik dan spesifik, salah satunya musik, yang diterbitkan penerbit Art Music Today. “ Saya tertarik ikut yang tahun ini karena tertarik dengan konten-kontenyanya yang memang unik-unik. Apalagi buku-buku indie itukan sangat spesifik ya. Beda dari trend pasar yang ada,” tambah Erie.

Bias Melihat Pasar Yang Sesungguhnya

Indra Ismawan, CEO Media Pressindo mengatakan bahwa saat ini hampir semua insan perbukuan Indonesia menganggap pasar buku di Indonesia sama dengan jaringan toko buku-toko buku besar seperti Gramedia. “Jadi kalau kita menyimpang dari apa yang biasa di Gramedia itu kayak keluar dari jalan keselamatan. Tapi kan kenyataannya tidak demikian,” ungkap Indra saat tampil sebagai narasumber Sidang Komisi Produksi, di Dongeng Kopi pada Kamis (15/09). Faktanya menurut Indra, para pelaku perbukuan tanah air bisa juga bergerak di luar jalur itu dengan pasar yang nggak kecil juga.

Masih menurut  Indra, buku-buku yang ada di jaringan toko buku besar saat ini banyak memasarkan buku-buku best seller yang cetakan pertamanya bisa mencapai 10.000 eksemplar. Kalau yang megabestseller bahkan bisa sampai 50.000 eksemplar. “Ambil contoh buku Happy Little Soul kemarin laku 150.000 eksemplar dalam waktu 1-2 bulan. Tapi kan ini contoh ekstrem aja. Dan kita seringkali terjebak menilai sesuatu dari sisi ekstremnya. Padahal kalau kita mau hitung rata-rata penjualan jaringan toko buku besar itu, untuk judul-judul standar dicetak dengan oplah 3000-6000 dan penerbit hanya berharap laris 60%. Nah sisanya 40% itu diputar di luar jaringan itu, dibawa ke pasar umum,” tambah Indra.

Indra kemudian menyebutkan bahwa pada kisaran tahun 2000-2003 buku-buku dicetak pada oplah 1000-1500 hanya karena sejumlah distributor berani mengambil dalam jumlah segitu. Kekuatan pasarnya kemudian dianggap segitu pula. Kenyataannya tidak demikian. Menurut Indra insan perbukuan sendiri sering kali bias melihat pasar yang sesungguhnya.