Jadwal Lengkap Kampung Buku Jogja 2019: 2-5 September 2019

Kampung Buku Jogja diselenggarakan selama 4 hari, 2 – 5 September 2019, di PKKH UGM. Puluhan narasumber baik personal maupun kelompok kami undang dalam perayaan buku ini. Kami juga mengundang berbagai kelompok musik untuk tampil di acara ini.

Seluruh acara yang kami susun disediakan untuk umum dan gratis, Anda bisa datang langsung. Untuk agenda workshop karena terkait kuota, kami membuat sistem pendaftaran.

Untuk informasi mengenai Kampung Buku Jogja, Anda bisa menghubungi kami lewat Mia – 0857-2968-5224 (WA)

Senin, 2 September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM
10.00 – 14.00 Workshop Penulisan Prosa oleh Mahfud Ikhwan
13.00 – 14.00 RANGKAIAN ACARA
Pembacaan Puisi Rendra oleh Kedung Darma Romansha
Orasi “10 Tahun Setelah WS Rendra Tiada” dan Pembacaan Puisi oleh Sitoresmi Prabuningrat
Pembukaan KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
14.00 – 14.30 Lelang Buku
14.30 – 15.00 Bursa Naskah
15.00 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: RASA Alternatif Model Epistomologi Lokal” oleh Ayu Utami, Host: Fitri Merawati
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Ayu Utami
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 21.00 Talk Show “Ngisruh Sejak dalam Pikiran” oleh Sabrang “Noe” Letto dan Iqbal Aji Daryono

Selasa, 3 September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM
10.00 – 12.00 Workshop Menulis Buku oleh Deepublish
13.00 – 17.00 Workshop Jogja International Literary Festival:
Kritik Sastra oleh Kris Budiman
13.00 – 15.00 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Saya Suka Buku” oleh Abinaya Ghina Jamela
Talk Show “Sejarah Pers Indonesia: 1945 – 1998” oleh FX Domini BB Hera dan Octo Lampito, Host: Dodit Sulaksono
15.00 – 15.30 Lelang Buku
15.30 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: Saya, Kura-Kura Berjanggut, dan Sejarah Aceh” oleh Azhari Aiyub, Host: Artie Ahmad
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Azhari Aiyub
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 20.00 Pertunjukan Musik Puisi oleh Anes, dkk.
20.00 – 21.00 Musik: Log Sanskrit

Rabu, 4  September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum “HAM dan Kewarganegaraan” oleh Prof. Purwo Santoso dan Ulya “Pipin” Jamson, MA
10.00 – 14.00 Workshop Penulisan Esai oleh Agus Mulyadi
13.00 – 15.00 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Dunia Penulis Yogyakarta” oleh Iman Budhi Santosa
Talk Show “Yang Asing di Kampung Sendiri: Kudus dalam Prosa Jurnalisme” oleh Zakki Amali dan Noor Syafaatul Udhma, Host: Impian Nopitasari
15.00 – 15.30 Bursa Naskah
15.30 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: Melantunkan Puisi, Menyampaikan Narasi” oleh Reda Gaudiamo, Host: Hamada Adzani
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Reda Gaudiamo
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 20.00 Musik: Reda Gaudiamo
20.00 – 20.30 Mimbar Bebas Puisi
20.30 – 21.00 Musik: Deugalih

Kamis, 5  September 2019

11.00 – 12.00 Pertunjukan Siswa-siswi Jogja Green School
13.00 – 15.30 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Buku dan Anak-anak Indonesia” oleh Setyaningsih
Pangalembana KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
Talk Show “Indonesia Sebelum dan Sesudah Kolonialisme” oleh JJ Rizal dan Hasan Basri, Host: Naufil Istikhari
15.30 – 16.00 Bursa Naskah
16.00 – 16.30 Lelang Buku
16.30 – 17.00 Mimbar Bebas Puisi
17.00 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 19.30 Penutupan KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
19.30 – 20.00 Musik: Mengayun Kayu
20.00 – 21.00 Musik: Dendang Kampungan

Indonesia: Sebelum dan Sesudah Kolonialisme

Kolonialisme pernah berkuasa dengan mengangkangi nyaris separuh dunia. Dengan misi “mulia”, bangsa Barat menduduki daerah yang dianggap baru, daerah tak berpenghuni (meski faktanya tidak). Christoper Columbus, misalnya, mendaku sudah menemukan sebuah daratan di seberang Inggris yang lantas diberi nama Amerika. Apa yang disebut pemberadaban pun mereka lakukan, meski nyatanya tak lain adalah penindasan.

Ferdinand de Magellhaen, seorang pelaut Spanyol, menemukan sebuah daratan yang disangka India, yang lantas dikenal sebagai Amerika Latin. Terus menembus daratan itu, mengarungi lautan teduh, lantas berlabuh di Filipina. Begitu pula dengan sekawanan Portugis yang mendaratkan sauh di Ternate pada abad ke-16. Dan, tentu saja, bangsa Belanda, perdana menjejak tanah Hindia pada 1596 di bawah pimpinan Cournelis de Houtman di Banten.

Belanda memiliki pertautan, sekaligus pertentangan yang kuat, dengan kita. Alasannya, Indonesia lahir dari rahim kolonialisme.

Ania Lomba dalam bukunya, Kolonialisme/Pascakolonialisme, menjelaskan bahwa, “Kolonialisme bukanlah suatu proses identis dalam berbagai bagian dunia yang berbeda tetapi di mana pun adanya selalu terjadi hubungan-hubungan yang paling kompleks dan traumatik dalam sejarah manusia antara penduduknya dengan para pendatang baru.”

Emilie di Jawa, novel karya penulis Perancis, Catarine Van Moppes, menceritakan tokoh Lucien Benieres dan Emilie, sepasang Prancis, yang mendapatkan tugas di tanah jajahan, yakni Hindia. Lucien, yang terpilih untuk menduduki poisisi penting di tanah jajahan pada era pasca-Tanam Paksa, pergi ke Leiden, Belanda, untuk menuntaskan pendidikan singkat sebelum berlayar ke Hindia. Pandangan tentang bagaimana “misi luhur” para kolonialis ini lambat laun mengubah wajah Hindia tampak dalam pernyataan seorang mantan pejabat kolonial kepada Lucien: “… kami berkewajiban menyebarkan dan memperkokoh iman Krisitiani, sekaligus mengukuhkan fondasi peradaban bagi orang Jawa yang kafir dan barbar itu. Ketahuilah, misi kami adalah misi suci.”

Meski tidak menyeluruh, petikan kalimat di atas menggambarkan adanya ketimpangan. Barat dan Timur. Timur selalu dianggap sebagai barbar, dan perlu diatur. Timr tak ubahnya adik kecil yang butuh sang kakak. Hingga, pada suatu masa (yang entah kapan jika negara-negara seperti Indonesia tak merebutnya), dijanjikan kemerdekaan.

Proses-proses kolonialisme yang selalu kompleks dan traumatik seperti kata Lomba itu acapkali dituding mengenyahkan khazanah pengetahuan lokal. Dampaknya, meski kita sudah 74 tahun merdeka, kita kehilangan identitas kita, kita tak mampu untuk mengingat “siapa kita dulu?” Apalagi setelah dua dekade bangsa ini membangun diri, lantas diluluhlantakkan oleh Orde Baru yang, sekali lagi, mengukuhkan kolonialisme.

Apakah kita mempunyai kebencian yang membabi buta bahwa semua yang Barat adalah iblis dan layak dienyahkan? Tentu saja tidak. Watak kolonialis memang mesti diberangus. Tetapi kisah-kisah persahabatan yang mengandung hibriditas, antara Indonesia dan Belanda, misalnya, juga harus didengungkan. Apakah, misalnya, tak ada kisah-kisah tentang luhurnya kemanusiaan selama lebih dari tiga abad? Dalam hal inilah penting kiranya bagi kita untuk membaca cerpen-cerpen karya Iksaka Banu.

Diskusi Indonesia: Sebelum dan Sesudah Kolonialisme pada dasarnya berbasi pada beberapa pertnayaan:

  1. Terkait pengetahuan, bagaimana pihak kolonial melenyapkan khazanah pengetahuan lokal kita? Bukankah ada pribumi yang pemikirannya serong ke Barat, dan ada yang sebaliknya?
  2. Meskipun kolonialisme dewasa ini tidak lenyap begitu saja dengan hadirnya Proklamasi 17 Agustus 1945, bagaimanakah bentuk-bentuknya mutakhir kolonialisme?
  3. Bagaimana kita mesti bersikap terhadap kolonialisme agar kita tidak terjebak hanya meromantisasi masa lalu?
  4. Bagaimana Orde Baru melakukan praktik kolonial?
  5. Dalam kasus mutakhir, apakah penjelmaan kolonialisme?

Kuliah Umum Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM di Kampung Buku Jogja 2019

Kampung Buku Jogja 2019 merupakan peristiwa literasi dan ruang diskursif bagi para pencinta buku dan masyarakat umum untuk merayakan buku dalam wujudnya sebagai bahan kajian dan sumber pengetahuan. Kali ini kami bermaksud membahas dan mendiskusikan aspek-aspek kemasyarakatan di Indonesia, seperti politik, sejarah, seni dan budaya, bahasa, dan wilayah geografis.

Dengan latar belakang sebagaimana tertera dalam proposal yang kami lampirkan, Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM mengadakan kuliah umum bagi mahasiswa reguler di departemen tersebut dan masyarakat umum yang berminat pada kajian-kajian politik. Kuliah umum dilaksanakan sebagai rangkaian acara KBJ 2019 di Gedung PKKH UGM.

Terdapat keterkaitan yang jelas di antara tema KBJ 2019, yaitu Menelisik Bilik-bilik Indonesia, dengan materi perkuliahan di DPP FISIPOL UGM, seperti HAM dan Kewarganegaraan, Sejarah Sosial dan Politik Indonesia, Analisa Politik Indonesia, Birokrasi, Pemilu, Perilaku Politik, dan lain-lain (sumber: htttps://palawa.ugm.ac.id).

KBJ mengajak DPP FISIPOL UGM untuk mengadakan kuliah umum di panggung utama KBJ 2019 pada jam 10.00 – 12.00 WIB yang disampaikan oleh staf pengajar DPP FISIPOL UGM. Kuliah umum tersebut dapat diikuti oleh publik agar ilmu pengetahuan senantiasa disebarkan seluas-luasnya dan kembali menjadi milik masyarakat.

Peserta Kampung Buku Jogja 2019

Kampung Buku Jogja 2019 diikuti oleh penerbit regular, penerbit indie, dan toko buku langka. Berikut ini daftarnya:

PENERBIT REGULER

  1. Buku Mojok
  2. Diva Press
  3. Diandra Primamitra Media
  4. Insist Press
  5. Jalasutra
  6. LKiS
  7. Media Pressindo
  8. Ombak
  9. Shira Media
  10. Solusi Buku/Solusi Distribusi
  11. Toga Mas
  12. Yayasan Pustaka Obor Indonesia
  13. Media Kreativa
  14. Gading Publishing
  15. Galang Press
  16. Forum
  17. Pustaka Alvabet
  18. Komunitas Bambu
  19. UII Press
  20. Amara Books

PENERBIT INDIE

  1. Art Music Today
  2. Djaman Baroe
  3. EA Books
  4. Gambang Buku Budaya
  5. Indie Book Corner
  6. Interlude
  7. Istana Agency
  8. IVAA
  9. Kendi Publisher
  10. Mata Bangsa/Mata Angin
  11. Nyala
  12. Pataba Press
  13. Pojok Cerpen
  14. Rua Aksara & Bening Pustaka
  15. Warning Books
  16. Deepublish
  17. Kentja Press
  18. Diomedia
  19. Cantrik Pustaka
  20. Resist Book
  21. Kakatua
  22. Octopus Publishing
  23. Nurmahera
  24. Katta/BukuKatta
  25. Papyrus Publishing
  26. Circa
  27. Antinomi
  28. Pustaka Saga
  29. Pelangi Sastra
  30. Marjin Kiri
  31. Trubadur
  32. Gorga
  33. Yayasan Kajian Musik Laras
  34. Warung Arsip
  35. Jual Buku Sastra
  36. Berdikari Book
  37. Natan Books

TOKO BUKU LANGKA

  1. Bagas Setia Wicaksana
  2. Bayu Nugrah
  3. Gerak Budaya
  4. Aik Nugraha
  5. Budi Saryanto
  6. Rusli AB
  7. Lentho
  8. Massa Aksi
  9. Aby Totok
  10. Reko Pambudi Prabowo
  11. Nurmahera
  12. Tantrayana
  13. Tokohitam
  14. Yus Pramudya Jati
  15. Gubuk Sastra

Kampung Buku Jogja 2019: Menelisik Bilik-bilik Indonesia

Pada tahun 2019 Kampung Buku Jogja (KBJ) menginjak usianya yang ke-5. Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 2015 sebagai salah satu upaya untuk merawat dan mengembangkan semangat keilmuan dalam dunia perbukuan di Indonesia yang melampaui perbincangan dan praktik perbukuan sebagai komoditas belaka. Kami mewujudkan keinginan tersebut dengan menjadikan KBJ sebagai kerja kolektif insan-insan perbukaun dan ruang diskursif bagi para pencinta buku untuk merayakan buku dalam wujudnya sebagai bahan kajian dan sumber pengetahuan.

Kami menyadari bahwa terdapat banyak hal yang dapat ditelisik dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Buku merupakan salah satu wahana yang menawarkan perspektif untuk penyelidikan tersebut. Oleh karena itu KBJ diusahakan menjadi sarana untuk mengkaji peristiwa yang sudah berlalu dan meneropong perkembangan yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan sosial. Dengan demikian KBJ turut mendorong dunia perbukuan untuk selalu berjalan beriringan dengan masyarakat.

Pada tahun ini kami bermaksud membahas dan mendiskusikan aspek-aspek kemasyarakatan yang dikaji oleh para peneliti, dinarasikan oleh para penulis, diterbitkan oleh insan-insan perbukuan, maupun dipertunjukkan oleh para penampil. Kami menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negeri yang sangat kaya dalam setiap bidang yang dimilikinya, seperti sumber daya alam, etnis, seni dan budaya, dan sebagainya. Kekayaan itu pula yang mendorong munculnya para peneliti, penulis, penerbit, penampil, dan kreator lainnya. Mereka menjadikan Indonesia sebagai sumber untuk diteliti dan dikaji kemudian hasilnya dikembalikan kepada pihak-pihak yang ingin mengetahui dan mengapresiasinya, termasuk masyarakat. Karya-karya yang dihasilkan dari pelbagai kajian itu pula yang turut menjadi faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan oleh pemerintah Indonesia.

Penelitian dan pengkajian tentang Indonesia sudah berlangsung sejak kolonialisme Belanda berlangsung di Tanah Air. Terdapat banyak peneliti berkebangsaan asing yang bergulat meneliti aspek-aspek dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak pula lembaga penelitian maupun perguruan tinggi di luar negeri yang didirikan untuk menaungi riset-riset tersebut. Kenyataan itu turut mendorong munculnya para peneliti dari dalam negeri yang menengok kembali Ibu Pertiwi sebagai sumber inspirasi, obyek riset, dan bahan kajian keilmuan mereka.

Dengan fondasi dan pemikiran itulah KBJ 2019 ingin menjadi tempat berlangsungnya diskusi-diskusi tentang keindonesiaan yang berbasis pada riset-riset keilmuan oleh para peneliti. Adapun spektrum yang melandasi pemilihan hasil-hasil  penelitian untuk dikaji dalam kegiatan perbukuan tersebut adalah bidang keilmuan yang mencakup aspek-aspek sosial di Indonesia, yakni politik, sejarah, seni dan budaya, bahasa, dan wilayah geografis.

Kami akan mendokumentasikan hasil-hasil diskusi dan perbincangan dalam KBJ 2019 supaya catatan dan diskursus yang berlangsung di dalamnya dapat tersampaikan kepada khalayak yang lebih luas. Dengan cara itu pula KBJ 2019 tetap menjadi kegiatan perbukuan yang berada dalam koridor kepentingan pengayaan wacana dan penyebaran informasi untuk masyarakat Indonesia.

Pengumuman Hasil Seleksi Kelas Esai bersama Bandung Mawardi

Kampung Buku Jogja menyampaikan terima kasih temen-temen yang telah mengirimkan karya esainya, sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Kelas Esai bersama Bandung Mawardi. Dari beberapa karya yang masuk, kami melakukan seleksi dan memutuskan nama-nama berikut berhak mengikuti kelas tersebut. Lanjutkan membaca Pengumuman Hasil Seleksi Kelas Esai bersama Bandung Mawardi

Pengumuman Hasil Seleksi Kelas Editing bersama Muhidin M. Dahlan

Kampung Buku Jogja menyampaikan terima kasih temen-temen yang telah mengirimkan karya esainya, sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Kelas Esai bersama Muhidin M. Dahlan. Dari beberapa karya yang masuk, kami melakukan seleksi dan memutuskan nama-nama berikut berhak mengikuti kelas tersebut. Lanjutkan membaca Pengumuman Hasil Seleksi Kelas Editing bersama Muhidin M. Dahlan