Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

I

Sumitro Djojohadikusumo berusia 21 tahun ketika ia bekerja sebagai pelayan restoran di Hotel Lancaster, tidak jauh dari Champ-Elysees, Paris. Di ibu kota Prancis itu pula ia pertama kali bertemu dengan Andre Malraux. Pertemuan di jalan de Berri itu sangat mengesankan bagi Sumitro karena ia mengagumi peran historis dan peran akademis Malraux, sosok yang menyatukan identitas aktivis, intelektual, sekaligus negarawan. Dalam perkataan maupun tindakannya, Malraux tidak pernah menganjurkan l’action pour l’action, perbuatan demi perbuatan. Di semua kegiatan dan karya tulisnya, ia selalu menegaskan perihal martabat manusia dan keadilan sosial. “Malraux itu l’homme engage,” ujar Sumitro, “manusia yang berpihak dan sepenuhnya mengabdikan diri pada upaya mempertahankan martabat manusia dan keadilan dalan konteks sosialnya.”

Lanjutkan membaca Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

Bertemu Seno Gumira Ajidarma

 

Konon katanya orang pintar adalah orang yang mampu mengubah sesuatu yang rumit menjadi sesuatu yang sederhana dan orang di samping saya ini adalah contohnya. Dalam sebuah acara talk show yang diinisiasi oleh Mizan dan Kineruku, datanglah SGA ke Bandung dan saya turut hadir sekedar untuk berjumpa, minta tanda tangan dan berfoto bersama (rasanya saya lama sekali tidak melakukan hal itu lagi: sekadar menjadi pembaca yang ngefans dengan penulis idolanya). Bertahun-tahun perkenalan saya dengan karyanya pertama kali di kota Jogja dengan sebuah buku yang juga bukan milik saya, malahan saya cuma nemu buku Penembak Misterius di ruko tempat saya tinggal, Seno Gumira Ajidarma membuat saya pertama kali menyenangi karya cerita pendek dan lebih jauh bahkan mengajari saya menulis.

Lanjutkan membaca Bertemu Seno Gumira Ajidarma

Arif Abdulrakhim, Manusia Buku Jogja

Saya mengenal Mas Arif Abdulrakhim a.k.a Arif Doelz di suatu sore di kantor Galang Press di Baciro pada 2003. Rapat besar penerbit Jogja hari itu menjadi awal perkenalan nyaris semua orang buku di sana dengan sosok pimpinan Toko Buku Toga Mas Gejayan itu. Penyambung perkenalan itu adalah Pak Julius Felicianus, Boss Galang Press.

Lanjutkan membaca Arif Abdulrakhim, Manusia Buku Jogja

Bertemu Muhidin M Dahlan

Syahdan. Suatu hari saya dihadiahkan sebuah buku oleh pacar saya. Maklum, sebagai lelaki romantis, saya memang sering kali diberi hadiah. Hadiah itu cukuplah dibarter dengan sebait puisi atau sebuah perilaku baik. Pacar saya waktu itu baru saja berkunjung ke pameran buku, lalu dapatlah ia sebuah buku obral. Mungkin dalam hati dia berpikir buku ini cocok buat saya. “Aku Buku dan Sepotong Sajak Cinta”. Judul buku ini sungguh manis. Si pacar mungkin berharap usai membaca saya akan menghadiahkannya sepotong saja cinta. Alih-alih manis. nanti saat membacanya, saya tahu buku ini penuh berisi kisah nelangsa kegetiran.

Lanjutkan membaca Bertemu Muhidin M Dahlan

Bakkar Wibowo–Satu Kata Dalam Desain Buku: Clean!

bakkar wibowo

Satu kata dari Om Bowo; Clean!

Pada mulanya adalah cover. Sebuah buku bicara kepada saya lewat isyarat, tentang sosok Bakkar Wibowo. Saya dikenalkan olehnya lewat Sartre (Pengantar Teori Emosi). Sebelum kemudian, Mas Adhemengajak menemuinya secara langsung disebuah acara Pasar Buku Indie yang diadakan awal tahun 2015 di Togamas Afandi Jogja.

Awalnya saya sempat mengira, Bakkar Wibowo adalah semacam aplikasi. Yang hidup dalam ruang imajinasi sebuah apartemen di utara, mengurai setiap bab pada sebuah naskah menjadi formula gambar utuh sebagai baju. Ternyata salah. Ia manusia yang saat menuang isi botol bir ke dalam gelas penuh es batu, seelegan menuang warna pada sketsa mentah.

Selanjutnya, kami memang jarang bertemu. Sebagai pemilik usaha kaos SweetCabe, kesibukannya membawa ia harus bolak balik luar negeri. Ia tidak banyak punya waktu di Jogja, kecuali sedang kangen lotek atau nostalgia tentang suasana kos masa lalu dengan Mas Adhe.

Tapi saya tidak peduli, saya memanfaatkan waktu-waktu luangnya itu. Mendengar percakapan-percakapan tentang cover buku. Serta bagaimana mengemas produk agar buku tidak sekadar punya nilai jual, tapi juga nilai privat. (Bagian ini selaku disukai Paman Arif Doelz. Perkara nilai jual nilai guna).

Semacam kita ingin memiliki secara utuh dan penuh sebuah buku tanpa terpikir melepas atau menjualnya. Membuat kita rela ‘kelaparan’ daripada harus melepas ke tangan yang lain. Ini ilmu yang hanya akan diperoleh di ruang bebas bercanda. Bukan di kelas.

Dari pelajaran-pelajaran kecil itu, saya menangkap satu hal yang sering ditekankan. Clean. Katakanlah perlunya sebuah cover terasa bersih. Tidak banyak tetek bengek. Entah disadari atau tidak olehnya, pola clean pada cover kemudian OAK terapkan di naskah Dostoevsky. Lewat sentuhan tangan Winarsho Nugroho.

Suatu sore, ia mampir ke stand pameran Festival Kesenian Yogyakarta. Sesaat setelah mendarat dari Singapura. Saya lantas loncat mengambil buku Dosto, untuk memperlihatkan hasilnya. Ia tersenyum sambil manggut-manggut. Saya cukup paham; ia puas.

Nb; beliau adalah orang di balik karya Pramoedya. Edisi Lentera Dipantara seri perempuan; Larasati, Midah Bergigi Emas, dll.[]
[custom_author=Eka]