Melihat Madura yang Tidak Tunggal

Kadir adalah seorang aktor yang komikal. Logat Madura-nya yang medok dan selalu bilang taiyek di ujung kalimat, selalu mengundang tawa para penonton teve kisaran 1990-2000. Cukup sulit mencari wajah lain dari Madura yang bisa sekuat Kadir di media arus utama kala itu. Anak muda sekarang mungkin mengenal Tretan Muslim sebagai wajah Madura di teve atau YouTube. Ia, seperti Kadir, adalah seorang pelawak dari Madura yang menggunakan Madura sebagai persona. Lanjutkan membaca Melihat Madura yang Tidak Tunggal

Eksplorasi Kematian di Karya-karya M. Fudoli Zaini

M. Fudoli Zaini sebagai cerpenis tak banyak dibicarakan orang. Tidak seperti Danarto maupun Kuntowijoyo. Padahal secara kualitas, menurut Hairus Salim HS, tidak sedikit karya Fudoli yang sebanding bahkan melebihi karya keduanya. Meski pernah ikut mewarnai majalah sastra bergengsi seperti Horison, nyatanya nama Fudoli masih jarang tersebut di perbincangan sastra tanah air. Hairus Salim menduga hal tersebut dikarenakan Fudoli tak pernah mengikuti geliat acara sastra maupun politik sastra yang mengiringinya. Lanjutkan membaca Eksplorasi Kematian di Karya-karya M. Fudoli Zaini

Literasi Madura dalam Jebakan Sentimen Primordial dan Solipsisme Subjek Cartesian – Pengantar Singkat “Musyawarah Literasi Muda Madura”

Oleh: Taufiqurrahman

Anggap saja ini judul berita di sebuah surat kabar: “Madura Menjadi Tamu Kehormatan di KBJ Tahun Ini”. Dari sudut pandang sintaksis, kalimat itu tidak bermasalah. Ia sudah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah kalimat sempurna. Ada subjek (Madura), predikat (menjadi), objek (tamu kehormatan), dan keterangan (KBJ tahun ini) yang membuat relasi sintaktis yang baik dan benar, sehingga kalimat yang disusunnya juga benar secara formal.

Namun, berdasarkan logika-semantik, kalimat tersebut sangat problematik—persis di satu kata: ‘Madura’. Apa arti kata ‘Madura’ dalam kalimat itu? Lanjutkan membaca Literasi Madura dalam Jebakan Sentimen Primordial dan Solipsisme Subjek Cartesian – Pengantar Singkat “Musyawarah Literasi Muda Madura”

Standar Viral yang Jahat Bagi Penulis

Sosial media menjadi faktor yang menentukan bagi perjalanan kepenulisan Iqbal Aji Daryono dan Agus Mulyadi. Keduanya mendapatkan gaya menulis dan riuh pembaca dari sosial media. Terkhusus bagi Agus, menulis di blog juga turut memberi pengaruh. Iqbal dan Agus adalah dua orang yang boleh jadi saat ini menjadi perwajahan bagaimana menulis di sosial media, pada gilirannya, menjadi sebuah proses menulis kreatif yang tidak bisa dianggap sepele. Kini, orang-orang tak harus membaca tajuk rencana maupun kolom opini di surat kabar untuk mencari esai yang mangkus berisi perspektif alternatif tentang suatu permasalahan.

Meski demikian, perubahan karakteristik pembaca ini hadir bersamaan dengan perubahan hubungan kritik dan otokritik penulis. Apalagi jika kemudian standar moral yang ditaruh penulis selalu tidak jauh dari viral atau tidaknya sebuah tulisan. Lanjutkan membaca Standar Viral yang Jahat Bagi Penulis

Saya & Buku – Orasi Irfan Afifi di Kampung Buku Jogja #4 2018

Saya mungkin seorang yang—atau mungkin juga sebagian warga Kampung Buku Jogja yang dengan gegap gempita masih merayakan pemeran buku KBJ#4 2018—dengan cara yang sedikit sentimentil terlalu terserap dan terjerat begitu kuat ke dalam buku dan pernak-pernik peliknya. Hingga bahkan untuk keluar dari belitannya, saya atau kita merasa tak mampu. Awalnya belitan itu kita datangi sebagai ujud rasa cinta, yakni dengan membenamkan diri dalam aktivitas membaca juga sedikit rasa ingin tahu menjelajahi semesta pengetahuan yang kita rasa akan mengantarkan pada sebuah “pencerahan” yang bisa menggusah kebodohan juga rasa ingin tahu kita. Lanjutkan membaca Saya & Buku – Orasi Irfan Afifi di Kampung Buku Jogja #4 2018

Tentang Pilihan: Pidato Puthut EA Dalam Penganugerahan Pengalembahan Kampung Buku Jogja 2017

Seandainya hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, saya memilih hanya menjadi seorang penulis saja. Tidak melakukan hal lain. Tidak membuat media, tidak melakukan penelitian, tidak berbisnis, tidak melakukan sekian hal lain, yang tak ada hubungannya dengan permenungan, mengolah kata, menyusun kalimat, menciptakan alur, membangun tokoh, dan menambatkan diri sepenuhnya dalam dunia imajinasi.

Tapi hidup ini tak sepenuhnya pilihan bebas. Kita semua punya keterbatasan, kadang dipaksa oleh keadaan, acapkali disabotase oleh hal lain yang mau tidak mau menciptakan gangguan. Hingga pada akhirnya, gangguan itu harus dikerjakan.

Kalau hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, saya hanya ingin di sela-sela menulis, membaca banyak buku. Sebanyak mungkin. Sebab membaca memberikan kenikmatan yang nyaris sempurna bagi saya. Bau kertas, ketenangan, semilir angin, keheningan, membuat membaca buku menjadi kenikmatan yang nyaris paripurna. Semua yang serba dianggap baik, pernah dicap sebagai candu. Agama. Sekolah. Mestinya juga buku.

Tapi adakah kebebasan yang sempurna? Adakah hidup yang lengkap? Atau jangan-jangan apa yang dianggap kesempurnaan itu sebetulnya tidak ada? Kehidupan ini justru mendekati paripurna karena kekurangannya, ketidaklengkapannya, keganjilannya, keterasingannya, dan perasaan yang tidak nyaman dan tak jenak.

Mungkin seperti cerpen atau novel. Kisah yang tak pernah lengkap. Patah-patah. Gerowong. Namun justru dalam lubang, jeda, dan bolong itulah, pembaca membuat tali penyambung sendiri, menjahit sendiri, menutup semua dengan kapasitas masing-masing. Kalau karya itu pepak, penuh, lengkap, justru di sana pembaca dikerangkeng, dimasukkan ke goa tertutup, dipenjara.
Dengan kaidah yang sama itulah, saya justru mulai percaya, bahwa jangan-jangan mereka yang percaya betul bahwa hidup ini adalah pilihan bebas, akan terjerat di dalamnya. Kisah tanpa emosi. Tanpa drama. Sebab tak ada yang patah dan terbata-bata. Tak ada yang tersengal. Kisah yang mungkin akan lancar dibaca tapi tidak membentangkan layar imajinasi, menutup ceruk dialog, mirip sebuah kapal mewah yang hanya dibiarkan tertambat di sebuah teluk yang indah. Tapi tidak berlayar ke mana-mana. Tidak pernah digulung badai. Tak pernah tersesat. Belum mengalami kandas karena salah menghitung surut air. Hampir putus asa karena mati mesin dan patah kemudi.

Para penulis besar, seingat saya, datang dalam situasi yang sulit. Tapi sekarang ini kita sering mendengar beberapa orang mengeluh tidak bisa menulis karena tidak punya uang. Padahal sebagian karya tulis hebat datang dari situasi batin yang tertekan, kehidupan yang guncang, kondisi sosial yang runyam, keadaan ekonomi yang buruk, kebebasan yang terenggut.
Mungkin banyak di sekitar kita yang merasa tidak bisa menulis karena tidak didukung oleh kecukupan finansial, kekurangan waktu. Tapi perhatikan bagaimana mereka tetap tidak menulis ketika uang berlimpah, dan punya waktu berlebih.

Atau, mereka tak kunjung menerbitkan karya karena merasa karya mereka belum sempurna. Hingga akhirnya karya yang tak sempurna itu makin tak sempurna karena tidak diterbitkan. Mereka lupa bahwa tidak mungkin manusia yang serbakurang dan tak sempurna ini menghasilkan karya yang sempurna.
Atau sebaliknya, karya-karya yang melimpah namun hanya dibaca seperti menempuh perjalanan di jalan tol yang luas dan sepi. Lancar. Lempang. Kencang. Sehingga tidak terasa geronjal kehidupan, tikungan emosi, tanjakan yang susah dilalui.

Jika hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, maka saya memilih menjadi penulis saja. Tidak mau mengerjakan yang lain.

Tapi justru karena itulah, maka saya tetap menulis. Tetap mengerjakan yang lain. Karena geronjal jalanan dalam berkarya itulah, yang membuat karya saya tidak sempurna, yang justru bisa mengatakan dengan jujur: beginilah hidup ini. Kehidupan yang harus kita jalani. Kehidupan yang penuh lecet dan daki.
Sebab karya tulis dihadirkan, bukan untuk menyempurnakan kehidupan manusia.

Tapi saya menyadari penuh bahwa saya juga bukan sepenuhnya orang yang di keseluruhan sendi kehidupan ini, tidak bisa memilih. Pada banyak hal, dengan penuh rasa syukur, saya bisa memilih. Di antara sederet kemerdekaan pilihan itu, tentu saja saya mensyukuri bisa memilih menjadi seorang penulis. Dan pilihan yang lain yang selalu saya syukuri juga adalah memilih menetap di Yogya.

Tinggal di Yogya hanya bisa dirasakan dan mungkin dijelaskan oleh orang-orang yang memilih tinggal di sini. Hanya orang yang memilih tinggal di Yogya pula yang bisa menjelaskan kenapa lembaga seperti Akademi Kebudayaan Yogya dulu bisa ada. Mojok bisa muncul. Indie Book Corner bisa tumbuh. Indonesia Buku bisa bertahan. Bentang Budaya pernah diinisiasi. Insistpress Publisher tetap berjalan. Penerbit Buku Baik tetap ingin menjalankan kegiatan di dunia perbukuan sekalipun orangnya sudah menjadi direktur Biennale Jogja. Puluhan penerbit setiap tahun tetap muncul sekalipun ada puluhan yang juga mati. Dan KBJ (Kampung Buku Jogja 2017) bisa dihelat sampai 3 kali.

Di sini, di Yogya, kebergegasan tidak selalu dilawan dengan kelambatan.
Kota ini memang tumbuh makin pikuk, makin ruwet, dan makin macet. Tapi akan selalu muncul orang-orang yang selalu melawan kemacetan pikiran, dengan segala keterbatasan.

Seperti karya tulis, keterbatasan itu ada, bukan untuk menyempurnakan manusia. Tapi meneguhkan bahwa begitulah manusia. Dengan cara yang serupa itulah, dia bertahan hingga lolos dari kepunahan. Setidaknya sampai sekarang.

Teks Lengkap Pangalembahan Kampung Buku Jogja 2017

Kisah Sang Kepala Suku di Ranah Buku
Oleh Adhe

Pada tahun 1998 saya dan para mahasiswa lainnya dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sering berjalan kaki dari Karangmalang, lalu melintasi sungai kecil di Lembah UGM, dan akhirnya tiba di Boulevard UGM. Kami melakukannya untuk bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut Soeharto untuk mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Kami yang berasal dari kampus keguruan tahu bahwa di pelataran Fakultas Filsafat UGM berdiri tenda-tenda yang setahu kami menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP). Di Karangmalang, kami mulai sering mendengar nama pemimpin komite tersebut. Dia memang aktivis pergerakan mahasiswa.

Pada suatu hari di tahun yang sama, saya dan beberapa orang lainnya dari Karangmalang diajak oleh Edi Sutopo, Pemimpin Umum LPM Ekspresi dan pemimpin kelompok mahasiswa yang getol menentang Orde Baru, menuju sebuah rumah di Pogung yang menjadi markas KPRP. Kami meminjam video-video aksi-aksi demontrasi mahasiswa pada mereka. Saya sudah lupa nama orang yang meminjami kami film-film itu. Yang jelas, di rumah itu pula saya melihat Sang Ketua KPRP sedang berbincang dengan temannya sambil asyik merokok.

Sang Ketua itu saya temukan lagi di koran-koran minggu di tahun-tahun yang tak berjarak lama setelah Soeharto tumbang. Saya membaca cerita-cerita pendek yang ditulisnya di pelbagai surat kabar. Di Karangmalang, kami semakin sering menyebut namanya karena dia adalah salah satu penulis yang membuat kami cemburu. Dia produktif. Tulisan-tulisannya juga bagus menurut kami. Di LPM Ekspresi, tulisan yang bagus dari orang di luar kami adalah karya yang bikin kami panas hati.

Pada November 1999, saya dan Anas Syahrul Alimi, bekas Pemimpin Umum LPM Ekspresi, mendirikan Penerbit Jendela. Saya dan Anas sebelumnya bersama-sama bekerja di Divisi Media Watch LP3Y. Saya berada di lembaga yang dipimpin oleh Ashadi Siregar itu selama lebih dari satu tahun. Anas sendiri lebih dulu keluar dari sana karena memilih untuk menjadi reporter Radar Jogja. Saya baru benar-benar keluar dari sana ketika Penerbit Jendela didirikan, dan ketika akhirnya kami mengajak Wawan Arif Rahmat, mahasiswa dan pegiat teater di Universitas Diponegoro Semarang, untuk bergabung.

Di masa awal Jendela, saya mengenal Helmi, mahasiswa FISIPOL UGM yang mengelola penerbit Sumbu. Dua nama pun saya temukan di deretan buku-buku terbitan Sumbu: Eka Kurniawan dan Sang Ketua KPRP. Nama yang pertama biasanya menjadi penerjemah naskah-naskah sastra terbitan Sumbu. Sedangkan nama yang kedua muncul dari buku kumpulan cerita pendek berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci.

Wawan Arif Rahmat sudah tidak ada di Jendela ketika saya dan Anas akhirnya berhubungan langsung dengan “kelompok UGM” dalam keriuhan penerbitan buku dan media alternatif di awal dekade 2000-an. Kedekatan itu dimulai karena kawan-kawan kami di Karangmalang, yaitu Faiz Ahsoul dan Hasta Indriyana, bergabung dengan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), sebuah komunitas yang bermula dari program kebudayaan bikinan INSIST.

Di masa AKY, saya adalah orang penerbitan yang mengenal penulis-penulis muda yang penuh semangat, termasuk Eka Kurniawan dan Sang Ketua KPRP. Saya sangat sering main dan diajak membantu kerja-kerja mereka. Saya bahkan pernah memandu diskusi sastra di AKY karena diminta oleh mereka.

Kedekatan itu pula yang mendorong lahirnya kerja sama AKY dan Jendela. Media alternatif bikinan mereka, On/Off, diproduksi dengan mesin cetak Toko di kantor saya di Jalan Gejayan. Ini adalah media indie yang tumbuh bersama dengan Kunci, Clea, Blank! Magazine, Outmagz, dan lain-lain. Sang Ketua KPRP selalu rajin menulis catatan editorial untuk On/Off. Tulisan ringkasnya yang menggelitik itu dimuat di rubrik “Zlink!” Belakangan saya tahu dari Eka Kurniawan bahwa Sang Ketua KPRP juga pernah menjadi penerbit media bernama Ajaib.

Ramainya media alternatif yang tumbuh bersamaan dengan rumah-rumah penerbitan buku alternatif itu pula yang membuat saya mengenal lebih banyak orang-orang yang bergiat di komunitas. Selain media-media cetak, saya menyaksikan tumbuhnya situs-situs web yang menarik dari Jogja, seperti Pabriktontonan.com. Kunci.org, Komikaze.net, Bumimanusia.or.id, dan lain-lain. Tak heran bila saya sendiri lantas terdorong untuk membuat media bernama Koin, sebuah newsletter tentang komik yang di edisi pertamanya memuat pula komik dua panel bikinan Eka Kurniawan.

AKY terus bergerak melalui aktivitas kajian, penulisan, penerbitan, pertunjukan, dan acara-acara kesusastraan. Penerbit Jendela diajak pula ketika mereka mengadakan diskusi besar bertajuk Pram dan Kita yang menghadirkan Pramoedya Ananta Toer, Gus Dur, Gadis Arivia, dan Taufik Rahzen. Setahu saya, AKY adalah pihak yang pertama kali membawa lagi Pram untuk hadir di hadapan publik dalam sebuah perjumpaan fisik. Gedung UC UGM, tempat penyelenggaraan acara itu, penuh sesak oleh peserta diskusi.

Seusai acara, saya diminta oleh Faiz untuk menyetir mobil dan membawa Pram ke penginapan. Saya sangat senang melakukannya, sungguh pengalaman yang luar biasa. Kebahagiaan saya itu tentu juga dirasakan oleh semua orang yang hadir menyaksikan Pram dan Gus Dur secara bersamaan dalam sebuah acara. Dan itu semua adalah upaya yang berhasil dilakukan oleh AKY yang setahu saya koordinatornya adalah Sang Ketua KPRP.

Di masa AKY pula lahir novel-novel bikinan penulis-penulis muda yang luar biasa. Dua di antaranya terbit melalui kerja sama dengan Penerbit Jendela, yaitu Peta yang Retak karya E.M. Ali dan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Saya sendiri sudah membawa Cantik Itu Luka sejak bahannya masih berupa fotokopian tebal yang kemudian saya tunjukkan ke Anas di Jalan Gejayan. Sejak itu pula saya pikir AKY adalah kantung sastra yang penuh magma.

Di fase puncak kedekatan AKY dan Penerbit Jendela, saya meminta cerpen-cerpen karya Sang Ketua KPRP itu untuk saya terbitkan. Dia menyetujuinya. Tak lama kemudian, Jendela menjadi penerbit kedua yang merilis karya dia. Setelah Sumbu menerbitkan Sebuah Kitab yang Tak Suci, maka Jendela menerbitkan Sarapan Pagi Penuh Dusta. Dia melengkapi barisan penulis muda yang dirilis Jendela: Hasta Indriyana, Satmoko Budi Santoso, Raudal Tanjung Banua, Eka Kurniawan, dan seterusnya.

Dari pola-pola yang terjadi sebagaimana saya ceritakan di atas, saya pikir tumbuhnya penulis-penulis muda yang hebat itu berhubungan pula dengan maraknya rumah-rumah penerbitan alternatif di Jogja. Bahkan Sang Ketua KPRP sendiri sempat membangun penerbitan buku bernama Gelombang Pasang.

Aktivitas Sang Ketua KPRP di ranah kreatif menjadikannya salah satu kreator paling produktif di angkatannya. Dia terus-menerus menulis sastra. Dia merilis buku-buku non-fiksi. Dia menjadi penerbit buku. Dia aktif di AKY. Dia mengelola On/Off. Bahkan karya-karyanya diterbitkan pula oleh penerbit-penerbit lainnya, termasuk Labuh yang merilis ulang dua buku pertamanya dari edisi Sumbu dan Jendela. Karya-karya dia juga kemudian diterbitkan oleh INSIST Press, sebuah divisi penerbitan dari rahim INSIST. Sedangkan jejak aktivitasnya dalam mendidik orang-orang baru di ranah kepenulisan dapat dilihat dari upayanya membangun dan mengelola KBEA, sebuah kolektif gagah di era digital karena melahirkan Mojok.co dan situs-situs web hebat lainnya. Penerbitan dia lainnya adalah EA Book dan Buku Mojok.

Sosok yang saya sebut sejak awal itu sudah banyak memberi kontribusi bagi dunia literasi. Dia menghasilkan karya-karya berupa tulisan yang dibaca khalayak. Dia mengorganisasi komunitas-komunitas independen yang berisi orang-orang muda. Dia menerbitkan media cetak dan buku cetak melalui rumah penerbitan yang dia bikin dan dia kelola secara sendirian maupun dengan kawan-kawannya. Dia bekerja di ranah literasi sejak ia memutuskan bahwa pilihan hidupnya adalah menjadi penulis, sebagaimana ia sudah memulainya ketika ia masih berseragam SMP namun tulisan-tulisannya sudah dimuat di majalah-majalah berbahasa Jawa, yaitu Panjebar Semangat dan Jayabaya. Dengan semua caranya itu, dia sudah menumbuhkan banyak sekali pembaca, sesuatu yang tidak dilakukan oleh banyak orang di Indonesia.

Ketika Menulis dan Membaca Sudah Tidak Seperti Dulu Lagi
Oleh Irwan Bajang

Dunia terus berubah. Hanya yang mampu, membaca tanda zamanlah yang kelak akan bisa berbenah, mengubah jalan tanpa harus menolak takdir, masuk menjadi bagian penting dari segenap perubahan itu. Bergabung dalam irama dan detak zamannya.

Ia seperti peracik ramuan, dunia baru laksana laboratorium baginya. Ketika media berubah, waktu berubah, cara membaca berubah, maka seharusnya model produksi teks dan bacaan, cara penyebaran semestinya ikut ganti haluan. Barangkali ia berpikir seperti itu.

Meski bukan yang pertama, bukan pula satu-satunya, ia membuat sebuah formula, di mana nanti formula ini kemudian diterima, dan memberi perubahan cara menulis dan membaca yang signifikan bagi banyak orang di Indonesia. Bagi banyak penulis dan pembaca.

Sebab ia bukan ilmuwan, maka formula ini bukan racikan obat yang bisa mengubah drastis dan mengobati  banyak orang. Ia kemudian tidak melulu dipuji dan dicintai, tapi juga dibenci dan dinyinyiri. Akan banyak yang tidak suka dan tidak setuju, akan banyak yang nyinyir dan meledeknya. Tapi baginya, sekali niat ditancapkan, pantang pulang sebelum tumbang.

Ia adalah penjudi, maka ia tahu semua punya risiko, kalah dan menang adalah keniscayaan, sebagai mana suka dan tak suka adalah dua mata koin yang tak bisa dipisahkan.

Setidaknya ia telah mencoba memberi cara baru berpikir dan menghadapi gagasan serta wacana yang tiap saat datang padanya, juga datang pada banyak orang di sekelilingnya.

Ia penulis yang cepat. Konon di masa belajarnya, satu tulisan harus selesai sekali duduk. Harus rampung tanpa jeda. Jika tidak, tulisan itu sudah gagal sejak awal, layak dihapus dan ditinggalkan, tidak bisa diselamatkan.

Ia mencoba formula itu. Ia pernah menulis seperti itu, dan masih hingga sekarang. Ia pernah mengelola banyak media rintisannya dan kawan-kawannya, dan semangat itu tidak pernah padam hingga kini.

Maka ia membuat sebuah media baru. Media yang ideal baginya. Media yang ia ujicobakan layaknya melempar kartu atau dadu ke meja judi, atau menjalankan bidak, menteri, benteng, pion, kuda-luncur di papan catur. Ia bekerja terukur, sebab ia tahu, setiap langkah penuh jebakan dan kemungkinan.

Medianya ini kemudian bisa dibilang sangat berhasil, menjadi rujukan cara menulis baru di era kiwari ini. Ia merancang alat dan tempat produksi, menjadikan segala sesuatunya cepat, tapi tidak jadi terburu-buru dan terkesan tergesa.

Ribuan penulis datang, menyerahkan naskah dan mendapat bayaran yang pantas baginya, cepat juga cairnya. Ia tahu, sebagaimana ia di masa dahulu, menulis adalah kerja, dan setiap kerja layak diganjar hasil segera. Penulis mendapatkan bayaran yang pantas, sebaran tulisan yang terukur dan memuaskan pula bagi meteka. Penulis senior menulis di sana, ratusan penulis baru muncul dan mulai membangun karier serta popularitasnya, di dan dari media itu.

Banyak media yang menjadi epigonnya, tapi kreator sejati tahu, ia tetap berdiri teguh sebagai sang pelopor.

Sebagaimana agitasi dan propaganda ketika jadi aktivis zaman dulu. Ia tetap berkeliling, menjadi pejalan, menemui banyak orang di luar sana, menjangkau kota dan desa untuk memberi pelatihan, berbagi cara dan cerita dalam menulis, mengajak orang bergembira dan berbahagia, merayakan gagasan dengan cara yang unik dan menyenangkan.

Ia bersama pasukannya bahkan mengumpulkan para pembaca, mengajaknya bertemu langsung dengan para pesohor dunia literasi, mengajak semua belajar seperti minum langsung pada sumber mata airnya.

Kecintaanya pada buku, buku cetak konvensional tak pernah padam, meski dunia digital menjadi kesehariannya saat ini. Ia perlahan berhasil mengawinkan kekuatan di dunia maya yang ia bangun, menjadikannya pelan-pelan seiring sejalan, berbanding lurus perlahan. Buku-buku yang keluar dari rumah produksinya perlahan muncul sebagai judul-judul dari penulis-penulis yang layak diperhitungkan.

Begitulah.

Membangun sesuatu berdasarkan cinta kasih dan kesenangan, kelak akan membawamu pada petulangan baru yang barangkali pernah kau bayangkan tapi tak tahu bagaimana kau wujudkan. Waktu kemudian menuntunmu, sebagai mana menuntun tokoh kita ini pada temuan dan capaiannya saat ini.

Dengan penuh cinta kasih, ketulusan, ia bekerja, berbagi, mengajak bersama orang-orang untuk menghidupkan dunia literasi yang kita sayangi ini.

Berbekal semboyan, yang barangkali—patut kita duga—sebagai saripati permenungan dan laku hidupnya selama ini; Sedikit Nakal Banyak Akal, ia membuktikan dirinya telah bekerja, memberi banyak pada kita semua.

Biografi Puthut EA
Begitu hijrah ke Yogyakarta untuk belajar secara formal di Fakultas Filsafat UGM, ia langsung terlibat aktivitas politik. Pada awal tahun 1998, ia ikut mendirikan sebuah komite pergerakan bernama Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP). Di lembaga tersebut, ia dipercaya memegang kepala divisi Pendidikan dan Propaganda. Pada saat itulah ia menginisiasi pembuatan buletin Bongkar, sebagai ganti atas selebaran-selebaran politik yang hanya melulu berisi kalimat-kalimat agitasi, dengan penjelasan-penjelasan politik yang lugas, gampang, dan mudah dibaca, dengan jumlah halaman yang lebih tebal dari selebaran pada umumnya yang hanya selembar, dengan oplah yang lebih banyak, dan dengan sistem distribusi yang lebih baik. Tidak lama kemudian, ia dipercaya menjadi Sekretaris Jendral lembaga tersebut, dan hanya dalam beberapa bulan kemudian, diangkat menjadi Ketua Umum. Bersama beberapa temannya di berbagai kota di Indonesia, ia ikut mendirikan sebuah organisasi mahasiswa tingkat nasional dengan nama Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Pada akhir tahun 2000, ia mengundurkan diri dari gerakan mahasiswa, dan menekuni dengan serius dunia menulis, terutama menulis prosa.

Bersama sahabatnya, Coki Nasution, ia membuat buletin sastra Ajaib. Ketika kemudian Coki hijrah ke Timor Leste untuk ikut membantu kawan-kawannya di sana mengisi proses kemerdekaan, Puthut kemudian bergabung ke dalam Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) yang merupakan salah satu lembaga di bawah naungan INSIST. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2001. Selama di AKY, bersama teman-temannya, Puthut membuat jaringan penulis dan komunitas kreatif di berbagai daerah, membuat media alternatif ON/OFF, membuat berbagai proyek penelitian dan penerbitan buku. Di keluarga INSIST itulah, Puthut terlibat berbagai proyek penelitian dan belajar menjadi pemandu berbagai pelatihan. Pada tahun 2006, ia mundur dari AKY kemudian ikut menginisiasi pembuatan komunitas Tandabaca. Sekarang aktif di LSM Indonesia Berdikari.

Selain menulis cerita pendek dan novel, ia juga menulis naskah drama. Karya dramanya berjudul Orang-orang yang Bergegas, dipentaskan di enam kota di Pulau Jawa dengan sutradara Landung Simatupang dan Puthut Buchori. Ia juga membuat prosalirik dengan judul Tanpa Tanda Seru, yang dibacakan oleh Landung Simatupang dengan direktur artistik Ong Harry Wahyu, pembacaan karya tersebut dilakukan di Jakarta. Pada tahun 2007, sebuah naskah dramanya berjudul Jam Sembilan Kita Bertemu dipentaskan di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, oleh Teater Gardanalla dengan sutradara Joned Suryatmoko. Lewat tangan dingin Joned pula, satu naskahnya dipentaskan di gedung Societet Yogyakarta pada tanggal 6-7 Agustus 2008 dengan judul Deleilah: Tak Ingin Pulang dari Pesta. Pementasan karya tersebut atas dukungan sepenuhnya oleh panitia Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Beberapa naskah dramanya yang lain, dipentaskan secara mandiri oleh beberapa kelompok teater di berbagai tempat. Selain itu, Puthut juga pernah menulis naskah film pendek dengan judul Sinengker, yang diproduksi oleh Syarikat. Film ini telah diputar di berbagai forum di dalam dan di luar negeri.

Bibliografi

  1. The Show Must Go On Bencana Ketidakadilan (karya tulis, 2010)
  2. 154 Questions for Alfie (karya tulis, 2010)
  3. Makelar Politik: Kumpulan Bola Liar (karya tulis, 2009)
  4. Menanam Padi di Langit (karya tulis, 2008)
  5. Sarapan pagi penuh Dusta (2004)
  6. Dua Tangisan pada Satu Malam (kumpulan cerpen, 2005)
  7. Kupu-kupu Bersayap Gelap (2006)
  8. Sebuah Kitab yang Tak Suci (kumpulan cerpen, 2001)
  9. Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (kumpulan cerpen, 2009)
  10. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (novel, 2009)
  11. Bunda, berdasarkan screen play Cristantra (novel, 2005)
  12. Beli Cinta dalam Karung
  13. Orang-orang yang Bergegas (naskah drama, 2004)
  14. Jam Sembilan Kita Bertemu (naskah drama, 2009)
  15. Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta (naskah drama, 2009)
  16. Mengantar dari Luar (kumpulan esai, 2014)
  17. Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa (novel, 2016)
  18. Tanpa Tanda Seru (prosa liris)
  19. Jejak Air, (Biografi Politik Nani Zulminarni)
  20. Sinengker (naskah film)

Selain terus menulis dan melakukan kerja-kerja penelitian, Puthut masih sering diminta untuk menjadi pemandu berbagai pelatihan, terutama pelatihan menulis kreatif. Masih sering pula ia diminta membantu beberapa lembaga untuk ikut menyusun kurikulum pelatihan sekaligus membuat berbagai bahan dan media belajar. Ia juga menyunting banyak buku, baik fiksi maupun nonfiksi, menjadi konsultan buku, penerbitan dan media lain.

Setidaknya sampai 2013, Puthut telah menulis 22 buah buku

Puthut menyediakan ruang sebesar-besarnya untuk ikut ambil bagian dalam kerja-kerja kemanusiaan sebagai sukarelawan, terutama untuk komunitas-komunitas kecil dan kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. Ia, sampai sekarang, masih tinggal di Yogyakarta.