MUSYAWARAH BUKU INDIE: Berputar Dalam Arus Perbukuan, Mencari Bentuk Paling Ideal Untuk Dirinya

Dunia buku, perlahan, menemukan banyak alternatif di tengah pusaran arus pasar dan pembaca yang dinamis tapi juga membingungkan. Sebagian pemain buku yang tadinya mandek di toko buku dengan segala kebijakan dan problemnya, menemukan celah baru,—sebuah celah yang sebenarnya sudah ada dan tidak bisa dibilang baru—celah dunia maya.

Lagi-lagi perbincangan akan berpusat pada titik ini. Tapi demikianlah, semuanya bermula dan berjalan dari sini.

Jika beberapa tahun sebelumnya, internet dimanfaatkan semata lewat akun pribadi media sosial penerbit-penulis-pelaku buku, perkembangan berikutnya menunjukkan perkembangan ke arah yang signifikan dan menggembirakan: Beberapa penerbit mulai membangun websitenya, bergabung dengan marketplace populer yang membantu penjualan dengan sekian promosinya yang lebih dari cukup, celah baru instagram terbuka lebar pasca facebook dan twitter. Juga yang tak kalah menggembirakan; muncul fenomena reseller/dropshiper buku, kelompok pemain baru yang tidak berangkat dari “pemain inti” perbukuan, yang tadinya hanya berkutat pada kerja produksi penerbitan semata.

Reseller muncul sebagai alternatif tambahan baru, mereka hadir menjadi pengganti distributor untuk gerai toko buku, mereka mengambil buku ke penerbit, lalu menyampaikannya ke khalayak pembaca lebih luas yang tadinya tidak terjangkau atau terpikirkan oleh penerbit.

Reseller berkeliaran di instagram dan aplikasi Line, dua hal yang tak pernah begitu serius dilirik di era facebook dan twitter. Teknologi, menjadi kuda tunggangan baru, mode transportasi terkini, mengangkut buku dari gudang-gudang penerbit dan menghantarkannya ke pangkuan pembaca.

Dunia buku adalah dunia di mana para pelaku memutar otak selalu, mengintip peluang, lalu mencoba menerobos celah itu dengan daya upaya yang mereka miliki.

Sebagai bagian dari industri kreatif, para pemain-pemain dipaksa harus mengikuti pola-pola baru-asing yang tadinya (mungkin) tak pernah mereka bayangkan. Jika tidak, mereka akan menjadi bagian dari istilah-istilah klise; tergilas roda zaman, ketinggalan kereta, dan menjadi bagian dari orang-orang yang mengeluh bersama tentang betapa parahnya dunia literasi kita, betapa rendahnya minat membaca: Jargon-jargon putus asa yang selama ini diamini tanpa pernah berusaha dipastikan dengan data dan bukti yang valid dan serius.

Dalam dunia menulis, pola baru demikian adanya, melesat jauh, meninggalkan siapa yang kudet, dan miskin inovasi. Penulis digital-kontemporrer yang sudah lama melupakan media cetak-koran-majalah sebagai palagan pergulatan eksistensi kepenulisan, saat ini tidak semata hanya menjadi blogger atau pemain sosial media belaka. Lebih jauh lagi, mereka melaju lewat mainan-maian baru, wattpad, misalnya.

Dari salah satu aplikasi baru ini, puluhan penulis dan pembaca millenial lahir dan bertumbuh. Penulis-penulis baru menemukan mainan cara baru menulis, menyapa pembacanya yang bertumbuh sama banyaknya dengan penulis-penulis yang bertarung di sana. Lalu bermetamerfosa menjadi penulis-penulis beken, yang bukan hanya ditunggu postingannya di wattpad, tapi juga diburu ebooknya di aplikasi-aplikasi buku era kiwari, buku-buku mereka dipesan di reseller dan berderet di rak Best Seller semua gerai toko buku. Ditunggu bukan hanya oleh pembaca setia, tapi juga oleh para penerbit yang terjun mencari langsung bakat-bakat baru yang populer dan segar di sana, menghidupkan kembali dapur-dapur produksi mereka.

Hasilnya? Pembaca mereka jauh lebih banyak dari oplah Koran Minggu Cetak, lebih banyak dari tiras penerbit kecil, menengah dan besar. Tak jarang mereka menunjukkan angka yang fantastis, baik buku dalam versi digital maupun cetak konvensional.

***

Buku, dalam pasar reguler sehari-hari, dalam ceruk cetak terbatas dengan saluran jual kontemporer, dalam sekala besar atau kecil, adalah dunia yang tak henti berpikir dan bereksplorasi, mencari bentuk paling ideal, menemukan bentuk baru lalu meninggalkan cara sebelumnya. Pada pusara inilah juga, buku-buku indie, yang sudah memilih jenis terbitan, oplah dan salurannya sendiri, ikut berputar, bergerak bebas mencari rima paling nyaman dan ideal, untuk tetap bertahan dengan segala kelebihan sekaligus keterbatasannya. Memelihara idealisme, gagasan, dan bentuk pilihan sesuai keyakinannya.

Memproduksi buku-buku dari nama lama dan baru, lokal dan internasional, populer dan tidak terkenal, mengemas sedemikian rupa cetakan-dagangannya, mendistribusikan buku lewat pameran reguler dengan membuka lapak-lapak yang dibangun sepenuh jiwa, menjaring pembaca langsung lewat media sosial, melalui kekuatan personal ataupun agen-agen resellernya.

***

Sebagai rangkaian dari acara Kampung Buku Jogja #3 2017, para pegiat buku indie ingin membincangkan dirinya kembali. Menghadirkan para pelaku, pekerja, penulis, pembaca, pedagang dan semua komponen yang ada di dalamnya. Maka dari itu, segenap insan perbukuan indie, harus segera berkumpul dan berbicara mewakili dirinya masing-masing, pada sebuah Musyawarah Agung Buku Indie.

Acara tersebut akan dilaksanakan pada:

Hari: Jumat, 8 September 2017

Pukul: 13.00 WIB-Selesai

Tempat: Dongeng Kopi Jogja, Jl. Jalan Kranji Serang No.19B, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (Saming Rumah Palagan Jalan Damai)

Sampai jumpa.

Setelah Geger Buku 2003

Orang-orang berhimpun dan berdesakan di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada jam 20.00 WIB, 28 Mei 2003. Mereka datang atas sebuah undangan yang diedarkan melalui layanan pesan singkat (SMS) dan milis-milis buku serta sastra. Dua sastrawan muda yang mewakili Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia sebagai panitia, yaitu Satmoko Budi Santoso dan Raudal Tanjung Banua, sangat tegas memungkasi bunyi undangan itu dengan kalimat: “Salam Jogja”. Acara meriah di malam itu pun judulnya bikin merinding: “Ketika Jogja Menghakimi Jakarta”.

Lanjutkan membaca Setelah Geger Buku 2003

Para Industrialis Sastra

Pada Desember 1956, Iwan Simatupang menghadiri dan meliput sejumlah acara sastra di Den Haag, Belanda. Rangkaian acaranya adalah penyerahan anugerah sastra untuk pengarang Herman Teirlinck, Konferensi VI Sastra Belanda, dan sebuah “pameran sastra” di Museum Kotapraja. Acara yang terakhir berisi pameran potret, tulisan tangan, dan barang-barang aneh milik 50 pengarang Vlaming dan Belanda dari kurun waktu 1905 hingga 1955. Katalog pameran ini memuat potret para pengarang, juga fragmen dari karya-karya mereka.

Lanjutkan membaca Para Industrialis Sastra

Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

I

Sumitro Djojohadikusumo berusia 21 tahun ketika ia bekerja sebagai pelayan restoran di Hotel Lancaster, tidak jauh dari Champ-Elysees, Paris. Di ibu kota Prancis itu pula ia pertama kali bertemu dengan Andre Malraux. Pertemuan di jalan de Berri itu sangat mengesankan bagi Sumitro karena ia mengagumi peran historis dan peran akademis Malraux, sosok yang menyatukan identitas aktivis, intelektual, sekaligus negarawan. Dalam perkataan maupun tindakannya, Malraux tidak pernah menganjurkan l’action pour l’action, perbuatan demi perbuatan. Di semua kegiatan dan karya tulisnya, ia selalu menegaskan perihal martabat manusia dan keadilan sosial. “Malraux itu l’homme engage,” ujar Sumitro, “manusia yang berpihak dan sepenuhnya mengabdikan diri pada upaya mempertahankan martabat manusia dan keadilan dalan konteks sosialnya.”

Lanjutkan membaca Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

Buku-buku ‘Aneh’ yang Membawa Berkah

Istilah “buku Jogja” telah menjadi populer di kalangan pecinta dan kolektor buku langka. Ungkapan tersebut merujuk pada buku-buku bertema “berat” yang diterbitkan oleh “pabrikan” buku Yogyakarta pasca reformasi. Buku-buku dari era tersebut kini kembali diminati dan diburu oleh para kolektor. Salah satu yang paling dicari adalah buku-buku dengan logo penerbit Bentang.

Lanjutkan membaca Buku-buku ‘Aneh’ yang Membawa Berkah

Terbenam dan Tersingkir, Buku Jogja Belum Mati!

Di tengah euforia “start-up” atau perusahaan rintisan yang gegap gempita di luar sana, sekelompok anak muda di Yogyakarta memilih untuk menempuh jalan sunyi. Mereka mendirikan penerbitan buku, dengan proyek perdana terjemahan karya George Orwell, ‘Down and Out in Paris and London’. Dirilis di bawah judul ‘Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London’, buku tersebut merupakan hasil jerih payah penerjemah muda berbakat W Mahardika Putra (23).

Lanjutkan membaca Terbenam dan Tersingkir, Buku Jogja Belum Mati!

Banyak Buku di Lemari Mertuaku

Ada berlemari-lemari buku di rumah ibu mertua saya, saya tahu sejak dulu, zaman patjaran dengan istri saya. Beberapa kali memang saya buka-buka, bikin penasaran. Semalam saya menginap lagi di rumah mertua, rumah Eyang. Sambil merapikan ruang keluarga, akhirnya momen yang ditunggu-tunggu datang juga. Saya diperbolehkan membongkar arsip-arsip itu dan diperbolehkan memindahkannya di rak buku saya. Ehmmm. Alangkah senangnya.

Lanjutkan membaca Banyak Buku di Lemari Mertuaku