HAKI Adalah Alat, Bukan Tujuan

Budi Riswandhi, Kepala Pusat Hak Atas Kekayaan Intelektual Universitas Indonesia (HAKI UII) mengatakan bahwa mindset tentang HAKI selama ini keliru. “HAKI selama ini dipandang sebagai tujuan, sehingga orang rela melakukan apapun demi HAKI. Padahal HAKI adalah alat yang digunakan untuk tujuan menyejahterakan masyarakat,”, ungkap Budi saat tampil sebagai pembicara dalam Sidang Komisi HAKI yang berlangsung di Dongeng Kopi, Selasa (19/09).

Selain itu menurut Budi, kekeliruan lain adalah HAKI hanya dilihat dari mekanisme pendaftaran dan perlindungan, padahal yang lebih tepat, HAKI adalah sebuah aset. Oleh karena itu kualifikasi HAKI dalam aturan hukum Indonesia masuk dalam konteks hak kebendaan yang sifatnya tak berwujud. Jika kita bicara barang, masih menurut Budi dalam hukum, benda adalah aset. Jadi HAKI adalah aset sehingga bisa dikelola.

Budi menambahkan bahwa ada tiga hal yang bisa lakukan terkait pengelolaan HAKI ini, pertama HAKI sebagai aset harus terus dikembangkan, karena bisa melahirkan aset lain (inovasi). Kedua, melindungi HAKI sebagai aset. Sebagai asset, HAKI harus dilindungi, maka dibutuhkan pendaftaran. Terkait perlindungan ini ada dua cara yakni, preventif dan represif. Untuk langkah preventif, pendokumentasian yang baik adalah cara paling mudah dan murah. Sementara represif, adalah langkah penindakan hukum.
Setelah HAKI sebagai asset sudah dikembangkan dan dilindungi, langkah ketiga adalah utilisasi, yaitu menggunakan HAKI untuk sebuah tujuan. Tujuan itu bisa menurut Budi bisa komersial maupun non komersil.

53 Penerbit Indie Bakal Meriahkan KBJ 2017

Sebanyak 53 penerbit indie akan turut serta memeriahkan event Kampung Buku Jogja 2017. Hal ini diinformasikan dalam Technical Meeting Penerbit Indie yang digelar pada Senin, 18 September 2017 di Kafe Kendi.

Eka Putra selaku Penanggung Jawab Penerbit Indie, menjelaskan kepada para perwakilan penerbit indie yang hadir, perihal mekanisme dan detail acara dalam rangkaian KBJ. Adapun keikutsertaan penerbit indie dalam KBJ tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Pada penyelenggaraan KBJ 2016 sebanyak 22 penerbit indie yang yang turut serta. Sementara pada KBJ pertama, tahun 2015 baru 9 penerbit indie yang jadi peserta. “Ini jelas peningkatan yang signifikan sekali dari sebelum-sebelumnya. Ya walaupun beberapa baru punya dua judul, tapi kan tetap penerbit,”ujar Eka sambil terbahak. Adapun penerbit-penerbit yang baru pertama bergabung ke KBJ di antaranya, Art Music Today, Laras, dan Garudhawaca.

Komunitas Lawasan Kembali Meriahkan KBJ 2017

Komunitas Buku Lawasan yang banyak mendistribusikan buku-buku terbitan lama dan langka, kembali hadir di Kampung Buku Jogja 2017. Abi, sebagai salah satu anggotanya mengatakan bahwa setelah dua kali sukses ikut serta dalam pagelaran KBJ, tahun ini komunitasnya memutuskan kembali ikut serta.

Adapun terkait persiapan, tahun ini komunitas Lawasan akan lebih matang. “Event pertama dan kedua itu kan jadi pengalaman buat kita. Bagaimana produknya, yang disukai pembeli seperti apa. Jadi akan ada penambahan stok dan pengurangan pula, sesuai dengan pengalaman kami sebelum-sebelumnya,”ujar Abi.

Dampak setelah dua kali keikutsertaan Komunitas Lawasan adalah semakin banyak relasi yang mereka dapatkan. “Semakin banyak orang tahu buku lawasan. Orang kan tahunya lawasan hanya buku bekas. Padahal kan buku lawasan itu juga buku lama yang sudah tidak beredar lagi yang susah dicari,”tambah Abi.

Penerbit Jawa Barat Mencetak Bukunya di Percetakan Jogja

Banyak pelaku perbukuan di Jawa Barat khsusnya di luar Bandung yang memilih percetakan-percetakan di Jogja untuk mencetak buku mereka. Hal ini disampaikan oleh Wahyu Heriadi dari Penerbit Kentja saat tampil sebagai salah satu pembahas dalam Sidang Komisi Produksi pada Kamis, (14/09) di Dongeng Kopi. Langkah ini, menurut Wahyu, dipilih lantaran penerbit-penerbit di Jawa Barat dapat lebih menekan biaya produksi ketika mencetak bukunya di Jogja ketimbang di Bandung atau Jakarta.

“Untuk mencetak di Bandung atau Jakarta mungkin tiga hari bisa selesai beres. Tapi dari segi biaya bisa sampai dua kali lipat dari biaya cetak di Jogja. Makanya Jogja jadi pilihan kami untuk mencetak buku, khususnya yang ingin mencetak dalam jumlah terbatas” ungkap Wahyu.

Penerbitan buku dalam jumlah terbatas di Jawa Barat menurut Wahyu, mulai terjadi pasca reformasi. Saat itu khususnya di wilayah selain Bandung, Tasikmalaya misalnya, muncul buku-buku yang diterbitkan sendiri dalam jumlah terbatas. Salah satunya Sanggar Sastra Tasikmalaya yang menerbitkan salah satunya kumpulan buku puisi Acep Zamzam Noor. Namun ternyata aktivitas ini tidak berjalan lama. Lambat laun, industri buku lalu terpusat di Bandung.

Strategi Produksi di Penerbit Mayor

Memutuskan untuk berada di ranah penerbit mayor, menurut Wawan Arif dari Penerbit Forum harus memilih dari setidaknya dua senjata. Pertama menjadi senjata yang memberondong atau menjadi sniper. “Kalau menjadi senjata yang memberondong peluru, sikap yang diambil adalah mengerahkan banyak modal untuk membuat buku sebanyak-banyaknya. Sementara menjadi sniper,  bidik satu kena, bidik satu kena”, ungkap Wawan saat tampil menjadi salah satu pembahas dalam Sidang Komisi Produksi, Musyawarah Buku pada Kamis (14/09) di Dongeng Kopi.

Wawan mencontohkan Indonesia Boekoe yang mengambil langkah menjadi sniper. Mencetak buku dengan jumlah sedikit tapi pasti  laku karena jelas siapa sasaran pembelinya. Sementara pilihan senjata memberondong peluru tadi disebut Wawan diambil oleh banyak penerbit mayor. Masing-masing pilihan sikap ini pun menurut Wawan diikuti dengan konsekuensi masing-masing. “Mencetak banyak tentu butuh modal besar. Sementara mencetak sedikit pun butuh kekuatan sendiri untuk mengawal ketat kontennya,”ungkap Wawan.

Dewan Kesenian Medan Hadiri Musyawarah Buku

Sidang Komisi Keredaksian, Musyawarah Buku pada Rabu (13/09) di Dongeng Kopi, dihadiri pula oleh Komisi Dewan Sastra Medan. Kehadiran ini menjadi salah satu bagian dari rangkaian studi banding yang mereka lakukan di Yogyakarta.

Diungkapkan salah satu anggotanya, Juhendri Chaniago, studi banding ini dilakukan karena mereka melihat kecenderungan banyak penulis yang mengirimkan naskahnya ke Jogja untuk diterbitkan penerbit di sini. “Kami juga ingin mempelajari permasalahan apa saja yang dihadapi kawan-kawan pelaku perbukuan di Jogja, sekaligus berjejaring,” tambahnya.

Di Medan sendiri, masih menurut Juhendri, sudah ada perbincangan tentang menerbitkan buku secara independent. Namun dengan mendatangi kumpulan penerbit indie di Jogja akan memberikan banyak referensi dan pembacaan yang lebih mendalam tentang hal ini.

Dewan Kesenian Medan sendiri masih akan hadir pada agenda Musyawarah Buku besok Kamis, (14/09), dengan tema produksi buku. Lokasinya sendiri masih akan berlangsung di Dongeng Kopi, Jalan Damai.

Buku Digital Belum Gantikan Buku Cetak

Salman dari Bentang Pustaka mengatakan bahwa kehadiran buku dalam format digital belum terlalu signifikan menggantikan keberadaan buku cetak. Hal ini diutarakannya dalam Sidang Komisi Keredaksian, Musyawarah Buku, Rabu (13/09) di Dongeng Kopi.

“Pengalaman saya saat menjadi fellow di Frankfurt itu, ada data bahwa penjualan-penjualan buku elektronik belum terlalu signifikan. Di Indonesia bahkan masih sebesar 5% dari buku cetak. Difital itu keniscayaan tetapi belum akan menggantikan buku cetak dalam waktu dekat ini,” ungkap Salman.

Pembicaraan ini bergulir berdasarkan kenyataan betapa bergantungnya masyarakat sekitar kita pada gawai dalam kehidupan sehari-hari. Dari 2012-2014, sebut Salman,  banyak pertumbuhan ebook yang didorong hanya oleh beberapa judul buku saja. Jadi era digital menurutnya tidak semengerikan yang dipikir. Salman lalu melanjutkan bahwa keberadaan buku digital lebih diposisikan sebagai komplementer saja, bukan untuk mensubstitusikan buku cetak. Keduanya menurut Salman bisa berdampingan dengan damai.