Tentang Pilihan: Pidato Puthut EA Dalam Penganugerahan Pengalembahan Kampung Buku Jogja 2017

Seandainya hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, saya memilih hanya menjadi seorang penulis saja. Tidak melakukan hal lain. Tidak membuat media, tidak melakukan penelitian, tidak berbisnis, tidak melakukan sekian hal lain, yang tak ada hubungannya dengan permenungan, mengolah kata, menyusun kalimat, menciptakan alur, membangun tokoh, dan menambatkan diri sepenuhnya dalam dunia imajinasi.

Tapi hidup ini tak sepenuhnya pilihan bebas. Kita semua punya keterbatasan, kadang dipaksa oleh keadaan, acapkali disabotase oleh hal lain yang mau tidak mau menciptakan gangguan. Hingga pada akhirnya, gangguan itu harus dikerjakan.

Kalau hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, saya hanya ingin di sela-sela menulis, membaca banyak buku. Sebanyak mungkin. Sebab membaca memberikan kenikmatan yang nyaris sempurna bagi saya. Bau kertas, ketenangan, semilir angin, keheningan, membuat membaca buku menjadi kenikmatan yang nyaris paripurna. Semua yang serba dianggap baik, pernah dicap sebagai candu. Agama. Sekolah. Mestinya juga buku.

Tapi adakah kebebasan yang sempurna? Adakah hidup yang lengkap? Atau jangan-jangan apa yang dianggap kesempurnaan itu sebetulnya tidak ada? Kehidupan ini justru mendekati paripurna karena kekurangannya, ketidaklengkapannya, keganjilannya, keterasingannya, dan perasaan yang tidak nyaman dan tak jenak.

Mungkin seperti cerpen atau novel. Kisah yang tak pernah lengkap. Patah-patah. Gerowong. Namun justru dalam lubang, jeda, dan bolong itulah, pembaca membuat tali penyambung sendiri, menjahit sendiri, menutup semua dengan kapasitas masing-masing. Kalau karya itu pepak, penuh, lengkap, justru di sana pembaca dikerangkeng, dimasukkan ke goa tertutup, dipenjara.
Dengan kaidah yang sama itulah, saya justru mulai percaya, bahwa jangan-jangan mereka yang percaya betul bahwa hidup ini adalah pilihan bebas, akan terjerat di dalamnya. Kisah tanpa emosi. Tanpa drama. Sebab tak ada yang patah dan terbata-bata. Tak ada yang tersengal. Kisah yang mungkin akan lancar dibaca tapi tidak membentangkan layar imajinasi, menutup ceruk dialog, mirip sebuah kapal mewah yang hanya dibiarkan tertambat di sebuah teluk yang indah. Tapi tidak berlayar ke mana-mana. Tidak pernah digulung badai. Tak pernah tersesat. Belum mengalami kandas karena salah menghitung surut air. Hampir putus asa karena mati mesin dan patah kemudi.

Para penulis besar, seingat saya, datang dalam situasi yang sulit. Tapi sekarang ini kita sering mendengar beberapa orang mengeluh tidak bisa menulis karena tidak punya uang. Padahal sebagian karya tulis hebat datang dari situasi batin yang tertekan, kehidupan yang guncang, kondisi sosial yang runyam, keadaan ekonomi yang buruk, kebebasan yang terenggut.
Mungkin banyak di sekitar kita yang merasa tidak bisa menulis karena tidak didukung oleh kecukupan finansial, kekurangan waktu. Tapi perhatikan bagaimana mereka tetap tidak menulis ketika uang berlimpah, dan punya waktu berlebih.

Atau, mereka tak kunjung menerbitkan karya karena merasa karya mereka belum sempurna. Hingga akhirnya karya yang tak sempurna itu makin tak sempurna karena tidak diterbitkan. Mereka lupa bahwa tidak mungkin manusia yang serbakurang dan tak sempurna ini menghasilkan karya yang sempurna.
Atau sebaliknya, karya-karya yang melimpah namun hanya dibaca seperti menempuh perjalanan di jalan tol yang luas dan sepi. Lancar. Lempang. Kencang. Sehingga tidak terasa geronjal kehidupan, tikungan emosi, tanjakan yang susah dilalui.

Jika hidup ini sepenuhnya pilihan bebas, maka saya memilih menjadi penulis saja. Tidak mau mengerjakan yang lain.

Tapi justru karena itulah, maka saya tetap menulis. Tetap mengerjakan yang lain. Karena geronjal jalanan dalam berkarya itulah, yang membuat karya saya tidak sempurna, yang justru bisa mengatakan dengan jujur: beginilah hidup ini. Kehidupan yang harus kita jalani. Kehidupan yang penuh lecet dan daki.
Sebab karya tulis dihadirkan, bukan untuk menyempurnakan kehidupan manusia.

Tapi saya menyadari penuh bahwa saya juga bukan sepenuhnya orang yang di keseluruhan sendi kehidupan ini, tidak bisa memilih. Pada banyak hal, dengan penuh rasa syukur, saya bisa memilih. Di antara sederet kemerdekaan pilihan itu, tentu saja saya mensyukuri bisa memilih menjadi seorang penulis. Dan pilihan yang lain yang selalu saya syukuri juga adalah memilih menetap di Yogya.

Tinggal di Yogya hanya bisa dirasakan dan mungkin dijelaskan oleh orang-orang yang memilih tinggal di sini. Hanya orang yang memilih tinggal di Yogya pula yang bisa menjelaskan kenapa lembaga seperti Akademi Kebudayaan Yogya dulu bisa ada. Mojok bisa muncul. Indie Book Corner bisa tumbuh. Indonesia Buku bisa bertahan. Bentang Budaya pernah diinisiasi. Insistpress Publisher tetap berjalan. Penerbit Buku Baik tetap ingin menjalankan kegiatan di dunia perbukuan sekalipun orangnya sudah menjadi direktur Biennale Jogja. Puluhan penerbit setiap tahun tetap muncul sekalipun ada puluhan yang juga mati. Dan KBJ (Kampung Buku Jogja 2017) bisa dihelat sampai 3 kali.

Di sini, di Yogya, kebergegasan tidak selalu dilawan dengan kelambatan.
Kota ini memang tumbuh makin pikuk, makin ruwet, dan makin macet. Tapi akan selalu muncul orang-orang yang selalu melawan kemacetan pikiran, dengan segala keterbatasan.

Seperti karya tulis, keterbatasan itu ada, bukan untuk menyempurnakan manusia. Tapi meneguhkan bahwa begitulah manusia. Dengan cara yang serupa itulah, dia bertahan hingga lolos dari kepunahan. Setidaknya sampai sekarang.

Teks Lengkap Pangalembahan Kampung Buku Jogja 2017

Kisah Sang Kepala Suku di Ranah Buku
Oleh Adhe

Pada tahun 1998 saya dan para mahasiswa lainnya dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sering berjalan kaki dari Karangmalang, lalu melintasi sungai kecil di Lembah UGM, dan akhirnya tiba di Boulevard UGM. Kami melakukannya untuk bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa yang berdemonstrasi menuntut Soeharto untuk mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Kami yang berasal dari kampus keguruan tahu bahwa di pelataran Fakultas Filsafat UGM berdiri tenda-tenda yang setahu kami menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP). Di Karangmalang, kami mulai sering mendengar nama pemimpin komite tersebut. Dia memang aktivis pergerakan mahasiswa.

Pada suatu hari di tahun yang sama, saya dan beberapa orang lainnya dari Karangmalang diajak oleh Edi Sutopo, Pemimpin Umum LPM Ekspresi dan pemimpin kelompok mahasiswa yang getol menentang Orde Baru, menuju sebuah rumah di Pogung yang menjadi markas KPRP. Kami meminjam video-video aksi-aksi demontrasi mahasiswa pada mereka. Saya sudah lupa nama orang yang meminjami kami film-film itu. Yang jelas, di rumah itu pula saya melihat Sang Ketua KPRP sedang berbincang dengan temannya sambil asyik merokok.

Sang Ketua itu saya temukan lagi di koran-koran minggu di tahun-tahun yang tak berjarak lama setelah Soeharto tumbang. Saya membaca cerita-cerita pendek yang ditulisnya di pelbagai surat kabar. Di Karangmalang, kami semakin sering menyebut namanya karena dia adalah salah satu penulis yang membuat kami cemburu. Dia produktif. Tulisan-tulisannya juga bagus menurut kami. Di LPM Ekspresi, tulisan yang bagus dari orang di luar kami adalah karya yang bikin kami panas hati.

Pada November 1999, saya dan Anas Syahrul Alimi, bekas Pemimpin Umum LPM Ekspresi, mendirikan Penerbit Jendela. Saya dan Anas sebelumnya bersama-sama bekerja di Divisi Media Watch LP3Y. Saya berada di lembaga yang dipimpin oleh Ashadi Siregar itu selama lebih dari satu tahun. Anas sendiri lebih dulu keluar dari sana karena memilih untuk menjadi reporter Radar Jogja. Saya baru benar-benar keluar dari sana ketika Penerbit Jendela didirikan, dan ketika akhirnya kami mengajak Wawan Arif Rahmat, mahasiswa dan pegiat teater di Universitas Diponegoro Semarang, untuk bergabung.

Di masa awal Jendela, saya mengenal Helmi, mahasiswa FISIPOL UGM yang mengelola penerbit Sumbu. Dua nama pun saya temukan di deretan buku-buku terbitan Sumbu: Eka Kurniawan dan Sang Ketua KPRP. Nama yang pertama biasanya menjadi penerjemah naskah-naskah sastra terbitan Sumbu. Sedangkan nama yang kedua muncul dari buku kumpulan cerita pendek berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci.

Wawan Arif Rahmat sudah tidak ada di Jendela ketika saya dan Anas akhirnya berhubungan langsung dengan “kelompok UGM” dalam keriuhan penerbitan buku dan media alternatif di awal dekade 2000-an. Kedekatan itu dimulai karena kawan-kawan kami di Karangmalang, yaitu Faiz Ahsoul dan Hasta Indriyana, bergabung dengan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), sebuah komunitas yang bermula dari program kebudayaan bikinan INSIST.

Di masa AKY, saya adalah orang penerbitan yang mengenal penulis-penulis muda yang penuh semangat, termasuk Eka Kurniawan dan Sang Ketua KPRP. Saya sangat sering main dan diajak membantu kerja-kerja mereka. Saya bahkan pernah memandu diskusi sastra di AKY karena diminta oleh mereka.

Kedekatan itu pula yang mendorong lahirnya kerja sama AKY dan Jendela. Media alternatif bikinan mereka, On/Off, diproduksi dengan mesin cetak Toko di kantor saya di Jalan Gejayan. Ini adalah media indie yang tumbuh bersama dengan Kunci, Clea, Blank! Magazine, Outmagz, dan lain-lain. Sang Ketua KPRP selalu rajin menulis catatan editorial untuk On/Off. Tulisan ringkasnya yang menggelitik itu dimuat di rubrik “Zlink!” Belakangan saya tahu dari Eka Kurniawan bahwa Sang Ketua KPRP juga pernah menjadi penerbit media bernama Ajaib.

Ramainya media alternatif yang tumbuh bersamaan dengan rumah-rumah penerbitan buku alternatif itu pula yang membuat saya mengenal lebih banyak orang-orang yang bergiat di komunitas. Selain media-media cetak, saya menyaksikan tumbuhnya situs-situs web yang menarik dari Jogja, seperti Pabriktontonan.com. Kunci.org, Komikaze.net, Bumimanusia.or.id, dan lain-lain. Tak heran bila saya sendiri lantas terdorong untuk membuat media bernama Koin, sebuah newsletter tentang komik yang di edisi pertamanya memuat pula komik dua panel bikinan Eka Kurniawan.

AKY terus bergerak melalui aktivitas kajian, penulisan, penerbitan, pertunjukan, dan acara-acara kesusastraan. Penerbit Jendela diajak pula ketika mereka mengadakan diskusi besar bertajuk Pram dan Kita yang menghadirkan Pramoedya Ananta Toer, Gus Dur, Gadis Arivia, dan Taufik Rahzen. Setahu saya, AKY adalah pihak yang pertama kali membawa lagi Pram untuk hadir di hadapan publik dalam sebuah perjumpaan fisik. Gedung UC UGM, tempat penyelenggaraan acara itu, penuh sesak oleh peserta diskusi.

Seusai acara, saya diminta oleh Faiz untuk menyetir mobil dan membawa Pram ke penginapan. Saya sangat senang melakukannya, sungguh pengalaman yang luar biasa. Kebahagiaan saya itu tentu juga dirasakan oleh semua orang yang hadir menyaksikan Pram dan Gus Dur secara bersamaan dalam sebuah acara. Dan itu semua adalah upaya yang berhasil dilakukan oleh AKY yang setahu saya koordinatornya adalah Sang Ketua KPRP.

Di masa AKY pula lahir novel-novel bikinan penulis-penulis muda yang luar biasa. Dua di antaranya terbit melalui kerja sama dengan Penerbit Jendela, yaitu Peta yang Retak karya E.M. Ali dan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Saya sendiri sudah membawa Cantik Itu Luka sejak bahannya masih berupa fotokopian tebal yang kemudian saya tunjukkan ke Anas di Jalan Gejayan. Sejak itu pula saya pikir AKY adalah kantung sastra yang penuh magma.

Di fase puncak kedekatan AKY dan Penerbit Jendela, saya meminta cerpen-cerpen karya Sang Ketua KPRP itu untuk saya terbitkan. Dia menyetujuinya. Tak lama kemudian, Jendela menjadi penerbit kedua yang merilis karya dia. Setelah Sumbu menerbitkan Sebuah Kitab yang Tak Suci, maka Jendela menerbitkan Sarapan Pagi Penuh Dusta. Dia melengkapi barisan penulis muda yang dirilis Jendela: Hasta Indriyana, Satmoko Budi Santoso, Raudal Tanjung Banua, Eka Kurniawan, dan seterusnya.

Dari pola-pola yang terjadi sebagaimana saya ceritakan di atas, saya pikir tumbuhnya penulis-penulis muda yang hebat itu berhubungan pula dengan maraknya rumah-rumah penerbitan alternatif di Jogja. Bahkan Sang Ketua KPRP sendiri sempat membangun penerbitan buku bernama Gelombang Pasang.

Aktivitas Sang Ketua KPRP di ranah kreatif menjadikannya salah satu kreator paling produktif di angkatannya. Dia terus-menerus menulis sastra. Dia merilis buku-buku non-fiksi. Dia menjadi penerbit buku. Dia aktif di AKY. Dia mengelola On/Off. Bahkan karya-karyanya diterbitkan pula oleh penerbit-penerbit lainnya, termasuk Labuh yang merilis ulang dua buku pertamanya dari edisi Sumbu dan Jendela. Karya-karya dia juga kemudian diterbitkan oleh INSIST Press, sebuah divisi penerbitan dari rahim INSIST. Sedangkan jejak aktivitasnya dalam mendidik orang-orang baru di ranah kepenulisan dapat dilihat dari upayanya membangun dan mengelola KBEA, sebuah kolektif gagah di era digital karena melahirkan Mojok.co dan situs-situs web hebat lainnya. Penerbitan dia lainnya adalah EA Book dan Buku Mojok.

Sosok yang saya sebut sejak awal itu sudah banyak memberi kontribusi bagi dunia literasi. Dia menghasilkan karya-karya berupa tulisan yang dibaca khalayak. Dia mengorganisasi komunitas-komunitas independen yang berisi orang-orang muda. Dia menerbitkan media cetak dan buku cetak melalui rumah penerbitan yang dia bikin dan dia kelola secara sendirian maupun dengan kawan-kawannya. Dia bekerja di ranah literasi sejak ia memutuskan bahwa pilihan hidupnya adalah menjadi penulis, sebagaimana ia sudah memulainya ketika ia masih berseragam SMP namun tulisan-tulisannya sudah dimuat di majalah-majalah berbahasa Jawa, yaitu Panjebar Semangat dan Jayabaya. Dengan semua caranya itu, dia sudah menumbuhkan banyak sekali pembaca, sesuatu yang tidak dilakukan oleh banyak orang di Indonesia.

Ketika Menulis dan Membaca Sudah Tidak Seperti Dulu Lagi
Oleh Irwan Bajang

Dunia terus berubah. Hanya yang mampu, membaca tanda zamanlah yang kelak akan bisa berbenah, mengubah jalan tanpa harus menolak takdir, masuk menjadi bagian penting dari segenap perubahan itu. Bergabung dalam irama dan detak zamannya.

Ia seperti peracik ramuan, dunia baru laksana laboratorium baginya. Ketika media berubah, waktu berubah, cara membaca berubah, maka seharusnya model produksi teks dan bacaan, cara penyebaran semestinya ikut ganti haluan. Barangkali ia berpikir seperti itu.

Meski bukan yang pertama, bukan pula satu-satunya, ia membuat sebuah formula, di mana nanti formula ini kemudian diterima, dan memberi perubahan cara menulis dan membaca yang signifikan bagi banyak orang di Indonesia. Bagi banyak penulis dan pembaca.

Sebab ia bukan ilmuwan, maka formula ini bukan racikan obat yang bisa mengubah drastis dan mengobati  banyak orang. Ia kemudian tidak melulu dipuji dan dicintai, tapi juga dibenci dan dinyinyiri. Akan banyak yang tidak suka dan tidak setuju, akan banyak yang nyinyir dan meledeknya. Tapi baginya, sekali niat ditancapkan, pantang pulang sebelum tumbang.

Ia adalah penjudi, maka ia tahu semua punya risiko, kalah dan menang adalah keniscayaan, sebagai mana suka dan tak suka adalah dua mata koin yang tak bisa dipisahkan.

Setidaknya ia telah mencoba memberi cara baru berpikir dan menghadapi gagasan serta wacana yang tiap saat datang padanya, juga datang pada banyak orang di sekelilingnya.

Ia penulis yang cepat. Konon di masa belajarnya, satu tulisan harus selesai sekali duduk. Harus rampung tanpa jeda. Jika tidak, tulisan itu sudah gagal sejak awal, layak dihapus dan ditinggalkan, tidak bisa diselamatkan.

Ia mencoba formula itu. Ia pernah menulis seperti itu, dan masih hingga sekarang. Ia pernah mengelola banyak media rintisannya dan kawan-kawannya, dan semangat itu tidak pernah padam hingga kini.

Maka ia membuat sebuah media baru. Media yang ideal baginya. Media yang ia ujicobakan layaknya melempar kartu atau dadu ke meja judi, atau menjalankan bidak, menteri, benteng, pion, kuda-luncur di papan catur. Ia bekerja terukur, sebab ia tahu, setiap langkah penuh jebakan dan kemungkinan.

Medianya ini kemudian bisa dibilang sangat berhasil, menjadi rujukan cara menulis baru di era kiwari ini. Ia merancang alat dan tempat produksi, menjadikan segala sesuatunya cepat, tapi tidak jadi terburu-buru dan terkesan tergesa.

Ribuan penulis datang, menyerahkan naskah dan mendapat bayaran yang pantas baginya, cepat juga cairnya. Ia tahu, sebagaimana ia di masa dahulu, menulis adalah kerja, dan setiap kerja layak diganjar hasil segera. Penulis mendapatkan bayaran yang pantas, sebaran tulisan yang terukur dan memuaskan pula bagi meteka. Penulis senior menulis di sana, ratusan penulis baru muncul dan mulai membangun karier serta popularitasnya, di dan dari media itu.

Banyak media yang menjadi epigonnya, tapi kreator sejati tahu, ia tetap berdiri teguh sebagai sang pelopor.

Sebagaimana agitasi dan propaganda ketika jadi aktivis zaman dulu. Ia tetap berkeliling, menjadi pejalan, menemui banyak orang di luar sana, menjangkau kota dan desa untuk memberi pelatihan, berbagi cara dan cerita dalam menulis, mengajak orang bergembira dan berbahagia, merayakan gagasan dengan cara yang unik dan menyenangkan.

Ia bersama pasukannya bahkan mengumpulkan para pembaca, mengajaknya bertemu langsung dengan para pesohor dunia literasi, mengajak semua belajar seperti minum langsung pada sumber mata airnya.

Kecintaanya pada buku, buku cetak konvensional tak pernah padam, meski dunia digital menjadi kesehariannya saat ini. Ia perlahan berhasil mengawinkan kekuatan di dunia maya yang ia bangun, menjadikannya pelan-pelan seiring sejalan, berbanding lurus perlahan. Buku-buku yang keluar dari rumah produksinya perlahan muncul sebagai judul-judul dari penulis-penulis yang layak diperhitungkan.

Begitulah.

Membangun sesuatu berdasarkan cinta kasih dan kesenangan, kelak akan membawamu pada petulangan baru yang barangkali pernah kau bayangkan tapi tak tahu bagaimana kau wujudkan. Waktu kemudian menuntunmu, sebagai mana menuntun tokoh kita ini pada temuan dan capaiannya saat ini.

Dengan penuh cinta kasih, ketulusan, ia bekerja, berbagi, mengajak bersama orang-orang untuk menghidupkan dunia literasi yang kita sayangi ini.

Berbekal semboyan, yang barangkali—patut kita duga—sebagai saripati permenungan dan laku hidupnya selama ini; Sedikit Nakal Banyak Akal, ia membuktikan dirinya telah bekerja, memberi banyak pada kita semua.

Biografi Puthut EA
Begitu hijrah ke Yogyakarta untuk belajar secara formal di Fakultas Filsafat UGM, ia langsung terlibat aktivitas politik. Pada awal tahun 1998, ia ikut mendirikan sebuah komite pergerakan bernama Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP). Di lembaga tersebut, ia dipercaya memegang kepala divisi Pendidikan dan Propaganda. Pada saat itulah ia menginisiasi pembuatan buletin Bongkar, sebagai ganti atas selebaran-selebaran politik yang hanya melulu berisi kalimat-kalimat agitasi, dengan penjelasan-penjelasan politik yang lugas, gampang, dan mudah dibaca, dengan jumlah halaman yang lebih tebal dari selebaran pada umumnya yang hanya selembar, dengan oplah yang lebih banyak, dan dengan sistem distribusi yang lebih baik. Tidak lama kemudian, ia dipercaya menjadi Sekretaris Jendral lembaga tersebut, dan hanya dalam beberapa bulan kemudian, diangkat menjadi Ketua Umum. Bersama beberapa temannya di berbagai kota di Indonesia, ia ikut mendirikan sebuah organisasi mahasiswa tingkat nasional dengan nama Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Pada akhir tahun 2000, ia mengundurkan diri dari gerakan mahasiswa, dan menekuni dengan serius dunia menulis, terutama menulis prosa.

Bersama sahabatnya, Coki Nasution, ia membuat buletin sastra Ajaib. Ketika kemudian Coki hijrah ke Timor Leste untuk ikut membantu kawan-kawannya di sana mengisi proses kemerdekaan, Puthut kemudian bergabung ke dalam Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) yang merupakan salah satu lembaga di bawah naungan INSIST. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2001. Selama di AKY, bersama teman-temannya, Puthut membuat jaringan penulis dan komunitas kreatif di berbagai daerah, membuat media alternatif ON/OFF, membuat berbagai proyek penelitian dan penerbitan buku. Di keluarga INSIST itulah, Puthut terlibat berbagai proyek penelitian dan belajar menjadi pemandu berbagai pelatihan. Pada tahun 2006, ia mundur dari AKY kemudian ikut menginisiasi pembuatan komunitas Tandabaca. Sekarang aktif di LSM Indonesia Berdikari.

Selain menulis cerita pendek dan novel, ia juga menulis naskah drama. Karya dramanya berjudul Orang-orang yang Bergegas, dipentaskan di enam kota di Pulau Jawa dengan sutradara Landung Simatupang dan Puthut Buchori. Ia juga membuat prosalirik dengan judul Tanpa Tanda Seru, yang dibacakan oleh Landung Simatupang dengan direktur artistik Ong Harry Wahyu, pembacaan karya tersebut dilakukan di Jakarta. Pada tahun 2007, sebuah naskah dramanya berjudul Jam Sembilan Kita Bertemu dipentaskan di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, oleh Teater Gardanalla dengan sutradara Joned Suryatmoko. Lewat tangan dingin Joned pula, satu naskahnya dipentaskan di gedung Societet Yogyakarta pada tanggal 6-7 Agustus 2008 dengan judul Deleilah: Tak Ingin Pulang dari Pesta. Pementasan karya tersebut atas dukungan sepenuhnya oleh panitia Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Beberapa naskah dramanya yang lain, dipentaskan secara mandiri oleh beberapa kelompok teater di berbagai tempat. Selain itu, Puthut juga pernah menulis naskah film pendek dengan judul Sinengker, yang diproduksi oleh Syarikat. Film ini telah diputar di berbagai forum di dalam dan di luar negeri.

Bibliografi

  1. The Show Must Go On Bencana Ketidakadilan (karya tulis, 2010)
  2. 154 Questions for Alfie (karya tulis, 2010)
  3. Makelar Politik: Kumpulan Bola Liar (karya tulis, 2009)
  4. Menanam Padi di Langit (karya tulis, 2008)
  5. Sarapan pagi penuh Dusta (2004)
  6. Dua Tangisan pada Satu Malam (kumpulan cerpen, 2005)
  7. Kupu-kupu Bersayap Gelap (2006)
  8. Sebuah Kitab yang Tak Suci (kumpulan cerpen, 2001)
  9. Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (kumpulan cerpen, 2009)
  10. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (novel, 2009)
  11. Bunda, berdasarkan screen play Cristantra (novel, 2005)
  12. Beli Cinta dalam Karung
  13. Orang-orang yang Bergegas (naskah drama, 2004)
  14. Jam Sembilan Kita Bertemu (naskah drama, 2009)
  15. Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta (naskah drama, 2009)
  16. Mengantar dari Luar (kumpulan esai, 2014)
  17. Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa (novel, 2016)
  18. Tanpa Tanda Seru (prosa liris)
  19. Jejak Air, (Biografi Politik Nani Zulminarni)
  20. Sinengker (naskah film)

Selain terus menulis dan melakukan kerja-kerja penelitian, Puthut masih sering diminta untuk menjadi pemandu berbagai pelatihan, terutama pelatihan menulis kreatif. Masih sering pula ia diminta membantu beberapa lembaga untuk ikut menyusun kurikulum pelatihan sekaligus membuat berbagai bahan dan media belajar. Ia juga menyunting banyak buku, baik fiksi maupun nonfiksi, menjadi konsultan buku, penerbitan dan media lain.

Setidaknya sampai 2013, Puthut telah menulis 22 buah buku

Puthut menyediakan ruang sebesar-besarnya untuk ikut ambil bagian dalam kerja-kerja kemanusiaan sebagai sukarelawan, terutama untuk komunitas-komunitas kecil dan kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. Ia, sampai sekarang, masih tinggal di Yogyakarta.

Biaya Jadi Masalah Distirbusi Buku Secara Luring

Hariyadi, CEO Solusi Distribusi mengatakan bahwa distribusi buku secara luring untuk sampai ke segala penjuru tanah air masih bermasalah pada pembiayaan. Padahal menurut Hariyadi, jumlah penduduk yang banyak dan wilayah Indonesia yang luas adalah pasar yang amat potensial untuk bisnis buku. “Kita cetak buku 2000 eksemplar misalnya, mungkin baru bisa habis dalam dua tahun kalau tidak terlalu best seller. Faktanya untuk mendistribusikan buku-buku ini kita perlu biaya besar yang sampai sekarang masih menjadi masalah,”ungkap Hariyadi saat tampil menjadi pembicara dalam Sidang Komisi Distribusi pada Rabu (20/09) di Dongeng Kopi.

Di samping masalah biaya, penguasaan jaringan ritel buku oleh salah satu perusahaan, menurut Hariyadi adalah masalah lain dalam urusan distribusi buku. Ketiadaan pesaing yang sama kuatnya membuat persaingan di pasar buku menjadi kurang sehat. Oleh karena itu kemunculan distributor dan penerbit-penerbit indie yang memasarkan bukunya di luar jaringan toko buku besar tersebut, menurut Hariyadi adalah langkah yang harus diapresiasi dan terus dikembangkan. “Mau caranya daring maupun luring itu kan hanya cara. Yang penting di luar jaringan toko buku yang besar itu selalu ada aktivitas distribusi buku yang luas ke penjuru Indonesia ini,” tambah Hariyadi.

 

Hadiri Musyawarah Buku, Perbanyak Informasi

Musyawarah Buku yang rangkaian sidang komisinya berlangsung di Dongeng Kopi, juga turut dihadiri oleh pelaku literasi dari kota lain. Selain Dewan Kesenian Medan yang turut hadir pada sidang komisi redaksi dan produksi, seorang mahasiswi asal Pontianak bernama Jesi Resita pun ikut serta.

Jesi mengikuti tiga dari total lima sidang komisi yang diadakan sebagai bagian dari kegiatan menuju Kampung Buku Jogja 2017. Ditemui pada Selasa, (19/09) saat Sidang Komisi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), Jesi mengaku kehadirannya di Musyawarah Buku berawal dari ketidaksengajaan. “Kebetulan sedang di Jogja untuk urusan pekerjaan dan sekalian liburan, trus liat postingan bang Bara (Bernard Batubara) tentang acara ini di sosmednya. Kayaknya asyik dan ternyata beneran seru,”ungkap Jesi yang juga bekerja untuk sebuah stasiun televisi nasional ini.

Sebagai seorang pembaca, Jesi mengaku mendapat banyak pengetahuan baru soal perbukuan dari berbagai sidang yang dia ikuti di Musyawarah Buku ini. Khususnya soal penerbitan indie yang meriah di Jogja dan perdagangan buku yang begitu luas cakupannya. Jesi tak lupa mencatat sederetan toko buku daring dan luring yang turut serta dalam musyawarah, untuk didatanginya mendapatkan buku-buku yang ia cari.

Rezim HAKI, Don Quixote Yang Kesepian

Oleh: Sholeh UG

(Catatan ini disampaikan dalam Sidang Komisi HAKI-Musyawarah Buku Kampung Buku Jogja 2017)

 

Alffin Tofler dalam buku Third Wave membagi peradaban manusia dalam tiga gelombang. Tiap gelombang bisa merupakan kelanjutan, bisa pula repetisi, bisa pula tesa dan antites. Ketiga gelombang peradaban Toffler itu :

Masyarakat Pertanian, periode 800-1500

Masyarakat Industri, periode 1500-1970

Masyarakat Informasi, periode 1970-kini

 

Masyarakat Pertanian

Pada gelombang ini terjadi perubahan secara mendasar kultur manusia dari yang semula bersifat nomaden dan mengandalkan cocok tanam semusim serta berburu, menjadi masyarakat mukim dengan mengandalkan pertanian. Teknologi pada masyarakat gelombang pertama ini diciptakan untuk mendukung kultur pertanian. Pengetahuan dibagi dengan alasan untuk mencapai kesederajatan. Karena dengan kesederajatan akan mampu menghilangkan potensi ancaman. Berbagi (ini akan terulang pada gelombang ketiga) dan gotong royong diperlukan karena masyarakat pertanian sangat tergantung pada sumber daya alam : air, sinar matahati, angin, untuk menjalankan aktivitas pertanian.

Masyarakat Industri

Periode ini dimulai dengan renaissance dan puncaknya pada revolusi industri. Gelombang kedua ini disebut oleh Toffler memiliki ciri masyarakat yang ekonomis dan rakus.

Ekonomi berbagi pada masyarakat pertanian, seiring dengan ledakan penduduk, dianggap tidak lagi sesuai. Karena manusia telah berhasil menciptakan sarana perlindungan diri yang efektif dengan ditemukannya senjata api dan sebagainya.

Penemuan teknologi transportasi dan senjata telah melahirkan imperialisme dan kolonialisme. Imperialisme dan kolonialisme merupakan syahwat untuk memiliki secara berlebihan (penumpukan modal). Karena itu kepemilikan menjadi sangat menonjol, melahirkan sifat individualis. Oleh sebab itu penemuan dan teknologi dikapitalisasi karena dianggap milik pribadi atau kelompok. Gagasan perlindungan penemuan dan teknologi tersebut disahkan melalui Statute of Anne di Inggris (1710), dan mencapai puncaknya pada Bern Convention (1886), sumber dari pemberlakuan copyright.

Perlindungan atau dengan bahasa lain pembatasan sejalan dengan konsep kapitalisme, modal dan aset harus terus dihimpun sebesar-besarnya, agar pihak lain tidak mampu bersaing. Copyright bisa dilihat sebagai upaya untuk terus mempertahankan ekonomis rakus periode masyarakat industri.

Masyarakat Informasi

Ekonomi rakus yang dijalankan pada periode kedua, menyebabkan kelangkaan bahan bakar fosil. Oleh sebab itu masyarakat informasi mulai berusaha kembali memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan.

Masyarakat informasi memiliki ciri yang sangat menonjol yaitu masyarakat yang terbuka atau open society dengan pemanfaatan peer to peer, bersejawat. Pada periode ini, struktur masyarakat yang tersekat secara kaku peninggalan periode industri telah ditinggalkan dan digantikan struktur masyarakat yang sangat longgar. Orang “awam” memiliki peluang yang sama besar untuk meningkatkan statusnya. Awam yang ingin jadi artis bisa selfie dan kemudian menjadi celebgram, bisa ngeblog dan ngevlog untuk menghasilkan kekayaan melimpah.

Economic society ini kemudian melahirkan economic sharing. Kapitalisasi sudah kehabisan darah. Setiap orang, dimanapun ia berada, asal paham dan memiliki perangkat berbagi informasi, dapat menjadi pengusaha sekaligus eksportir. Taksi online merupakan contoh ekonomi berbagi yang paling nyata.

Gelombang ketiga ini merupakan kemenangan sosialisme atas kapitalisme. Sosialisme yang dimaksud ialah sosialisme dalam bentuk yang paling etis, yaitu kolektivisme. Masyarakat kolektif itulah sesungguhnya yang dikehendaki oleh para founding fathers kita.

 

Penerbit Haruskah Menjadi Don Quixote? 

Bagaimana dengan buku pada ketiga gelombangnya Toffler itu? Pasti juga mengalami perubahan. Buku, penulis, penerbit, distributor dan toko buku sudah dan akan terus berubah.

Beberapa waktu lalu Menteri Keuangan melihat ada fenomena aneh. Menurut data BPS penjualan ritel di Indonesia mengalami kelesuan. Di sisi lain pergerakan barang meningkat. Pelaku ritel berteriak penjualan barang mengalami penurunan.

Yodhia Antariksa, Agustus lalu membahas Rencana Aliansi Alibaba-Tokopedia dan Senjakala Mall di Indonesia. Data menarik yang disampaikan Yodhia, transaksi ritel di Indonesia mencapai 4500 triliun. Dan penjualan online mencapai 65 triliun atau belum sampai 2%. Meski belum mencapai 2 persen, sudah mampu membuat industri ritel kembang kempis, gerai Seven Eleven tutup, hypermart mengurangi gerainya, dan masih banyak yang lain.

Di dunia buku, penerbit (mainstream), toko buku, distributor berteriak omset menurun.

Data Gramedia, penjualan total tahun 2012 mencapai 33.565. 472 eksemplar. Di tahun 2013 menurun, berada di angka 33.202.154 eksemplar, dan menurun lagi di tahun 2014 di jumlah total 29.883.822 eksemplar (sumber : http://ikapi.org/component/k2/item/73-tren-penjualan-buku-di-toko-buku-menurun-pemerintah-dapat-membalikkannya.html).

Penurunan itu seringkali disebut akibat budaya baca yang lemah, pengaruh perangkat teknologi Informasi dan sebagainya. Meskipun, harus pula dicatat penerbit buku indie semakin meningkat jumlahnya. Omset penerbit indie juga meningkat. Artinya penjualan buku belum tentu menurun, hanya tidak tèrcatat di data resmi saja.

Hal lain yang perlu dicermati dalam konteks HAKI ialah bila rezim HAKI Indonesia berkiblat pada AS yang memandang HAKI sebagai economic right, maka paradigma itu ibarat bunga layu sebelum mekar. Economic sharing di bidang seni, hiburan, telah memberi kemerdekaan finansial pada para kreator yang mengupload karya mereka di youtube. Misalkan Edho Pratama diperkirakan memiliki penghasilan 44 juta. Posisi kedua Raditya Dika dan Reza Oktavian dengan 38 juta.

Untuk penulis, nama-nama seperti Sugeng Riyadi, Duto Sri Cahyono, Agus Rahmadani, mbak Nunik, Priangga Otviapta, Evrina Budiastuti dan masih banyak lagi penulis yang berpenghasilan puluhan juta perbulan. Tentu tak sedap bila penghasilan penulis ini dikomparasikan dengan pendapatan mereka dari royalti plus penjualan copyright.

 

Kesimpulan

Dari data-data itu, rezim HAKI peninggalan masyarakat industri yang sudah lapuk itu harus berpikir untuk merevisi teorinya.

Penerbit, toko buku dan distributor yang sedang menghadapi masa senjakala, perlu mengubah mindsetnya. Jangan menjadi kurcaci yang menangis di labirin, “Who moved my cheese”.

Tidak lama lagi, economic sharing model view perklik akan merambah dunia perbukuan. Buku cetak akan masih tetap laku untuk souvenir seperti untuk kado, penghias rak buku dan lain-lain. Karena itu cetak digital akan semakin laris. Dan kecenderungan ini kembali pada masyarakat pertanian, dimana buku hanya dicetak sangat terbatas karena masih ditulis dengan tangan.

Apakah pelaku buku di Jogja mau menjadi Don Quixote yang lapar dan merana ditinggal jaman? Hanya Kampung Buku yang bisa menjawab.

 

***Penulis adalah pelaku perbukuan yang sudah bertobat

Musyawarah Buku Indie: Dapur Redaksi dan Distribusi

“Dunia buku adalah dunia di mana para pelaku memutar otak, mengintip peluang, lalu mencoba menerobos celah itu dengan daya upaya yang mereka miliki. Sebagai bagian dari industri kreatif, para pemain-pemain dipaksa harus mengikuti pola-pola baru yang tadinya mungkin belum pernah dibayangkan.”

Kutipan di atas disampaikan Bajang  mengawali topic pembicaraan dalam Sidang Pleno Penerbit Indie, 8 September 2017. Lima pembicara Musyawarah Buku Indie, antara lain Dana Gumilar (Berdikari Book), Ainun Nufus (Penulis Wattpad), Prima Sulistya (Mojok), Kun Anindito (Gambang), Ahmad Khadafi (Editor) membahas  berbagai hal terkait dunia penerbitan dalam suasana yang santai di Dongeng Kopi Jogja.

Prima, mewakili penerbit BukuMojok, mengatakan bahwa ada model penulis yang membutuhkan ruang lebih luas dari penerbitan indie. “Buku Gaspar karya Sabda Armandio adalah salah satu contoh, saya malah ragu apakah jika di-indie-kan, oplahnya akan mencapai 3500 eks.”  Sebaliknya, Kun Anindito yang memilih mencetak dengan cara indie, beranggapan bahwa hal tersebut merupakan salah satu solusi bagi penerbit yang bermodal seadanya. “Jika tiga ratus dicetak ulang sepuluh kali, kan jadinya tiga ribu juga,” katanya sambil tertawa.

Terkait penjualan sebagaimana disampaikan Dana Berdikari Book, online sejauh ini memang iklim paling ramah bagi penerbit-penerbit alternatif. Berbeda dengan penerbit mayor yang masih bergantung pada offline, baik toko maupun event-event buku. “Semakin berbeda produknya, akan semakin laku di online” terang Dana. “Dan hal itu sangat membantu kami sebagai reseller. Sebab menjual produk-produk yang mungkin tidak tersedia di toko buku,” tambahnya.

Pembukaan Musyawarah Buku Akan Berlangsung di Dongeng Kopi

Dongeng Kopi Jogja yang terletak di Jln. Kranji Serang No.19B, dipilih sebagai tempat berlangsungnya Sidang Komisi Buku Indie yang akan dilaksanakan pada hari ini, Jumat, 8 September 2017. Hal itu bukan tanpa alasan. Sudah sejak tiga tahun lalu, Dongeng Kopi aktif berduet dengan Indie Book Corner untuk mengampanyekan dunia literasi lewat kopi dan buku.

Sidang komisi tersebut tersebut merupakan bagian dari Musyawarah Dunia Literasi & Pasar Buku di Indonesia. Para pegiat literasi akan membincangkan dirinya kembali. Adapun yang akan hadir sebagai narasumber dan pembahas antara lain Irwan Bajang (Indie Book Corner), Eka Putra (OAK), Kun Anindito (Gambang), Nufus (Diandra), Muhidin M. Dahlan (Warung Arsip), dan Indrian Koto (JBS).

Selain perbincangan tentang buku indie, akan berlangsung juga perbincangan tentang keredaksian, produksi, distribusi, dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Semua berlangsung dalam kurun waktu 8-21 September 2017 sebagai rangkaian acara Kampung Buku Jogja #3.