Kampung Buku Jogja 2017 Sebagai Kerja Sama Orang Muda

Pada suatu malam di akhir Agustus 2017 saya duduk di bangku kayu di warung burjo di depan rumah saya. Tak lama kemudian Mas Arif Abdulrakhim datang. Lalu kami beranjak menuju kawasan Seturan untuk menemui dua orang muda dari Katalika Project.

Kami akhirnya tiba di sana. Sebuah mural bikinan Isrol (Media Legal) terpampang di tembok besar dengan tulisan mencolok: “Mengasah Pedang Literasi”. Rumah ini adalah tempat kegiatan sebuah kolektif yang bergerak di dunia kreatif. Saya sendiri sudah mengenal Tomi Wibisono, pendiri kolektif ini, sejak tahun 2015 di masa peralihan mereka dari penerbitan majalah musik Warning Magazine ke penerbitan buku yang bernama Warning Books. Dari Tomi, saya mengenal Huhum Humbilly, Soni Triantoro, Titah Asmaning Winedar, Bengbeng, Galih Fajar, dan lain-lain. Buku pertama yang diterbitkan Warning Books adalah Questioning Everything: Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-baik Saja karya Tomi dan Soni.

Huhum adalah alumnus Jurusan Seni Rupa UNY, aktif di media seni tato Magic Ink, organizer acara-acara seni dan budaya, serta penulis yang baik. Soni adalah penulis musik yang karya-karyanya dimuat di banyak media, termasuk Rolling Stone, dan sekarang bekerja di situs web Hipwee.com. Titah banyak menulis untuk Warning. Galih aktif di komunitas sastra Ngopinyastro dan menjadi vokalis band Kopibasi. Ia juga sekarang bekerja di Hipwee. Sedangkan Bengbeng adalah seorang seniman muda yang karya-karya ilustrasinya sudah banyak dipakai sebagai desain sampul buku.

Kolektif kreatif di Seturan itu mempunyai lini-lini Rumah Kata (perpustakaan), Warning Magazine (majalah musik), Warningmagz.com (situs web musik), Warning Books (penerbitan buku), Buku Akik (toko buku daring), dan Katalika Project (biro desain grafis). Dengan latar belakang itu pula cukup beralasan kiranya bagi saya dan Mas Arif untuk menemui Tomi dan Bengbeng di malam yang hanya berjarak sedikit setelah mereka kelar mengerjakan desain artistik untuk ASEAN Literary Festival 2017 di Jakarta.

Ketika Mas Arif mengobrol dengan dua pemuda itu, saya mengingat lagi peristiwa pada suatu malam di tahun 2015. Waktu itu saya dan Mas Arif berbincang di Kedai Kopi Condongcatur tentang kemungkinan mengadakan kegiatan perbukuan yang unik dan beda dari acara-acara perbukuan yang sudah ada. Beberapa bulan sebelumnya saya, Irwan Bajang (Indie Book Corner), dan Yusuf Effendi (Diandra Creative) mengadakan Pasar Buku Indie 2014 di Toko Buku Toga Mas Affandi. Di sana pula saya mengenalkan Wijaya Kusuma Eka Putra (Pojok Cerpen) pada Bajang dan Puthut EA (Mojok).

Dalam obrolan kami malam itu, kami sepakat untuk mengajak Bajang dan Eka dalam pembentukan sebuah tim kerja penyelenggaraan Kampung Buku Jogja 2015. Saya sendiri menganggap kegiatan perbukuan itu perlu mendapat amunisi dari kalangan muda supaya terasa segar dan bernuansa baru. Adapun pencetus nama “Kampung Buku Jogja” adalah Mas Arif. Kami juga menyebut identitas kolektif kami sebagai Kampung Buku Jogja (KBJ).

Dua tahun kemudian, upaya untuk tetap menjaga keunikan, kebaruan, dan keterlibatan orang-orang muda itu semakin kental. Di malam saya dan Mas Arif bertemu dengan Tomi dan Bengbeng, kami mengajak mereka untuk mengerjakan desain grafis dan desain artistik venue Kampung Buku Jogja 2017. Saya juga meminta bantuan mereka untuk memberi masukan tentang band-band penampil di acara yang akan diselenggarakan pada 4-8 Oktober itu. Mereka menyetujui tawaran kerja sama dari kami.

Beberapa hari kemudian empat orang yang berada di KBJ bergerak menemui sejumlah kawan yang aktif di dunia buku dan literasi. Mas Arif menemui Puthut. Saya dan Eka bertemu dengan Edi Mulyono (Diva/Kampus Fiksi/Basabasi). Bajang mengonsolidasikan kawan-kawan di jaringan penulis. Kami sendiri sudah terbiasa berkomunikasi di Warung Kendi dengan para tetua di ranah perbukuan Jogja, seperti Buldanul Khuri, Indra Ismawan, Hairus Salim, dan lain-lain. Kami juga membicarakan soal-soal perbukuan dengan mereka sebelum dan sudah kami semua bermain futsal di setiap akhir pekan.

Mas Arif lantas mewakili kami untuk berkomunikasi secara intensif dengan Hinu OS (3G Production) mengenai soal-soal teknis pelaksanaan sebuah event. Sejak KBJ 2015, kami memang bekerja sama dengan perusahaan event organizer tersebut. Dua perempuan muda berada di wilayah yang berkaitan dengan pekerjaan Mas Arif, yaitu Tami Bastian dan Ade Anggraini.

Saya sendiri mengetuk pintu penerbit, komunitas, toko buku, dan distributor untuk mulai membicarakan tentang KBJ 2017. Bajang membuka dialog dengan kawan-kawan pengelola Dongeng Kopi dan Nyata Kopi. Kami ingin menjadikan Dongeng Kopi sebagai tempat pelaksanaan Muyawarah Buku, sebuah rangkaian kegiatan pre-event KBJ 2017. Sedangkan Nyata Kopi adalah tempat kami melakukan rapat-rapat persiapan KBJ 2017. Kami juga mengajak Agus (Nyata Kopi) sebagai dokumentator acara. Di saat yang bersamaan, Eka mulai mengumpulkan teman-teman dari kelompok penerbit indie dan pelaku usaha perniagaan buku langka.

Dari pembagian kerja seperti itulah KBJ 2017 mulai terlihat bentuknya. Dari jejaring Tomi, kami mendapatkan band-band keren yang “melek literasi” (Senartogok, Talamariam, Deugalih, Agoni, Umarhaen, Kopibasi) dan Monica Lanongbuka (Perpustakaan Jalanan DIY). Dari jejaring Bajang, kami mengajak Hasan Gauk, pemuda yang selalu membantu kami ketika kami membuat kegiatan perbukuan (KBJ 2015, KBJ 2016, dan Mocosik 2017). Lalu Bajang mengajak penulis Bernard Batubara menjadi narasumber di Musyawarah Buku. Ia juga mampu mendekatkan jarak usia di kalangan penulis sepak bola melalui keberhasilannya mengajak senior sekelas Sindhunata dan Yusuf Arifin dengan penulis-penulis Fajar Junaedi, Eddward S Kennedy, dan Sirajudin Hasby. Bahkan ia yang mengajak penyair-penyair Saut Situmorang, Indrian Koto, Kedung Darma Romansha, dan Raedu Basha ke KBJ 2017.

Dari lingkungan Indonesia Boekoe/Radiobuku yang dipimpin kawan dekat kami, Muhidin M Dahlan, kami mengajak Safar Banggai. Radiobuku adalah media partner KBJ sejak tahun 2015. Kemudian Hasan dan Safar bahu membahu menyiapkan dan mengawal lima sesi Musyawarah Buku.

Orang-orang muda lainnya berasal dari lingkungan Eka. Selain aktif di KBJ, ia adalah pemilik distributor buku indie Pojok Cerpen yang memiliki lini situs web Pocer.co dan web Bukupocer.com. Ia juga salah satu pemilik penerbit Oak dan pengelola penerbit-penerbit EA Book dan Circa. Melalui Eka, KBJ 2017 mendapat bantuan tenaga, yaitu Margaretha Ratih Fernandez dan Rijen untuk mengerjakan notulensi Musyawarah Buku, juga O Lihin (Stanbuku) untuk pengelolaan administrasi peserta dari penerbit-penerbit indie.

Jaringan pendukung KBJ 2017 semakin dikuatkan melalui komunikasi dengan beberapa kawan dekat kami. Hasilnya sungguh menyenangkan. Melalui para tetua, kami mampu mengajak Seno Gumira Ajidarma dan Sindhunata untuk hadir di acara ini. Bajang mengajak Landung Simatupang dan Gunawan Maryanto. Eka berhasil mengajak Komunitas Kretek dan Buku Mojok. Dari Nody Arizona (Komunitas Kretek) dan Eka, KBJ 2017 dapat menyajikan acara-acara yang melibatkan Nuran Wibisono, Nezar Patria, Komang Armada, Fawaz Al Batawy, Afthonul Afif, Arman Dhani, Prima Sulistya, dan Hairus Salim. Eka juga mengonsolidasikan 55 penerbit indie yang kebanyakan adalah orang-orang muda untuk menjadi peserta KBJ 2017. Selain itu ia menghimpun belasan orang muda yang di perniagaan buku langka.

Saya lantas meyakinkan Shoffan, pemilik toko buku daring bernama Nurmahera, agar mengajak kawan-kawan di penerbit Djaman Baroe untuk menghadirkan Max Lane di KBJ 2017. Melalui Ahmad, pemuda yang mengelola toko buku daring Teotraphi, saya mengajak Klub Buku Yogyakarta (KBY). Saya juga meminta Taufan Akbar, anak muda yang mengelola penerbit Nyala, untuk menghubungi lagi Afrizal Malna tentang kesediaannya menghadiri acara ini. Sedangkan keterlibatan LPM Ekspresi UNY di acara ini relatif mudah dikomunikasikan karena saya banyak mengenal mahasiswa-mahasiswa yang menjadi penggeraknya.

Kami bersyukur memiliki hubungan baik dengan kawan-kawan pegiat buku dan literasi di luar Jogja. Dodit Sulaksono/Tokohitam (Malang/Jakarta), pelaku usaha niaga buku langka, sudah mengikuti KBJ sejak tahun 2015. Yang bersamaan dengan dia adalah Mohammad Rudi/Kardus Buku (Depok), Agus Manaji/Bukulawas Menkmenk (Magelang), Deden/Lumbung (Bandung), Zhulfy/Layung (Garut), dan Wahyu Heriyadi/Kentja (Ciamis). Hingga sekarang mereka tetap menjadi bagian dari keluarga KBJ sebagaimana orang-orang yang mengikuti kegiatan ini sejak awal.

Jaringan KBJ yang berhubungan dengan orang-orang muda juga tampak kuat di ranah penerbitan buku indie. Kawan-kawan muda dari luar Jogja selalu menyempatkan diri untuk berbincang di Warung Kendi bersama pegiat-pegiat buku Jogja, termasuk Abel/Sinar Hidoep (Salatiga) dan Raedu Basha/Ganding (Madura).

Faktor pertemanan pula yang membuat Trubadur, penerbit yang didirikan oleh Luthfi Mardiansyah di Bandung, hadir di KBJ 2017. Awalnya saya mengenal Luthfi sebagai seorang penerjemah buku dan penulis. Saya mendapatkan kontaknya dari Mawaidi D. Mas (Cantrik Pustaka). Mawaidi sendiri pernah aktif di lingkungan Kampus Fiksi dan Gambang. Ia lalu mendirikan Cantrik Pustaka bersama Naufil Istikhari.

Saya tahu bahwa Luthfi cukup dekat dengan kawan-kawan kami di lingkungan JBS (Jual Buku Sastra) dan Gambang. Ia mengenal pelaku-pelaku perbukuan di Jogja. Kemudian ia menerjemahkan buku untuk Octopus, Cantrik, Gambang, dan Papyrus.

Papyrus adalah penerbit buku yang didirikan oleh Wayan Darmaputra. Kedekatan saya dengan Wayan dimulai dengan perkenalan kami via Tomi (Warning). Beberapa waktu kemudian Wayan, juga Buldanul Khuri (Mata Bangsa), memilih untuk berkantor di tempat yang sama dengan Indie Book Corner, Nyata Kopi, dan Toko Budi.

Kolektif buku lainnya dari Bandung yang berisi anak-anak muda adalah Yayasan Jungkirbalik. Saya mulai mengenal seorang mahasiswa bernama Kelana Wisnu Sapta Nugraha, salah satu penggeraknya, sejak ia menghubungi saya untuk berdiskusi tentang penerbitan buku. Sebelumnya mereka mengelola toko buku daring Ruangraung Buku. Kemudian proses pracetak dan cetak buku pertama Jungkribalik dikerjakan di Jogja. Desainnya dikerjakan oleh Mawaidi (Cantrik) dan Bengbeng (Katalika Project). Sedangkan produksinya digarap di Utama Offset.

Dari jangkauan Eka, KBJ 2017 mengajak penerbit-penerbit muda lainnya dari luar Jogja, seperti Svantantra (Bandung) dan Parabel (Salatiga). Melalui Eka pula kami akrab dengan Denny Mihzar/Pelangi Sastra (Malang) yang awalnya kami kenal dari sebuah acara pameran buku di Malang.

Mas Arif dan saya pernah mengalami fase riuh dunia buku di Jogja pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Hingga hari ini kami masih aktif di ranah perbukuan dan menyaksikan munculnya orang-orang muda yang bergiat di komunitas literasi, kolektif seni, penerbitan media, dan penerbitan buku. Pilihan aktivitas mereka sama dengan pilihan kami. Namun mereka mempunyai cara-cara yang relatif baru dibanding metode kami di masa terdahulu. Kenyataan ini pula yang menyadarkan kami bahwa dunia buku dan literasi terus bergerak secara dinamis. Siapa pun yang beraktivitas di ranah literasi dan buku perlu bekerja sama untuk mengembangkan kegiatannya demi masa depan perbukuan di Indonesia.

Pada Jumat malam, 28 September 2017, saya mengobrol dengan Dodit Sulaksono dan Patrick Manurung. Kami berbincang tentang banyaknya anak-anak muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki jaringan yang luas. Kami mengagumi mereka. Mungkin kami akan semakin sering menyaksikan mereka beraktivitas dan mendukung kegiatan mereka. Tapi kami juga dapat mendekat dan bekerja sama dengan mereka.

KBJ sudah melakukan kerja sama tersebut sejak awal. Bahkan, selain nama-nama yang sudah disebut di atas, masih banyak orang muda lainnya yang berpartisipasi dalam KBJ 2017. Mereka aktif sebagai bagian dari panitia, peserta, maupun pengisi acara. Kita semua akan berjumpa dengan mereka. Kita akan merayakan buku dengan energi dan semangat muda.

Kamar Redaksi Penerbit Buku : Gagasan, Kreativitas, dan Kualitas Bacaan

*Bahan untuk Sidang Komisi Keredaksian

Kamar-kamar redaksi dan produksi di kantor-kantor penerbit buku di Indonesia nyaris setiap saat membikin produk-produk yang berbeda. Tidak pernah ada sebuah buku baru yang keseluruhan fisik dan muatannya sepenuhnya sama dengan buku sebelumnya. Kalaupun ada pihak di luar penerbit yang berusaha menyamai buku tersebut, maka pihak itu adalah pembajak buku. Tapi, tetap saja tidak akan ada sebuah buku yang seratus persen serupa dengan buku lainnya dari penerbit yang sama.

Penerbit adalah produsen buku yang kerja penyiapan serta hasil produksinya berbeda dengan produsen non-buku. Setiap buku yang akan dilahirkan oleh penerbit memerlukan pembeda, keunikan, kebaruan, dan lain-lain. Penerbit dituntut untuk selalu menaikkan gagasan-gagasan segar dan baru pada setiap buku yang diterbitkan. Itulah sebab dunia penerbitan buku adalah dunia kreativitas.

Pelaku-pelaku dan praktisi-praktisi penerbitan harus memiliki daya kreativitas dan kemampuan inovasi yang cukup tinggi karena mereka hendak membuat produk yang berbeda satu dengan lainnya. Ketika penerbit akan menerbitkan sebuah buku, maka penerbit harus berpikir dan bekerja secara berbeda dengan buku sebelumnya yang terlebih dahulu terbit. Begitu seterusnya sehingga setiap produk dari penerbit itu tidak pernah sama.

Kreativitas penerbit adalah syarat penting bagi industri buku. Kreativitas itu dapat muncul dari gagasan awal yang dimunculkan penerbit maupun karena faktor-faktor yang berkembang di masyarakat. Dalam urusan yang pertama, penerbit mengamati pergerakan buku-buku di jejaring perbukuan berdasarkan data-data yang dimilikinya (tema terbitan, kompetisi antar-penerbit, penjualan, dan lain-lain) lantas menentukan tema buku yang akan diterbitkannya. Sedangkan dalam urusan yang kedua, penerbit mencermati isu-isu dan perbincangan yang terjadi di masyarakat (masalah-masalah nasional, informasi publik, media massa, media sosial, dan lain-lain) lalu menentukan tema yang akan dibukukan oleh penerbit.

Dari dua aras pemantik inovasi dan kreativitas penerbit itu kita dapat menyaksikan banyaknya jenis buku yang beredar di masyarakat. Cara paling mudah untuk mengetahui keragaman tema buku yang dihasilkan dari kreativitas penerbit itu adalah dengan masuk ke toko buku (luring maupun daring) lantas memeriksa pelbagai judul buku yang ada di sana ataupun memeriksa katalog-katalog penerbit. Masyarakat atau pembaca buku tentu saja dapat mengonsumsi aneka bacaan tersebut sesuai kebutuhannya. Ketersediaan buku yang muatannya beragam dan banyaknya tema yang ditawarkan oleh penerbit itulah yang menunjukkan bahwa dunia penerbitan buku merupakan dunia yang dinamis, kreatif, dan penuh tantangan.

Penerbit selalu berusaha menawarkan bacaan untuk publik dan melayani keinginan masyarakat atas bacaan. Oleh karena itu penerbit membangun dan mengembangkan divisi keredaksian yang bertugas mengolah bahan baku untuk buku. Bahan baku utama sebuah buku adalah naskah yang berasal dari penulis. Penerbit bisa mendapatkannya dengan mencari naskah dan/atau mengeksekusi naskah yang ditawarkan oleh penulis. Namun dua hal ini bisa dilakukan secara beriringan karena mungkin juga penerbit memiliki sebuah ide kreatif untuk buku tapi belum menemukan penulis yang tepat ataupun penerbit melihat ada hal yang cocok dari naskah milik penulis dengan rencana penerbitan buku oleh penerbit.

Dalam situasi mutakhir dunia kepenulisan, para penulis baru bermunculan dengan pelbagai medium. Penerbit dapat mencari dan menemukan naskah buku dari lingkungan akademik (kampus, lembaga riset, komunitas tematik), media massa (surat kabar, majalah, jurnal, situs web dan blog), kompetisi kepenulisan (lomba, ajang penghargaan karya), aplikasi digital untuk kepenulisan, ataupun media sosial. Perkembangan pesat teknologi informasi memang turut memungkinkan lahirnya penulis-penulis baru yang tentu saja dapat dimanfaatkan oleh penerbit yang memerlukan bahan baku penerbitan buku.

Kerja sama penulis dengan penerbit untuk penerbitan sebuah buku dilakukan karena kedua belah pihak itu saling membutuhkan. Penulis memerlukan penerbit supaya karyanya bisa diperbanyak lalu dikonsumsi oleh pembaca di tingkat yang luas. Sedangkan penerbit mewujudkan naskah dari penulis menjadi buku dengan membiayai seluruh proses penyiapan buku tersebut (royalti penulis, keredaksian, produksi, distribusi, pemasaran). Karena buku adalah produk yang diperjualbelikan dan mendatangkan keuntungan ekonomi, maka pemerintah mewajibkan penerbit dan penulis untuk membayar pajak. Misalnya, penerbit menanggung pajak di sektor distribusi dan pemasaran, sedangkan penulis dikenai pajak penghasilan atas profesinya sebagai pencipta naskah.

Setelah penerbit mendapatkan naskah, maka penerbit melakukan kerja keredaksian berupa penerjemahan, penyuntingan, pengoreksian naskah, dan lain-lain. Divisi keredaksian di sebuah penerbit itu memerlukan tenaga-tenaga penerjemah, penyunting, pengoreksi naskah, dan sebagainya. Pada dasarnya pekerja-pekerja keredaksian itu adalah tenaga-tenaga profesional yang memerlukan acuan kerja, kesejahteraan, dan perlindungan atas pekerjaannya. Penerbit tentu saja bertanggung jawab dalam hal-hal tersebut terhadap para pekerja keredaksian. Namun, dalam skala yang lebih luas diperlukan sebuah payung kolektif yang menjadi tempat bernaung bagi para pekerja tersebut.

Bekerja di bidang keredaksian penerbit buku tidak hanya berkaitan dengan keterampilan mengerjakan naskah tetapi juga pemahaman atas kondisi mutakhir di masyarakat. Menjadi penyunting buku, misalnya, bukan berarti sekadar bermodalkan kemampuan memeriksa teks tapi juga keluasan wawasan yang berkaitan dengan materi naskah yang disuntingnya. Artinya, ia harus membaca referensi pendukung, mengikuti perkembangan informasi terkait, dan meminimalkan kesalahan dalam pekerjaaannya tersebut. Pada saat yang sama ia perlu mencermati kondisi pasar buku yang dapat mendorongnya untuk menghasilkan buku yang baik bagi pembaca. Dalam hal inilah penerbit memerlukan tim keredaksian yang cerdas, terampil, dan teliti. Kebutuhan itu harus dibalas oleh penerbit dengan menciptakan situasi kerja yang nyaman dan kesejahteraan yang baik bagi pekerja keredaksian.

Dalam sejumlah kasus, pembaca buku dapat menemukan buku terjemahan yang kualitas terjemahannya tidak bagus. Masalah semacam ini muncul karena kesalahan yang dilakukan penerbit dan penerjemah. Sedangkan akar masalahnya sangat mungkin berhubungan dengan kualifikasi penerjemah, ketidakmampuan tim redaksi dalam mengolah naskah terjemahan, ataupun rendahnya honor untuk penerjemah. Tentu saja masalah ini harus diselesaikan oleh pihak-pihak yang berada di dunia penerbitan buku demi masa depan industri buku di Indonesia.

Contoh masalah lainnya berhubungan dengan kerja sama penulis dengan penerbit. Nilai royalti penulis lebih sering ditentukan oleh penerbit sehingga posisi penulis di masa mendatang hampir tidak akan beranjak dari posisinya sekarang. Padahal, royalti itu berkenaan dengan kehidupan penulis dan daya tahannya dalam bidang pekerjaan kreatif. Minimnya royalti penulis sangat mungkin akan menghambat kreativitas penulis dalam melahirkan naskah-naskah bermutu tinggi. Apalagi penulis masih harus membayar pajak penghasilan atas nilai ekonomi yang ia dapatkan dari penerbit buku.

Sepertinya industri buku di Indonesia belum memiliki platform yang tepat untuk mengakomodasi kepentingan penulis dan penerbit. Banyaknya penulis dan komunitas penulis belum mampu menangani persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kepentingan penulis di hadapan penerbit. Sebaliknya, tidak semua penerbit tergabung dalam asosiasi penerbit sehingga setiap penerbit dapat dengan bebas menentukan pola kerja samanya dengan penulis. Bahkan, asosiasi penerbit pun belum mendiskusikan dan menentukan pola yang tepat dalam hubungan kerja penerbit dan penulis.

Masyarakat Indonesia membutuhkan bacaan-bacaan yang variatif. Buku adalah medium yang dapat diisi dengan pelbagai jenis muatan dan materi pengetahuan, informasi, maupun hiburan. Kita ingin berpikir reflektif dan bertindak proporsional setelah kita membaca buku. Dalam hal inilah penerbit, melalui divisi keredaksian, perlu memberikan buku yang bermutu bagi masyarakat. Ketika masyarakat cenderung berpikir secara instan dan bertindak tergesa-gesa dalam mencermati sebuah persoalan, maka buku dapat menjadi sarana permenungan sehingga masyarakat bisa tumbuh dengan nalar dan adab yang baik.

Kampung Buku Jogja 2017 Siap Digelar 4-8 Oktober

Saat ini kehidupan sosial di Indonesia sedang mendapat tantangan dan gangguan dengan terjadinya peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kemajemukan dan toleransi masyarakat. Kasus-kasus intoleransi dan gesekan-gesekan akibat perbedaan pandangan tentang masalah identitas terjadi di sejumlah wilayah. Kelompok masyarakat tertentu memvonis kelompok masyarakat lainnya sebagai pihak yang tidak berhak menjalankan aktivitas kelompoknya karena dianggap berbeda dalam soal keyakinan ataupun agama.

Masalah tersebut semakin terasa mengkhawatirkan bagi masa depan kebhinekaan Indonesia karena adanya perdebatan dan perang opini yang berlangsung di dunia maya. Media sosial telah menjadi ajang persaingan antar-kelompok yang mengusung pendapat berbeda sehingga mengarah pada rivalitas bahkan pertikaian. Banyak orang menjadi terlalu mudah mengunggah kabar dan informasi yang belum diperiksa kebenarannya. Informasi dan berita bohong (hoax) tersebar dengan sangat cepat karena banyaknya orang yang saling membagikannya via media sosial. Maraknya kasus-kasus intoleransi pun dipengaruhi antara lain oleh penyebaran kabar bohong tersebut.

Saat ini sebagian masyarakat di Indonesia seperti mudah tersulut emosi dan mudah menjadi hakim atas sebuah peristiwa. Informasi dan kabar tidak terlebih dulu dibaca dengan teliti, dicermati muatannya, ditelusuri sumbernya. Kita menjadi warga masyarakat yang tidak berpikir kritis, tidak reflektif, dan tidak bijaksana. Dengan kata lain kita sedang mengalami masalah dalam pembacaan atas kondisi sosial. Kita mengalami krisis literasi justru ketika informasi hadir dengan sangat banyak dan mudah di sekeliling kita.

Dalam situasi krisis literasi itulah kita perlu menengok lagi dunia pustaka atau dunia buku. Kepustakaan adalah medium yang mampu mengajak kita melepaskan diri dari hiruk pikuk dan sengakrut perdebatan di media sosial. Kita perlu kembali memperhatikan buku yang sudah sejak lama dianggap sebagai “jendela dunia”. Membaca buku adalah upaya bagi kita untuk belajar berpikir kritis dan reflektif sehingga kita tidak akan menjadi manusia yang tergesa-gesa dalam berpikir dan bertindak.

Kebutuhan kita akan kegiatan membaca tentu saja berkaitan dengan ketersediaan bacaan dan kepustakaan. Salah satu pendukung untuk pengadaan buku itu adalah pasar buku. Kita memerlukan buku untuk dibaca dan kita bisa mendapatkannya di pasar buku. Penerbit dan toko buku pun menjadi pihak penyokong ketersediaan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam hal inilah pasar buku harus menjadi tempat yang mampu menyediakan bacaan-bacaan bermutu tinggi untuk meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan daya literasi masyarakat.

Untuk mengikuti kemajuan teknologi informasi, komponen-komponen pendukung pasar buku memang perlu membangun serta mengembangkan strategi penyebaran buku untuk masyarakat. Kampanye-kampanye tentang buku dan literasi harus terus dilakukan untuk mengimbangi peredaran informasi yang salah dan kabar bohong di dunia maya. Di saat yang fisik buku perlu disediakan di pelbagai tempat dengan cara-cara modern yang mampu mendekatkan bacaan dengan publik dan pembacanya.

Kampung Buku Jogja 2017 adalah kegiatan perbukuan yang mendukung penguatan literasi dan pengembangan dunia pustaka. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan bacaan yang bermutu, penting, dan bermanfaat bagi publik. Diskusi-diskusi yang berlangsung di dalamnya adalah upaya untuk menguatkan kemampuan pembacaan masyarakat atas pelbagai peristiwa sosial mutakhir yang dikaitkan dengan realitas dunia kepustakaan di Indonesia. Sedangkan produk-produk bacaan atau buku yang disediakan dalam kegiatan ini adalah materi-materi terpilih yang akan mampu mendorong masyarakat untuk berpikir terbuka, kritis, dan proporsional. Dengan kata lain kegiatan ini merupakan upaya pembaruan cara berpikir dan bertindak sehingga kita bisa bersama-sama membangun masyarakat yang cerdas dan beradab.

Bertempat di Foodpark, Lembah UGM, Kampung Buku Jogja akan dihelat pada 4-8 Oktober 2017. Selain pameran buku, akan diadakan juga serangkaian diskusi buku, temu komunitas, acara hiburan, serta penyampaian hasil Musyawarah Buku.

 

Kampung Buku Jogja 2016: “WAKTU”

Setahun lalu kami berhasil menyelenggarakan Kampung Buku Jogja 2015.  Kegiatan itu diselenggarakan untuk menyikapi perubahan yang terjadi di dunia perbukuan dan dialami stakeholder perbukuan (penerbit, percetakan, toko buku, distributor buku, pembaca). Akar masalahnya terletak pada “anomali industri buku”.

Lanjutkan membaca Kampung Buku Jogja 2016: “WAKTU”

Setelah Geger Buku 2003

Orang-orang berhimpun dan berdesakan di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada jam 20.00 WIB, 28 Mei 2003. Mereka datang atas sebuah undangan yang diedarkan melalui layanan pesan singkat (SMS) dan milis-milis buku serta sastra. Dua sastrawan muda yang mewakili Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia sebagai panitia, yaitu Satmoko Budi Santoso dan Raudal Tanjung Banua, sangat tegas memungkasi bunyi undangan itu dengan kalimat: “Salam Jogja”. Acara meriah di malam itu pun judulnya bikin merinding: “Ketika Jogja Menghakimi Jakarta”.

Lanjutkan membaca Setelah Geger Buku 2003

Para Industrialis Sastra

Pada Desember 1956, Iwan Simatupang menghadiri dan meliput sejumlah acara sastra di Den Haag, Belanda. Rangkaian acaranya adalah penyerahan anugerah sastra untuk pengarang Herman Teirlinck, Konferensi VI Sastra Belanda, dan sebuah “pameran sastra” di Museum Kotapraja. Acara yang terakhir berisi pameran potret, tulisan tangan, dan barang-barang aneh milik 50 pengarang Vlaming dan Belanda dari kurun waktu 1905 hingga 1955. Katalog pameran ini memuat potret para pengarang, juga fragmen dari karya-karya mereka.

Lanjutkan membaca Para Industrialis Sastra

Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

I

Sumitro Djojohadikusumo berusia 21 tahun ketika ia bekerja sebagai pelayan restoran di Hotel Lancaster, tidak jauh dari Champ-Elysees, Paris. Di ibu kota Prancis itu pula ia pertama kali bertemu dengan Andre Malraux. Pertemuan di jalan de Berri itu sangat mengesankan bagi Sumitro karena ia mengagumi peran historis dan peran akademis Malraux, sosok yang menyatukan identitas aktivis, intelektual, sekaligus negarawan. Dalam perkataan maupun tindakannya, Malraux tidak pernah menganjurkan l’action pour l’action, perbuatan demi perbuatan. Di semua kegiatan dan karya tulisnya, ia selalu menegaskan perihal martabat manusia dan keadilan sosial. “Malraux itu l’homme engage,” ujar Sumitro, “manusia yang berpihak dan sepenuhnya mengabdikan diri pada upaya mempertahankan martabat manusia dan keadilan dalan konteks sosialnya.”

Lanjutkan membaca Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang