Kamar Redaksi Penerbit Buku : Gagasan, Kreativitas, dan Kualitas Bacaan

*Bahan untuk Sidang Komisi Keredaksian

Kamar-kamar redaksi dan produksi di kantor-kantor penerbit buku di Indonesia nyaris setiap saat membikin produk-produk yang berbeda. Tidak pernah ada sebuah buku baru yang keseluruhan fisik dan muatannya sepenuhnya sama dengan buku sebelumnya. Kalaupun ada pihak di luar penerbit yang berusaha menyamai buku tersebut, maka pihak itu adalah pembajak buku. Tapi, tetap saja tidak akan ada sebuah buku yang seratus persen serupa dengan buku lainnya dari penerbit yang sama.

Penerbit adalah produsen buku yang kerja penyiapan serta hasil produksinya berbeda dengan produsen non-buku. Setiap buku yang akan dilahirkan oleh penerbit memerlukan pembeda, keunikan, kebaruan, dan lain-lain. Penerbit dituntut untuk selalu menaikkan gagasan-gagasan segar dan baru pada setiap buku yang diterbitkan. Itulah sebab dunia penerbitan buku adalah dunia kreativitas.

Pelaku-pelaku dan praktisi-praktisi penerbitan harus memiliki daya kreativitas dan kemampuan inovasi yang cukup tinggi karena mereka hendak membuat produk yang berbeda satu dengan lainnya. Ketika penerbit akan menerbitkan sebuah buku, maka penerbit harus berpikir dan bekerja secara berbeda dengan buku sebelumnya yang terlebih dahulu terbit. Begitu seterusnya sehingga setiap produk dari penerbit itu tidak pernah sama.

Kreativitas penerbit adalah syarat penting bagi industri buku. Kreativitas itu dapat muncul dari gagasan awal yang dimunculkan penerbit maupun karena faktor-faktor yang berkembang di masyarakat. Dalam urusan yang pertama, penerbit mengamati pergerakan buku-buku di jejaring perbukuan berdasarkan data-data yang dimilikinya (tema terbitan, kompetisi antar-penerbit, penjualan, dan lain-lain) lantas menentukan tema buku yang akan diterbitkannya. Sedangkan dalam urusan yang kedua, penerbit mencermati isu-isu dan perbincangan yang terjadi di masyarakat (masalah-masalah nasional, informasi publik, media massa, media sosial, dan lain-lain) lalu menentukan tema yang akan dibukukan oleh penerbit.

Dari dua aras pemantik inovasi dan kreativitas penerbit itu kita dapat menyaksikan banyaknya jenis buku yang beredar di masyarakat. Cara paling mudah untuk mengetahui keragaman tema buku yang dihasilkan dari kreativitas penerbit itu adalah dengan masuk ke toko buku (luring maupun daring) lantas memeriksa pelbagai judul buku yang ada di sana ataupun memeriksa katalog-katalog penerbit. Masyarakat atau pembaca buku tentu saja dapat mengonsumsi aneka bacaan tersebut sesuai kebutuhannya. Ketersediaan buku yang muatannya beragam dan banyaknya tema yang ditawarkan oleh penerbit itulah yang menunjukkan bahwa dunia penerbitan buku merupakan dunia yang dinamis, kreatif, dan penuh tantangan.

Penerbit selalu berusaha menawarkan bacaan untuk publik dan melayani keinginan masyarakat atas bacaan. Oleh karena itu penerbit membangun dan mengembangkan divisi keredaksian yang bertugas mengolah bahan baku untuk buku. Bahan baku utama sebuah buku adalah naskah yang berasal dari penulis. Penerbit bisa mendapatkannya dengan mencari naskah dan/atau mengeksekusi naskah yang ditawarkan oleh penulis. Namun dua hal ini bisa dilakukan secara beriringan karena mungkin juga penerbit memiliki sebuah ide kreatif untuk buku tapi belum menemukan penulis yang tepat ataupun penerbit melihat ada hal yang cocok dari naskah milik penulis dengan rencana penerbitan buku oleh penerbit.

Dalam situasi mutakhir dunia kepenulisan, para penulis baru bermunculan dengan pelbagai medium. Penerbit dapat mencari dan menemukan naskah buku dari lingkungan akademik (kampus, lembaga riset, komunitas tematik), media massa (surat kabar, majalah, jurnal, situs web dan blog), kompetisi kepenulisan (lomba, ajang penghargaan karya), aplikasi digital untuk kepenulisan, ataupun media sosial. Perkembangan pesat teknologi informasi memang turut memungkinkan lahirnya penulis-penulis baru yang tentu saja dapat dimanfaatkan oleh penerbit yang memerlukan bahan baku penerbitan buku.

Kerja sama penulis dengan penerbit untuk penerbitan sebuah buku dilakukan karena kedua belah pihak itu saling membutuhkan. Penulis memerlukan penerbit supaya karyanya bisa diperbanyak lalu dikonsumsi oleh pembaca di tingkat yang luas. Sedangkan penerbit mewujudkan naskah dari penulis menjadi buku dengan membiayai seluruh proses penyiapan buku tersebut (royalti penulis, keredaksian, produksi, distribusi, pemasaran). Karena buku adalah produk yang diperjualbelikan dan mendatangkan keuntungan ekonomi, maka pemerintah mewajibkan penerbit dan penulis untuk membayar pajak. Misalnya, penerbit menanggung pajak di sektor distribusi dan pemasaran, sedangkan penulis dikenai pajak penghasilan atas profesinya sebagai pencipta naskah.

Setelah penerbit mendapatkan naskah, maka penerbit melakukan kerja keredaksian berupa penerjemahan, penyuntingan, pengoreksian naskah, dan lain-lain. Divisi keredaksian di sebuah penerbit itu memerlukan tenaga-tenaga penerjemah, penyunting, pengoreksi naskah, dan sebagainya. Pada dasarnya pekerja-pekerja keredaksian itu adalah tenaga-tenaga profesional yang memerlukan acuan kerja, kesejahteraan, dan perlindungan atas pekerjaannya. Penerbit tentu saja bertanggung jawab dalam hal-hal tersebut terhadap para pekerja keredaksian. Namun, dalam skala yang lebih luas diperlukan sebuah payung kolektif yang menjadi tempat bernaung bagi para pekerja tersebut.

Bekerja di bidang keredaksian penerbit buku tidak hanya berkaitan dengan keterampilan mengerjakan naskah tetapi juga pemahaman atas kondisi mutakhir di masyarakat. Menjadi penyunting buku, misalnya, bukan berarti sekadar bermodalkan kemampuan memeriksa teks tapi juga keluasan wawasan yang berkaitan dengan materi naskah yang disuntingnya. Artinya, ia harus membaca referensi pendukung, mengikuti perkembangan informasi terkait, dan meminimalkan kesalahan dalam pekerjaaannya tersebut. Pada saat yang sama ia perlu mencermati kondisi pasar buku yang dapat mendorongnya untuk menghasilkan buku yang baik bagi pembaca. Dalam hal inilah penerbit memerlukan tim keredaksian yang cerdas, terampil, dan teliti. Kebutuhan itu harus dibalas oleh penerbit dengan menciptakan situasi kerja yang nyaman dan kesejahteraan yang baik bagi pekerja keredaksian.

Dalam sejumlah kasus, pembaca buku dapat menemukan buku terjemahan yang kualitas terjemahannya tidak bagus. Masalah semacam ini muncul karena kesalahan yang dilakukan penerbit dan penerjemah. Sedangkan akar masalahnya sangat mungkin berhubungan dengan kualifikasi penerjemah, ketidakmampuan tim redaksi dalam mengolah naskah terjemahan, ataupun rendahnya honor untuk penerjemah. Tentu saja masalah ini harus diselesaikan oleh pihak-pihak yang berada di dunia penerbitan buku demi masa depan industri buku di Indonesia.

Contoh masalah lainnya berhubungan dengan kerja sama penulis dengan penerbit. Nilai royalti penulis lebih sering ditentukan oleh penerbit sehingga posisi penulis di masa mendatang hampir tidak akan beranjak dari posisinya sekarang. Padahal, royalti itu berkenaan dengan kehidupan penulis dan daya tahannya dalam bidang pekerjaan kreatif. Minimnya royalti penulis sangat mungkin akan menghambat kreativitas penulis dalam melahirkan naskah-naskah bermutu tinggi. Apalagi penulis masih harus membayar pajak penghasilan atas nilai ekonomi yang ia dapatkan dari penerbit buku.

Sepertinya industri buku di Indonesia belum memiliki platform yang tepat untuk mengakomodasi kepentingan penulis dan penerbit. Banyaknya penulis dan komunitas penulis belum mampu menangani persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kepentingan penulis di hadapan penerbit. Sebaliknya, tidak semua penerbit tergabung dalam asosiasi penerbit sehingga setiap penerbit dapat dengan bebas menentukan pola kerja samanya dengan penulis. Bahkan, asosiasi penerbit pun belum mendiskusikan dan menentukan pola yang tepat dalam hubungan kerja penerbit dan penulis.

Masyarakat Indonesia membutuhkan bacaan-bacaan yang variatif. Buku adalah medium yang dapat diisi dengan pelbagai jenis muatan dan materi pengetahuan, informasi, maupun hiburan. Kita ingin berpikir reflektif dan bertindak proporsional setelah kita membaca buku. Dalam hal inilah penerbit, melalui divisi keredaksian, perlu memberikan buku yang bermutu bagi masyarakat. Ketika masyarakat cenderung berpikir secara instan dan bertindak tergesa-gesa dalam mencermati sebuah persoalan, maka buku dapat menjadi sarana permenungan sehingga masyarakat bisa tumbuh dengan nalar dan adab yang baik.

Kampung Buku Jogja 2017 Siap Digelar 4-8 Oktober

Saat ini kehidupan sosial di Indonesia sedang mendapat tantangan dan gangguan dengan terjadinya peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kemajemukan dan toleransi masyarakat. Kasus-kasus intoleransi dan gesekan-gesekan akibat perbedaan pandangan tentang masalah identitas terjadi di sejumlah wilayah. Kelompok masyarakat tertentu memvonis kelompok masyarakat lainnya sebagai pihak yang tidak berhak menjalankan aktivitas kelompoknya karena dianggap berbeda dalam soal keyakinan ataupun agama.

Masalah tersebut semakin terasa mengkhawatirkan bagi masa depan kebhinekaan Indonesia karena adanya perdebatan dan perang opini yang berlangsung di dunia maya. Media sosial telah menjadi ajang persaingan antar-kelompok yang mengusung pendapat berbeda sehingga mengarah pada rivalitas bahkan pertikaian. Banyak orang menjadi terlalu mudah mengunggah kabar dan informasi yang belum diperiksa kebenarannya. Informasi dan berita bohong (hoax) tersebar dengan sangat cepat karena banyaknya orang yang saling membagikannya via media sosial. Maraknya kasus-kasus intoleransi pun dipengaruhi antara lain oleh penyebaran kabar bohong tersebut.

Saat ini sebagian masyarakat di Indonesia seperti mudah tersulut emosi dan mudah menjadi hakim atas sebuah peristiwa. Informasi dan kabar tidak terlebih dulu dibaca dengan teliti, dicermati muatannya, ditelusuri sumbernya. Kita menjadi warga masyarakat yang tidak berpikir kritis, tidak reflektif, dan tidak bijaksana. Dengan kata lain kita sedang mengalami masalah dalam pembacaan atas kondisi sosial. Kita mengalami krisis literasi justru ketika informasi hadir dengan sangat banyak dan mudah di sekeliling kita.

Dalam situasi krisis literasi itulah kita perlu menengok lagi dunia pustaka atau dunia buku. Kepustakaan adalah medium yang mampu mengajak kita melepaskan diri dari hiruk pikuk dan sengakrut perdebatan di media sosial. Kita perlu kembali memperhatikan buku yang sudah sejak lama dianggap sebagai “jendela dunia”. Membaca buku adalah upaya bagi kita untuk belajar berpikir kritis dan reflektif sehingga kita tidak akan menjadi manusia yang tergesa-gesa dalam berpikir dan bertindak.

Kebutuhan kita akan kegiatan membaca tentu saja berkaitan dengan ketersediaan bacaan dan kepustakaan. Salah satu pendukung untuk pengadaan buku itu adalah pasar buku. Kita memerlukan buku untuk dibaca dan kita bisa mendapatkannya di pasar buku. Penerbit dan toko buku pun menjadi pihak penyokong ketersediaan bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam hal inilah pasar buku harus menjadi tempat yang mampu menyediakan bacaan-bacaan bermutu tinggi untuk meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan daya literasi masyarakat.

Untuk mengikuti kemajuan teknologi informasi, komponen-komponen pendukung pasar buku memang perlu membangun serta mengembangkan strategi penyebaran buku untuk masyarakat. Kampanye-kampanye tentang buku dan literasi harus terus dilakukan untuk mengimbangi peredaran informasi yang salah dan kabar bohong di dunia maya. Di saat yang fisik buku perlu disediakan di pelbagai tempat dengan cara-cara modern yang mampu mendekatkan bacaan dengan publik dan pembacanya.

Kampung Buku Jogja 2017 adalah kegiatan perbukuan yang mendukung penguatan literasi dan pengembangan dunia pustaka. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan bacaan yang bermutu, penting, dan bermanfaat bagi publik. Diskusi-diskusi yang berlangsung di dalamnya adalah upaya untuk menguatkan kemampuan pembacaan masyarakat atas pelbagai peristiwa sosial mutakhir yang dikaitkan dengan realitas dunia kepustakaan di Indonesia. Sedangkan produk-produk bacaan atau buku yang disediakan dalam kegiatan ini adalah materi-materi terpilih yang akan mampu mendorong masyarakat untuk berpikir terbuka, kritis, dan proporsional. Dengan kata lain kegiatan ini merupakan upaya pembaruan cara berpikir dan bertindak sehingga kita bisa bersama-sama membangun masyarakat yang cerdas dan beradab.

Bertempat di Foodpark, Lembah UGM, Kampung Buku Jogja akan dihelat pada 4-8 Oktober 2017. Selain pameran buku, akan diadakan juga serangkaian diskusi buku, temu komunitas, acara hiburan, serta penyampaian hasil Musyawarah Buku.

 

Kampung Buku Jogja 2016: “WAKTU”

Setahun lalu kami berhasil menyelenggarakan Kampung Buku Jogja 2015.  Kegiatan itu diselenggarakan untuk menyikapi perubahan yang terjadi di dunia perbukuan dan dialami stakeholder perbukuan (penerbit, percetakan, toko buku, distributor buku, pembaca). Akar masalahnya terletak pada “anomali industri buku”.

Lanjutkan membaca Kampung Buku Jogja 2016: “WAKTU”

Setelah Geger Buku 2003

Orang-orang berhimpun dan berdesakan di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada jam 20.00 WIB, 28 Mei 2003. Mereka datang atas sebuah undangan yang diedarkan melalui layanan pesan singkat (SMS) dan milis-milis buku serta sastra. Dua sastrawan muda yang mewakili Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia sebagai panitia, yaitu Satmoko Budi Santoso dan Raudal Tanjung Banua, sangat tegas memungkasi bunyi undangan itu dengan kalimat: “Salam Jogja”. Acara meriah di malam itu pun judulnya bikin merinding: “Ketika Jogja Menghakimi Jakarta”.

Lanjutkan membaca Setelah Geger Buku 2003

Para Industrialis Sastra

Pada Desember 1956, Iwan Simatupang menghadiri dan meliput sejumlah acara sastra di Den Haag, Belanda. Rangkaian acaranya adalah penyerahan anugerah sastra untuk pengarang Herman Teirlinck, Konferensi VI Sastra Belanda, dan sebuah “pameran sastra” di Museum Kotapraja. Acara yang terakhir berisi pameran potret, tulisan tangan, dan barang-barang aneh milik 50 pengarang Vlaming dan Belanda dari kurun waktu 1905 hingga 1955. Katalog pameran ini memuat potret para pengarang, juga fragmen dari karya-karya mereka.

Lanjutkan membaca Para Industrialis Sastra

Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

I

Sumitro Djojohadikusumo berusia 21 tahun ketika ia bekerja sebagai pelayan restoran di Hotel Lancaster, tidak jauh dari Champ-Elysees, Paris. Di ibu kota Prancis itu pula ia pertama kali bertemu dengan Andre Malraux. Pertemuan di jalan de Berri itu sangat mengesankan bagi Sumitro karena ia mengagumi peran historis dan peran akademis Malraux, sosok yang menyatukan identitas aktivis, intelektual, sekaligus negarawan. Dalam perkataan maupun tindakannya, Malraux tidak pernah menganjurkan l’action pour l’action, perbuatan demi perbuatan. Di semua kegiatan dan karya tulisnya, ia selalu menegaskan perihal martabat manusia dan keadilan sosial. “Malraux itu l’homme engage,” ujar Sumitro, “manusia yang berpihak dan sepenuhnya mengabdikan diri pada upaya mempertahankan martabat manusia dan keadilan dalan konteks sosialnya.”

Lanjutkan membaca Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

Arif Abdulrakhim, Manusia Buku Jogja

Saya mengenal Mas Arif Abdulrakhim a.k.a Arif Doelz di suatu sore di kantor Galang Press di Baciro pada 2003. Rapat besar penerbit Jogja hari itu menjadi awal perkenalan nyaris semua orang buku di sana dengan sosok pimpinan Toko Buku Toga Mas Gejayan itu. Penyambung perkenalan itu adalah Pak Julius Felicianus, Boss Galang Press.

Lanjutkan membaca Arif Abdulrakhim, Manusia Buku Jogja