Tentang Kampung Buku Jogja

kampung_buku_jogja logo

Ada yang sedang bergerak di sebagian kalangan perbukuan di Yogyakarta. Kota yang pada akhir masa Orde Baru dan awal 2000-an melahirkan banyak “penerbit alternatif” dan buku-buku “wacana serius” itu sekarang seperti menemukan lagi semangatnya sebagai episentrum “bacaan serius” dalam tema-tema pemikiran, sastra, sejarah, politik, dan lain-lain.

Sejak akhir 2013 isu tentang “buku Jogja” menyeruak di dunia maya. Ramainya lapak-lapak penjual online buku di social media seperti Twitter dan Facebook turut mendongkrak naiknya harga buku-buku wacana yang para penerbitnya sudah tutup di kisaran tahun 2004 hingga 2007. Buku-buku tersebut kerap dikategorikan “langka” dan out of print. Nama-nama penerbit lawas seperti Bentang Budaya, IndonesiaTera (lama), Jendela, Tarawang, dan Qalam pun ramai diperbincangkan lagi.

Mungkin hari ini pasar buku secara umum sedang mengalami stagnasi. Toko-toko buku berguguran karena tak kuat menangkis penurunan tingkat kunjungan dan pembelian oleh konsumen. Hal ini antara lain dapat dilihat pada peristiwa tutupnya sejumlah toko buku.

Yang menarik, realitas mutakhir perniagaan buku di pasar umum itu direspons berbeda oleh sebagian kalangan pekerja buku di Yogyakarta. Orang-orang lama yang dulu menerbitkan “buku-buku berat” kembali ke jalur produksi. Alasannya antara lain permintaan yang tinggi di ranah online dan toko-toko buku non-jaringan. Di sisi lain, sejumlah penerbit yang bermodal kuat menerbitkan buku-buku serupa dalam volume besar dan menggelontorkannya ke toko-toko buku besar. Penerbit Narasi (Media Pressindo Group) dan Ircisod (Diva Press Group) berada di ranah tersebut. Sepertinya ada pemahaman yang sama bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk memunculkan kembali “buku-buku berat”.

Di Yogyakarta, gaung “kembalinya buku berat” juga dijawab oleh angkatan muda. Sebagian dari generasi terkini pekerja buku justru memilih untuk menerbitkan buku-buku tersebut. Di kelompok ini tercatat antara lain penerbit-penerbit bernama Indie Book Corner, Octopus, EA Books, Maddah, Oak, Cakrawangsa, Pandega, dan sebagainya.

Ada sejumlah hal berbeda dari pergerakan “buku berat” di Yogyakarta sekarang dibanding periode awal 2000-an, setidaknya berdasarkan pola pikir dan tindakan para pekerja buku generasi terbaru itu (yang ternyata diikuti oleh generasi sebelumnya). Pertama, ceruk pasar “buku berat” tidak pernah mati. Kedua, memindahkan “medan pertempuran” dari pasar buku umum (toko buku jaringan) ke pasar buku online dan pasar buku alternatif (pusat buku bekas, komunitas, bazaar/pameran). Ketiga, memangkas jalur panjang distribusi buku yang berbiaya tinggi. Keempat, memperbaiki kualitas isi buku.

Praktik atas kesadaran bahwa ceruk pasar “buku berat” selalu hidup adalah dengan melakukan produksi secara terukur dan terbatas (limited edition). Artinya, oplah cetak buku-buku itu disesuaikan dengan jumlah konsumen yang akan membelinya. Teknologi Print-On-Demand (POD) dan cetak offset terbatas cukup mampu menjadi pendukung cara tersebut. Jumlah konsumen pun terukur karena penerbit melakukan sistem pre-order untuk setiap buku yang hendak diproduksi. Dalam konteks ini oplah awal produksi dan oplah cetak ulang sebuah buku bisa berbeda tergantung jumlah konsumen yang ingin membelinya, bukan berdasarkan perkiraan jumlah toko buku yang membutuhkannya.

Sebagian penerbit di Yogyakarta, terutama yang menerbitkan “buku berat”, sadar bahwa regulasi toko buku jaringan terbesar di Indonesia cukup menyulitkan hadirnya produk-produk mereka di sana. Ketatnya aturan dan pendeknya masa pajang (display) di sana membuat para penerbit itu enggan memaksakan diri. Dari berbagai eksperimen, rupanya pasar online dan pasar buku alternatif cukup mampu menyerap buku-buku tersebut. Hal ini yang antara lain tampak dari kesuksesan penjualan via social media, juga acara-acara semisal Pasar Buku Indie 2014 dan Pesta Buku Jogja 2015.

Transaksi untuk “buku berat” yang dilakukan di pasar online dan pasar alternatif adalah tunai. Penerbit bertemu langsung dengan reseller dan individu yang membeli produknya. Hubungan yang bersifat langsung ini lebih menguntungkan penerbit karena kisaran rabat untuk pembeli jauh lebih kecil dibanding via distributor di pasar umum. Artinya, memangkas rantai panjang distribusi merupakan upaya menyampaikan langsung produk kepada konsumen. Selain itu penerbit mampu menghapus biaya ekspedisi dan distribusi karena ongkos kirim barang ditanggung konsumen.

Yang sekarang sedang dicoba oleh para pelaku bisnis “buku berat” di pasar non-toko buku besar adalah memperbaiki kualitas isi buku. Jejak buruk kualitas isi buku dari para penerbit di Yogyakarta di masa lampau harus diakhiri. Konsumen pun sekarang semakin kritis terhadap hal itu. Para penerbit sadar bahwa memproduksi dalam jumlah terbatas harus diimbangi dengan konten buku yang bagus. Jika hal itu tercapai, konsumen akan merasa puas. Dengan demikian penjualan dapat meningkat dan oplah pun sangat mungkin mengalami kenaikan. Lebih dari itu, kualitas isi yang baik pada sebuah buku adalah tanggung jawab pekerja buku.

Penjualan buku secara umum mungkin terus menurun. Toko-toko buku besar berulang kali mengadakan bazaar buku murah di pekarangannya. Kios-kios kecil yang menjual buku menjerit karena tak ada transaksi pembelian oleh konsumen. Namun, selalu ada jalan di setiap himpitan. Ceruk pasar “buku berat” tetap hidup walau tak besar. Setidaknya begitulah yang disadari sebagian pekerja buku di Yogyakarta.

Penerbitan buku-buku wacana yang berbobot, penyebaran isu pendukung produk, dan pengembangan jaringan pasar alternatif yang terpercaya menjadi faktor-faktor penting dalam model perniagaan “buku berat” saat ini. Seperti kata seorang teman, “Kita lebih baik menyalakan lilin daripada terus-menerus mengutuk kegelapan.”

Kenapa Kampung Buku Jogja?

Substansi dari istilah “kampung” di Nusantara adalah “sebuah tempat yang dirindukan” sebagai “tempat kembali”. Entah kembali untuk sekadar melepas lelah dan rindu dari sebuah perjalanan, atau, lebih mendalam, yaitu kembali untuk menemukan jati diri setelah terombang-ambing dari perantauan identitas. Mungkin itulah yang menyebabkan “pulang kampung” atau “mudik” menjadi sebuah momen yang dirindukan.

Kenapa kampung menjadi pilihan sebagai tempat kembali?
Ada tiga nilai mendasar yang dimiliki kampung, yaitu: kebersahajaan, kemerdekaan, dan kejujuran. Makna dari hidup bersahaja atau hidup sederhana di kampung adalah kemauan dan keberanian hidup dengan standar alam sekitar. Tidak perlu merasa malu untuk menggunakan apa pun yang bersifat sederhana. Perabotan, misalnya, sudah cukup terhormat walau hanya terbuat dari bambu atau kayu.

Makna dari kejujuran adalah “tidak ada dusta di antara kita”. “Aku menjadi diriku, engkau menjadi dirimu,” kira-kira begitu. Jadi, jika seseorang pulang kampung, maka ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Kowe ora usah loe-loe gue-gue, pingin diakui nggaya tapi dadi wong liyo, ngaku wae yen jenengmu Joyo, lengkape Gunojoyo. Luwih apik ngono, apa anane.
Makna dari merdeka adalah “kebebasan di dalam jiwa”. Kemerdekaan jiwa tidak akan tercapai jika seseorang hidup tanpa kebersahajaan dan kejujuran. Sikap bersahaja dan jujur itu memerlukan keberanian melawan keterjajahan identitas.

Konsep 

KAMPUNG BUKU JOGJA merupakan kegiatan perbukuan yang melampaui kesan “transaksi buku” seperti yang terasa dalam pameran-pameran buku yang sudah ada. Kegiatan yang kami selenggarakan ini bukan hanya ruang dan tempat pertemuan buku dan pembelinya. Kegiatan ini bukan sekadar ajang menjual dan membeli buku lalu selesai begitu saja. Dalam kegiatan ini, para penyuka buku akan bertemu dengan teman-temannya yang sama-sama menyukai buku. Ini adalah ruang dan waktu “bertemunya buku dan dirimu”.

Tujuan

KAMPUNG BUKU JOGJA menjadi tempat melepas rindu para penyuka buku atas buku-buku berkualitas yang selama ini tidak cukup tersedia di jaringan toko buku. Di acara ini mereka akan mendapatkan buku-buku tersebut, baik yang baru, lama, langka, maupun indie.

Acara ini juga bertujuan menjadi tempat kembali bagi insan perbukuan dari jenuhnya perantauan. Mereka rindu menemukan identitas dirinya kembali. Di ajang inilah insan perbukuan yang berada di ranah mayor, minor (indie), reguler, alternatif, online, komunitas, dan lain-lain akan bersama-sama berkumpul melepas kerinduan.

Dua tujuan tersebut bermuara pada sebuah kesimpulan: acara ini menjadi tempat kembalinya buku pada asalnya atau identitasnya. Semoga perubahan zaman yang tak bisa dihindari dan meninggalkan jejak-jejak kegagapan di dunia buku dapat diatasi setelah insan buku bersedia kembali “pulang kampung” demi menemukan kebersahajaan, kejujuran, dan kemerdekaan.