Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang

I

Sumitro Djojohadikusumo berusia 21 tahun ketika ia bekerja sebagai pelayan restoran di Hotel Lancaster, tidak jauh dari Champ-Elysees, Paris. Di ibu kota Prancis itu pula ia pertama kali bertemu dengan Andre Malraux. Pertemuan di jalan de Berri itu sangat mengesankan bagi Sumitro karena ia mengagumi peran historis dan peran akademis Malraux, sosok yang menyatukan identitas aktivis, intelektual, sekaligus negarawan. Dalam perkataan maupun tindakannya, Malraux tidak pernah menganjurkan l’action pour l’action, perbuatan demi perbuatan. Di semua kegiatan dan karya tulisnya, ia selalu menegaskan perihal martabat manusia dan keadilan sosial. “Malraux itu l’homme engage,” ujar Sumitro, “manusia yang berpihak dan sepenuhnya mengabdikan diri pada upaya mempertahankan martabat manusia dan keadilan dalan konteks sosialnya.”

Lanjutkan membaca Buku yang Meliuk di Antara Tumpukan Uang