Anak-anak, dari Suatu Buku

Teks orasi Setyaningsih untuk acara Kampung Buku Jogja 2019 pada Kamis, 5 September 2019

1/

Salah satu pertemuan saya dengan buku yang benar-benar terkenang, terjadi pada suatu sore hujan di teras rumah simbah, rumah masa kecil ibu saya. Mungkin saya berumur sekitar 9 atau 10 di tahun 2000-an. Sepupu saya membawa sebuah buku cerita bercap milik negara, sisa dari rezim yang baru tumbang. Judulnya Elang Bercincin Emas, sialnya saya lupa nama penulisnya. Saya hanya ingat tiba-tiba sudah sudah duduk meringkuk dengan nyaman di atas kursi yang sudah tepos bantal dudukannya. Suara hujan terasa dekat sekali, tapi tidak mengusik. Tubuh di atas kursi telah terserap begitu dalam. Sekitar seperti lebur dan sunyi, hanya tubuh dalam cerita.

Saya tidak dibesarkan dari kultur keaksaraan (cetak) seperti sering diwakili oleh koleksi perpustakaan pribadi nan memukau atau tradisi kelisanan kuat yang membuat setiap cerita yang disuarakan begitu magis dan menyihir. Tapi, ada buku-buku di meja bapak saya. Tentu selain kitab suci yang entah tidak lumrah disebut buku, ada buku doa, buku salat, buku Yassin, dan beberapa buku tafsir. Dua buku lain yang cukup menarik; buku cerita nabi dan cerita wali songo. Cerita, itulah entitas membuat menarik dua buku ini. Maka, saya pun lebih mengenal cerita Budi, Wati, Ani, Inu, atau Peter berhuruf latin di halaman buku pelajaran bahasa Indonesia berwarna hijau sebelum merasa terwajibkan mengerti huruf Arab untuk membaca buku suci.

Secara formal saya mengenal huruf-huruf latin di TK meski cara guru menyibak belantara kunci keaksaraan sama sekali tidak menarik, menantang, menggembirakan, dan misterius. Saya hanya ingat satu momentum yang cukup menyakitkan. Saat itu, guru meminta anak-anak menyalin huruf ke buku tulis. Saya tidak punya buku tulis, kecuali buku bekas ala buku panduan penyuluhan kesehatan. Ibu guru marah, tapi saya tetap berusaha menyalin di sela-sela halaman putih yang kosong. Seingat saya, tulisan saya sangat buruk. Saya berhenti di huruf R.

Saya lebih mengingat suara ibu sebagai sumber kelisanan belajar mengeja. Biasanya di sela melipat baju, ibu menyambungkan huruf-huruf dan saya menyuarakan bunyi. Huruf-huruf saling bertemu, menimbulkan pola, menciptakan ritme, dan menciptakan kata. Saya merasa hal itu sangat ajaib. Begitu kata terpola, seperti terjadi sesuatu. Saya membayangkan banyaknya kata-kata yang menghuni satu buku saja, berapa lama dan terasa apa saat selesai membacanya, bagaimana ada seseorang yang punya banyak kata. Satu buku memang banyak kata, tapi bertahun-tahun setelahnya terasa betapa sangat sedikit satu buku itu. Saya akan bertemu lebih banyak buku, lebih banyak dari buku-buku di atas meja bapak yang secara tidak sadar dan tidak sengaja menjadi titik berangkat dari cara saya merengkuh buku, mengantar saya menjadi bagian dari umat pembaca tanpa perintah dan fatwa.

2/

Saya pun bertumbuh. Ketika menemukan majalah-majalah lawas di pasar buku lawas Gladak, Solo, atau Blok M, Jakarta, ada sisa-sisa ketakjuban dibawa oleh bau apak, debu, pojok-pojok halaman yang gripis, atau jeglokan yang telah berkarat. Siapakah pembaca-pembaca cilik yang terhormat menjadi bagian kebudayaan membaca di Indonesia, sejak penerbitan majalah yang gemilang dan makmur di masa 50-an?

Majalah-majalah menampilkan pengalaman personal membaca dan sekian halaman menjadi semacam etalase memajang buku yang baru saja terbit. Iklan-iklan buku bacaan Indonesia dan terjemahan yang persuasif, bertarung dengan iklan Taro, susu Dancow, pensil 2B Staedler, permen karet Yosan, dan mentega Blueband. Anak-anak Indonesia diajak menjadi penyantap buku. Seperti terekam di Bobo edisi No.1 Th. XX, 1992. Ada iklan “mendongeng bersama Enid Blyton.” Iklan sehalaman oleh penerbit Gramedia, total 12 seri buku seharga 1.800 rupiah. Penerbit memperkenalkan Enid bukan hanya penulis cerita serial Lima Sekawan atau Sapta Siaga, tapi juga serial dongeng. Dikatakan, “Dalam seri ini, setiap buku menyajikan sekitar sepuluh sampai dua belas dongeng pendek. Ukuran bukunya sedikit lebih kecil dari buku saku. Dan jangan lupa, seri ini cocok untuk kalian gunakan sebagai kado juga untuk teman yang berulang tahun.” Iklan pintar menggoda.

Majalah anak Kawanku oleh pimpinan redaksi Toha Mohtar malah memiliki rubrik ulasan buku “Laporan Buku” yang ditulis anak. Rubrik berpotensi mengabarkan buku-buku yang memang telah dibaca oleh anak-anak. Laporan Buku Kawanku edisi 8-14 Janurai 1982, menyajikan laporan kumpulan cerpen Leila. S. Chudori berjudul Sebuah Kejutan (PT. Sumbangsih Kawanku dan Sinar Harapan) oleh Eisel. Eisel tidak hanya menyajikan potongan-potongan cerita di buku, tapi juga memberikan pertimbangan, “Kelebihan Leila adalah pada gaya berceritanya yang lincah dan seringkali konyol. Ya, karenanya setelah membaca buku ini kita akan membayangkan alangkah enaknya jika Peter adalah teman sekelas kita.” Di akhir, Eisel dengan percaya diri memberikan usul berbuku bagi teman-teman pembaca Kawanku, “Bukannya ngecap belaka jika dikatakan tak rugi menyisihkan uang jajan untuk membeli buku ini.

Bertaut dengan penamaan “laporan buku”, halaman ini memang melaporkan kepekaan yang dilatih, daya baca, selera bacaan lokal ataupun asing, uji menimang buku, dan secara tidak langsung ada pembentukan kebiasaan membaca-menulis. Di Kawanku edisi 21-27 September 1979, memuat laporan buku Cecilia Cyntia, pemenang utama Sayembara Menulis (Menilai) Buku oleh PT. Dunia Pustaka Jaya yang diadakan bulan Juni 1979.” Buku yang dinilai Cecilia adalah Anak-anak Laut garapan Julius R. Siyaranamual. Tulisan Cecilia menampilkan dua bagian: ringkasan dan catatan komentar.

Masih di edisi sama, kita juga bisa menikmati profil Cecilia yang masih duduk di kelas I SMP Pangudi Luhur Jakarta Selatan. Memiliki ibu berprofesi sebagai penulis cerita anak, Toety Maklis, tentu mempengaruhi perselancaran Cecilia ke dunia buku. Sejak belia, Cecilia sudah diasuh oleh buku. Ia bercerita buku kesukaan, “Semua buku-buku yang mengandung cerita-cerita yang menarik. Terutama cerita-cerita petualangan. Saya juga senang membaca buku-buku teknologi, koran dan majalah.” Cecilia mau membaca buku sekaligus menulis ulasan buku. Di masa itu, keluarga-keluarga Indonesia pasti telah menerima televisi sebagai hiburan keluarga, tapi Cecilia menaruh kegembiraan, mencintai perlahan-lahan, dan upaya serta mimpinya di sana.

Di Si Kuncung edisi No. 11 (1994) bahkan muncul pertanyaan dilematis dari seorang bocah ditujukan kepada Nenek Limbak. Pembaca Kuncung yang berjaya di masanya tentu mengingat sosok Nenek Limbak yang intelek, bijak, dan punya jawaban untuk semua pertanyaan. Pertanyaan dilematis dari Poniman di Solo berbunyi seperti ini, “Nek, Cucu mempunyai uang tabungan. Jumlahnya cukup untuk membeli sepatu. Kendati masih bisa dipakai, sepatu Cucu nampak kusam. Menurut Nenek, lebih penting mana, membeli sepatu, apa buku-buku bacaan?” Nenek Limbak memberi saran Poniman memprediksi dengan rinci ketahanan sepatu sekaligus menyimpan uang tabungan. Untuk urusan buku yang katanya “membikin cerdas dan wawasan berkembang”, Nenek menyarankan Poniman menjadi anggota perpustakaan dengan optimis. Kota Solo pasti memiliki perpustakaan, tapi kota tidak menjadikan tempat semacam ini sebagai rujukan bagaimana kota ingin dilihat. Kota lebih dilihat dari kemegahan masjid, pusat kuliner, acara-acara festival, atau wisata heritagenya.

Secara personal, saya dibuat terkekeh oleh pengakuan di rubrik “Pengalamanku” majalah Islam yang tidak islami banget Sahabat edisi 15-31 Maret 1983. Seorang remaja putri bernama Ratih Soeprapto dari Sleman, Yogyakarta, mengaku begitu menyukai membaca sampai lupa salat. Meski salat dan membaca seharusnya sama menjadi peristiwa sangat teologis, Ratih harus mendapatkan kompensasi dimarahi ibu, “Ibu selalu marah-marah, apabila aku lupa sholat, hanya karena membaca buku.” Tuhan yang baik tidak melarang membaca buku, tapi ibu yang baik terkadang memang melarang membaca “terlalu” banyak buku.

Tapi ibu baik lainnya pasti ada maunya kalau membiarkan, bahkan dengan sengaja, mendekatkan anak dengan buku. Seperti yang terjadi ketika toko buku semacam Gunung Agung menuai masa kejayaan bukan hanya karena mampu menjual buku. TB Gunung Agung menjadi tempat nongkrong anak-anak. Jurnal Prisma edisi Mei 1987 pernah membuat laporan khusus tentang bacaan anak “Banjir Bacaan Untung Siapa?” oleh M. Ahmad Soemawisastra dan Edward S. Simandjuntak. Setelah 1973, pasar buku anak menggeliat karena ada gelontoran dana Inpres atau Instruksi Presiden untuk “memborong” buku bacaan anak. Pengarang-pengarang bacaan anak bermunculan dan tentu penerbit berani menerbitkan buku anak dalam jumlah besar karena sudah tidak takut rugi. Mutu buku pun dipertanyakan. Namun, anak-anak saat itu memang mengalami suatu kondisi yang dibahasakan dengan bombastis oleh redaksi, “sakit gila baca”.

Setiap IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menghelat pameran, murid-murid SD menyerbu. Gerai yang menyajikan buku-buku anak pasti ramai dan harus rela mengantre agar tidak berdesa-desakan, “setiap mengadakan pameran, IKAPI seakan-akan sedang menyelenggarakan pesta buku untuk anak-anak.” Merambat antusiasme serupa di toko buku, anak-anak bisa berjam-jam menikmati halaman demi halaman buku meski tidak membeli. Sekalipun di toko buku, anggap saja perpustakaan. Ada ibu-ibu secara sengaja “menitipkan” anaknya di TB Gunung Agung selama 3-4 jam sementara ia belanja di Pasar Senen atau Pasar Baru. Ada imperasi kehadiran ragawi anak-anak tanpa retorika “ramah anak”. Mereka menciptakan pilihan buku dan ruang. Hal ini mengingatkan pada ilustrasi ikonik bocah bercaping membaca dalam posisi santai di bawah pohon rindang sembari angon kambing. Tak ada kenikmatan keaksaraan cetak yang didustakan.

3/

Bukankah kesadaran buku sering memang harus lahir dari kondisi represif, luka bergelora, tekad paling bertekad, kemiskinan paling keparat akut, dan rasa keterasingan dari sekitar, yang dialami orang-orang di pelbagai sudut dunia. Tokoh kebangsaan, Ahmad Subardjo, otobiografi, Kesadaran Nasional (1978) menulis, “di dalam salah satu mata pelajaran di kelas enam, untuk pertama kalinya aku mengalami timbulnya rasa kesadaran yang masih samar-samar dan akhirnya berangsur-angsur berkembang dan menjelma menjadi rasa kebangsaan.” Seperti juga dialami oleh pribumi terpelajar, Subardjo juga mengalami diskriminasi rasial ketika di Sekolah Rendah. Seorang Belanda menjabar sebagai kepala sekolah baru dan mengatakan orang-orang Minangkabau tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Mereka hanya cocok menjalani pekerjaan rendah dan kasar.

Subardjo sedih, tapi mendapat pemulihan dari buku-buku. Ia mengatakan, “memadai untuk membaca buku-buku dan majalah-majalah yang dapat dipinjam dari perpustakaan. Hikayat dan ceritera mengenai kehidupan orang-orang perantau yang mempelopori membuka benua Amerika membangkitkan khayalan-khayalan yang liar dan bukan-bukan dalam benakku. Keberanian dan kepercayaan pada diri sendiri yang mereka tunjukkan membangkitkan keinginanku untuk seperti mereka, ikut mengembara menjelajahi rimba raya, rawa dan padang pasir yang mahaluas serta sunyi senyap nan jauh di Amerika.” Tokoh-tokoh keaksaraan ciptaan Karl May, Mark Twain, dan Jules Verne adalah pahlawan di masa kecil Subardjo. Buku-buku menyemai imajinasi kebebasan personal sekaligus kebangsaan.

Seorang pembaca yang juga tekun, Kartini, selain membuka pengajaran untuk anak-anak juga antusias menghimpun dongengan dan nyanyian untuk anak-anak (Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer: 2003). Di surat kepada Nyonya Nelly van Kol (20 Agustus 1902), Kartini menulis, “Kala seorang inspektur pengajaran Pribumi meminta kepada kami menulis cerita-cerita kecil dari kehidupan kanak-kanak Pribumi buat bacaan anak-anak Pribumi, yang akan dihiasi dan diterbitkan seperti buku-buku bergambar. Tak sedikit pun kami menduga, waktu kami menulis cerita-cerita ini, bahwa kami akan jadi gerakan mulia di Nederland sendiri: memberikan bacaan yang mendidik bagi kanak-kanak…” Ungkapan Kartini adalah perasaan gembira yang membara sekaligus menyisipkan kemurungan dari seorang pernah terkurung tapi dikasihi oleh buku. Mungkin terdengar dilematis juga, buku-buku itu eksklusif cenderung mahal untuk membayar ketidaksanggupan Kartini bebas, terutama secara ketubuhan.

Memiliki buku bisa jadi kehilangan dalam bentuk lain. Ada hal-hal yang menggagalkan, bukan sekadar masalah finansial karena buku memang tampak sebagai ide dari kelas menengah. Kehilangan buku bisa menjadi hal paling menyakitkan, membikin marah, dan berpotensi menanam dendam dalam pengalaman autobiografis membaca. Kehilangan sangat disadari, bukan menjadi kehilangan simbolik disebabkan sistem pendidikan yang membuat membaca menjadi kebutuhan administratif. Setiap tahun, orangtua melakukan aksi kolektif membelikan buku pelajaran demi ujian, nilai, ulangan, dan kewajiban.

Nur St Iskandar dalam Pengalaman Masa Kecil (1979) mengingat hadiah yang puitis, sebuah buku Perumpamaan dari seorang guru. Buku ini adalah penghormatan dan bukti terima kasih atas kerja ketekunan. Suatu hari, buku itu dipinjam Jenaid, teman Nur. Bapak Jenaid membuang buku itu karena dalam perjalanan di atas pedati, Jenaid tidak membantu bapak memegang tali kekang kerbau. Buku membuat bapak Jenaid kesal, lalu dibuang ke jurang. Buku telah hilang. Nur mengatakan, “Orang itu tidak memikirkan sedikit jua, betapa sedih hatiku karena perbuatannya yang kurang baik itu. Dan tidak terpikir olehnya, akan mengganti hadiah itu.” Menghadiahi buku adalah menghadiahi harapan. Buku memang turut membawa konsekuensi bertemu dengan kesedihan, kemarahan, kekecewaan yang berarti menguji mentalitas diri berhadapan dengan ketidakberuntungan dalam hidup.

4/

Saya pun teringat ketika bersama teman-teman diajak dolan-mengajar ke Sekolah Tenera di tengah perkebunan sawit di Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Kami membawa dua kardus buku dan sekardus majalah, teutama untuk anak-anak. Saya begitu patah hati saat menyadari betapa sedikitnya, sangat sedikit hadiah buku ini. Buku menciptakan kegembiraan tapi kecemburuan, menjelma hadiah spesial bagi bocah-bocah di tengah perkebunan yang memiliki jarak nyata jauh dari jalan besar apalagi pusat-pusat buku. Saya tidak berdaya merasakan kekurangan buku di tempat seperti ini. Di tengah kegembiraan anak-anak menulis dan bercerita dengan pamrih suci memiliki buku, ada derita tidak tertangguhkan, datang begitu tiba-tiba. Seperti didera kemarahan dari rasa cemburu atau semacam ironi, bahwa yang merasakan derita justru seorang perempuan yang hidup dalam dua kamar berbuku di pinggiran Boyolali sana. Betapa kenikmatan mewah memiliki buku-buku.

Namun, urusan buku di sekolah ini telah ditangani dua manusia yang tepat, Agriani Novita dan Patrick Manurung, dua teman jenaka, pembaca, pembelanja tekun, teman curhat, sekaligus pencetus ide-ide yang bikin deg-degan. Beberapa waktu lalu sempat berkabar dua koper buku dari perhelatan pameran BBW 2019, akan dibawa ke Bengkulu. Saya begitu kagum, mereka berbelanja untuk koleksi pibadi atau sekolah Tenera dengan koper, bukan kresek bercap serigala mangap, kardus, atau karung. Seutas pernyataan dari Mbak Opi saya ingat dari obrolan santai, “Buku bisa membuat orang jadi lebih penasaran.” Tenera menyambung ingatan saya pada anak-anak yang semangat menulis berpamrih buku di pinggiran Kali Code, di Desa Rukem, Purworejo, di sekitar kompleks Atsiri Karanganyar, bahkan sekolah di Kota Solo yang berjarak dekat dari toko buku atau pasar buku Gladak. Daya apa yang harus dilakukan anak-anak untuk mengatasi rasa sangat ingin memiliki buku, beralih dari strata peminjam menjadi pemilik yang paling otoritatif menciptakan biografi membaca.

Beberapa tahun ini, Indonesia memang bersemangat menyebar buku-buku cetak menuju segala penjuru daerah Nusantara, mengangkut eksemplar buku-buku dengan perahu, vespa, gerobak sampah, kuda, angkot, dan sepeda, impian berbuku diejek dengan telak oleh gaya hidup literasi digital. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) punya misi suci menyebarkan 10 ribu buku (cetak) menuju daerah-daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) dalam rangka Hari Buku Nasional 2017 meski masih dalam alasan kejam bahwa peringkat membaca Indonesia amat jemblok: 64 dari 70 negara (Media Indonesia, 18 Mei 2017). Abaikan saja prestasi buruk ini dan membiarkannya menjadi urusan duta baca atau pejabat negara.

Buku cetak masih menjadi mukjizat. Indonesia akan menyongsong merdeka internet 2020. Literasi bergawai, digitalisasi literasi, atau apa pun istilah keren nan relevan di abad ke-21 pasti akan semakin mendapat pemujaan meski juga tidak anti gangguan teknis, sinyal buruk, putus listrik, atau miskin paket data. Di sangat kekerenan digital merebak, masih saja ada orangtua yang panik dan menuduh anak tidak membaca karena sibuk main gawai. Pernyataan tidak bijaksana dari orangtua yang sangat fasih bergawai.

Hanya perlu satu momentum anak mengingat masa kanak yang yang berharga bersama buku dan membaca. Di waktu tepat dan jarang terduga, bisa terjadi lewat tatapan penasaran mengamati seseorang membaca buku di kereta api, dari cerita di potongan pembungkus tempe, persinggungan tidak sengaja menyebut tokoh super yang aneh, majalah bekas, ilustrasi imajinatif yang bisa timbul saat dibuka dan ditutup, persewaan buku yang selalu ingin diberantaki, kunjungan kecil ke toko buku, atau waktu-waktu kelisanan di atas ranjang. Sebarkan betapa membaca terasa menantang dan menggembirakan. Jika seorang anak tidak lahir dari keluarga intelektual melek buku, ia akan sadar bahwa tidak ada buku akan diwariskan. Warisan kata-kata harus diciptakan sendiri.

Sebagai pengakhiran, saya mengutip cerita imajinatif dari penulis legendaris Roald Dahl, yang diingat dan dicintai anak Indonesia dengan cetakan nama yang khas dan selalu lebih besar daripada judul buku di setiap sampul buku. Saya keterlaluan terlambat membaca Roald Dahl dan sebagai seorang Indonesia yang pernah anak, tidak bisa tidak mencintai buku-buku Roald Dahl dan buku-buku terjemahan lainnya. Saya kutipkan dari novel Matilda (2018), “Rasanya menyenangkan bisa membawa minuman panas ke kamar dan meletakkannya di samping, sementara dia duduk dalam ruangannya yang sunyi, membaca di ruang kosong, sepanjang sore. Buku-buku mengantarkannya ke dunia-dunia baru dan memperkenalkannya kepada orang-orang mengagumkan yang menjalani kehidupan yang sangat menarik. Dia naik kapal selama berhari-hari bersama Joseph Conrad. Dia pergi ke Afrika bersama Ernest Hemingway dan ke India bersama Rudyard Kipling. Dia bertualang ke seluruh dunia, sambil duduk di kamar sempitnya, di sebuah desa di Inggris.”

Selamat siang para umat buku budiman. Terima kasih.

Dunia Penulis (Sastra) di Yogyakarta

Teks orasi Iman Budhi Santosa untuk acara Kampung Buku Jogja 2019 pada Rabu, 4 September 2019

Merepresentasikan dunia penulis dan penulisan di Yogyakarta, bukannya mudah. Karena penggambaran tersebut sama halnya dengan melakukan pemetaan terhadap kehidupan penulis, proses kreatif, dan sosialisasi karya-karya mereka. Karena jagat kepenulisan cukup luas, maka perkenankan dalam kesempatan ini saya hanya membatasinya di ranah penulis dan penulisan sastra (Indonesia dan Jawa) di Yogyakarta saja. Itupun bukan berangkat dari hasil penelitian yang valid dan terukur, melainkan bersumber dari pengamatan yang sangat selintas dan permukaan.

Sejak pasca kemerdekaan hingga kini, banyak seniman dan sastrawan Indonesia & Jawa yang berdomisili di Yogyakarta sukses mencatatkan prestasi berkarya di tingkat lokal, regional, dan nasional. Dimungkinkan, berkat prestasi merekalah Yogyakarta memiliki prestis kebudayaan cukup tinggi sampai menyandang gelar “kawah candradimuka” bagi calon seniman dan sastrawan di Indonesia.
Khusus untuk sastra Indonesia & Jawa, prestasi kesastraan tersebut secara kasar dapat dibuktikan dengan terwujudnya pencapaian sebagai berikut:

  1. Sastrawan Indonesia & Jawa di Yogyakarta cukup produktif berkarya dan giat menyiarkannya. Hasilnya, karya mereka banyak dimuat media massa lokal maupun nasional, sehingga namanya pun dikenal luas oleh masyarakat sastra.

  2. Karya sastrawan Indonesia & Jawa dari Yogyakarta sering mendapat pujian para kritisi/akademisi, menerima anugerah/penghargaan di tingkat lokal dan nasional, memperoleh apresiasi positif dari kalangan sastra, dan berhasil memberi warna pada zamannya.

  3. Dari generasi ke generasi senantiasa muncul sastrawan dari Yogyakarta yang menjadi tokoh panutan dan menginspirasi masyarakat sastra secara luas.

  4. Banyak orang muda dari berbagai daerah di Indonesia sukses menempuh proses kreatif bersastra di Yogyakarta hingga mendapat pengakuan sebagai sastrawan.

  5. Walaupun belum tercatat dan dicatat secara pasti, kreator dan apresiator sastra aktif dan pasif, dikenal dan tidak terkenal, jumlahnya cukup besar di Yogyakarta. Untuk sekadar informasi, pada masa Persada Studi Klub (1969-1977), Ragil Suwarna Pragolapati mencatat tidak kurang 1.500 nama yang sempat berproses di komunitas ini. Sedangkan pada era-2000an generasi muda Madura yang menjalani studi di Yogyakarta dan mulai merambah dunia sastra diperkirakan mencapai puluhan orang.

  6. Secara berkala di Yogyakarta muncul gerakan serta even bersastra dan penerbitan buku yang berkelanjutan dan melegenda sehingga dapat dijadikan bukti bahwa denyut kehidupan sastra di kota ini tak pernah mengalami stagnasi, apalagi mati.

Karena munculnya prestasi berasal dari karya yang dibuat di Yogyakarta oleh sastrawan dari Yogyakarta, dimungkinkan berbagai fenomena (hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindera dan dapat diterangkan dan dinilai secara ilmiah, atau sesuatu yang luar biasa; keajaiban) yang terdapat di Yogyakarta pun juga memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan tersebut. Sejumlah faktor yang diperkirakan cukup berpengaruh dalam menunjang pencapaian prestasi sastra dan kesastraan para sastrawan di Yogyakarta selama ini, antara lain:

  1. Spirit bersastra yang diwariskan para pendahulu (guru). Misalnya: semangat belajar, pengembangan diri dalam mencipta, etos kreatif, kemandirian, dll. Para sastrawan Yogyakarta umumnya menyadari potensi tersebut sangat diperlukan sebagai penguatan pribadi, sehingga berusaha memilikinya karena proses bersastra merupakan kegiatan individual (bukan kelompok). Caranya bisa dengan meneladani nilai-nilai yang diwariskan sastrawan pendahulunya.

  2. Kehidupan sosial kemasyarakatan di Yogyakarta. Banyak kalangan mengakui bahwa iklim kehidupan sosial kemasyarakatan di Yogyakarta cukup kondusif untuk menunjang kegiatan bersastra. Misalnya, sikap masyarakat yang cukup terbuka, apresiatif terhadap dunia seni sastra, mudah berkomunikasi, toleransinya tinggi, suka menolong/membantu, pengaruh keberadaan keraton, standar hidup yang relatif terjangkau bagi kalangan bawah, dll.

  3. Keberadaan berbagai cabang seni budaya di Yogyakarta. Bagi sastrawan, kekayaan seni budaya Yogyakarta mampu memberikan nuansa khas dan nyaman. Seperti menambah pengalaman dan wawasan, memunculkan berbagai pemikiran baru, mempertajam cita rasa seni, menstimulir kreativitas, dll.

  4. Komunitas sastra. Hingga kini masyarakat sastra di Yogyakarta memiliki tradisi membangun komunitas. Baik yang dibentuk secara mandiri, dalam lingkungan kampus, maupun yang menjadi binaan instansi/lembaga pemerintah dan swasta. Dalam komunitas inilah para orang muda membangun spirit bersastra serta melakukan proses belajar bersama (komunalisme kreatif) secara nonformal. Seperti diskusi terbuka, pentas sastra, mengumpulkan dan menerbitkan karya, dll. Dalam komunitas ini pula setiap anggota dapat berperan ganda dalam kehidupan bersama maupun olah kreatif. Seperti menjadi teman, orang tua, guru, kritikus, sekaligus “musuh”. Artinya, pada komunitas sastra terjadi proses “asah-asih-asuh” dalam pengertian luas.

  5. Keberadaan media massa yang memiliki komitmen pada dunia sastra. Hampir seluruh media massa pemerintah maupun swasta di Yogyakarta selalu membuka rubrik sastra dan seni budaya. Seperti koran/mingguan, majalah, jurnal, buletin, radio, televisi, termasuk media online. Dari pemuatan karya mereka para sastrawan kadang memperoleh sekadar honorarium yang besarnya sesuai dengan kemampuan media massa yang bersangkutan.

  6. Dunia pendidikan dan perguruan tinggi. Langsung tak langsung dunia pendidikan dan perguruan tinggi telah memberikan dukungan nyata bagi berlangsungnya proses bersastra serta upaya menimba keilmuan bagi generasi muda sejak dini. Guru-guru bahasa dan sastra maupun para dosen, jelas sangat berperan terhadap tumbuh kembangnya regenerasi sastrawan Yogyakarta dari waktu ke waktu.

  7. Institusi/lembaga pemerintah dan swasta. Keberadaan institusi/lembaga pemerintah dan swasta sangat berperan dalam menopang gerak kehidupan bersastra di kota ini. Misalnya, Balai Bahasa, Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, Taman Budaya, telah memberikan dukungan dana dan fasilitas terhadap tumbuh kembangnya kesastraan Indonesia & Jawa di Yogyakarta selama ini.

  8. Dunia perbukuan dan perpustakaan. Peran dunia perbukuan dan perpustakaan di Yogyakarta cukup besar dalam menunjang prestasi bersastra para sastrawan. Seperti aktif dalam penerbitan buku teori sastra dan karya sastra. Perpustakaan pemerintah dan swasta pun menyediakan buku-buku dan ruang baca. Disususul munculnya buku murah sejak masa shoping center Senopati, pemasaran buku online, pameran buku, dll. Dengan diterbitkannya karya sastra menjadi buku persebarannya makin luas dan tidak lagi terbatas seperti media massa.

Dari sekian faktor penunjang terwujudnya prestasi bersastra di Yogyakarta yang tergambar di atas, tampak bahwa yang mampu dilahirkan, digarap, dikelola, ditangani oleh para sastrawan hanyalah “spirit bersastra” dan “komunitas sastra”. Artinya, selain kedua aspek tadi para sastrawan nyaris tidak dapat melakukan “intervensi” serta memasukkan ide-ide secara total karena di luar wewenangnya.

Mungkin, inilah salah satu alasan mengapa orang muda dan sastrawan di Yogyakarta tetap melanjutkan tradisi berkomunitas hingga kini. Walaupun setiap komunitas nyaris menggunakan format beragam/berbeda sesuai dengan orientasi pemikiran masing-masing. Namun, dari berbagai komunitas yang pernah dan masih ada di kota ini ternyata telah lahir semangat bersastra (mencipta/menulis) bagi generasi muda hingga menghasilkan karya-karya yang berkualitas standar di tingkat lokal, regional, dan nasional.
Beberapa ciri komunitas-komunitas sastra yang pernah ada dan masih ada di Yogyakarta, antara lain:

  1. Komunitas sastra di Yogyakarta biasanya lahir dari ide para penggerak sastra yang memiliki semangat komunal/kebersamaan/patembayatan, dalam mewujudkan cita-cita bersama, khususnya bersastra. Hasilnya, dari komunitas sastra lahir sosok-sosok kreator dan apresiator sastra pada zamannya.

  2. Setiap komunitas sastra selalu memiliki tokoh/patron yang dijadikan panutan komunitasnya.

  3. Bentuk organisasi relatif sederhana, hanya semacam perkumpulan atau paguyuban yang tidak memiliki badan hukum. Kantor atau pusat kegiatan biasa menumpang pada rumah tokoh penggerak atau anggota komunitas.

  4. Terbuka bagi siapa pun ikut berpartisipasi/terlibat tanpa persyaratan formal mengikat. Asal yang bersangkutan sedia menjalin persahabatan dan kekeluargaan dengan anggota yang lain, serta mengikuti tradisi komunitas tadi.

  5. Bersifat mandiri, sehingga pemenuhan kebutuhan komunitas cenderung diperoleh dari gotong-royong (sumbangan/donasi) yang tidak mengikat. Kecuali komunitas sastra kampus atau komunitas yang dibina oleh instansi/lembaga pemerintah maupun swasta (LSM) akan memperoleh dukungan fasilitas dari “pengayom”nya.

  6. Format kegiatan jarang terprogram kokoh dan lebih menyesuaikan pada ide-ide yang berkembang di tingkat internal maupun eksternal.

  7. Jika tokoh penggerak atau ada anggota pindah dari Yogyakarta karena mempunyai kegiatan lain, atau merasa tidak memerlukan berproses di sana lagi, mereka dapat meninggalkan komunitasnya. Maka tidak mengherankan jika ada komunitas sastra yang umurnya cukup lama, tetapi banyak juga yang sekian waktu kemudian bubar.

  8. Setiap komunitas jarang mendokumentasikan secara lengkap profil komunitas, ide-ide yang melatarbelakangi pergerakannya, kegiatan yang dilakukan, serta data-data penting lainnya.

Catatan Pamungkas
Mengingat Yogyakarta sebagai: 1) salah satu pusat sastra di Indonesia dan 2) penghasil kreator sastra Indonesia & Jawa, dari semacam oncek-oncek mengenai fenomena jagat penulisan sastra di Yogyakarta, mungkin ada beberapa catatan yang layak jadi bahan renungan bersama. Antara lain:

  1. Ternyata peran dan jasa komunitas sastra di Yogyakarta selama ini cukup besar. Maka, upaya mengumpulkan data-data mengenai profil, kegiatan, prestasi, serta sastrawan yang sempat berproses dalam setiap komunitas perlu digerakkan, baik secara mandiri maupun dengan dukungan instansi/lembaga terkait. Karena dokumentasi tersebut diperlukan banyak pihak sebagai bahan kajian pada masa-masa berikutnya.

  2. Dalam arti luas, Yogyakarta sesungguhnya juga merupakan “komunitas besar” yang mewadahi kehidupan bersastra bagi paguyuban-paguyuban sastra Indonesia & Jawa di kawasan ini. Mungkinkah Yogyakarta merintis berdirinya semacam percontohan “Komite Sastra”, “Pusat Dokumentasi Sastra Yogyakarta”, diterbitkannya “Sejarah Sastra Indonesia & Jawa Pasca Kemerdekaan di Yogyakarta”, sebagai referensi dan sarana meningkatkan prestasi sastra dan bersastra ke depannya?

  3. Silaturahmi sastrawan Indonesia dan sastrawan Jawa di Yogyakarta seyogyanya diintensifkan untuk mengembangkan wawasan dan kreativitas mereka. Dengan harapan, sastrawan dari suku bangsa Jawa yang mencipta dalam bahasa Indonesia juga bersedia mencipta sastra dalam bahasa Jawa; demikian juga sebaliknya.

  4. Yogyakarta merupakan salah satu daerah tujuan wisata terbesar di Indonesia. Mungkinkah dirintis upaya penerjemahan karya-karya sastra berbahasa Indonesia & Jawa kontemporer dan membukukannya untuk konsumsi turis mancanegara? Mungkinkah komunitas KBJ merintis penanganannya?

Yogyakarta, 4 September 2019

Aku dan Buku

Teks orasi Abinaya Ghina Jamela untuk acara Kampung Buku Jogja 2019 pada Selasa, 3 September 2019

Assalammualaikum Warrahmatulahi Wabarakatu

Namaku Abinaya. Umurku sembilan tahun. Aku siswa kelas empat sekolah dasar. Kata orang-orang, aku suka membaca. Menurutku, sih, biasa saja. Aku membaca hanya ketika aku suka. Dan aku punya buku-buku yang bikin aku suka membaca.

Jangan tanya buku apa saja yang sudah aku baca. Itu pertanyaan membosankan. Juga jangan tanya siapa penulis kesukaanku. Karena hampir semua penulis yang bukunya aku baca, aku suka. (Tidak semua, ya. Tapi Hampir. Sebab beberapa penulis menulis dengan sangat membosankan)

Aku suka Jin Yong, Steinbeck, Orhan Pamuk, Dickens, Tolkien, Orwel, Ernest Hemingway, Charvantes, Marquez, Umberto Eco, Roald Dahl, Neil Gaiman, Tolstoy, Wislawa, juga eyang Pramoedya Ananta Toer. Mereka menulis buku-buku yang asik dibaca.

Aku suka membaca buku-buku yang membuatku seperti tidak mau melepaskannya. Seakan-akan buku itu magnet yang sangat besar.

Aku suka membaca bukan karena orang tua menyuruh dan memaksaku membaca (Mungkin dulu, iya, sih. Tapi sekarang sudah tidak lagi).

Menurutku, membaca itu menyenangkan. Aku bisa berkeliling dunia, pergi ke mana saja ketika membaca. Aku bisa menjadi apa saja ketika membaca. Aku bisa menjadi detektif, aku bisa menjadi pesilat, aku bisa menjadi pelaut, aku bisa menjadi anak gelandangan, bahkan aku juga bisa menjadi pencuri dan pembohong.

Aku tidak tahu sejak kapan aku suka membaca. Kata bunda, sejak aku berumur lima tahun. Aku tidak ingat buku apa yang pertama kali aku baca. Mungkin buku cerita Disney dan putri-putri.

Jika persedian bukuku habis, aku akan meminta bunda untuk mencarikannya lagi. Jika bunda sedang tidak punya uang, bunda akan mengajakku ke toko buku. Tentu saja bukan untuk beli buku. Kan, bunda sedang tidak ada uang!

Aku betah ada di toko buku. Tentu saja toko buku yang membiarkan aku bebas membaca di sana. Seakan-akan toko buku itu adalah perpustakaan pribadiku.

Aku tidak begitu sering datang ke perpustakaan, hanya beberapa kali saja. Datang ke perpustakaan itu sedikit ribet. Aku harus isi buku tamu, aku harus membuka sepatuku, aku tidak boleh berisik, dan aku juga belum bisa punya kartu anggota.

Di sekolahku ada perpustakaan, tapi koleksinya tidak banyak, hanya beberapa saja yang menurutku menarik. Di perpustakaan sekolah terlalu banyak buku pelajarannya, buku paket. Untuk apa aku membaca buku paket di perpustakaan

Kelasku juga punya pojok baca. Namanya Pojok Literasi. Tapi buku di Pojok Literasi kebanyakan buku-buku bergambar dan teksnya sedikit. Padahal itu di kelas empat. Kata bundaku, sih, tidak masalah. Biar teman-temanku jadi suka membaca. Nanti jika mereka sudah terbiasa membaca, baru dikirimkan novela atau novel anak.

Tapi masalahnya, buku-buku di Pojok Literasi atau Perpustakaanku jarang sekali diganti. Ngg, maksudku, mungkin belum diganti entah satu, dua, atau sepuluh bulan. Bukunya itu-itu saja. Harusnya buku-buku di perpustakaan sekolah dan pojok baca itu diganti terus, biar kami tidak bosan dan jadi suka membaca.

Masa kami harus membaca buku yang sama satu tahun? Jika bapak, ibu, om, tante, punya buku bagus di rumah, bisa diberikan ke sekolah-sekolah. Tapi buku bagus, ya. Perpustakaan sekolah itu bukan tempat sampah.

Bapak, ibu, om, tante, juga teman-teman semua,
Aku pernah membaca sebuah buku, judulnya, Matilda. Buku itu ditulis oleh Roald Dahl. Di buku itu, Roald Dahl menceritakan tentang seorang gadis kecil yang baru berusia lima tahun. Ia diberi nama Matilda. Matilda anak yang sedikit aneh (Aku tidak akan menjelaskan keanehan Matilda. Silahkan dibaca sendiri!)

Semua keanehan Matilda muncul karena dia suka membaca. Matilda membaca banyak buku, terlalu banyak. Dia membaca buku apa saja. Dia juga membaca buku-buku untuk orang dewasa. Bahkan orang dewasa sendiri tidak pernah membaca buku itu.

Tapi yang lebih aneh lagi, orang tua Matilda dan Miss. Trunchbull tidak suka jika Matilda terlalu banyak membaca. Mereka akan melakukan apa saja agar Matilda berhenti membaca. Ya, apa saja! Mereka ingin Matilda seperti anak-anak lainnya, bermain, menonton tivi, diam, menonton tivi, diam, bermain, menonton tivi, diam, begitu selamanya.

Di sini, di tempatku, orang tua sangat suka jika anak-anak mereka membaca. Tapi aku juga tidak tahu, sih, apa yang membuat orang tua suka. Orang tua akan membelikan anak-anak mereka buku apa saja. Tidak peduli anak-anak mereka suka atau tidak.
Orang tua ingin anak-anak punya banyak buku, bukunya tebal, bukunya bagus dan mahal. Anak-anak disuruh membaca. Lalu anak-anak itu difoto. Orang tua memperlakukan anak-anak yang membaca seperti mereka mahkluk asing dari luar angkasa dan baru saja sampai di bumi.

Bundaku kadang juga seperti itu. Makanya aku tidak suka difoto, apalagi ketika membaca buku. Itu menyebalkan. Aku bukan alien.

Tapi yang lebih mengerikan, orang tua mau anak-anak mereka membaca banyak buku tapi tidak suka anak-anak yang terlalu cerewet, banyak bertanya, atau seperti lebih pintar dari orang tua.
Mereka tidak menyukainya, sangat tidak menyukainya.

Katanya, membaca itu bikin pintar? Tapi ketika anak-anak menjadi lebih pintar dari orang tua, tidak diterima. Mereka seperti tidak mau tersaingi oleh anak-anak. Seakan anak-anak yang suka membaca, banyak bertanya, dan menjadi cerewet itu seperti zombie yang akan menggigit mereka. Kan lucu! Tidak semua orang tua, sih! Tapi hampir semua.

Orang tua lebih suka anak-anak yang pendiam, tidak banyak bertanya, tidak banyak protes, menurut apa yang diperintahkan orang tua. Anak-anak seperti itu anak-anak yang baik. Anak-anak kesukaan semua orang tua di dunia. Bukankah itu labil?

Jika begitu, jangan paksa anak-anak untuk membaca dan dibelikan banyak buku. Biar saja anak-anak main dan menonton tivi. Mereka pasti akan lebih banyak diam dan tidak suka protes.

Menurutku, ketika anak-anak terlalu banyak membaca, mereka akan jadi banyak bertanya. Mereka menjadi sangat cerewet, seperti bunyi knalpot sepeda motor di depan rumahku. Berisik sekali.

Lagipula, tahukah bapak dan ibu, terlalu banyak membaca itu bisa sangat mengerikan buat anak-anak? Misalnya saja Matilda. Karena terlalu banyak membaca, Otak Matilda bekerja melebihi otak manusia lainnya. Otaknya sedikit kerepotan. Semacam otaknya sebuah lemari dan terlalu banyak pakaian yang dimasukkan ke dalamnya. Pakaian-pakaian itu berhamburan dan berserakan di seluruh ruangan. Matilda jadi memiliki semacam kekuatan super. Ia bisa menggerakkan benda-benda di sekitarnya. Menurut Roald Dahl, Matilda melakukannya menggunakan kekuatan pikiran. Huuuuuu, mengerikan sekali!

Tapi menurutku, Roald Dahl jauh lebih kejam dan mengerikan ketimbang orang tua Matilda dan Miss. Trunchbull. Ya, Roald Dahl terlalu kejam pada Matilda. Bagaimana mungkin Roald Dahl membiarkan Matilda yang sudah membaca semua buku di perpustakaan kota tapi membiarkan Matilda tidak menulis apapun? Benar-benar mengerikan! Jika itu bunda dan omku, pasti mereka sudah cerewet sekali.

Mereka akan bilang, Nay, kamu mau otakmu meledak? Kamu mau menjadi sinting?

Bunda selalu bilang padaku, otak itu seperti gelas. Membaca itu seperti mengisi gelas dengan air. Jika aku terus membaca, gelasku akan kepenuhan. Airnya bisa tumpah. Airnya bisa mengotori dan merusak semua. Jika kena laptopku, laptopku bisa mati. Jika kena bukuku, bukuku bisa rusak. Jika kena kasurku, aku tidak tahu mau tidur di mana. (Kadang bunda mengatakannya sambil molotot padaku)

Aku harus selalu mengosongkan gelas itu Jadi aku harus menulis. Tidak harus menulis yang serius, sih. Aku boleh menulis apa saja. Suka-suka aku. Kadang aku hanya menulis tentang bunda dan om yang sangat menyebalkan.

Atau…, mungkin Roald Dahl berpikir, anak-anak tidak mungkin bisa menulis, apalagi masih lima tahun?
(Tapi menurutku, Roald Dahl itu sedikit konyol jika berpikir begitu. Anak lima tahun bisa membaca semua buku di perpustakaan kota tapi diragukan bisa menulis? Ini konyol sekali!) Roald Dahl menjadi pembual yang sangat buruk.

Tapi mungkin Roald Dahl tidak mau capek diberi pertanyaan seperti ini, bagaimana mungkin Matilda bisa menulis? Diakan baru lima tahun?
Sebenarnya aku juga sering mendengar pertanyaan itu, Ih, Naya, kamu kok bisa menulis, sih?
Pertanyaan itu seperti menuduhku punya tongkat sihir, lalu membaca mantra, dan aku jadi bisa menulis. Konyol bukan?

Ini bukan Hogwarts! Harry Potter dan Hermione yang cerdas saja tidak bisa menulis meski mereka penyihir hebat di Inggris.
Aku bisa menulis, ya, karena aku menulis.
Jika aku cuma ngomong-ngomong konyol, main tik-tok, aku tidak akan bisa menulis.

Aku bisa menulis karena aku membaca buku.
Aku membaca buku apa saja, apa saja.
Jika aku tidak membaca, aku akan kesulitan menulis.

Ketika aku bingung dan tidak tahu akan menulis apa, aku membaca buku.
Jika aku bosan membaca, aku menulis.
Jika aku bosan membaca dan menulis, aku akan main.

Bunda pernah cerita padaku tentang novel Bumi Manusia karangan eyang Pramoedya Anata Toer.
Novel eyang Pram yang itu berbeda dari karya-karya eyang Pram sebelumnya.
Kalau kata bunda, Bumi Manusia itu agak populer (Jangan tanya aku maksudnya, tanya bunda saja!)

Eyang Pram menulis seperti itu karena selama di Pulau Buru, eyang Pram hanya diberikan buku-buku dan majalah populer, buku-buku untuk remaja. Kata bunda, pemerintah ingin menumpulkan otak dan tulisan eyang Pram. Makanya eyang Pram cuma diberi bacaan yang seperti itu.

Setelah aku pikir-pikir lagi, apakah orang tua juga punya rencana jahat seperti yang dilakukan pemerintah pada eyang Pram?

Ya, biar anak-anak tidak terlalu cerewet dan banyak protes!

Karena eyang Pram itu penulis hebat, tentu saja dia tetap bisa menulis yang bagus.
Tapi bagaimana dengan anak-anak?
Uggh, menyedihkan sekali!

Anak-anak dipaksa banyak membaca.
Tapi anak-anak hanya diberikan buku yang itu-itu saja, buku anak-anak.
Jika anak-anak tidak mau membaca dan jadi rewel, langsung diberikan handphone.
Anak-anak diminta membaca, tapi orang tua tidak pernah membaca.
Anak-anak disuruh membaca tapi tidak boleh banyak bertanya.
Anak-anak disuruh membaca tapi tidak diajarkan bagaimana cara menulis yang baik.

Apakah orang-orang dewasa benar-benar ingin melakukan hal jahat pada anak-anak?
Jika tidak, mengapa mereka bersikap seperti itu?

Bapak, Ibu, Om, Tante, juga teman-teman semuanya,
Aku baru menulis dua buku. Pertama, Resep Membuat Jagat Raya, buku puisi.
Kedua, Aku Radio bagi Mamaku, buku kumpulan cerpen. Aku baru menyelesaikan novelku. Judulnya? Rahasia, dong!

Aku kaget waktu bunda bertanya, Nay, kamu ditawari berorasi di KBJ nanti. Kamu mau, nggak?
Aku bingung. Aku tahu KBJ, tapi aku tidak tahu apa itu orasi (aku salah menuliskan di laptopku jadi orientasi)

Bunda menjelaskannya padaku. Tapi yang membuat aku setuju, karena kata bunda, datuk Saut Situmorang juga pernah beorasi di KBJ dan kata bunda,
Nay, kamu boleh menulis apa saja tentang kamu, anak-anak, buku, orang tua, juga bunda!

Aku senang sekali. Aku tidak tahu mengapa itu penting untuk aku sampaikan. Tapi aku pikir, aku perlu menyampaikannya.

Teman-teman,
Aku tidak tahu apakah bunda benar-benar suka aku mengatakan ini.

Tapi kita harus lebih membaca. Bukan karena orang tua menyuruh dan memaksa kita membaca.

Menurutku, membaca itu menyenangkan.
Jika kamu kesal pada ibu dan ayahmu yang cerewet, membaca saja.
Jika kamu kesal dengan pelajaran di sekolah, membaca lagi.
Jika teman-teman menjadi tidak seru untuk diajak main, lebih baik membaca saja.

Tapi kita sebaiknya membaca buku apa saja yang kita suka.
Bukan hanya apa yang dibelikan oleh ayah dan ibu kita.

Kita harus seperti Matilda. Maksudku bukan benar-benar seperti Matilda.
Kita harus membaca seperti Matilda membaca buku.

Tapi kita juga harus menulis. Anak-anak harus menulis jika tidak mau terlihat aneh seperti Matilda.
Ayo kita tunjukkan pada orang-orang dewasa yang selalu merasa paling hebat dan paling tahu itu!

Selamat siang, semua!
Assalammualaikum warahmatulahi Wabarakatu

Membaca Api Kehidupan: Mengenang Rendra

Teks orasi Hj. R. Ay. Sitoresmi Prabuningrat untuk acara Kampung Buku Jogja 2019 bertajuk “10 Tahun Setelah WS Rendra Tiada” pada Senin, 2 September 2019.

Tema yang disampaikan kepada saya adalah mengenang 10 tahun wafatnya WS Rendra. Atas nama pribadi dan keluarga besar, saya mengucapkan banyak terima kasih atas apresiasi ini. Di samping itu, tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih tersebut, kiranya akan lebih baik bila titik pijak apresiasi ini didasarkan pada momen kehidupan, bukan pada momen kematian. Ringkasnya, remembering moment ini akan lebih hidup jika dikenang sebagai “84 tahun WS Rendra”, dengan catatan penanggalannya didasarkan pada kalender Syamsiyah (Masehi), yakni lahir 7 November 1935 dan meninggal 6 Agustus 2009.

Dibaca dengan basis kalender yang lain, misalnya kalender Qomariyah, usia WS Rendra tentu bisa berbeda. Yang pasti, WS Rendra lahir dan meninggal pada bulan Qomariyah yang sama, Sya’ban (Jawa: Ruwah): lahir 10 Sya’ban 1354 H dan meninggal 14 Sya’ban 1430H. Pun dari harinya, WS Rendra lahir dan meninggal pada hari yang sama, Kamis: lahir pada Kamis, Kliwon, dan meninggal pada Kamis Legi. Namun penanggalan seperti akan sia-sia jika tanpa disertai makna. Dan sejatinya yang ingin kita warisi dan teruskan adalah api kehidupan WS Rendra.

***

Berbicara tentang Rendra sama artinya dengan kita berkaca-diri melalui cermin filsafat berkesenian, baik melalui, puisi, drama, dan esai karya-karyanya. Aktif dan Dinamis dalam Berkarya, kata-kata itu mungkin tepat untuk melukiskan energi sastra nan tak habis-habisnya, sejak ia duduk di bangku SMP hingga akhir hayatnya.

Ia memulai berkarya dengan menulis (baik puisi maupun naskah drama), kemudian berakting. Bengkel Teater didirikannya untuk menerjemahkan apresiasi sastra dalam bentuk pementasan. Meski demikian, Rendra tampak lebih sering memilih puisi untuk menyampaikan kritik sosialnya. Mungkin lantaran puisi memiliki narasi yang paling kuat. Melalu dunia sastra, Rendra sejatinya berusaha menumbuhkan dan mendewasakan khasanah kebudayaan Indonesia untuk berjaya dan dihormati integritasnya. Sebabnya tidak lain karena

“Kita telah menjadi asing di tanah leluhur sendiri.”

Demikian diungkapkan dalam saja berjudul “Sebotol Bir”

***

Bakat sastra dalam diri Rendra tumbuh nyaris paripurna, berkembang melalui berbagai nutrisi kebudayaan di sekitarnya. Dalam hal ini, sedikitnya ada tiga nutrisi kebudayaan yang bisa kita sebutkan. Pertama, nutrisi kebudayaan dari keluarganya sendiri. WS Rendra lahir dan hidup dalam pengasuhan pasangan seniman. Ayahnya berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia, guru bahasa Jawa, dan dramawan tradisional. Ibunya dikenal sebagai penari serimpi di Kraton Solo.

Nutrisi kedua adalah dari bangku kuliah. Pertama, ketika kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, kampus negeri yang pertama di Indonesia. Kemudian di American Academy of Dramatical Art (AADA) New York, yakni sekolah akting tertua di dunia berbahasa inggris yang didedikasikan untuk melatih aktor profesional, baik untuk dunia teater, televisi, dan film.

Nutrisi ketiga bersumber dari lingkungan sosial-politik airnya sekembalinya dari kuliah di luar negeri, yakni transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru. Tragedi-tragedi kemanusiaan yang mengiringi perjalanan Orde Baru menginspirasi karya-karyanya untuk menyampaikan protes sosial dan menyuarakan kehidupan kelas bawah.

Lingkaran ketiga nutrisi kebudayaan tersebut amat terasa dalam karya-karyanya. Terutama pada lingkungan sosial-politik, Rendra memiliki kepekaan dan kepiawaian yang lebih dalam membaca realitas, untuk diungkapkannya dengan bahasa yang sederhana, namun dengan makna yang menghujam. Melalui puisi-puisi karyanya, kita sejatinya bisa menangkap nilai-nilai yang diperjuangkan, yakni kebebasan, kejujuran, dan harmoni. Mari kita resapi beberapa penggalan sajak karya WS Rendra berikut.

  1. Dari sajak “Sebatang Lisong” (19 Agustus 1977)

Inilah sajakku

Pamflet masa darurat.

Apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

Apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.

  1. Dari sajak “Pamplet Cinta” (28 April 1978)

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair

bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?

Udara penuh rasa curiga.

Tegur sapa tanpa jaminan

  1. Dari sajak “Paman Doblang” (22 April 1984)

Kesadaran adalah matahari,

Kesabaran adalah bumi,

Keberanian menjadi cakrawala,

dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

***

Jadwal Lengkap Kampung Buku Jogja 2019: 2-5 September 2019

Kampung Buku Jogja diselenggarakan selama 4 hari, 2 – 5 September 2019, di PKKH UGM. Puluhan narasumber baik personal maupun kelompok kami undang dalam perayaan buku ini. Kami juga mengundang berbagai kelompok musik untuk tampil di acara ini.

Seluruh acara yang kami susun disediakan untuk umum dan gratis, Anda bisa datang langsung. Untuk agenda workshop karena terkait kuota, kami membuat sistem pendaftaran.

Untuk informasi mengenai Kampung Buku Jogja, Anda bisa menghubungi kami lewat Mia – 0857-2968-5224 (WA)

Senin, 2 September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM
10.00 – 14.00 Workshop Penulisan Prosa oleh Mahfud Ikhwan
13.00 – 14.00 RANGKAIAN ACARA
Pembacaan Puisi Rendra oleh Kedung Darma Romansha
Orasi “10 Tahun Setelah WS Rendra Tiada” dan Pembacaan Puisi oleh Sitoresmi Prabuningrat
Pembukaan KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
14.00 – 14.30 Lelang Buku
14.30 – 15.00 Bursa Naskah
15.00 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: RASA Alternatif Model Epistomologi Lokal” oleh Ayu Utami, Host: Fitri Merawati
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Ayu Utami
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 21.00 Talk Show “Ngisruh Sejak dalam Pikiran” oleh Sabrang “Noe” Letto dan Iqbal Aji Daryono

Selasa, 3 September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM
10.00 – 12.00 Workshop Menulis Buku oleh Deepublish
13.00 – 17.00 Workshop Jogja International Literary Festival:
Kritik Sastra oleh Kris Budiman
13.00 – 15.00 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Saya Suka Buku” oleh Abinaya Ghina Jamela
Talk Show “Sejarah Pers Indonesia: 1945 – 1998” oleh FX Domini BB Hera dan Octo Lampito, Host: Dodit Sulaksono
15.00 – 15.30 Lelang Buku
15.30 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: Saya, Kura-Kura Berjanggut, dan Sejarah Aceh” oleh Azhari Aiyub, Host: Artie Ahmad
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Azhari Aiyub
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 20.00 Pertunjukan Musik Puisi oleh Anes, dkk.
20.00 – 21.00 Musik: Log Sanskrit

Rabu, 4  September 2019

10.00 – 12.00 Kuliah Umum “HAM dan Kewarganegaraan” oleh Prof. Purwo Santoso dan Ulya “Pipin” Jamson, MA
10.00 – 14.00 Workshop Penulisan Esai oleh Agus Mulyadi
13.00 – 15.00 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Dunia Penulis Yogyakarta” oleh Iman Budhi Santosa
Talk Show “Yang Asing di Kampung Sendiri: Kudus dalam Prosa Jurnalisme” oleh Zakki Amali dan Noor Syafaatul Udhma, Host: Impian Nopitasari
15.00 – 15.30 Bursa Naskah
15.30 – 17.00 Talk Show “Forum Umar Kayam: Melantunkan Puisi, Menyampaikan Narasi” oleh Reda Gaudiamo, Host: Hamada Adzani
17.00 – 17.30 Book Signing oleh Reda Gaudiamo
17.30 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 20.00 Musik: Reda Gaudiamo
20.00 – 20.30 Mimbar Bebas Puisi
20.30 – 21.00 Musik: Deugalih

Kamis, 5  September 2019

11.00 – 12.00 Pertunjukan Siswa-siswi Jogja Green School
13.00 – 15.30 RANGKAIAN ACARA
Orasi “Buku dan Anak-anak Indonesia” oleh Setyaningsih
Pangalembana KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
Talk Show “Indonesia Sebelum dan Sesudah Kolonialisme” oleh JJ Rizal dan Hasan Basri, Host: Naufil Istikhari
15.30 – 16.00 Bursa Naskah
16.00 – 16.30 Lelang Buku
16.30 – 17.00 Mimbar Bebas Puisi
17.00 – 18.00 Ngopi Bahagia dan Hiburan
19.00 – 19.30 Penutupan KBJ 2019 oleh Arif Abdulrakhim dan Adhe
19.30 – 20.00 Musik: Mengayun Kayu
20.00 – 21.00 Musik: Dendang Kampungan

Indonesia: Sebelum dan Sesudah Kolonialisme

Kolonialisme pernah berkuasa dengan mengangkangi nyaris separuh dunia. Dengan misi “mulia”, bangsa Barat menduduki daerah yang dianggap baru, daerah tak berpenghuni (meski faktanya tidak). Christoper Columbus, misalnya, mendaku sudah menemukan sebuah daratan di seberang Inggris yang lantas diberi nama Amerika. Apa yang disebut pemberadaban pun mereka lakukan, meski nyatanya tak lain adalah penindasan.

Ferdinand de Magellhaen, seorang pelaut Spanyol, menemukan sebuah daratan yang disangka India, yang lantas dikenal sebagai Amerika Latin. Terus menembus daratan itu, mengarungi lautan teduh, lantas berlabuh di Filipina. Begitu pula dengan sekawanan Portugis yang mendaratkan sauh di Ternate pada abad ke-16. Dan, tentu saja, bangsa Belanda, perdana menjejak tanah Hindia pada 1596 di bawah pimpinan Cournelis de Houtman di Banten.

Belanda memiliki pertautan, sekaligus pertentangan yang kuat, dengan kita. Alasannya, Indonesia lahir dari rahim kolonialisme.

Ania Lomba dalam bukunya, Kolonialisme/Pascakolonialisme, menjelaskan bahwa, “Kolonialisme bukanlah suatu proses identis dalam berbagai bagian dunia yang berbeda tetapi di mana pun adanya selalu terjadi hubungan-hubungan yang paling kompleks dan traumatik dalam sejarah manusia antara penduduknya dengan para pendatang baru.”

Emilie di Jawa, novel karya penulis Perancis, Catarine Van Moppes, menceritakan tokoh Lucien Benieres dan Emilie, sepasang Prancis, yang mendapatkan tugas di tanah jajahan, yakni Hindia. Lucien, yang terpilih untuk menduduki poisisi penting di tanah jajahan pada era pasca-Tanam Paksa, pergi ke Leiden, Belanda, untuk menuntaskan pendidikan singkat sebelum berlayar ke Hindia. Pandangan tentang bagaimana “misi luhur” para kolonialis ini lambat laun mengubah wajah Hindia tampak dalam pernyataan seorang mantan pejabat kolonial kepada Lucien: “… kami berkewajiban menyebarkan dan memperkokoh iman Krisitiani, sekaligus mengukuhkan fondasi peradaban bagi orang Jawa yang kafir dan barbar itu. Ketahuilah, misi kami adalah misi suci.”

Meski tidak menyeluruh, petikan kalimat di atas menggambarkan adanya ketimpangan. Barat dan Timur. Timur selalu dianggap sebagai barbar, dan perlu diatur. Timr tak ubahnya adik kecil yang butuh sang kakak. Hingga, pada suatu masa (yang entah kapan jika negara-negara seperti Indonesia tak merebutnya), dijanjikan kemerdekaan.

Proses-proses kolonialisme yang selalu kompleks dan traumatik seperti kata Lomba itu acapkali dituding mengenyahkan khazanah pengetahuan lokal. Dampaknya, meski kita sudah 74 tahun merdeka, kita kehilangan identitas kita, kita tak mampu untuk mengingat “siapa kita dulu?” Apalagi setelah dua dekade bangsa ini membangun diri, lantas diluluhlantakkan oleh Orde Baru yang, sekali lagi, mengukuhkan kolonialisme.

Apakah kita mempunyai kebencian yang membabi buta bahwa semua yang Barat adalah iblis dan layak dienyahkan? Tentu saja tidak. Watak kolonialis memang mesti diberangus. Tetapi kisah-kisah persahabatan yang mengandung hibriditas, antara Indonesia dan Belanda, misalnya, juga harus didengungkan. Apakah, misalnya, tak ada kisah-kisah tentang luhurnya kemanusiaan selama lebih dari tiga abad? Dalam hal inilah penting kiranya bagi kita untuk membaca cerpen-cerpen karya Iksaka Banu.

Diskusi Indonesia: Sebelum dan Sesudah Kolonialisme pada dasarnya berbasi pada beberapa pertnayaan:

  1. Terkait pengetahuan, bagaimana pihak kolonial melenyapkan khazanah pengetahuan lokal kita? Bukankah ada pribumi yang pemikirannya serong ke Barat, dan ada yang sebaliknya?
  2. Meskipun kolonialisme dewasa ini tidak lenyap begitu saja dengan hadirnya Proklamasi 17 Agustus 1945, bagaimanakah bentuk-bentuknya mutakhir kolonialisme?
  3. Bagaimana kita mesti bersikap terhadap kolonialisme agar kita tidak terjebak hanya meromantisasi masa lalu?
  4. Bagaimana Orde Baru melakukan praktik kolonial?
  5. Dalam kasus mutakhir, apakah penjelmaan kolonialisme?

Forum Umar Kayam Bersama Azhari Aiyub: Saya, Kura-kura Berjanggut, dan Sejarah Aceh

PKKH UGM bekerja sama dengan Kampung Buku Jogja mengadakan Forum Umar Kayam pada Selasa, 3 September 2019 dalam acara Kampung Buku Jogja 2019. Forum tersebut berjudul “Saya, Kura-kura Berjanggut, dan Sejarah Aceh”.

Buku Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyub memberikan alternatif baru dalam pembacaan sejarah Aceh. Azhari menampilkan narasi tentang sebuah tempat pada era sebelum Nusantara terbentuk. Kita dapat menebak dengan mudah bahwa tempat tersebut adalah Aceh—tempat tinggal Azhari selama ini.

Kura-Kura Berjanggut adalah sebuah buku bermuatan pengaruh agama, konstelasi sejarah, alur, penokohan, konflik, relasi kuasa, dan pembabakan yang rumit. Azhari meramunya dengan cemerlang dan menyisakan kita pada kegelisahan mengenai sejarah Aceh. Perang Aceh adalah catatan sejarah dan mengandung unsur intrinsik berharga yang terus direproduksi oleh masyarakat hingga sekarang.

Melalui Kura-Kura Berjanggut, Azhari mencoba menampilkan sejarah dari penutur asli. Ia menghadirkan narasi yang tidak hitam-putih, namun di dalamnya melekat kepentingan politis dan kultural pada masing-masing tokoh.

Forum ini ingin menyuguhkan kisah kepengarangan Azhari Aiyub dalam menulis Kura-Kura Berjanggut yang telah berlangsung selama 10 tahun. Bagaimana riset yang ia lakukan selama penulisan dan tantangan apa yang dihadapi? Jika kita menelisik lebih jauh, apa yang disajikan Azhari sedang mendekonstruksi sejarah dari narasi Snouck Hurgronje dengan memaparkan narasi dari penutur asli.  Benarkah demikian? Dalam perspektif Azhari, bagaimana sejarah Aceh seharusnya dinarasikan? Serta, apakah cerita fiksi semacam ini (dan kitab fiksi yang lainnya) dapat membantu seseorang memahami sejarahnya?